Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 184


__ADS_3

Zhao Ziying berkeringat dingin. Wajah benar-benar panik dan takut. Kepalanya menunduk dalam. Zhao Ziying merasa kakinya lemas.


Di hadapannya, Andrean menatapnya dengan sangat dingin. Sudah ada lima menit ia berada di dalam ruangan ini. Tidak ada pembicaraan.


Saat ia menyapa tadi, Andrean tidak menjawab. Saat ia bertanya mengapa dipanggil, dengan dingin Andrean menjawab, "siapa yang menyuruhmu membuka mulut?"


"Tuan, pukul 10.00 nanti kita ada meeting di luar," ujar Hans. Ia memecahkan suasana setelah masuk ke dalam ruangan Andrean.


"Hans."


"Saya, Tuan."


"Urus pembekuan artis ini," titah Andrean dingin.


Hans mengalihkan pandangannya pada Zhao Ziying. Wanita itu membelalakkan matanya. Sangat terkejut.


"Tuan … apa maksud Anda?"tanya Zhao Ziying dengan gemetar dan panik.


"Baik, Tuan." Hans tidak banyak tanya. Ia undur diri.


"Tuan, Tuan mengapa saya dibekukan? Apa kesalahan saya? Saya membawa prestasi untuk Anda," tanya Zhao Ziying. Ia menyentuh dadanya. Matanya memancarkan protes yang bercampur dengan takut.


"Kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi? Buat malu saja!!"


"Tuan?"


Zhao Ziying mengulur ingatannya ke masa lalu.


Masalah?


Apakah?


"Tuan! Saya tidak bersalah! Model Kanada itu …."


"Diam! Kau keluar atau aku akan melemparmu keluar!!" Andrean menunjuk ke arah pintu.


"Tuan! Saya tidak terima! Mengapa Anda membelanya? Dia juga mempermalukan saya!!"


"Hans!"


"Hadir, Tuan!"


"Perpanjang pembekuan menjadi 2 tahun!!!"


"Tuan?!" Zhao Ziying terperanjat.


"Baik, Tuan." Hans menurut saja.


Zhao Ziying mengigit bibir bawahnya. Ia benar-benar takut. Sinyal bahaya di tubuhnya aktif. Dengan gemetar, Zhao Ziying berlari keluar.


Andrean mendengus sebal. "Beraninya menyinggung istriku!"


Kemarahan Andrean pada Zhao Ziying semata-mata bukan hanya karena menyinggung Camelia. Akan tetapi, karena Zhao Ziying turut mencoreng nama baik Starlight Entertainment.


Keributan kemarin disaksikan oleh banyak model dari seluruh dunia. Ada kemungkinan besar, di acara selanjutnya, artist-artist di bawah naungan Starlight Entertainment tidak akan diundang atau menjadi model dalam perhelatan fashion dunia itu.


"Beraninya dia! Sialan!" Karena keributan itu, Andrean harus menunduk kepala pada pihak penyelenggara pesta.


Dibekukan adalah mimpi buruk bagi seorang artis. Karena, mereka tidak bisa menyentuh karir mereka. Pembekuan tak ubahnya hiatus tanpa bisa mempersiapkan apapun untuk comeback. Karena agensi membatasinya. Artinya tidak akan ada peningkatan karir dan kemungkinan besar nama mereka akan terlupakan. Tanpa ada aktivitas apapun.


"Tuan, saatnya berangkat." Hans kembali masuk. Andrean bangkit dan memakai jasnya. Pada meeting ini, ia berperan sebagai Presdir Gong Group.


"Kau tidak penasaran mengapa aku membekukannya?"tanya Andrean.


"Apapun itu, pasti kesalahan fatal, Tuan," sahut Hans.


"Ku tinggal beberapa hari, kau lebih kalem ya, Hans?" Andrean menatap keluar jendela.


"Perasaan Anda saja, Tuan," jawab Hans. Ia fokus menyetir.


"Dia menyinggung istriku. Berani sekali, kan?"desis Andrean.


Istri?


Hans mengernyit singkat. "Saya rasa Anda yang sangat bermurah hati, Tuan," sahut Hans. Masih bisa berdiri setelah menyinggung orang terpenting Andrean? Harusnya bersyukur hanya dibekukan.


Andrean terkekeh pelan. "Ini hanya permulaan."


Hans tersenyum simpul. Ya, tidak mungkin hanya itu. Senyum Andrean yang penuh misteri itu, membuat jantung Hans berdebar. Akan ada kehebohan apa lagi setelah kabar Zhao Ziying dibekukan?


Tuan bukan orang baik. Bukan pula orang jahat. Bertemu dengan Nona yang sifatnya juga begitu, mereka benar-benar cocok.


*


*


*


Satu Minggu berlalu sejak Camelia, Lucas, dan Liam pulang dari Paris.


Satu minggu yang tenang bagi Camelia. Ia belum mengambil pekerjaan apapun setelah kembali. Padahal, Kak Abi sudah kewalahan menangani tawaran yang datang. Sudah banyak sekali. Namun, Camelia masih memilih untuk di rumah saja.


Tuan dan Nyonya Shane sudah berangkat 4 hari yang lalu ke Hawai. Katanya akan liburan selama satu minggu. Jika begitu, 3 hari lagi akan pulang.


Lucas dan Liam telah menyelesaikan pemotretan majalah kemarin. Dan Dion sibuk dengan pekerjaannya.


Keesokan paginya, Camelia memutuskan untuk pergi ke agensi. Merasa waktu istirahatnya sudah cukup. Ia akan kembali beraktivitas. Karena di kediaman hanya ada pelayan, Lucas dan Liam memilih ikut.


Sementara Lucas dan Liam berkeliling, mencari hal menyenangkan selain mengurung diri dalam ruangan.


Camelia membahas proyek apa yang akan ia ambil.


Kak Abi memaparkan satu persatu tawaran proyek yang dikirimkan. Ada proyek drama, film, model, dan juga ada tawaran mengikuti reality show.


"Ku pikir ada baiknya kau mencoba reality show, Lia," ucap David.


"Reality show?"


"Bagaimana jika aku mengambil dua sekaligus?"

__ADS_1


"Aku pikir kau pakarnya," sahut David. Camelia tersenyum. Ia sudah memutuskannya.


"Jadi, apa yang akan kau ambil, Lia? Aku akan mengirim pemberitahuan pada mereka," ujar Kak Abi.


"Tawaran film dan model, aku akan mengambilnya."


"Eh? Tidak jadi reality show?"tanya Kak Abi. Perasaan tadi Camelia menyetujuinya.


"Sejak kapan aku pernah mengambil tawaran itu, Kak?"sahut Camelia. Ia telah banyak menerima tawaran seperti itu. Namun, Camelia enggan dan sama sekali tidak pernah mengambilnya. Kecuali, tawaran menjadi cameo atau bintang tamu acara tertentu yang ditanyakan lewat aplikasi.


"Haha, benar juga."


"Naskah ini, penulisnya adalah Miriam Toews. Namun, sudah ada remake di dalamnya," ujar Kak Abi. Camelia mengangguk. Ia memutuskan untuk menerima tawaran itu. Setelah membaca naskahnya, Camelia menemukan kecocokan dengan peran itu.


"Baiklah. Segera urus semuanya!"titah David. Kak Abi mengangguk. Ia undur diri lebih dulu.


Kali ini, Camelia mengambil proyek film dan model majalah musim dingin. Fotonya akan menjadi sampul majalah.


"Huh! Mana kabar baiknya?"tanya Camelia.


"Bukankah kau yang membuatku harus menahan kerja keras?"sahut David, menatap kesal Camelia.


"Aku?" Camelia menunjuk dirinya sendiri. "Yang benar saja. Memangnya aku mencampuri urusan kalian?"


"Kata dokter tidak boleh siang malam. Harus ada jangka waktunya. Bukankah itu karenamu?"sungut David.


"Harusnya kau berterima kasih padaku, Kak. Jika tidak, tubuh sahabatku tersayang akan sakit. Tulangnya akan remuk…."


"Aku tahu! Aku tahu! Aku juga menunggu. Aku sudah mengikuti arahan dokter. Tapi, kabar baik belum datang juga."


"Apa kau menekan Kak Lina?"selidik Camelia. Tatapannya berubah tajam.


"Mana mungkin!"sangkal David langsung.


"Huh! Wanita itu sangat sensitif. Jika Kakak terlalu menggebu, keinginanmu akan menekannya. Apa kau tahu, Kak? Perasaan tertekan dapat mempengaruhi pembuahan," ujar Camelia.


"Hah? Apa? Pembuahan?" David tercengang. Apakah ia tengah diajari?


"Sepertinya iya. Baiklah. Besok, aku akan keluar dengan Kak Lina," ucap Camelia. Ia berdiri dan meninggalkan ruangan David.


David masih termenung. Aku sudah mengikuti saran dokter. Aku juga tidak mengatakan ingin segera punya anak. Apa Mom yang mengatakannya? Atau, apa tadi? Bukan kata-kata, tapi tindakanku terlalu menggebu?


Astaga! Padahal aku sudah bertemu banyak wanita. Tapi, sekarang aku merasa payah.


*


*


*


"Mengapa belum datang juga?"gumam Camelia. Ia sudah menunggu di tempat yang dijanjikan. Ini adalah hari Minggu, Lina pasti libur. Dan kemarin sudah setuju.


Sudah sekitar 30 menit Camelia menunggu. Pesannya juga tidak dibalas. Begitu juga dengan panggilan yang tidak dijawab.


Sebenarnya ada apa?


"Kak David." Camelia memutuskan untuk menghubungi David.


Ia memutuskan untuk menunggu. Menghabiskan minuman dan cake yang duluan ia pesan.


Wajahnya ditekuk. Ke depannya tidak banyak kesempatan untuk keluar seperti ini. Jika batal, juga tidak ada pesan.


Lima belas menit kemudian juga tidak ada kabar. Camelia mencoba kembali menghubungi Lina. Masih tidak diangkat. Begitu juga dengan David.


"Sabar! Sabar!" Camelia mengelus dadanya. Sudah jenuh ia menunggu. Pesanannya juga sudah habis.


"Ya sudahlah."


Camelia bangkit. Ia menuju kasir untuk membayar kemudian meninggalkan cafe itu.


Dalam perjalanan pulang, ponsel Camelia berdering. Kebetulan, Camelia menyetir sendiri. Camelia menepikan mobilnya.


Nama kontak David tertera di layar. Camelia segera menjawabnya.


"Ke masa saja kau, Kak? Bagaimana dengan Kak Lina? Apa dia sudah berangkat? Atau bagaimana?"tanya Camelia, beruntun dengan nada kesal.


"Jangan kesal dulu. Ada kabar baik."


"Kabar baik apa? Kau ingin membuatku naik darah?!"seru Camelia.


Tamu bulanannya datang. Jadi, Camelia sangat sensitif. Hal kecil saja bisa membuat mood nya buruk.


"Aku akan jadi ayah."


Mata Camelia melebar. "Sungguh?!"


"Sekarang kau di mana, Kak? Aku akan ke sana!"


*


*


*


Setelah mendapat alamatnya, Camelia mematikan panggilan dan putar balik. Perasaan jenuh dan kesalnya hilang seketika.


Setibanya di alamat yang David katakan yakni rumah sakit, Camelia langsung menuju ruangan yang David sebutkan.


"Hah! Hah!"


Nafas Camelia terengah.


"Lia, astaga! Kau kenapa?"tanya Nyonya Smith. Wanita tua itu ikut rupanya.


Camelia tidak menjawab. Ia menatap David lalu Lina yang tampak pulas di ranjang rumah sakit. "Aku panik saat Lina tiba-tiba pingsan. Padahal ia sudah mau berangkat menemui," ujar David.


"Selamat!"ucap Camelia. Ia begitu girang.


"Kerja kerasmu berhasil! Hahaha!"

__ADS_1


"Aku akan jadi ayah!" David dan Camelia berjabat tangan. Keduanya tertawa renyah.


Nyonya Smith tersenyum melihatnya. "Aku senang sekali. Aku pikir David sudah tidak bisa memiliki anak lagi," ucap Nyonya Smith. Mengangkat sudut bibirnya.


"Mom!"protes David.


"Hahaha, syukurlah. Akhirnya aku bisa pamer pada mereka!"


"Mom? Jangan pamer dulu. Anakku masih sebesar strawberry," protes David lagi.


"Dia akan tumbuh besar. Seperti saat Mom mengandungmu dulu." Nyonya Smith tidak mendengarkan protes David.


"Benar! Harus siapkan nama, lalu juga perlengkapan bayi."


"Mom, itu masih lama lagi. Kita belum tahu jenis kelaminnya."


"Huh! Kau pikir 8 bulan itu selama apa?"ketus Nyonya Smith. Menatap berang putra semata wayangnya itu.


"Uh!"


"David! Kau jaga Lina baik-baik. Mom akan pulang dan mengumumkan kabar baik ini! Lia, Aunty pulang dulu ya. Jangan lupa mampir ke kediaman Smith," ucap Nyonya Smith.


"Mom!"


"Shalala … la la la … aku jadi nenek. Ah ya, aku juga harus memikirkannya. Kira-kira panggilan apa yang cocok?" Nyonya Shane melenggang keluar dengan perasaan gembira. Tidak menggubris David.


"Aunty sangat bersemangat, ya?"


Camelia terkikik geli melihat ekspresi pasrah David.


"Justru aku takut dengan semangatnya. Mom pasti akan sangat posesif pada Lina." David menghela nafasnya.


"Serius? Bukankah kalian imbang?"celetuk Camelia.


David hanya melirik. Ia kembali ke sisi Lina. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik sang istri.


"Ugh!"


"Lina? Kau sudah sadar?"


"Ini di mana? Apa yang terjadi?" Lina memegang kepalanya.


"Selamat, Kak. Kalian akan jadi orang tua," sahut Camelia.


"Lia?"


"Tunggu. Maksudnya aku hamil?"tanya Lina. Ia meminta kepastian dari dua orang itu.


"Iya, Lina." David memeluk dan mengecup kening Lina.


"Sungguh?" Mata Lina berkaca-kaca.


David mengangguk. Alhasil, Lina menangis. Ia sangat senang dan terharu.


Di dalam tubuhnya, ada calon anaknya. Ini sangat membahagiakan.


"Aku senang sekali."


"Aku juga. Aku akan menjaga kalian dengan baik."


"Harus, dong!"sahut Camelia. Ia turut bersuka cita untuk pasangan itu. Senang Lina mendapatkan kebahagiaan yang besar. Semoga bertahan sampai akhir.


"Aku pikir kau membatalkan janji, Kak. Rupanya malah terbaring di sini."


"Kau pasti kesal. Maafkan aku."


"Hihi tidak masalah. Kekesalanku sudah disingkirkan oleh kabar ini. Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua!!"


*


*


*


Pertemuan mereka memang tidak sesuai dengan rencana. Namun, itu adalah rencana yang sangat sempurna.


Kabar kehamilan Lina telah tersebar di media. Tentu saja David yang mengumumkannya. Ucapan selamat mengalir bak air sungai.


Dan keluarga besar Glory Entertainment juga tidak lepas dari dampak kabar tersebut. Ada bonus besar untuk mereka. Selama satu minggu, disediakan makan siang gratis dengan aneka dessert yang enak.


Dan sampai detik ini, identitas Lina sebagai istri David masih tersimpan rapi. Hanya saja, ada bau kecurigaan dari Margaretha. Karena wanita itu adalah mentor Lina, jadi wanita itu dapat menangkap perubahan dari Lina.


*


*


*


Drama Split Love telah tuntas ditayangkan. Hasil yang dicapai dari drama itu memuaskan. Hal itu adalah pencapaian. Bahkan, melebihi target tim produser.


Penonton puas dengan jalan cerita dan pembawaan tokoh. Kasus yang menimpa Joseph menjadi daya tarik sendiri. Memang, karya yang berkualitas tidak akan terpengaruh oleh skandal buruk. Ibarat sebuah berlian yang akan tetap bersinar dalam tumpukan lumpur.


Oleh karena hal itu, pihak produser memutuskan mengadakan pesta untuk merayakan kesuksesan itu.


*


*


*


"Apakah Joseph akan hadir?"tanya Camelia. Skandal Joseph pecah setelah syuting drama. Biar bagaimana dia masih dalam jajaran pemain.


"Belum ada konfirmasi akan hadir," jawab Kak Abi.


"Aku akan hadir."


"Kalau begitu aku akan mempersiapkannya."


"Untuk apa yang akan aku gunakan, kakak tidak perlu risau. Aku sudah memilikinya," ujar Camelia.

__ADS_1


Kak Abi mengangguk paham.


"Kalau begitu, mari tuntaskan permainan ini," gumam Camelia.


__ADS_2