
"Lina."
"I-iya, Bu!" Lina yang sedang fokus mengerjakan laporan, dikejutkan oleh tepukan di bahu dan panggilan khas dari Margaretha.
"Apa kau ada membuat masalah?"tanya Margaretha, suaranya serius dan terkesan galak pada Lina.
"T-tidak ada, Kak," jawab Lina, gagap.
"Serius?" Mata Margaretha menatapnya tajam. Lina mengangguk dengan susah payah, menelan ludahnya kasar.
"M-memangnya ada apa, Kak?"tanya Lina, penasaran dengan maksud kak Lina bertanya demikian.
"Tidak ada. Hanya saja Tuan David memanggilmu," ujar Margaretha, memperbaiki posisi kacamatanya.
Hal itu lebih mengejutkan Lina lagi. Matanya membulat dengan mulut terbuka. "Jangan diam saja, ayo sana," sentak Margaretha.
"Ah … i-iya." Lina yang bingung hanya bisa mengiyakannya. Segera, ia bangkit dan gegas untuk menemui Tuan David.
Saat di dalam lift, wanita itu termenung. "Untuk apa Tuan David memanggilku?"
Tadi malam, usai berbicara empat mata dengan Camelia, Tuan David langsung pamit pulang. Dan Camelia mengatakan sesuatu padanya. "Ada kesempatan besar. Aku harap kakak memutuskannya dengan benar."
Lina tak mengerti arti kata-kata itu. "Apa dia mau balas dendam?"pikir Lina, bergidik ngeri dengan pikirannya sendiri. Jika seorang Presdir balas dendam, tentu bukan hal kecil!
Lina melangkah keluar dari lift. Langkahnya ragu dengan wajah yang tegang. Kembali menelan ludah sebelum mengetuk pintu ruangan Tuan David.
Melihat pintu itu, Lina merasa ngeri dan takut. Ia menarik nafas, menenangkan diri.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!" Suara bariton Tuan David menjawab ketukan pintu.
Lina masuk. Langkahnya sangat kecil dan pandangan menunduk.
"A-Anda memanggil saya, Tuan?"tanya Lina. Tuan David mengangkat wajahnya, mengalihkan perhatian dari dokumen-dokumen di atas meja.
"Angkat wajahmu!"titah Tuan David.
"A-apa, Tuan?" Rasa takut sangat membayangi Lina sehingga ia tidak fokus dengan perkataan Tuan David.
"Apa kau berbicara dengan lantai?!"
"Ah!" Lina langsung mengangkat wajahnya.
"Duduk!"titah Tuan David lagi.
Kaku. Lina duduk di depan Tuan David. Lina menatap Tuan David dengan tegang dan gugup.
"Tanda tangani ini!"ucap Tuan David, menyodorkan sebuah map pada Lina.
"Apa ini, Tuan?"tanya Lina, was-was dengan isi map itu. Apa itu pemecatan? Tapi, mengapa butuh tanda tangan dirinya.
Tuan David menjawab dengan menyuruh Lina membuka map itu.
Matanya langsung terbelalak begitu melihat isi map tersebut.
"A-apa ini, Tuan?" Lina menatap horror Tuan David. Itu adalah sebuah surat, surat perjanjian pernikahan atau lebih tepatnya kontrak pernikahan!
"Awalnya aku ingin akan menikahi Jenny. Namun, kami putus karena dia melihatku menciummu."
"J-jadi maksud Anda saya harus bertanggung jawab karenanya? Dengan menikah dengan Anda?!"
"Peka juga." Tuan David melengkungkan senyum tipis.
"Kekanakan!"desis Lina, langsung menutup map tersebut. Wajahnya menunjukkan pertentangan.
Apa-apaan itu?!
"Kau tidak punya pilihan selain menandatanganinya!"jawab Tuan David, mengeluarkan aura menekannya.
Lina menyipitkan matanya. "Tidak masalah jika Anda memecat saya. Aku akan segera mengundurkan diri!" Lina tidak menunjukkan sorot takut. Tatapannya tegas. Ini menyangkut kehidupan masa depannya. Andai kata disulitkan dalam dunia kerja tidak masalah. Namun, pernikahan yang mengikat dirinya?
Tidak!
Lina menolaknya!
"Tidak mau ya?" Tuan David sedikit memajukan bibirnya. Kemudian menyentuh pelipisnya.
"Jika kau mengundurkan diri … artinya kau menyia-nyiakan usaha Lia untuk memasukkanmu ke sini. Selain itu, kau juga akan mengorbankan mimpimu. Sayang sekali, kau akan menderita banyak kerugian karenanya. Ditambah lagi, kau harus membayar penalti atas pengunduran dirimu itu. Apakah kau sanggup menanggungnya?" Tuan David menyeringai.
Lina membeku.
Apakah ini permainan dari Presdir mendominasi?
Pria di depannya ini, sudah menyiapkan semuanya. Surat perjanjian, ancaman untuknya, menekan kelemahannya.
Sialan! Biasanya aku hanya membaca. Kini aku mengalaminya sendiri. Apa aku harus menerimanya?
Lina memejamkan matanya. Meruntuk pada dirinya sendiri.
"Tapi, mengapa harus saya? Ada banyak wanita yang lebih cantik daripada saya, yang latar belakangnya lebih dari sana?"tanya Lina, ia masih tak mengerti. Mengapa ia yang dipilih.
"Mungkin … karena aku menaruh dendam padamu," balas Tuan David. Mata Lina melebar seketika.
Balas dendam?
__ADS_1
Ini balas dendamnya?
Bukankah ini berlebihan?!
Balas dendam yang tidak masuk akal!
Tapi, ancamannya sangat mengerikan! Apa yang harus aku lakukan?
Lina berpikir keras untuk menentukan keputusan. Maju kena, mundur juga kenal, bak buah simalakama.
"B-boleh saya baca kontraknya sekali lagi?"tanya Lina, pelan. Tampaknya mulai menerima.
"Off course."
Lina kembali membuka map itu.
Seperti kontrak pernikahan yang biasa terdapat di dalam novel atau drama. Di mana pihak 1 dan pihak 2 harus berperan sebagai pasangan yang saling menyayangi dan mencintai di depan orang lain. Kemudian, pihak pertama menanggung kebutuhan pihak kedua. Dan ada pernikahan tersembunyi di dalamnya dengan alasan untuk melindungi privasi.
"Mengapa di dalamnya tidak ada poin tidak boleh mencampuri urusan masing-masing?"tanya Lina, memprotesnya.
"Kau mau menambahkannya?" Lina mengangguk.
"Okay!"
"Kalau begitu kau setuju?"
"Seperti yang ada di dalam kontrak ini, tidak ada yang boleh tahu jika aku adalah istrimu dan kau adalah suamiku!"tegas Lina.
"Deal!" Tuan David menyodorkan tangannya pada Lina.
Lina menyambutnya ragu. Kemudian menandatangani kontrak pernikahan ini.
"Oh iya … kontrak ini hanya 18 bulan," ucap Tuan David.
"Aku mengerti."
"Lalu malam ini, ikut denganku bertemu dengan Momku."
"Malam ini?" Lina terhenyak.
"Ada bantahan?"
Lina menggeleng cepat. "Baiklah, kau boleh keluar."
Gegas, Lina meninggalkan ruangan Andrean.
"Gila!!"runtuk Lina tak kala berada di .dalam lift. Lift ini kebetulan kosong.
"Aku menyetujuinya?! Lina kau sudah gila!!"
Lina merubah ekspresinya cepat setelah keluar dari lift.
"Oh, okay." Lina tak jadi duduk dan melangkah menyusul Margaretha.
Apakah Bu Margaretha akan menanyaiku nanti?
Satu yang Lina tangkap, meskipun galak dan tegas, Margaretha itu perhatian dan sedikit kepo.
*
*
*
"Lia, seandainya aku menikah dengan Lina, apa kau akan menyetujuinya?"
"Apa hidupmu butuh persetujuan dariku, Kak?"
"Namun, jika kau ingin menikah dengan Kak Lina, aku mendukungmu. Asalkan Kak Lina setuju dan kau akan membahagiakan dia. Jika kau mampu, maka silahkan saja."
"Bagaimana jika diawali dengan kontrak?"
"Kebanyakan kontrak berakhir menyedihkan. Jika tak mau kontrak berakhir demikian, kau harus mengikis kata kontrak di dalam pernikahanmu, Kak. Bukankah kau punya banyak pengalaman, aku yakin kau paham apa yang aku katakan."
Tuan David menarik senyum, menatap tanda tangan Lina di kontrak pernikahan itu.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku!"
*
*
*
Camelia baru menyelesaikan latihan fisiknya. Mengelap keringat yang mengucur deras.
Untuk latihan, akan berlangsung kurang lebih 2 minggu lagi. Dan tiga hari setelah itu, syuting akan dilaksanakan.
Camelia menghela nafasnya pelan. "Sebentar lagi syuting akan dimulai, apa Anda siap untuk itu?" Joseph duduk di sampingnya, juga meminum air.
"Aku selalu siap, Joseph," jawab Camelia.
"Ngomong-ngomong, ada adegan ciuman, di drama sebelumnya kita tidak berjodoh, apa Anda keberatan dengan adegan ciuman nanti?"tanya Joseph.
Camelia menoleh sekilas. Kemudian mendengus senyum. "Saya seorang yang profesional, Joseph. Jika sudah begitu adegannya, tentu saya harus melakukannya."
"Baguslah!" Joseph tersenyum sumringah. Keraguan di hatinya sirna.
"Adegan actionmu cukup banyak, apa kau siap untuk itu?"tanya balik Camelia.
__ADS_1
"Sama seperti Anda. Saya siap untuk itu!" Camelia tersenyum. Mengangguk mengerti.
Drtt…
Drttt…
Ponsel Camelia bergetar. Ada sebuah pesan masuk.
Lia, apa kau ada waktu? Aku ingin membeli pakaian untuk bertemu dengan keluarga Tuan David
Camelia terkesiap membaca pesan itu.
Kak David benar-benar melakukannya?
Bertemu dengan keluarga Kak David? Wow! Sejauh apa hubungan kalian, Kak?
Camelia membalas pesan itu dengan senyum-senyum sendiri.
Hmhp! Kau berhasil, Lia. Aku akan menikah dengannya!
Dari pesannya, Lina pasti tengah kesal.
Eh? Mengapa jadi menyeret diriku?
Senyum Camelia semakin lebar. Bahkan, ia tak mampu menahan dirinya untuk tertawa.
Joseph yang berada di sampingnya sampai bingung melihat itu. Rasa penasaran langsung menggelitik hatinya.
Entahlah. Tapi, aku yakin, kau dan dia tadi malam berbicara dengan hal ini. Lia! Kau harus menemaniku belanja sebagai gantinya!
"Menggemaskan," gumam Camelia.
"Dengan siapa dia berbalas pesan?"tanya lirih Joseph. Hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
Okay-okay. Kita bertemu langsung di mall. Aku akan segera berangkat.
Okay.
Balasan terakhir Lina.
Camelia tak heran jika Lina menyimpulkan demikian. Pasalnya, beberapa hari sebelumnya Camelia ada membahas hal tersebut dengan Lina.
Aku setuju karena aku tahu Kak David itu orang seperti apa, Kak.
"Joseph, saya masih ada urusan lain. Saya pergi lebih dulu," pamit Camelia.
"Baiklah, Camelia. Sampai jumpa besok." Camelia mengangguk kemudian segera berlalu.
Setelah Camelia pergi, Joseph menyentuh dadanya.
Perasaan apa ini?
Aku tak sabar untuk segera syuting.
*
*
*
Camelia tiba lebih dulu di mall. Hal tersebut karena jarak studio latihan tak begitu jauh dari mall ini. Ia menggunakan pakaian saat berangkat latihan tadi. Celana jeans dengan atasan crop yang dipadukan dengan jaket. Tak lupa memakai topi dan kacamata, menunggu Lina di lantai mall tempat pakaian dan juga alas kaki berada.
Tak sampai lima menit kemudian, Lina tiba. Ia menggunakan dress berwarna coklat susu.
"Selamat untukmu, Kak," ucap Camelia saat Lina tiba.
"CK!" Lina mendengus kesal.
"Aku hampir jantungan saat dia menyodorkan kontrak pernikahan itu, Lia!"ketus Lina.
"I'm sorry. Tapi, kau senang, bukan?" Camelia menyenggol bahu Lina.
"Kau senang, bukan menyesal! Apalagi dia mengancamku! Aku kesal sekali!!"sungut Lina.
Camelia menghela nafasnya. "Kak … aku tidak mungkin menjerumuskan kakak dalam penderitaan. Kontrak bukanlah masalah. Hati, tidak tidak tahu ke depannya bagian. Aku berharap kakak menjalani pernikahan itu kelak dengan kesungguhan. Karena, meskipun kontrak, ikatannya nyata," tutur Camelia, menatap Lina penuh arti. Matanya memancarkan keyakinan. Agar Lina tidak perlu begitu khawatir.
"Lia…." Memanggil parau.
"Meskipun demikian, aku tidak berani berharap," ujarnya lirih.
Camelia merangkul Lina. "Apanya yang tidak berani? Kau hanya perlu menaklukkan hatinya. Jangan khawatir yang tidak-tidak. Ayo, fokus saja untuk pertemuan malam ini. Karena kemungkinan besar, tanggal pernikahan kalian akan langsung ditentukan," ujar Camelia.
"Apa katamu?"
"Hm?"
"B-bukankah itu terlalu cepat?"
"Keluarga Smith tidak memakai sistem kasta. Asalkan anak mereka suka dan bisa mendapatkan kebahagiaan dari hubungan itu, maka tidak akan ada yang menentang."
"Kau serius, Lia?"
"Sudah aku katakan, ayo berbelanja. Aku tak mungkin menjerumuskan dirinya. Hanya saja, kau harus pandai bersikap, Kak!"
Benarkah demikian?
Lina menjadi termenung. Bahkan saat ditarik Camelia memasuki salah satu toko, wanita itu tetap termenung.
Apa aku bisa?
__ADS_1