Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 192


__ADS_3

Hah


"Akhirnya ada waktu senggang," ucap Hans pada dirinya sendiri. Ia begitu senang. Ini adalah hari Minggu. Kebetulan Minggu ini ia tidak begitu sibuk.


Hans berharap atasannya itu tidak macam-macam lagi.


"Aku bertekad, tidak akan datang meskipun dia akan membunuhku!"ucap Hans lagi. Pria itu mematut dirinya di depan cermin.


"Perfect," puji Hans pada dirinya sendiri. Sekretaris utama Andrean itu tampan dengan setelan kasualnya.


Pria itu lantas bersenandung riang, keluar dari rumahnya. Hari sudah malam. Ia akan bersenang-senang malam ini. Ah, bukan. Ia akan melakukan kencan buta hari ini.


Menjadi sekretaris orang sibuk memang merupakan tekanan tersendiri. Ia harus siap siaga. Jika ada yang bertanya mengapa ia tidak kunjung menikah padahal usianya sepantaran dengan Andrean maka jawabannya adalah karena Andrean. Ia selalu sibuk. Apalagi jika Andrean tidak ditempat.


Jika dipanggil meskipun di luar jam kerja harus datang. Belum lagi perintah di luar pekerjaan. Ia adalah sekretaris yang serba bisa dan siap siaga.


Namun, kali ini, ia akan membangkang jika Andrean memanggilnya. Alasannya memang penting. Namun, masa depannya juga penting. Ia tidak mau mati tanpa merasakan pernikahan dan melepas keperjakaannya.


Kini, Hans tiba di restoran tempat janji temu diadakan. Sebelum masuk, Hans kembali merapikan penampilannya.


Ia melangkah masuk dengan percaya diri.


"Nona Silvia?"sapa Andrean pada wanita yang duduk sendirian. Wanita yang dipanggil itu menoleh.

__ADS_1


Wow, cukup menggoda, batin Hans. Pakaian wanita itu cukup seksi, cukup untuk menarik perhatian banyak pasang mata dengan body goalsnya.


"Tuan Hans?"tanya balik wanita itu. Hans mengangguk.


"Salam kenal," ujar Hans, mengulurkan tangannya.


"Saya adalah desainer ternama. Saya punya reputasi yang tinggi. Keluarga saya orang terpandang. Penghasilan saya tinggi, bagaimana dengan Anda?" Bukannya membalas uluran tangan Hans, wanita bernama Silvia itu dengan angkuh memperkenalkan dirinya. Menatap Hans dengan menyelidik.


"Ah?" Hans terhenyak sesaat. Kesan baiknya jadi hilang.


"Saya hanya seorang sekretaris kecil. Keluarga saya juga keluarga yang sederhana. Gaji saya mungkin tidak sebesar Anda," jawab Hans, tersenyum lebar.


"Anda serius?"tanya Silvia. Wajahnya suram. Hans menduga Silvia tidak senang dengan perkenalan dirinya.


"Ah, tunggu, Nona!"tahan Hans.


"Apa lagi?" Silvia menatap kesal Hans. Sorot matanya meremehkan.


"Jika Anda mencari pasangan dengan kriteria seperti itu, maka Anda tidak akan mendapatkan yang cocok," ujar Hans.


Zaman sekarang, masih zaman hubungan harus disadari dengan kekayaan? Jika demikian, sukanya bukan karena cinta namun karena harta, bukan? Hans menggerutu dalam hati.


"Terima kasih atas saran Anda. Namun, lebih baik lihat diri Anda sendiri. Siapa yang mau dengan pria berpenghasilan rendah?! Tidak menjamin kesejahteraan wanitanya? Saya bukan level Anda!"

__ADS_1


"Biar saya berpenghasilan kecil, saya dapat menjamin kesejahteraan pasangan saya!"tegas Hans.


Silvia berdecih pelan. "Namun, itu bukan saya!"tegasnya balik. Silvia kemudian melangkah pergi. Hans tidak menahannya.


"Hm…."


Hans kembali duduk. Ia membuka ponselnya.


"Memang penghasilan orang kantoran sepertiku ini tidak seperti pengusaha. Namun, jika mau membandingkan aset, aku menang jauh," gumam Hans.


"Biodatanya berbeda sekali. Sayang, padahal aku merasa cocok dengannya," gumam Hans lagi.


Ia menghela nafas pelan. Kencan butanya tidak berhasil.


"DASAR PRIA GILA! BERANINYA KAU MENGAJAKKU MENIKAH DENGAN PENGHASILANMU ITU!!"


Hans menoleh saat mendengar keributan itu. "TIDAK TAHU DIRI! WAJAH TAMPANMU TIDAK BERGUNA TANPA HARTA!!"


BYURR!


"Lie?"gumam Hans terkejut mendapati darimana asal keributan itu. Di sana, Lie menunduk melihat pakaiannya yang basah dan wanita yang marah-marah itu pergi dengan menghentakkan kakinya kesal.


"Aku masih beruntung." Hans mengusap dadanya.

__ADS_1


__ADS_2