
"Untuk apa kau di sini?!"
Camelia berdiri. "Ah begini …."
"Tadi Ibu bertemu dengan Lia. Ibu yang mengajaknya ke rumah!"sela Nyonya Liang. Rose mengeryitkan dahinya.
"Sejak kapan kalian saling kenal?"selidik Rose. Wajahnya bertambah muram. Sudah tidak bertemu dengan Crystal, kembali ke rumah malah bertemu dengan Camelia.
"Lia sering makan di restoran, Rose." Ya itu memang benar.
"Ibu," panggil Camelia.
"Ibu?" Rose tercengang.
"Kau memanggil ibuku, Ibu? Ibu apa ini?" Protes dan kesal. Tidak senang. Tatapan sinis jelas ditunjukkan pada Camelia.
Sejenak, Camelia menjadi canggung. Biar bagaimanapun Rose adalah anak kandung Nyonya Liang.
"Ibu yang memintanya."
"Mengapa? Mengapa harus dia, Bu? Ibu tahu kan aku tidak menyukainya? Apa Ibu tahu siapa dia? Dia yang membuat hubunganku dan Andrean putus!!"ucap Rose dengan menunjuk-nunjuk Camelia.
Sial! Mengapa itu lagi yang dibahas? Kesalahan siapa, siapa yang disalahkan? Camelia langsung merasa kesal.
"Dia yang membuatku berpisah dengan anakku, Ibu. Cucu Ibu, Crsytal. Bahkan aku sulit untuk bertemu dengannya! Semua karena dia!"
Nadanya seperti seorang ibu yang benar-benar frustasi karena tidak bisa bertemu dengan anaknya. But, mengapa baru sekarang?
"Mengapa saya, Nona Rose?"tanya Camelia.
"Apa hubungan saya dengan putusnya Anda dengan Tuan Gong? Katakan, bukankah saya sudah menyampaikan klarifikasi? Katakan pada saya, apa alasan saya merusak hubungan Anda dan Tuan Gong? Katakan?!"tantang Camelia.
Maaf, Ibu. Tapi, aku tidak bisa tinggal diam jika aku disinggung!batin Camelia.
"Saya punya segalanya. Saya tidak kekurangan apapun. Okay, saya memang seorang janda namun saya tidak kehilangan kasih dan sayang. Karena cinta suami saya, selalu bersama saya!" Sekali lagi, Camelia harus mengandalkan statusnya.
"Jika Anda terus-terusan menyalahkan saya atas apa yang menimpa Anda, maka semakin Anda menunjukkan bahwa apa yang terjadi pada Anda adalah dampak dari perbuatan Anda sendiri!"kecam Camelia. Ia juga bosan terus-terusan dituduh oleh Rose. Sudah sangat bosan, muak!
Diam. Mengapa selalu terdiam begitu Camelia melawan? Karena benar. Rose bukannya tidak menyadari hal itu. Namun, ia bukan tipe orang yang langsung sadar akan kesalahannya. Ia memilih untuk menyalahkan orang lain. Bukan seorang yang rela menerima kekalahan. Menghalalkan segala cara agar keinginannya tercapai.
Camelia tersenyum tipis. Ia kemudian menatap Nyonya Liang yang terpaku di tempatnya. Tidak menyangka Camelia membalas dengan frontal, tidak gentar sama sekali.
"Ibu, maaf. Saya tidak bermaksud menyudutkan anak Anda. Namun, saya harus meluruskan apa yang terjadi," ujar Camelia dengan nada lembut, sesuai dengan ekpresi wajahnya.
Namun, ketika kembali melihat Rose tatapan Camelia kembali datar. "Saya rasa Putri Anda butuh perawatan."
"Apa katamu?!"
Camelia tersenyum. "Ibu saya masih ada urusan. Terima kasih atas sambutannya. Lia pamit, ya," pamit Camelia, tersenyum lembut pada Nyonya Liang.
"Ah, hati-hati." Camelia mengangguk dan segera melangkah keluar.
"Tunggu!" Rose berseru dan segera mengejar Camelia.
"Tunggu, Jasmine!!"ucap Rose dan berhasil meraih lengan Camelia sebelum masuk ke dalam mobil.
"Jasmine?"beo Camelia.
"Untuk apa kau kembali? Kau mau mengambil semuanya, hah?"cerca Rose, mencengkram lengan Camelia. Camelia melirik lengannya.
"Nona Rose, bicara jangan melantur. Saya, Camelia bukan Jasmine. Jangan buat orang salah paham!"
"Kau Jasmine! Not Camelia!!"teriak Rose.
"A-apa?" Rupanya Nyonya Liang mendengar itu.
"L-Lia kau Jasmine?" Tatapan berkaca-kaca. Camelia memejamkan matanya.
"Kau Jasmine! Kau kembali untuk mengambil milikku! Dasar kejam! Kau jahat, Jasmine?! Mengapa kau kembali, hah?! Mengapa?" Rose bagai hilang akal.
"Saya bukan Jasmine. Who Jasmine?!" Camelia menghempaskan tangan Rose.
__ADS_1
"Benarkah itu? Kau Jasmine? Putriku?" Gantian Nyonya Liang yang memegang lengannya. Tatapannya penuh harap. Dalam hatinya, Camelia begitu tidak tega. Akan tetapi, ini bukan saatnya untuk memberitahu.
Camelia menggeleng. "Ibu, saya Camelia, Camelia Shane. Saya memang berdarah China, akan tetapi saya bukan Jasmine. Mungkin Nona Rose mengira saya adalah Jasmine karena paras kami hampir mirip. Tapi, saya bukan Jasmine!"tegas Camelia.
Nyonya Liang tampak kecewa, dulu saat pertama kali bertemu dengan Camelia, Nyonya Liang juga mengira ia adalah Jasmine.
"Ibu jangan percaya. Dia Jasmine, Ibu! Dia Jasmine! Aku bisa membuktikannya!!"
"Baiklah. Jika Anda tidak percaya, silahkan buat apapun itu untuk membuktikan ucapan Anda!!" Camelia menantang.
"Maaf …." Nyonya Liang menunduk. Camelia tidak tega. Dipegangnya lengan Nyonya Liang. "Meskipun saya bukan Jasmine. Anda bisa menganggap saya sebagai putri Anda," ujar Camelia menghibur.
Mengangguk pelan. "Saya menantikan ucapan Anda. Saya harap Anda tidak kecewa dengan hasilnya. See you, adikku tersayang!"bisik Camelia pada Rose sebelum masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman Liang.
"Itu benar kau!" Rose semakin yakin.
"Rose ada apa denganmu? Mengapa memusuhinya?"tegur Nyonya Liang seraya mengusap air matanya.
"Ibu, Ibu harus percaya padaku …."
"Ibu butuh bukti bukan sekadar ucapan!!"tegas Nyonya Liang sebelum masuk ke dalam rumah.
"Ahhgkkhhh!!" Rose berteriak kesal. "Aku pasti akan membuktikannya! Aku pasti akan menghancurkanmu, Kakak! Hingga kau benar-benar tidak bisa bangkit! Aku akan membuatmu kehilangan segalanya!!"
*
*
*
"Sialan! Gara-gara dia aku tidak sempat menanyakan soal identitasmu Jasmine!"gerutu Camelia dalam perjalanan. Ia pulang ke apartemen.
Padahal sudah dekat. Nyonya Liang juga terbuka pada Camelia. Nyonya Liang sudah nyaman dengannya. Mengapa Rose harus pulang secepat itu? Malah secara terang-terangan memanggilnya Jasmine dan akan membuktikannya.
Camelia tidak terlalu cemas dengan hal itu. Berhasil atau tidak, Camelia tidak akan terganggu.
Tapi, tunggu!
Camelia berseru pada dirinya sendiri. Ia menepikan mobilnya. Mengambil ponsel dan mengirim pesan pada seseorang, Dion.
"Sudah ada cadangan. Sekarang bagaimana caranya agar aku bisa mengorek informasi dari Ibu? Aku harap Ibu tidak berubah setelah kejadian tadi."
Sebenarnya, itu akan semakin membukakan jalan untuk Camelia dekat dengan Nyonya Liang. Kemiripan yang nyata dapat Camelia gunakan untuk mendapatkan informasi. Tinggal menunggu pertemuan selanjutnya.
Saat hendak kembali melajukan mobil, ponsel Camelia berdering. Dari Lina.
"Hallo, Kak," jawab Camelia.
"Hai, Lia. Apa kau senggang?"balas Lina.
"Aku kosong hari ini. Ada apa, Kak?"tanya Camelia.
"Makan siang bareng?"ajak Lina. Camelia melihat jam tangannya. Sudah hampir mendekati jam makan siang.
"Baiklah. Kirimkan saja lokasinya, Kak," jawab Camelia. Kebetulan di rumah juga ia belum masak.
"Okay," balas Lina. Setelah Kak Lina mengirim lokasinya, segera Camelia kembali mengemudi mengikuti petunjuk maps.
*
*
*
Nuansa tradisional begitu kental di kediaman lama Gong. Berbanding terbalik dengan istana tempat Andrean tinggal hanya kental dengan nuansa modern.
Kediaman Gong tampak sibuk. Para pelayan sibuk menghidangkan makan siang untuk keluarga Gong. Di ruangan yang luas itu, meja-meja bundar dengan masing-masing 4 bangku, terisi penuh.
Di salah satu meja, Kakek Gong duduk bersama dengan Andrean, Crystal, juga Nenek Jiang. Biasanya, jika tidak ada Andrean apalagi Crystal, maka meja itu diisi oleh Kakek Gong, Nenek Jiang, juga Allen. Jika lengkap, maka kursi akan ditambah.
Makan siang dengan bertukar cerita sebelum kembali ke aktivitas masing-masing.
__ADS_1
Andrean dan Crystal tiba di kediaman ini sekitar satu jam yang lalu. Kakek Gong terkejut dengan kedatangan keduanya. Apa yang membawa Andrean ke kediaman lama? Bersama dengan Crystal lagi. Dan mengapa Hans tidak ikut?
Setelah makan siang, anggota keluarga yang lain izin undur diri. Meninggalkan meja Kakek Gong.
"Kakek aku ingin bicara empat mata denganmu," ucap Andrean.
Serius. Kakek Gong menyetujuinya.
"Bicara di mana?" Kakek Gong menyuruh Andrean menentukan tempatnya.
"Perpustakaan," jawab Andrean. Kakek Dong setuju.
"Nenek, aku titip Crystal," ucap Andrean.
"Dia aman bersamaku. Tenang saja," jawab Nenek Jiang. Andrean dan Kakek Gong kemudian meninggalkan ruang makan menuju perpustakaan.
"Cantik, kita ke taman, yuk," ajak Nenek Jiang yang diangguki oleh Crystal.
*
*
*
Niat awal Andrean ke Shanghai adalah menemui Allen secara langsung. Andrean tahu jika Alan lah yang mengirimkan bunga untuk Camelia dengan inisial nama AG. Andrean Gong, Allen Gong, keduanya mempunyai inisial yang sama.
Tujuan menemui Allen, tentu saja untuk menegur dan mungkin memperingatkan Allen agar menjauhi Camelia. Akan tetapi, sayangnya Allen tidak berada di tempat. Yang satu ke Shanghai dan yang satu lagi ke Beijing.
Sebenarnya Andrean ingin cepat kembali. Ia takut kalah langkah dari Allen. Akan tetapi, mengingat Camelia yang tidak mudah, Andrean memutuskan untuk pulang besok pagi. Lantas apa yang ingin ia bicarakan pada Kakek Gong?
Tiba di perpustakaan, keduanya duduk berhadapan di bangku kayu. Rak-rak buku dari kayu berjajar rapi. Di dalamnya, terdapat buku yang masih dalam bentuk gulungan kayu. Juga terdapat banyak buku dengan corak kuno. Sampul buku yang terlihat usang karena usia. Juga terdapat buku-buku dalam cetakan modern.
Di dalam ruangan ini juga tidak hanya ada buku, melainkan juga ada beberapa alat antik serta lukisan. Baik lukisan di kanvas maupun lukisan langsung dengan media dinding.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Rean?"tanya Kakek Gong tanpa basa basi.
"Ini tentang Crystal, Kakek," jawab Kakek Gong.
"Ada apa dengan Crystal?"
"Sebelum aku mengatakannya, Kakek harus berjanji lebih dulu. Bahwa Kakek tidak akan merubah sikap terhadap Crystal kalau aku mengatakannya nanti!"ucap Andrean.
Sampai seperti ini. Jelas ini hal serius. Kakek Gong menghela nafas. "Baiklah. Aku berjanji."
"Kakek harus menepatinya!"tegas Andrean.
"Iya, Rean!"balas Kakek Gong.
"Sebenarnya Crsytal bukan darah dagingku."
Kakek Gong tercengang. Raut wajahnya menunjukkan keterkejutan. "Apa maksudmu? Bagaimana bisa kau mengatakannya?"
"Aku bicara dengan bukti." Andrean mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah file.
"Ini adalah hasil tes DNA aku dan Crystal. Dia bukan milikku." Kakek Gong menatap file itu rumit. Ia sungguh terkejut. Bagaimana bisa? Lantas Crsytal anak siapa?
"Ini, jelaskan padaku, Rean!"titah Kakek Gong dengan memijat pelipisnya.
"Kakek, jujur saja. Mantanku itu wanita yang liar. Entah lah, sejak awal dia memang bukan wanita itu. Aku akan jujur padamu. Aku menggunakan dia agar Kakek berhenti menuntutku untuk menikah dan punya keturunan. Sebenarnya, tanpa tas pun aku yakin dia bukan anakku. Akan tetapi, kakek pasti membutuhkan buktinya," jelas Andrean.
"Jadi selama ini kau membesarkan anak orang lain, Rean?"
Andrean tersenyum, "dia hidup karena keringatku. Aku yang membesarkan. Aku tetaplah ayahnya, Kakek!" Seorang ayah tidak harus ayah biologis bukan?
"Jadi, siapa wanita yang kau maksud?" Andrean menceritakan malam itu. Di mana ia menghabiskan malam dengan wanita asing.
"Bagaimana cara mencarinya? Itu sudah cukup lama. Kau tidak ingat wajahnya. Astaga!" Andrean punya kesulitan mengenali wajah seseorang. Yang sering bertemu saja kadang ia masih lupa.
"Sebenarnya aku sudah menemukannya, Kakek. Tapi, aku belum bisa membuktikannya," ucap Andrean.
"Siapa itu?"
__ADS_1
"Kakek mengenalnya." Andrean tersenyum penuh arti.