
Mentari telah terbit, perlahan menghilangkan gelap yang menyelimuti langit. Warna jingga seperti sunset menghiasi langit kota Ottawa. Perlahan, satu persatu pencahayaan malam di kota itu dipadamkan. Digantikan dengan mentari yang semakin naik. Sinarnya dengan hangat menyapa kota Ottawa. Membuat orang-orang kembali beraktivitas.
Begitu juga yang terjadi di kediaman Shane. Para pelayan sibuk menyiapkan sarapan juga membereskan kediaman. Sementara keluarga Shane, bersiap untuk memulai aktivitas.
Tok.
Tok.
Camelia yang tengah memakai antingnya, menoleh ke arah pintu ketika ada yang mengetuk pintu kamarnya. Segera, Camelia beranjak untuk membuka pintu.
"Good morning, Mom." Rupanya Lucas dan Liam. Keduanya menyapa Camelia dengan senyum manis.
"Morning," jawab Camelia, hangat. Hubungan ibu dan anak itu tampaknya sudah membaik setelah sempat memburuk akibat tindakan Liam dan Lucas tempo hari.
"Apa mom sudah siap? Ayo ke meja makan bersama," ajak Lucas. Camelia mengangguk.
"Sebentar, Mom ambil ponsel dulu." Camelia bergegas mengambil ponselnya kemudian menggandeng Lucas dan Liam menuju meja makan.
"Aku jadi teringat kenangan dengan Daddy. Dulu, sebelum Daddy pergi, selalu menggandeng kami bersama dengan Mom," ucap Lucas, mengingat kenangan bersama dengan Chris. Apa yang mereka lakukan saat ini, sudah menjadi rutinitas. Namun, hal ini terhenti saat berada di China. Saat ini adalah perdana setelah sempat terhenti.
Camelia tersenyum simpul. "Anggaplah Daddy kalian masih ada di sini. Memang raganya tidak ada tapi peluk dan genggamnya, masih tertinggal," balas Camelia.
"Benar, Mom. Aku … bisa merasakannya," ujar Liam, sejenak memejamkan matanya.
"Mom, aku merindukan Daddy." Lucas menghentikan langkahnya. Otomatis Liam dan Camelia juga berhenti. Mata Lucas berkaca-kaca. Mata memancarkan kerinduan yang mendalam. "Aku juga, Mom." Liam menimpali.
Camelia tersenyum simpul. Dalam hatinya merasa sedih. Ia segera berjongkok dan membawa Lucas dan Liam dalam peluknya. "Mom juga merindukan Daddy kalian."
Camelia menyadarinya sosok Chris bagi Lucas dan Liam. Dan kerinduan yang dikatakan oleh Lucas dan Liam, membuat Camelia merenung.
Anak-anakku masih sangat kecil ….
"Andai kata Tuan Gong menjadi ayah kalian, apa kalian akan menerimanya?"tanya Camelia. Lucas dan Liam tercengang mendengar pertanyaan lirih Camelia.
"Apa yang Mom katakan?"tanya Lucas.
"Bukankah kalian sudah tahu? Mom yakin kalian mengerti maksud Mom."
Lucas dan Liam saling pandang.
Apa Mom berubah pikiran? Mereka seakan tengah melakukan telepati.
Cukup lama Camelia menunggu jawaban Lucas dan Liam yang tampak terkejut dengan pertanyaannya. Sebab kemarin, mereka juga sempat membahas hal ini, meminta Lucas dan Liam melupakan apa saja yang mereka lalui di China. Lucas dan Liam setuju dengan hal itu. Terlebih, sebelum Camelia pula mereka sudah membahas hal tersebut. Sulit untuk bersatu, akan terjadi perpecahan jika fakta tersebut tersebar.
"Ah … lupakan saja. Ayo, yang lain pasti sudah menunggu kita." Camelia kembali menggandeng Lucas dan Liam menuju meja makan.
Lucas dan Liam menurut. Tidak membahasnya lagi, di depan Camelia.
__ADS_1
Di meja makan, rupanya Dion sudah lebih dulu di sana. Pemuda itu mengenakan celana dan kemeja hitam, senada dengan warna busana yang Camelia, Lucas, dan Liam gunakan. Camelia mengenakan dress dengan lengan sesiku, sementara Lucas dan Liam mengenakannya kemeja.
"Mom dan Dad belum datang?"tanya Camelia yang tidak melihat kedua mertuanya di meja makan.
"Mungkin sebentar lagi, Kak," jawab Dion. Camelia mengangguk kecil. Dan benar saja, tak lama kemudian Tuan dan Nyonya Shane hadir. Keduanya juga memakai pakaian berwarna hitam.
"Morning," sapa hangat kedua itu.
"Morning, Mom, Dad."
"Morning, Grandpa, Grandma." Menjawab hampir bersamaan.
Setelah Tuan dan Nyonya Shane datang, sarapan dimulai. Tidak memakan waktu yang lama karena semua fokus pada hidangan mereka.
Pukul 08.00, mereka sudah selesai sarapan. Meja makan sudah sudah dibereskan.
"Good morning." Itu kak Abi. Ia menyapa dan memberi salam pada Tuan dan Nyonya Shane.
"Ayo berangkat," ajak Tuan Shane kemudian. Rupanya mereka menunggu Kak Abi.
Segera, mereka keluar dan memasuki mobil. Kak Abi satu mobil dengan Camelia dan Lucas, ia menjadi sopir ketiga orang itu.
Sementara Dion satu mobil dengan Tuan dan Nyonya Shane.
Kedua mobil mewah itu keluar dari mansion, membelah jalanan kota Ottawa. Menempuh perjalanan sekitar 30 menit, tiba di sebuah pemakaman. Dari gerbangnya yang mewah, serta dominasi warna putih, dan ada tanda ini adalah milik keluarga Shane, dapat dilihat bahwa ini akan pemakaman keluarga.
Nyonya Shane berjongkok di depan makam Chris. "Anakku … apa kabarmu di sana?"
"Apa kau bahagia di sana?"
"Tak terasa sudah 100 kepergianmu." Menyeka sudut matanya. Tuan Shane turut berjongkok, mengusap punggung istrinya.
"Jujur saja meskipun sudah selama itu, Mom belum bisa melepaskan kepergianmu. Namun, Mom saja. Mom harus rela, demi ketenangan dan kebahagiaanmu di sana."
Mulai terisak. Ya, ibu mana yang tidak kehilangan jika anaknya pergi untuk selamanya? Lebih-lebih, Chris adalah anak tunggal, jelas saja anak emas keluarganya.
"Hei, Chris. Katakan pada Mom mu untuk jangan bersedih lagi. Apa di sana kau tidak sedih melihat Mom mu seperti ini?" Bahkan Tuan Shane pun sama. Hanya saja, ia menunjukkan dengan memarahi Chris.
"Jangan memarahi putraku! Kau kira dia tahu akan pergi selamanya? Kau kira dia mau membuatku sedih?!"balas Nyonya Shane. Dengan ketus balik memarahi suaminya.
"Ahh?" Begitu Nyonya Shane. Ia sangat menyayangi putranya.
"Mom, Dad. Sudah, jangan bertengkar di depan makam kak Chris." Dion turut berjongkok di depan makam Chris.
"Semua sudah takdir. Mau tak mau kita harus mengikhlaskannya. Jika tidak, imbasnya bukan hanya kepada ketidaktenangannya di sana, juga pada hati kita," lanjut Dion. Ia sudah pernah melaluinya. Bersama dengan Camelia.
Tuan dan Nyonya Shane menghela nafas pelan. "Kau benar, Dion." Tersenyum lembut.
__ADS_1
"Lia, apa kau tidak ada yang ingin dikatakan pada Chris?"tanya Nyonya Shane.
"Sudah aku katakan, Mom," jawab Camelia.
"Hm, mereka ini komunikasi batin. Mana bisa kita lihat," celetuk Tuan Shane dengan tawa ringan. Camelia turut tertawa, begitu juga dengan yang lain.
Saat tertawa ringan seperti itu, Kak Abi mengabadikannya moment tersebut.
*
*
*
Setelah mengunjungi makam Chris, Tuan dan Nyonya Shane menuju Shane Group. Sementara Camelia, Lucas, Liam, dan Kak Abi menuju agensi Camelia.
Camelia ada beberapa keperluan di sana. Begitu juga dengan Lucas dan Liam. Kemarin, Kak Abi mengatakan bahwa ada beberapa tawaran film dan juga drama untuk Lucas dan Liam. Sama halnya dengan Camelia, tawaran itu pun ada.
"Lia, nanti kau hanya akan berbicara perihal Lina yang akan menjadi menagermu saja?"tanya Kak Lina di perjalanan.
"Tidak, Kak," jawab Camelia, melirik sekilas pada Kak Abi. Dan kembali fokus pada ponselnya.
"Ada beberapa tawaran naskah, apa kau akan melihatnya?" Camelia mengangguk.
"Ah ya … kontrak dengan phoenix teknologi juga belum berakhir, jangan lupa ada jadwal wawancara mengenai proyek itu. Dilakukan daring," ujar Kak Abi, mengingatkan kembali. Camelia menjawabnya dengan mengangguk.
Lucas yang penasaran dengan apa yang sedang mommy nya lakukan, memajukan kepalanya melihat.
Rupanya Camelia tengah membuat caption untuk postingan Instagram. Dan foto yang digunakan adalah foto-foto yang kak Abi ambil tadi.
Tak terasa, 100 hari sudah kau pergi meninggalkan kami.
Rasanya berat namun semua sudah takdir. Terus meratap dan bersedih juga tiada artinya.
Hari ini … kami tertawa di depanmu. Berharap kau melihatnya, bahwa kami merelakan kepergianmu.
Jangan khawatir, aku akan menjaga mereka dengan baik. Aku akan selalu membuat mereka tertawa.
Chris, semoga kau bahagia selalu di sana. Salam hangat dengan penuh cinta, your wife, Camelia Shane.
Setelah selesai menulis kata-kata, Camelia mempostingnya. Kemudian menutup ponselnya. "Mom, apa aku boleh bertanya tentang pertanyaan Mom tadi pagi?" Liam bertanya dengan nada serius.
"Boleh. Tapi, sepertinya tidak sekarang," balas Camelia saat mobil berhenti di depan sebuah bangunan megah, itu adalah agensinya.
Liam mendengus pelan.
Mereka kemudian turun. Liam mengubah ekspresinya seperti biasa, dingin.
__ADS_1
We are comeback!