
"Kakak … Dion comeback!" Dion masuk ke dalam apartemen. Meletakkan barang bawaannya di sofa dan langsung memeluk Camelia yang tengah bersantai sembari menonton siaran televisi.
"Ahhh Dionku sudah pulang, bagaimana perjalananmu?" Camelia balas memeluk Dion.
Dion tersenyum lebar. "Tentu saja menyenangkan karena aku akan bertemu Kakak. Aku sangat merindukan Kakak," balas Dion.
Camelia tertawa renyah. "Me too."
"Eh Kakak mana yang lain? Lagi keluar dan kakak sendirian di apartemen?"tanya Dion setelah menyadari apartemen begitu lenggang.
"Tadi katanya sudah dalam perjalanan pulang. Kau lupa, mereka kan ada pemotretan," ucap Camelia, menyentil dahi Dion.
"Auh." Dion mengaduh sakit. Namun, tak lama ia tertawa.
Camelia melihat apa saja yang Dion bawa. "Eh iya, bunga lily, untuk kakakku yang paling cantik." Dion mengambil bunga lily dan menyodorkannya pada Camelia..
"Thank you." Bunga lily, Camelia mencium aromanya.
"Ini membuatku sangat rileks," ujar Camelia.
"Lihat apa saja yang aku beli," ujar Dion. Camelia mengangguk. Satu demi satu paper bag yang Dion bawa ia unboxing.
Ada beberapa aksesoris. Juga makanan ringan, makanan penutup yang bisa disimpan dalam jangka waktu tertentu dan akan lebih lama jika masuk ke freezer.
Sederhana. Namun, Camelia menyukainya. Saat membuka tiga dari paper bag terakhir, Camelia mengeryit.
"What this?"tanya Camelia.
"Pesanan Kakak," jawab Dion dengan senyum lebar. Camelia memicingkan matanya. Senyum Dion begitu bersemangat. "Pesananku?" Camelia mengingat-ingat.
"Ah ya. Hehehe." Camelia terkekeh pelan kemudian menyunggingkan senyum yang sama seperti Dion.
"Lalu ini adalah alat yang kita butuhkan untuk nanti malam," ujar Dion, mengeluarkan isi dua paper bag terakhir.
Ada masker hitam, topi, ada sarung tangan, dan juga jaket berwarna hitam pula. "Ada lagi di dalam mobil. Tapi, tidak ku bawa ke atas," imbuh Dion.
"Wow!" Camelia berdecak kagum. "Kau sungguh berniat, Dion," ledek Camelia.
"Ya. Aku sangat berniat, Kakak. Ayo bersenang-senang malam ini," sahut Dion dengan mengangkat kedua tangannya seperti bersorak.
"Hm?" Dion mengendus. "Ini pasti masakan Kakak. Aku lapar," tebak Dion dengan mengusap perutnya.
"Tinggulah sebentar. Mereka akan segera sampai." Benar saja, tidak lama kemudian, Lucas, Liam, dan Kak Abi tiba di apartemen. Camelia langsung memasukan kembali isi dua paper bag terakhir.
"Uncle Dion?" Lucas dan Liam terkejut. Kak Abi pun begitu.
"Hai," sapa Dion.
"Uncle!" Lucas dan Liam segera menghampiri Dion dan memeluknya.
"Uncle kapan tiba?"tanya Lucas.
"Tidak lama, kalian mengapa lama sekali?"jawab Dion dengan mencubit gemas pipi Lucas. Ya karena hanya Lucas yang mau. Liam akan langsung menatap dirinya tajam jika hendak melakukan hal yang sama pada dirinya.
"Macet, Uncle," jawab Lucas dengan kurang jelas karena pipinya ditarik oleh Dion.
"Uncle, sakit," keluh Lucas.
"Eh?" Segera Dion melepaskan pipi Lucas.
"Pekerjaan Uncle sudah selesai?"tanya Liam.
__ADS_1
"Belum. Masih banyak lagi. Besok pagi Uncle akan kembali ke Shanghai," jawab Dion.
"Hm? Jadi, alasanmu pulang apa Dion?"tanya Kak Abi, mengambil tempat di samping Camelia.
"Karena rindu." Singkat dan padat.
"Katanya tadi lapar. Lucas, Liam lekas mandi lalu kita makan malam," tutur Camelia.
"Okay." Keduanya menurut dan bergegas menuju kamar.
"Pemotretan mereka sudah selesai, Kak?"tanya Dion.
"Ya ini yang terakhir. Namun, besok ada pameran dari brand itu. Jadi besok Lucas dan Liam akan menghadirinya sebagai tamu VIP," terang Kak Abi.
"Sebenarnya kau juga diundang, Lia. Namun, karena besok kau ada jadwal maka mereka urungkan." Sebagai manajer jelas Kak Abi tahu jadwal Camelia. Dan bisa mengambil tindakan dalam hal tersebut.
Camelia menjentikkan jarinya, "ya. Besok aku akan sangat sibuk."
"Sudah nanti saja ceritanya. Kak cepatlah berbersih. Aku sudah sangat lapar," ucap Dion dengan mendorong Kak Abi. Kak Abi berdecak. Dan segera menuju kamarnya.
"Oh my gosh!"seru Camelia, menepuk dahinya.
"Ada apa, Kak?"tanya Dion heran. Camelia tidak menjawab. Ia berdiri dan menuju dapur. Tak lama kemudian kembali dengan membawa kotak bekal makan dan keluar dari apartemen. Dion yang penasaran mengikut. Dion melihat dari pintu.
Camelia membunyikan salah satu pintu kamar. Tak lama, pemilik pintu apartemen itu membuka pintu. Dion membulatkan matanya.
"Bahkan satu lantai dan berdekatan," gumam Dion.
"Tapi, mengapa kakak memberikan dia makanan? Mereka sudah dekat? Sejak kapan?" Dion bertanya-tanya. Melihat Andrean yang kelihatannya begitu senang. Namun, kakaknya biasa saja.
Tak lama, Camelia berbalik. Dion menutup pintu dan kembali duduk di sofa. Camelia masuk. Dion melihatnya tersenyum tipis.
"Itu kami tidak dekat. Itu tadi hanya sebagai bentuk maaf. Kakak sempat salah paham padanya," jelas Camelia.
"Hm?" Dion mengangkat alisnya.
"Nanti saja kakak beritahu. Ayo kita makan malam dulu," ajak Camelia. Yang disusul dengan panggilan Lucas dan Liam. Perut Dion juga kembali berbunyi, nyaring. Mau tak mau, Dion mendahulukan urusan perut dulu.
*
*
*
Selesai makan malam, dan berbincang, Lucas dan Liam pamit duluan ke kamar. Seharian mereka melakukan pemotretan begitu lelah. Begitu juga dengan Kak Abi. Ia begitu lelah dan juga mengantuk. Tinggallah Camelia dan Dion berdua di ruang tengah.
"Kak …." Nadanya menagih.
"Iya."
"Begini, Dion. Kemarin, ada yang mengirimi Kakak banyak sekali buket bunga. Dan inisial pengirimnya itu AG. Kakak langsung berpikir bahwa itu adalah Andrean Gong. Karena semakin banyak bucket yang Kakak terima dengan inisial pengirim yang sama, Kakak melabraknya. Tapi, dia mengatakan itu bukan dirinya. Namun, Kakak tidak percaya. Dan tadi siang, Kakak bertemu dengan sepupunya Andrean. Yang neneknya pernah Kakak tolong sewaktu di Shanghai kemarin. Dan dia mengaku bahwa dia lah yang mengirim semua buket bunga dengan inisial AG itu, yakni Allen Gong. Oleh karenanya Kakak merasa bersalah. Makanya Kakak buatkan mereka makan," terang Camelia panjang lebar, agar dia tidak salah.
" Ah begitu rupanya." Dion mengerti apa yang Camelia pikirkan. Biar bagaimanapun Andrean adalah tetangga mereka. Tidak enak juga tidak ada salah paham.
"Lalu sejak kapan dia tinggal di sana? Sendirian atau bagaimana?"tanya Dion.
"Sejak dia putus dengan Rose. Dan dia hanya berdua dengan Crystal. Jika kau ingin kesal atau marah, maka tunjukkan pada Rose. Kalau saja dia tidak membeli apartemen di sini, dia tidak akan menjadi tetangga kita." Nada bicara Camelia sedikit ketus.
"Ah ya dia memang biang masalah," sahut Dion, dengan nada ketus pula.
"Lalu bagaimana dengan informasi yang kuminta?"tagih Camelia karena tadinya Dion berjanji akan mengatakan informasi yang ia dapat mengenai Tuan Jerry pada Camelia saat telah tiba di apartemen.
__ADS_1
"Oh pria br*engsek itu?"
"Dia setiap hari bersenang-senang dengan alkohol dan wanita. Obat halusinasi ini akan semakin membuatnya semakin senang dan itu pasti akan menjadi tontonan yang menarik, Kakak."
"So, sekarang kita berangkat?"
Dion mengangguk. Keduanya kemudian meninggalkan apartemen dengan Dion membawa tiga paper bag berisi alat-alat yang mereka butuhkan. Setibanya di mobil Dian dan Camelia memakai jaket hitam yang Dian beli tadi. Tak lupa keduanya juga memakai kacamata hitam.
"By the way alat apa yang kau tinggal di mobil?"
"Tongkat," jawab Dion.
Dion kemudian melajukan mobil meninggalkan basement menuju tujuan.
"Ah iya, Kak. Apa kakak sudah menyiapkan hal selanjutnya untuk Rose dan Jordan?"tanya Dion di dalam perjalanan.
"Ya sudah."
"Bagaimana jika mengungkap hubungan mereka?"saran Dion.
"Jika mengungkapkan hubungan mereka, maka Andrean benar-benar memakai topi hijau," sahut Camelia. Topi jauh adalah istilah yang menggambarkan seorang pria yang diselingkuhi.
"Apakah tidak menyadarinya, Dion? Bahwa anak yang diakui Andrean sebagai putrinya itu adalah anak Jordan?"
Chit!
Dion yang kaget mendengarnya menginjak rem. Untungnya jalanan cukup lenggang sehingga tidak menyebabkan kecelakaan.
"Kakak serius? Anak itu anaknya Jordan? Dari mana kakak tahu? Apa kakak melakukan tes DNA?"cerca Dion. Camelia menggeleng.
"Aku cukup lama bersama Jordan. Meskipun aku tidak tahu hatinya aku tahu kebiasaannya dan itu menurun pada Crystal. Selain itu ada kemiripan antara Jordan dan Crystal. Aku yakin Andrean pasti menyadarinya. Namun, demi harga dirinya ia tidak mengungkapkan hal itu."
"Bagaimana jika itu terungkap, Kakak? Pasti sangat menghebohkan, bukan?" Camelia mengangguk membenarkannya.
"Namun, itu bukankah kartu yang akan aku mainkan sekarang. Masih ada banyak kartu. Kemungkinan kartu itu tidak akan aku gunakan."
"Tapi, Kakak. Jika kau menilainya dari kemiripan. Maka, ada kemungkinan Andrean menyadari kemiripannya dengan Lucas dan Liam. Jika dibuktikan dengan tes DNA, bukankah itu akan menjadi bukti yang konkrit?"
Deg.
Camelia menatap Dion. Ia langsung gusar. "Ya, itu tidak bisa dipungkiri. Tapi, apapun itu, Lucas dan Liam, tetaplah anak-anakku! Siapapun itu, mau ayah kandungnya sekalipun tidak akan bisa mengambil mereka dariku!"tegas Camelia.
"Ya, aku juga tidak akan membiarkannya!"
"Ah lupakan saja dulu itu. Malam ini, tujuan kita adalah dia!"tukas Camelia.
"Okay!" Dion kembali melajukan mobil. Sekitar lima belas menit kemudian, Dion menepikan mobil di depan sebuah club malam.
Dion mematikan mesin mobil namun tidak keluar. Keduanya lalu bertukar tempat tanpa turun dari mobil. Kemudian memakai topi, sarung tangan, dan masker yang mereka bawa.
Menunggu. Keduanya menunggu target keluar dan meninggalkan klub. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya target keluar. Pria gendut yang tampak mabuk berat. Dipapah oleh beberapa orang dan mobil dikemudikan oleh sopir.
Camelia melajukan mobil. Mengikuti mobil tersebut. Menunggu kesempatan dan di saat mereka berada di tempat cukup sepi, Camelia dengan berani menyalip dan menghadang sopir tersebut.
Sopir pria itu tampak terkejut dan marah. Keluar dari mobil. Dion juga keluar dari mobil. Di tangannya ada sebuah sapu tangan.
"Apa kau gila?"hardik sopir itu.
"Ya, aku gila!"jawab Dion dengan gerakan yang cepat membekap pria itu dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Tak butuh waktu lama, pria itu sudah tak sadarkan diri.
Dion mengambil alih posisi sebagai sopir. Melajukan mobil dan Camelia mengikutinya. Mereka menuju tempat eksekusi.
__ADS_1