
"Kita ke rumah sakit dulu baru ke kediaman keluarga itu!"ucap Nyonya Shane. Saat ini, mereka tengah sarapan di restoran hotel.
"Bukankah setelah kita kembali dari sana?"tanya Camelia, menatap heran Nyonya Shane. Mengapa berubah?
"Kesehatan kalian lebih penting daripada keluarga itu!!"tegas Nyonya Shane. Tuan Shane mengangguk pelan, tanda setuju dengan Nyonya Shane.
"Aku setuju dengan Mom, Kak," timpal Dion.
"Kami juga!" Lucas dan Liam juga menyetujuinya.
"Baiklah." Camelia tidak membantah lagi.
*
*
*
Sekitar satu jam kemudian, mereka meninggalkan hotel menuju rumah sakit. Dengan pengawalan ketat, itu menarik perhatian banyak orang. Baik selama perjalanan maupun saat tiba di rumah sakit.
Dion dan Camelia menjalani pemeriksaan bergantian. Pemeriksaan menyeluruh luar dan dalam untuk memastikan apakah ada luka dalam atau tidak.
Butuh waktu yang cukup lama untuk itu.
"Hasil pemeriksaan sudah keluar. Syukurlah tidak ada cedera serius. Saya akan berikan krim dan resep untuk meredakan sakit yang masih terasa. Selain itu, harap Nona dan Tuan Muda istirahat total selama beberapa hari ke depan," ujar dokter, setelah hasil pemeriksaan Dion dan Camelia keluar.
Semua bernafas lega.
"Setelah dari kediaman itu, kita langsung pulang!"ucap Nyonya Shane. Mereka sudah dalam perjalanan menuju kediaman Shane.
"Langsung pulang? Bagaimana jika kita singgah ke Shanghai dulu?"
Ini sudah di China. Xian ke Shanghai hanya butuh waktu sekitar 2 jam penerbangan. Lagipula, mereka sudah lengkap. Bukankah lebih baik kedua keluarga cepat bertemu? Itu kan harapan kedua belah pihak? Ah, tidak. Lebih tepatnya lebih condong ke keluarga Liang.
"Iya, Grandma! Kami juga belum memperkenalkan diri secara resmi pada kakek dan nenek," ujar Lucas.
Nyonya Shane menatap Tuan Shane. Suaminya itu mengangguk pelan. Nyonya Shane menghela nafas pelan.
"Baiklah. Asalkan kita segera pulang. Mom merasa tidak nyaman lama-lama di sini."
Camelia mengangguk paham. "Kak, apa kau memberitahu Mr. Gong kalau kakak di China?"tanya Dion, dengan berbisik. Camelia menggeleng.
"Tidak?"
"Kita akan pulang cepat, waktunya tidak cukup, Dion. Lagipula ini hari kerja. Aku juga harus segera pulang. Syuting dijeda karena hal ini," jelas Camelia.
Entah apa yang terjadi di Kanada? Terlebih pada Alice. Entahlah, Camelia merasa akan ada suasana baru saat ia kembali syuting nanti.
*
*
*
"Mereka terlihat berbeda," bisik Ling Rui pada Ling Lie saat menerima kedatangan keluarga Ling.
Ling Lie tidak menjawab. Pria berwajah sangar itu hanya diam memperhatikan. Terutama pada Camelia. Jika kemarin Camelia menggunakan kaos dan celana panjang, maka hari ini Camelia menggunakan dress berwarna hitam. Identik dengan tujuan mereka yang hendak berziarah.
Belum lagi ekspresi yang ditunjukkan, datar dan itu berlaku untuk satu keluarga itu.
"Dua anak itu kembar. Apa mereka anak wanita itu?" Lagi, Ling Rui berbisik pada kakaknya. Ling Lie mengalihkan tatapannya sejenak pada Lucas dan Liam.
"Diamlah!"ucap Ling Lie.
Ling Rui berdecak. Kembali melihat. Nyonya Besar Ling menyambut mereka.
"Yang sama hanya sikap mereka, menyebalkan!!"gerutu Ling Rui. Ling Lie melirik kesal. Mengapa adiknya ini begitu cerewet?! Badan kekar, wajah sangat, gangster pula tapi cerewet!!
"Apa kita ikut ke aula leluhur?"tanya Ling Rui.
"Lebih baik kau di sini saja," sahut Ling Lie, melangkah pergi meninggalkan Ling Rui. Pria itu mendampingi sang nenek menuju aula leluhur.
"Apa maksudnya? Aku mengganggu?"gumam Ling Rui. Pria itu berdecak dan memilih menyusul.
*
*
*
__ADS_1
Aula leluhur terletak cukup jauh dari kediaman utama. Lokasinya berada di barat kediaman. Pepohonan mengelilinginya, membawa nuansa seduh dan sejuk.
Bangunan yang masih kuno. Di atas pintu terdapat dalam bangunan. Ling Lie selaku calon kepala keluarga berikutnya membuka pintu.
Aroma lilin dan wewangian langsung tercium. Pilar penyangga di dalam ruangan diukir dengan indah. Rak bertingkat berisi papan nama anggota keluarga yang sudah meninggal berjajar dengan rapi.
"Ini adalah papan roh putri Ling Xiayu. Dan di sebelah sana adalah foto-foto leluhur dan anggota keluarga yang sudah meninggal," ujar Nyonya Besar Ling. Menatap sendu papan nama yang terletak di rak tingkat ketiga.
Camelia menatapnya dengan datar. "Karena kita semua di sini, Ling Lie pimpin untuk penghormatan pada leluhur dan keluarga yang sudah mendahului!"titah Nyonya Besar Ling.
"Baik, Nenek!" Ling Lie maju paling depan.
Di dalam aula ini hanya ada keluarga inti. Sementara yang lain menunggu di luar. Mereka berbaris dengan rapi.
"Persembahan pertama."
Mereka membungkuk dengan serentak. Begitu seterusnya sampai persembahan ketiga.
"Bisa tinggalkan aku sendiri?"tanya Camelia, setelah selesai memberi penghormatan.
Selain Camelia, yang lain keluar. Camelia menghela nafasnya. Ia menunduk. Tak lama kemudian melangkah ke arah jajaran foto almarhum yang ditunjukkan Nyonya Besar Ling sebelumnya.
Di sana, terdapat jajaran foto leluhur keluarga Ling. Dan itu disusun berurut disertai dengan keterangan nama, tanggal lahir, dan tanggal kematian.
Tatapan Camelia terhenti pada salah satu foto. Seorang wanita yang cantik. Rambutnya sebahu dan mengenakan cheongsam. Muda dan energik, terlihat begitu jelas pada potretnya.
Putri Ling Xiayu.
Itulah keterangan namanya.
Dan wanita dalam foto itu memang memiliki banyak kemiripan dengan Camelia.
"Aku tidak bisa membencimu. Namun, aku tidak bisa untuk tidak membencinya!"lirih Camelia.
"Setelah sekian lama akhirnya aku tahu siapa orang tua kandungku. Aku tidak berharap. Tapi, hatiku sakit mendengar kisahmu, Ibu." Camelia menyentuh foto itu. Matanya memerah.
"Aku yakin kau pergi dengan tidak rela. Ibu, aku harap kau tenang di sana. Aku sudah datang, Ibu. Dan untuk pria itu, aku akan menyeretnya ke hadapan Ibu. Aku berjanji akan melakukannya, tidak peduli ia masih hidup atau mati!!"
*
*
*
"Kalau begitu mari kita bicarakan hal selanjutnya," ucap Tuan Shane.
Mereka kembali ke ruangan pertemuan. Di sana, semua keluarga berkumpul. Kecuali Lucas dan Liam. Mereka tidak ikut dalam perbincangan itu. Sebagai gantinya, mereka istirahat di kamar yang disediakan, tentu saja dengan pengawalan ketat.
"Ling Xiayu adalah ibu kandungku. Aku tidak punya kesempatan untuk berbakti padanya saat hidup. Sebagai gantinya, aku akan berziarah setiap tahun sebagai bentuk baktiku. Selain itu, aku akan berdonasi ke panti asuhan sebagai bentuk syukur, karena aku sudah mengetahui siapa orang tua kandungku," papar Camelia. Itulah yang bisa ia lakukan.
"Pintu ini terbuka untukmu. Kau adalah bagian dari keluarga ini," sahut Nyonya Besar Ling.
"Apa artinya dia sudah menjadi bagian dari keluarga ini? Bagaimana dengan warisan? Posisi kakak tidak bisa diganggu gugat!" Ling Rui berseru. Dan ucapannya membuat terkejut, termasuk Ling Lie.
"Bodoh! Apa yang kau katakan?!"hardik Ling Lie, dengan kesal menendang Ling Rui.
Ling Rui terjerembab. "Apa aku salah? Nenek mengatakan dia bagian dari keluarga ini. Aku lihat kelahirannya, dia lebih tua daripada kakak. Bukankah tradisi di keluarga ini mewariskan kepemimpinan pada yang lebih tua? Tidak peduli laki-laki atau perempuan?! Aku tidak setuju dia menjadi bagian dari keluarga ini! Terlebih lagi, ibunya adalah putri kesayangan terdahulu, pasti memiliki banyak warisan!!"protes Ling Rui, ia berseru kesal.
Ling Lie melotot. "Mulut s*alan!"
"Hentikan!!" Nyonya Besar Ling berseru. Ia memijat pelipisnya.
Sementara keluarga Shane menatap hal itu dengan datar. Tidak tertarik.
"Memalukan!"
"Nenek?!" Ling Rui kembali protes.
"Biarkan aku yang menjawab pertanyaan Anda! Pertama, aku datang bukan untuk meminta pengakuan kalian bahwa aku adalah bagian dari keluarga ini. Yang kedua, aku tidak peduli dengan siapa calon pemimpin keluarga ini. Tapi, aku merasa kasihan jika calon pemimpinnya seperti Anda!"
"Kau!!"
"Ketiga, aku datang bukan untuk merebut posisi apalagi mengambil warisan. Aku hanya ingin tahu siapa orang tua kandungku! Aku datang bukan untuk harta. Tapi, maafkan aku jika Anda merasa terancam dengan kedatangan saya. Dan sekali lagi saya tegaskan bahwa saya hanya akan datang untuk berziarah!!"tegas Camelia. Ia tidak ingin disalahpahami.
"Saya rasa Anda dapat mengerti maksud saya!" Camelia menatap tajam Ling Rui.
"Cukup!" Nyonya Shane angkat bicara.
"Dion, Lia, kalian keluarlah dulu. Mom dan Daddy ingin bicara dengan mereka."
__ADS_1
Camelia mengernyit tipis mendengarnya. Dion langsung mengangguk. Pada akhirnya Camelia dan Dion keluar.
"Anakku tidak butuh pengakuan apalagi warisan dari kalian!"tegas Nyonya Shane, setelah Dion dan Camelia keluar.
"Kau anak muda yang cerewet, lebih baik kau diam saja!"
Wajah Ling Rui merah padam. Ia merasa dipermalukan.
Namun, tidak bisa berbuat banyak karena Ling Lie menatapnya tajam, memberi peringatan agar dia tidak berkata apapun lagi.
"Meskipun begitu, aku tidak terima dengan perbuatan kalian pada kedua anakku!"
"Apa maksud Anda, Nyonya?" Nyonya Besar Ling merasa tidak enak.
"Kalian harus membayar perbuatan kalian. Kedua anakku menderita luka dalam. Aku dengar kalian sudah kalah saat sparing. Tapi, jiwa tidak sportif kalian hampir membuat kedua anakku kehilangan nyawa. Sebagai seorang ibu, aku tidak terima!"
"Kami rasa masalah itu sudah selesai, Nyonya. Kedua cucuku sudah meminta maaf untuk itu. Dan kedua anak Anda juga sudah memaafkan mereka," ralat Nyonya Besar Ling. Wanita tua itu terhenyak sesaat. Ling Lie mengepalkan kedua tangannya.
"Oh? Benarkah begitu? Tapi, itu mereka bukan saya."
Keluarga Shane ini licik! Aku menyesali perbuatanku kemarin. Bisa-bisa aku dikutuk oleh leluhur!
Dan Nenek, juga keluarga ini! Sial! Aku harus menyelesaikannya!
"Katakan apa yang harus saya bayar untuk itu?"
Nyonya Shane tersenyum. "Tidak banyak. Aku hanya meminta kesetiaan kalian," jawab Nyonya Shane.
"APA?!"
Keluarga Ling terkejut. Darimana datangnya keberanian itu?!
Tidak banyak katanya?!
Kesetiaan adalah hal besar dan penting. Dibandingkan dengan harta ataupun hal lainnya.
"Bagaimana? Jika tidak mau, maka … aku tidak ingin ada keluarga Ling lagi di Xian ini!"
"KETERLALUAN!!" Nyonya Besar Ling berseru.
"Ini adalah harga yang harus kalian bayar karena telah melukai anak-anakku!" Tuan dan Nyonya Shane begitu tenang. Meskipun di hadapan mereka, wajah keluarga Ling merah padam.
"Hanya kesetiaan dan kalian akan lepas dari kehancuran. Bukankah itu tawaran yang bagus? Tapi, jika kalian menolak, juga tidak ada masalah."
"Aku tidak mau! Lebih baik aku mati!"teriak Ling Rui.
"Silakan," sahut Nyonya Shane dingin.
"Jangan keterlaluan, Nyonya! Anda berada dalam wilayah kami!"
"Meskipun demikian, kekuasaan kami lebih besar. Menghancurkan keluarga kalian, itu hal yang sangat mudah."
"Keputusan ada di tangan kalian. Putuskan dalam lima menit!"
"Keluarga gila!"hardik Ling Lie. Ia tidak tahan lagi.
"Kalian menolaknya?"
Nyonya Besar Ling merasakannya. Itu bukan sekadar ancaman. Itu serius. Apalagi Nyonya Besar Ling sudah mencari tahu sebelumnya. Keluarga Shane tidak hanya kuat dalam bidang bisnis namun juga kekuatan keamanan. Mereka punya kekuasaan yang luas.
Menolak akan hancur.
Menemani juga akan kehilangan harga diri.
Tapi, jika keluarga ini hancur, keluarga Ling yang sudah berdiri puluhan tahun juga akan hancur. Sia-sia perjuangan dan pengorbanan keluarga terdahulu. Apalagi itu akan hancur di tangannya.
"Nenek, jangan mau! Kita tidak lemah! Kita bisa menang dari mereka!"
"Jika kami menyatakan kesetiaan, apa yang harus kami lakukan?"
"Kakak?!"
"Lie?!"
"Tampaknya kau memang calon yang mumpuni. Apa yang harus kalian lakukan tidak begitu sulit. Kalian hanya perlu melindungi perusahaan keluarga Shane yang ada di sini. Selain itu, kalian akan turun tangan jika ada masalah di lapangan. Ya, seperti itu saja. Tugas kalian hampir sama seperti pengawal. Mudah, bukan?"
"Terima saja, tidak ada kerugian besar untuk kalian," ucap Tuan Shane, setelah diam mendengarkan.
Keluarga Ling saling tatap. Keputusan ada di tangan pemimpin dan calon pemimpin.
__ADS_1
Haruskah mereka menerimanya?