Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 171


__ADS_3

"Kau dari mana saja, Kak?" Dion langsung menghampiri Camelia yang baru saja tiba di kediaman Shane. Wajah Dion cemas.


Wajar saja. Janjinya Camelia akan pulang cepat meskipun ada pesta penutupan. Namun, lewat dari waktu yang ditentukan. Dion tidak berpikir bahwa Camelia dalam masalah tadi. Hal itu dikarenakan para pengawal tidak ada ribut dan mengontak tim lainnya.


Panggilan yang tidak dijawab, kemungkinan karena suara musik yang terlalu keras.


"Aku baik-baik saja, Dion."


"Aku takut ada yang mengusikmu, Kak."


"Hehe sebenarnya ada. Tapi, sudah kakakmu ini bereskan," ucap Camelia, mengedipkan matanya seraya tertawa.


Camelia berhenti tertawa saat merasakan perbedaan suasana. Tiba-tiba suasana menjadi mencekam.


Astaga!


Camelia menyadarinya.


"Aku jamin, pemberesan kakakmu ini sampai akar. Lihat saja besok beritanya. Lalu, apa yang lain sudah tidur?"tanya Camelia, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sungguh?"


Camelia mengangguk.


"Sebentar tengah malam. Sudah siapkan semuanya, kan?"tanya Camelia lagi.


Dion menghembuskan nafas pelan.


"Tadi mereka menolak tidur sebelum Kakak pulang. Ayo, kita cek prepare sekali lagi," ajak Dion.


"Okay."


*


*


*


Kini waktu menunjukkan pukul 00.00. Camelia, Dion, Tuan dan Nyonya Shane, serta pelayan keluarga Shane beramai-ramai menuju kamar Lucas dan Liam. Camelia memegang piring berisi cake dengan krim coklat. Di atas cake itu ada lilin angka 6.


"Surprise!"


"HAPPY BIRTHDAY FOR YOU!!"


Lucas dan Liam terbangun karena teriak itu. Mereka yang sudah setengah sadar butuh waktu untuk memahami apa yang terjadi.


Cake dengan lilin. Topi kerucut ulang tahun. Juga balon dan kado.


Benar!


Hari ini adalah hari ulang tahun Lucas dan Liam yang keenam. Ulang tahun keduanya memang menjelang musim dingin.


"Ini …."


"Ayo-ayo. Ulang tahun kalian sudah tiba. Bangun dan tiup lilinnya," ujar Camelia.


"Iya!" Wajah Lucas dan Liam begitu berseri. Jujur saja. Ini adalah pertama kalinya ulang tahun mereka dirayakan dini hari, saat pergantian tanggal. Biasanya, langsung dirayakan dengan pesta.


Lagu ulang tahun dinyanyikan. "Ayo, sampaikan harapan kalian di usia yang baru ini," ujar Camelia.


Lucas dan Liam mengepalkan kedua tangan mereka berdoa. Mata keduanya terpejam.


Aku harap kebahagiaan senantiasa melingkupi kami. Aku harap Mom dan ayah segera bersama dan aku harap di tahun mendatang akan ada keluarga baru, harap Lucas.


Aku ingin cepat dewasa. Maksudku tubuhku, harap Liam.


"Ayo, potong kuenya!"


Lucas dan Liam memotong kue bersamaan. Suapan pertama untuk Camelia. Suapan kedua untuk Dion, lalu Nyonya dan Tuan Shane.


Sisanya dibagi kepada para pelayan.


Suka cita begitu terasa di kediaman Shane.


Tak lupa, moment itu diabadikan. Kado pun diberikan. Total, ada 10 kado yang diterima oleh Lucas dan Liam.


Di antaranya adalah surat kepemilikan saham untuk keduanya, jam tangan branded, baju, dan topi.


"Mom, apa boleh mengajukan permintaan?"tanya Lucas, setelah semua kado di buka.


"Of course. It's your day!"jawab Camelia.


"Video call Ayah."


Camelia terdiam sesaat. Bukan karena tidak mengizinkan. But, Camelia lupa memberitahu Andrean tentang hari penting ini. Namun, apa benar-benar Andrean benar-benar tidak tahu?


"Tidak boleh?"


"Apa Mom membatasi hubungan kalian?"sahut Camelia. Segera mengambil ponselnya.


"Kalau begitu Mom dan Daddy kembali ke kamar. Kalian juga begadang terlalu lama," pesan Nyonya Shane.


"Iya, Mom."


"Aku juga kembali ke kamar. Selagi lagi, Lucas, Liam, happy birthday," ujar Dion. Pelayan juga sudah keluar, kembali ke kamar masing-masing.


Dan tinggallah Lucas, Liam, dan Camelia.


"Tidak dijawab?" Lucas bertanya.

__ADS_1


"Mom coba lagi."


Tidak dijawab. Camelia mencobanya beberapa kali. Dengan hasil yang sama.


"Sepertinya ayah masih sibuk. Padahal sudah jam istirahat di sana," keluh Lucas.


"Ku kira dia tahu ulang tahun kita," ucap Liam, kecewa.


Camelia menghela nafasnya pelan. "Ayah kalian adalah Presdir. Apa kalian sudah tahu kalau sekarang dia memimpin dua perusahaan. Jelas, dia sangat sibuk. Mom tahu kalian kecewa. Akan tetapi, cobalah untuk memakluminya. Mom akan tinggalkan pesan agar saat kita bangun, bisa langsung menghubungi ayah kalian," tutur Camelia. Memberi pengertian.


Mungkin, karena ini pertama kali dirayakan dini hari. Biasanya akan dirayakan pagi hari atau jika Chris sedang di luar kota, maka akan dirayakan setelah Chris pulang. Bukan tanpa alasan. Karena mereka menginginkan kelengkapan. Tidak masalah tidak melewati waktunya. Asalkan tidak kehilangan maknanya.


"Atau aku hack saja laptopnya?"


"Boleh juga!"


Camelia memijat pelipisnya. Mengapa tiba-tiba timbul ide itu?


"No! Ayo tidur. Besok pagi saja menghubungi ayah kalian. Mom sudah tinggalkan pesan untuknya!"tegas Camelia dengan wajah garangnya. Seketika Lucas dan Liam menciut. Cepat-cepat mereka mengambil posisi tidur.


"Mom tidur di sini, ya?"pinta Liam.


"Baiklah." Camelia naik ke ranjang.


"Meskipun ada pengganti. Rasanya tetap berbeda," gumam Lucas, sebelum menutup matanya.


*


*


*


Camelia terbangun saat mendengar suara berisik. Itu adalah nada dering ponselnya yang sengaja ia besarkan volume deringnya.


Hoam


"Siapa yang menggangguku pagi buta begini?!"gerutu Camelia, meraih ponselnya.


"Hello? Dengan siapa?"


"Kau sedang tidur?"


"Ya … saya terbangun karena dering telepon. Ada keperluan apa?"tanya Camelia lagi.


"Aneh. Padahal kau menyuruhku menghubungimu jam segini. Tapi, kau masih tidur. Tidak ada. Lanjutkan saja tidurmu dan hubungi aku saat sudah bangun. Lalu, apa kau mematikan kamera? Di layar gelap."


"Terdengar familiar."


"Kalau begitu aku tutup."


"Hm … ya … WAIT!" Camelia langsung membuka lebar matanya dan melihat nama pemanggil.


Dan itu video call.


"Ya, ini aku." Andrean tersenyum lebar di seberang sana.


"Selamat pagi, Lia," sapa Andrean. Masih dengan senyum manisnya.


Membuat Camelia yang masih loading terpesona.


"Alangkah indahnya jika setiap mata melihat wajah cantikmu, Lia."


"Cantik?"beo Camelia. Rambut berantakan. Muka bangun tidur yang barangkali ada kotoran di bawah mata.


"AYAH!" Tiba-tiba, dari kanan dan kiri Camelia, Lucas dan Liam menunjukkan batang hidung mereka.


"Lucas, Liam. Kalian … tidur satu kamar?"


"Tentu. Ini hari spesial kami," jawab Lucas.


"Spesial?" Alis Andrean mengerut. Pertanda ia tidak tahu hari spesial apa itu.


"Kau tidak tahu, Ayah?"tanya Liam, menyipitkan matanya.


"Ah … belakangan ini sangat sibuk. Selain rutinitas, ada beberapa hal yang Ayah lupakan. Maafkan Ayah. Boleh kalian beritahu hari spesial apa itu?"jawab Andrean. Nada dan wajahnya penuh sesal. Dan jika diperhatikan, wajah Andrean sangat lelah.


"Huh! Baiklah!" Lucas dan Liam mendengus. Mungkin karena masih pertama. Mereka memakluminya.


"Usia kami sudah 6 tahun," ucap Lucas.


"Sudah enam tahun?" Dahi Andrean kembali berkerut. Mencari maksud dari kalimat itu.


Camelia turut mengerutkan dahinya.


Andrean tidak mengerti ucapan sederhana itu?


"Maksudnya?" Andrean mengajukan pertanyaan dengan wajah bingung. Liam berdecak. Apa susahnya memahami kalimat itu?!


"TODAY IS OUR BIRTHDAY!"teriak Liam dengan kesal.


Andrean membelalakkan matanya. Ia benar-benar terkejut.


Langsung menatap Camelia meminta kepastian. Camelia menganggukkan kepalanya.


"Astaga! Ayah benar-benar melupakannya. Padahal … kalender sialan! Ayah sudah memasang peringat untuk hari ini."


"Maafkan Ayah. Ayah benar-benar melupakannya. Sebagai gantinya, kalian boleh minta apa saja."


Andrean begitu menyesal dan juga kesal. Gara-gara berkas dan rapat yang setiap hari menyita waktunya, ia melupakan hari yang sangat penting. Bersyukur belum melewatkannya.

__ADS_1


"Hmhp!"


"Huh!"


"Lucas, Liam, I'm sorry. Ayah janji ini yang pertama dan terakhir," bujuk Andrean.


"Promise?"


"Yes. I promise."


"Katakan, apa yang kalian inginkan sebagai hadiah ulang tahun. Mintalah apa saja."


Wow … dia tengah menunjukkan kekayaannya?


Lucas dan Liam mundur. Tampaknya mereka berdiskusi.


"Apa yang kalian bingungkan? Mintalah mainan yang mahal. Jam tangan mewah? Setelan elit? Ponsel baru? Rumah? Mobil? Apa saja."


"Itu terlalu biasa, Rean," sahut Camelia.


"Ah … kau benar."


Lucas dan Liam adalah generasi ketiga keluarga konglomerat. Barang-barang seperti itu, pasti sudah banyak mereka miliki. Bodohnya ia menawarkannya. Andrean langsung teringat pesan Liam beberapa waktu lalu. Bahkan permainan pun mereka mau yang menantang.


"Kami sudah memutuskannya!" Lucas dan Liam telah selesai berdiskusi.


"Ayah, tinggalkan pekerjaanmu selama satu minggu dan datanglah ke Paris minggu depan. Kita liburan bersama!"ucap Lucas, dengan penuh semangat.


Baik Camelia ataupun Andrean, keduanya tercengang. Tidak menduga itu yang akan diminta.


"Kau harus menepati janjimu, Ayah! Lalu jangan lupa bawa dia juga," imbuh Liam.


"Dia?"


"Iya. Anak perempuan itu."


"Crystal?"


"Nah iya!"


Andrean mengangguk. Ia tersenyum puas. Dibandingkan dengan semua barang yang ia tawarkan tadi, apa yang diminta kedua anaknya lebih berharga.


"Dan satu lagi …." Rupanya bukan permintaan tunggal.


"Bentuk barangnya Ferrari terbaru bolehlah."


Haha. Meskipun konglomerat, siapa yang tidak tergoda dengan hadiah? Apalagi ditawarkan langsung. Tidak boleh melewatkan kesempatan.


*


*


*


Lebih dari satu mereka video call. Dan saat selesai, waktu menunjukkan pukul 08.00.


"Ayo turun dan mandi. Lalu sama-sama ke meja makan," suruh Camelia.


Lucas dan Liam langsung bergegas. Camelia juga kembali ke kamarnya.


Sekitar 30 menit kemudian, ketiganya keluar dari kamar masing-masing, bersama menuju meja makan.


"Eh? Kalian belum sarapan?"tanya Camelia. Ini sudah melewati jam sarapan. Dan seharusnya Dion sudah dalam perjalanan atau sudah sampai di kantor. Sementara Tuan dan Nyonya sudah menikmati masa pensiun mereka. Meskipun tidak sepenuhnya lepas tangan.


"Ini hari yang spesial. Bagaimana mungkin aku meletakkan sarapan dengan kalian?"jawab Dion, tersenyum lebar.


"Ah ya, Kak. Aku suka berita pagi ini." Senyumnya berubah smirk.


"Pantas Daddy kalian bilang dia tidak beres. Pemakai rupanya," ketus Nyonya Shane.


Camelia tidak menjawab. Segera mengecek berita terbaru.


Terkuak! Pasangan artis yang dirumorkan berpacaran, tertangkap basah sedang berpesta narkoba dan berhubungan **** di hotel!


Begitulah judul beritanya. Di bawahnya ada foto Joseph dan Alice.


Sayang bukan foto kemarin.


"Benar-benar tidak habis pikir dengan mereka. Kalau ****, di usia segitu bukan hal baru lagi. Namun, jika memakai obat-obatan, bukankah merugikan diri sendiri?" Nyonya Shane menggeleng pelan.


"Mereka memang pemakai, Lily. Dan pria itu adalah langganan kamar bar," sahut Nyonya Shane.


"Aku rasa membicarakan itu akan merusak mood. Lebih baik kita segera sarapan. Dengar, perutku sudah sangat lapar," cetus Lucas.


"Hoho … ayo-ayo."


*


*


*


Berita Joseph dan Alice menjadi topik panas dan perhatian publik. Banyak yang tidak percaya bahwa mereka melakukan hal itu. Terutama Joseph. Image yang ditunjukkan olehnya, tidak akan ada yang menduga bahwa itu adalah wajah aslinya.


Banyak yang menyayangkannya. Padahal sangat berbakat.


Dan karena kasus itu, Joseph kehilangan banyak kerja sama. Dan drama yang ia bintangi bersama dengan Camelia terancam batal tayang.


Agensi masih bungkam tentang hal itu. Dan banyak wartawan yang menantikan komentar Camelia akan hal itu.

__ADS_1


"Tenang saja, Kak. Dramaku akan tetap tayang. Karena yang kami jual adalah kemampuan, bukan kehidupan pribadi!"jawab Camelia. Ia sudah memperkirakannya. Tinggal turun tangan saja.


__ADS_2