
Andrean dan Camelia menuju restoran. Dan benar! Yang mereka temui adalah Mr. Alex. Namun, kali ini ada tambahan personil. Nyonya Marry ada di dalamnya.
Tidak ada keramahan pada tatapan kedua orang tua itu.
Camelia tidak ambil pusing. Ia menebak arah situasi ini. Hei, ia sudah memegang kartu.
Mr. Alex pasti sudah memberitahu pada keluarga mengenai masalah ini.
Cih!
Ingin rasanya Camelia meludah ke wajah pria tua egois itu. Ia lebih memilih masalah bertambah runyam ketimbang kehilangan 25 persen kepemilikan Eternel. Ternyata kebahagiaan keluarga bukan prioritasnya.
"Aku di sisimu," bisik Andrean.
Gejolak amarah kembali mencuat. Sebisa mungkin Camelia menahannya. Ia harus tetap tenang. Kepala dingin. Jangan sia-siakan kerja kerasnya.
"Penekanan Anda pekat sekali, Nyonya Marry. Apakah kita memiliki masalah?"tanya Camelia, tersenyum lebar.
Wajah Nyonya Marry semakin suram. "Cukup!"
"Apa yang cukup Mr. Alex?"tanya Camelia.
Belum ada yang dibahas.
"Fufu … katakan apa yang akan kalian sampaikan. Saya ini orang yang bisa bernegosiasi," ujar Camelia.
"Sayang sekali kau lahir dari rahim wanita itu. Sayang sekali, ckckck…."
"Really?"
"Memang wanita itu seperti apa? Memangnya Anda wanita seperti apa?"sarkas Camelia. Ia mulai menunjukkan taringnya. Seringai Camelia itu membuat Mr. Alex dan Madam Marry tercekat sesaat.
"Masa lalu tidak akan berubah. Lia, jangan buang-buang waktu!"tegas Andrean. Basa-basi yang memperpanjang waktu. Dan untuk hal seperti ini, Andrean benci membuang-buang waktunya.
"Jadi, bagaimana?"tanya Camelia, menaikkan satu alisnya.
"25 persen Eternel, mimpi saja kau!"ketus Nyonya Marry.
"Ah … begitu, ya?" Camelia mengangguk kecil. Ia mengeluarkan sesuatu dari map yang ia bawa tadi.
Ada banyak surat. Sekitar 10 surat kepemilikan perkebunan. Kesepuluh surat itu di jajarankan di atas meja.
"Semua perkebunan ini adalah supplier untuk Eternel. Dan saat ini, semua ini adalah milik saya. Jika tidak Anda berikan 25 persen kepemilikan itu, maka jangan harapkan mendapatkan bahan baku Eternel!!"
Mr. Alex dan Madam Marry terbelalak. Mereka buru-buru memeriksa surat itu. Asli, nama Camelia tertera sebagai pemilik di seluruh surat kepemilikan itu.
"Selain itu, lihat ini. Jika ini tersebar, bagaimana nasib Eternel?" Andrean juga mengeluarkan kartunya. Pasangan itu sama-sama menyeringai.
Aturan gelap dalam bisnis. Jika tidak bisa menggunakan negosiasi yang baik, gunakan saja ancaman untuk mendapat kesepakatan.
Pasangan pemilik Eternel itu saling pandang. Wajah keduanya tidak begitu terkejut melihat foto itu.
Itu adalah foto yang putra tunggal mereka. Dalam foto itu, tengah berpesta. Ada alkohol dan juga alat hisap. Selain itu, pesta itu juga termasuk pesta **** di mana tidak ada lawan jenis.
"Keluarga yang bahagia, klise sekali," cibir Andrean.
"Anda mengancam kami dengan foto ini? Sayang sekali." Mr. Alex menggeleng.
Mom, mengancam lewat LGBT tidak akan berpengaruh, negara ini telah melegalkannya. Sama seperti di Kanada.
Camelia teringat ucapan Liam. Benar juga. Biar bagaimanapun ini negara liberal. Ada perlindungan hukumnya.
Tapi, Camelia dan Andrean bukan mengancam dari segi tersebut. Narkotika. Itu adalah segi yang akan diserang oleh Camelia dan Andrean.
Bukan hanya dari segi itu, sudah ada dari supplier, foto tersebut, dan masih ada beberapa lagi. Namun, lihat dulu. Jika tidak mempan, maka harus mengeluarkan semua kartu.
"Sayang sekali juga, maksud saya juga bukan itu," balas Andrean.
"Mengapa bersusah payah seperti ini? Apa yang sebenarnya kau inginkan??"tanya Marry. Tidak mengerti dengan pemikiran Camelia dan Andrean. Membeli sepuluh perkebunan itu pastinya menghabiskan banyak uang. Dengan luas perkebunan, uang yang dikeluarkan tentu lebih besar daripada nominal saham 25 persen itu.
"Maaf," sahut Camelia.
"Sejujurnya saya hanya perlu kata itu."
"Anda angkuh sekali. Padahal jelas-jelas saya adalah darah daging Anda. Hanya satu kata itu, sulit sekali kah?" Camelia memiringkan kepalanya.
"Huh! Tidak perlu berbelit-belit. Kau hanya mencari uang."
"Bukan. Saya mencari penyesalan. Selain itu, mungkin dengan bonus saham."
"Serakah membawa kehancuran."
"Mengingkari janji juga membawa dan mendorong pada kehancuran."
"Kau tidak akan mendapatnya!"
"Maka biarkan itu hancur."
"Lagipula bukan milik saya. Menghancurkannya sangatlah mudah. Bagaimana? Ingin mencoba atau 25 persen saham? Setelah itu saya tidak akan mengganggu lagi. Hubungan darah ini juga tidak akan saya anggap. Dan saya akan menerima tawaran Anda. Eternel cocok dengan saya."
Andrean menyipitkan matanya. Tidak akan mengganggu. Namun, menerima tawaran menjadi brand ambassador Eternel.
"Bagaimana?"
"Oh, buktinya kurang?"
"Cukup!" Mr. Alex memukul meja. Tampaknya ia sudah tidak tahan lagi.
"25 persen saham itu, ambil! Tapi, jangan pernah sekalipun menunjukkan wajahmu di hadapan keluarga Eternel!!"
"Sayang?!"
Camelia tersenyum puas. "Begitu dong. Mari, lakukan transaksinya sekarang."
"Apa yang kau lakukan?!"
"Kita bicara di rumah. Saya akan datang malam ini lagi!!" Mr. Alex menarik istrinya pergi.
"Hehehe, sebentar lagi misi selesai, Rean."
"Iya."
*
__ADS_1
*
*
Mr. Alex memutuskan untuk memberikan 25 persen saham Eternel kepala Camelia setelah melihat jarak yang begitu jauh. Sanggup membeli 10 perkebunan dan mendapatkan bukti seperti itu, tentu saja bukan sembarang orang. Pasangan itu juga tidak gentar saat melakukan intimidasi. Bahkan sangat percaya diri akan mereka.
Dilihat dari lagaknya, tentu bukan pemain baru. Jika Eternel dihancurkan, maka keluarganya juga akan hancur.
Malam harinya, pemindahan dan serah terima kepemilikan 25 persen saham Eternel terjadi. Acara itu dipenuhi dengan senyum kemenangan Camelia dan ketidaksenangan Mr. Alex serta Madam Marry.
Setelah tanda tangan, Camelia telah sah menjadi pemilik saham Eternel.
"Jangan pernah muncul dan mengganggu kami!"
"Saya orang yang tepat janji."
"Kalau begitu selamat tinggal. Semoga hidup kalian bahagia," ujar Camelia dengan tersenyum lebar. Tapi, di mata Mr. Alex dan Madam Marry itu seperti ejekan.
"Sialan!" Mereka hanya bisa mengumpat dan meninggalkan tempat.
"Yeah! Mission complete!"
Camelia menghambur memeluk Andrean. Erat, erat sekali.
"Kau hebat, Lia."
Hiks … hiks … hiks
"Lia?"
"Biar. Biarkan aku menangis. Hiks … hiks…."
"Kata maaf juga tidak keluar. Hiks … hiks …."
"Aku membencinya!"
"Sangat!!"
*
*
*
"Terima kasih telah membantu saya. Saya pamit," ujar Camelia pada penduduk lokal.
"Senang bisa membantu, Nona."
"Hati-hati di jalan. Jika ada kesempatan, kunjungi kami, ya?"
"Jika ada kesempatan saya akan berkunjung."
Camelia masuk ke dalam mobil. "Kita pulang."
"Ada yang kurang," ucap Andrean tiba-tiba.
"Apa itu?"tanya Camelia.
"Kota ini menjadi saksinya."
"Crystal setuju!"
"Hahaha." Andrean dan Camelia tertawa.
"Ke Eternel."
"Hahaha … hah?" Camelia terkejut. Untuk apa ke Eternel?
"Nanti aku beritahu." Camelia mendengus. Namun, ia lebih penasaran.
Sekitar 20 menit kemudian, mereka tiba di Eternel. "Tunggu di sini," titah Andrean.
Andrean turun dari mobil dan masuk ke Eternel seorang diri.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Andrean kembali dengan menempel satu paper bag. "Ini." Andrean memberikan paper bag itu pada Camelia.
"Parfum?"
"Bunga camelia."
"Astaga."
Camelia menggeleng pelan.
"Terima kasih." Camelia tersenyum manis.
"Apa perlu aku beli semuanya?"tanya Andrean.
"Tidak. Cukup! Ayo jalan!"tahan Camelia.
"Fufu, Presdir kaya raya menunjukkan pesonanya," sindir Lucas yang disambut tawa Liam.
*
*
*
Sebenarnya Camelia dan Andrean tidak benar-benar membeli semua perkebunan itu. Mereka hanya melakukan kesepakatan dengan pemilik perkebunan. Teknik meminjam nama mereka gunakan. Surat kepemilikan dibuat semirip mungkin. Dan itu dalam pengetahuan pemilik perkebunan. Mereka meminjam dengan tetap memberikan keuntungan.
Awalnya ditolak. Namun, dengan identitas mereka, penolakan itu berhasil dilewati.
Sepuluh perkebunan ditaklukan. Setelah urusan selesai, surat kepemilikan palsu itu dihancurkan.
*
*
*
"Lupakan hal ini. Anggap saja membayar ingatanku yang hilang," ucap Mr. Alex pada sang istri. Sejak malam penyerahan itu, Madam Marry bersikap dingin pada Mr. Alex.
"Apa harganya semahal itu? Aku tidak terima!"
__ADS_1
"Cukup, Marry!! Semua sudah selesai!! Jangan buat aku membencimu!!"tegas Mr. Alex. Pria itu keluar dari kamar.
Madam Marry terperanjat mendengar suara bantingan pintu. "Bahkan, hatimu belum menjadi milikku."
Madam Marry menangis pilu di kamar itu.
*
*
*
Mr. Alex termenung di mejanya. Sejak Madam Marry tahu bahwa ia memiliki istri dan anak di masa lalunya, serta penyerahan 25 persen saham itu, hubungan keduanya merenggang.
"Sudah puluhan tahun. Ingatan itu mustahil kembali."
Helaan nafasnya begitu berat. "Kau benar. Aku memang egois. Maaf, aku terlambat mengatakannya."
"Nak, semoga kau bahagia."
"Aku sudah lelah dengan kehidupan ini. Marry, Jordy, maafkan aku."
*
*
*
Perpisahan di bandara. Moment yang sangat Andrean benci. Setelah ini, mereka akan pulang ke negara masing-masing. Entah kapan akan bertemu lagi.
Rasanya baru kemarin mereka bertemu dan melepas rindu. Dan saat ini perpisahan telah di depan mata.
"Hei, Bocah! Ingat semua pelajaran dari kami. Kau akan berhasil jika mengikutinya!"ucap Liam datar pada Crystal.
"Meskipun kami tidak begitu setuju kau jadi model. Tapi, jika kau ingin begitu, lakukan saja. Jika sudah bosan, tinggalkan saja!"ucap Lucas.
"Crystal paham."
"Jangan paham-paham saja. Kami ini butuh bukti. Jika kau jika bisa, jangan pernah berharap menjadi …."
"Kak Liam, Crystal akan berusaha keras!"potong Crystal. Anak itu berseru pada Liam.
"Bagaimana jika gagal?"
"Tidak akan gagal! Karena aku berdarah Gong!!"jawab Crystal, dengan berseru pula.
"Bagus!" Liam tersenyum puas.
"Ahhh …." Tiba-tiba Crystal berteriak. "Jangan! Jangan tersenyum!"
"Hah?"
"Itu membuat jantungku tidak tenang."
"Huwah? Huwaahaha!!" Lucas tertawa.
"Auh!" Crystal memekik sakit. Menyentuh dahinya.
"Aku ini kakakmu! Kau jangan berfantasi aneh padaku!"
"Apa?"
"Huwaahahahaha … hahaha."
"Apa yang lucu?!"ketus Liam pada kembarannya.
"Tersenyum memang tidak cocok untukmu."
"Berisik!"
"Tuan Muda dingin, senyummu itu membunuh banyak orang."
"Banyak bicara!" Liam menjitak kepala Lucas.
"Huh! Tidak asyik!" Lucas mencembikkan bibirnya.
"Kita pulang ke China saja, ya?"pinta Andrean. Melihat keributan itu, rasa tidak ingin berpisah semakin besar.
"Jangan membuat masalah." Camelia mencubit pinggang Andrean.
"Kalau begitu kapan kita akan bertemu lagi?"
"Entahlah."
Di saat demikian, pengumuman penerbangan untuk Andrean dan Crystal terdengar.
"Huh!"
"Ayo, sana."
"Baiklah."
Andrean memeluk erat Camelia. "Sampai jumpa lagi."
"Iya."
Setelah itu, Andrean memeluk kedua anaknya. Sementara, Camelia memeluk Crystal.
"Titip salam untuk semuanya."
"Kami berangkat duluan, dadah." Crystal melambaikan tangannya.
Camelia, Lucas, dan Liam menatap punggung Andrean dan Crystal yang menjauh.
"Singkat sekali, ya?"
"Benar." Lucas menyetujui.
"Liburan ini sangat berkesan. Ayo."
Camelia menggenggam tangan Lucas dan Liam. Ketiganya pergi menuju pesawat.
Sampai jumpa lagi, Perancis.
__ADS_1