
"Lantas, Lucas, Liam, apa kalian mau ikut dengannya?" Ya, ini adalah musyawarah. Keputusan didasarkan pada keinginan. Setidaknya, sedikit lebih mudah. Namun, akhirnya juga belum bisa diketahui. Hanya bisa menerka.
"Grandpa yakin, kalian sudah tahu kebenarannya," imbuh Tuan Shane.
"Grandpa…."
"Apa kalian mengakui dan mau ikut dengannya?"tanya Tuan Shane sekali lagi. Sedikit berbeda. Biasanya orang tua lah yang tak ingin mengakui seorang. Dan kali ini, seorang anak dipertanyakan tentang mengakui orang tua.
Menurut orang luar, pasti ini keterlaluan dan tidak pantas ditanyakan pada anak berusia 6 tahun. Tapi, Lucas dan Liam adalah anak genius. Pola pikir mereka sudah jauh di atas usia mereka.
"Memang kami sudah tahu kebenarannya. Mr. Gong adalah ayah kandung kami. Dan kami mengakui hal itu." Lucas menjawab. Dan itu pasti satu jawaban dengan Liam.
Perasaan hangat memenuhi hati Andrean. Kali ini, ia mendengarnya dengan jelas dan langsung. Ia sudah diakui.
Senyumnya merekah.
"Namun, untuk ikut dengannya, kami rasa tidak bisa."
"Mengapa?" Andrean langsung bertanya.
"Ada beberapa alasan," jawab Liam. "Yang pertama adalah Mom. Mom tidak yakin dengan perasaannya pada Anda. Dan Anda tidak bisa memaksanya untuk bersama dengan Anda. Kami tidak akan ikut dengan Anda, kecuali Mom sendiri mau dengan Anda."
Ah keputusan ini … yang pertama adalah bergantung pada Camelia.
"Akan tetapi, Lucas, Liam, ada satu hal yang harus kalian ketahui. Meskipun Mom kalian menikah dengan Mr. Gong, kalian akan tetap tinggal di keluarga Shane. Tidak ikut dengan Mom kalian. Selain itu, jika Mom kalian ingin menikah lagi, tunggu sampai tiga tahun lagi," ungkap Nyonya Shane, mengatakan kesempatan yang telah mereka ambil lebih dulu.
Lucas dan Liam membelalakkan mata. "Apa itu benar, Mom?!"
Camelia mengangguk. Jujur, sakit melihat tatapan kecewa kedua anaknya. "Maafkan Mom." Camelia menunduk.
Lucas dan Liam diam cukup lama. Andrean duduk gusar. Tuan dan Nyonya Liang menanti dengan sabar.
"Jika sudah seperti itu, untuk apa dibicarakan lagi?"tanya Liam, dingin.
"Jika keputusan sudah diambil, untuk apa dibahas lagi? Apakah jawaban kami akan mempengaruhi keputusan yang telah diambil?"tanya Liam lagi, nadanya semakin dingin.
"Lucas, Liam. Grandpa tahu itu, dan Grandpa ingin mendengarnya jawaban kalian. Tadi, masih yang pertama. Katakan yang selanjutnya!"sahut Tuan Shane.
Pria tua itu tampak tenang. Tidak terpengaruh dengan jawaban dingin Liam. Biarlah. Tak apa jika dianggap egois. Itu sudah konsekuensinya.
"Sudah tidak ingat." Liam memalingkan wajahnya. Sepertinya sudah enggan membahas hal ini.
"Liam." Lucas menyentuh punggung Liam.
"Anda egois, Tuan. Terlalu keras pada mereka," kecam Andrean.
Tuan Shane tertawa, "keras atau tidak, memang begitu aturannya, Mr. Gong. Bahkan Anda, saya yakin juga mengalaminya."
"Tidak apa jika kalian tidak ingin menjawabnya lagi. Toh benar kata Liam, keputusannya sudah jelas." Tuan Shane tersenyum.
"Lia, ada yang ingin kau katakan?"
Camelia menghela nafasnya. Lalu mengangguk. "Tunggu, Mom!" Lucas memotong.
"Aku akan katakan alasan selanjutnya. Mr. Gong, meskipun Anda adalah ayah kandung kami. Akan tetapi, sejak kecil kami tumbuh dengan besar di keluarga Shane. Marga kami juga Shane. Jika kami ikut dengan Anda, akan ada banyak perombakan dan juga kerugian. Terlebih dengan posisi kami sebagai publik figur. Susunan dalam keluarga Shane juga akan berubah. Jadi, meskipun kami kecewa dengan keputusan itu, kami menerimanya dan setuju dengannya. Kami juga tidak menyalahkan Grandpa ataupun Mom!"papar Lucas, menyelesaikan alasan mereka.
"Maaf, Mr. Gong. Tapi, tenang saja. Kami tetap menganggap Anda sebagai ayah kami. Kata Mom, kami tidak boleh melupakan leluhur, pada keluarga Gong adalah leluhur kami. Kami mohon, Anda jangan terfokus pada satu hasrat. Karena, di dunia ini, tidak ada yang bisa memutus hubungan darah!"tambah Lucas. Kata-kata itu, membuat semuanya tertegun.
Benar-benar jenius. Bahkan, kata-kata yang dikeluarkan jauh melebihi ekspektasi mereka.
"Daddy pernah mengatakan jangan plin plan. Tetaplah pada satu jawaban. Kami tidak akan meninggalkan keluarga Shane!"tegas Lucas sekali lagi.
Semua yang ada membelalakkan mata mereka. Camelia kemudian memeluk kedua anaknya. Menciuminya penuh sayang. "Terima kasih. Terima kasih, Lucas, Liam."
Hiks … hiks … hiks
Bukan hanya Camelia yang menangis, Andrean pun menangis. Itu sebuah penerimaan dan penolakan sekaligus. Mata Nyonya Shane memerah sementara Tuan Shane menyeka sudut matanya.
"Rasanya sakit, bukan? Menangislah." Tuan Shane menepuk punggung Andrean.
Hiks ….hiks ….
__ADS_1
"A-apa boleh aku memeluk mereka?"tanya Andrean serak. Matanya merah dengan dada naik turun. Tampaknya begitu sesak.
"Tentu saja." Camelia menjawab. "Pergilah, peluk ayah kalian," titah Camelia kemudian sembari menyeka air matanya.
"Ayah." Lucas dan Liam lekas berlari, naik ke ranjang dan memeluk Andrean. Perasaan Andrean campur aduk.
Senang, haru, sedih, dan juga kecewa. Yang pasti, rasa sakit di bahunya tidak ia rasakan lagi. Fokus melupakan rasa rindu dan sayangnya. Ini adalah kali pertama mendekap Lucas dan Liam.
"Ayah … hiks … hiks …." Alhasil, tangis pun tak lain tertahan.
"Lia … maafkan kami." Nyonya Shane mendekap Camelia dalam peluknya. Camelia menggeleng pelan.
"Tidak, Mom. Tidak ada yang salah," sergah Camelia.
"Lihatlah Daddymu. Di dalam ia sangat rapuh. Tapi, apa daya …."
"Mom, sudah. Cukup. Lia paham dan jangan membahasnya berulang kali!"tegas Camelia, dengan jarinya menyeka sudut mata Nyonya Shane.
"Cukup, Mom. Fokuslah, kembali seperti semula. Tidak ada yang berbeda, tetap seperti biasa." Camelia tersenyum lembut.
"Tersenyumlah, Mom. Tidak cocok kau menangis seperti ini."
"Hiks … Lia! Bagaimana bisa kau membujukku sementara kau sendiri!" Nyonya Shane menggeleng. Camelia semakin melebarkan senyumnya.
"I know. Ini sudah dalam perkiraan. So, aku menerimanya."
"Lia, putriku!" Nyonya Shane kembali mendekap Camelia.
"Terima kasih." Nyonya Shane bisa tersenyum sedikit.
"Sttt! Uhh!"
"Ayah, kau kenapa?"tanya Lucas, panik.
"Darah?" Lucas tercengang melihat bercak darah di tangannya. Seketika, ia sadar.
Luka Andrean terbuka lagi!
Perawat tadi, menggeleng pelan. Satu hari ini, luka Andrean telah terbuka pagi dan sore.
"Tuan, Nyonya, anak-anak, dan Anda sendiri Mr. Gong harus sadar diri! Pasien ini lukanya baru saja dijahit dan berulang kali terbuka. Apa Anda sekalian ingin Tuan ini sembuh lebih lama dan ada kemungkinan infeksi?!"
Perawat itu berkata dengan garang. Tidak peduli siapa pasien ataupun keluarganya.
"Maaf, Kakak Perawat." Lucas dan Liam. Andrean hanya tersenyum. Terserah, mau marah atau tidak, perasaanya sangat bahagia.
"Lucas, Liam, kemarilah, Nak." Menurut. Andrean sedikit tidak rela. Ingin keduanya tetap ada di sisinya.
"Jadi, keputusannya adalah, kau sebagai ayah kandung kedua cucuku, boleh mengunjungi mereka!" Tuan Shane menarik keputusan.
"Terima kasih." Ya, itu sedikit berubah.
"Boleh aku ajukan permintaan? Tenang saja, tidak akan mengambil mereka dari sisi kalian," pinta Andrean.
"Katakan!"
"Boleh aku mengajak mereka liburan?"
"Liburan?"
"Ya, suatu saat nanti."
"Kalian mau?" Tuan Shane menatap Lucas dan Liam.
Kedua bocah itu mengangguk. "Tapi, Mom harus tetap ikut!"
"Tentu!" Andrean menjawab cepat.
Pada akhirnya pembicaraan itu menghasilkan keputusan baru. Andrean diakui sebagai ayah kandung Lucas dan Liam. Namun, hanya diketahui oleh orang terdekat saja. Identitas Lucas dan Liam, dalam pencatatan sipil tidak ada yang berubah.
Dengan Camelia? Sebenarnya hati Andrean hancur mendengar Camelia tak yakin dengan perasaannya. Namun, tidak masalah. Jalan mengejar masih terbuka lebar.
__ADS_1
Selain itu, jangka tiga tahun. Cukup untuk menyakinkan Camelia. Berpandangan pada kata-kata Lucas, tidak boleh terfokus hanya pada satu hasrat, maka Andrean merubah haluannya.
Ia yakin pada Camelia. Akan mengejarnya. Sekalipun kelak menikah tidak membawa Lucas dan Liam, mereka masih bisa memiliki anak lagi, yang secara resmi akan menjadi bagian dari keluarga Gong.
"Sampai besok, Ayah." Lucas dan Liam melambaikan tangan pada Andrean. Andrean membalasnya dengan senyum lebar. Keluarga Shane meninggalkan rumah sakit tak lama setelah matahari tenggelam.
"Lia, bagaimana rencanamu dengan luka itu?"tanya Nyonya Shane saat berada di dalam mobil. Mereka satu mobil.
"Mungkin dua minggu lagi aku akan ke Korea Selatan, Mom," jawab Camelia.
"Itu rencana yang tepat. Daddy akan mengaturnya," sahut Tuan Shane. Pria itu sudah fokus pada tabletnya. Sebentar lagi pergantian, ada banyak yang harus dikerjakan dan juga persiapkan.
"Tapi, pasti ada yang curiga dengan penampilanmu hari ini, Lia?"
"Ada, Mom. Aku juga akan bingung untuk menanganinya nanti. Jika diperlihatkan, aku tak tahu kehebohan apa yang akan terjadi." Camelia menghembuskan nafas kasar.
"Sungguh merepotkan. Tapi, mengapa hal merepotkan ini menjadi yang aku inginkan?" Liam bersungut. Dibalas kekehan Tuan Shane.
"Setiap hal, setiap pilihan, ada resiko di dalamnya."
"Berkilahlah sebisamu, Lia. Hanya dua minggu saja." Nyonya Shane menepuk punggung Camelia. Camelia tersenyum.
Dan dalam perjalanan itu, setibanya pula di mansion, tidak ada yang membahas mengenai pembicaraan di rumah sakit. Seakan semua telah jelas dan diterima.
Camelia menghempaskan tubuhnya di sofa. Rasanya sangat lelah. Seharian latihan ditambah bahasan tadi sore. Syukurlah, semua telah jelas. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
"Mom."
"Ya, masuk!"
Camelia duduk. "Kami tidur dengan Mom, ya."
"Lagi?" Lucas dan Liam mengangguk.
"Baiklah. Ayo, datang pada Mom." Camelia merentangkan kedua tangannya. Lucas dan Liam segera masuk dalam pelukan itu.
"Mom, apa boleh kalau ke Korea Selatan nanti kami ikut?"tanya Liam. Kali ini, mereka sudah berbaring.
"Apa alasannya?"
"Travelling. Sekalian kulineran. Aku dengar di sana banyak makanan enak," jawab Lucas.
"Korea Selatan. Itu negara yang terkenal dengan KPop dan juga dramanya."
"Jika kalian tidak ada jadwal di hari itu, tidak masalah."
"Yeah!"
"Oh ya, Mom." Lucas mengubah posisi berbaringnya menjadi menghadap Camelia.
"Hm?"
"Kapan Kakek dan Nenek datang?" Kakek dan Nenek, itu merujuk pada Tuan dan Nyonya Liang.
"Hm … kemungkinan bersamaan dengan pulangnya Uncle Dion."
"Itu tidak lama lagi," sahut Liam.
"Mom, by de way, kasihan Ayah sendirian di rumah sakit."
"Dia tidak sendirian. Ada para pengawal yang menjaganya."
"Tetap saja."
"Dia itu tipe penyendiri. Jadi, tidak ada masalah dengan itu."
"Mom, besok pagi kita menjenguknya, ya?" Liam mengajukan permintaan.
Mata Liam memancarkan harapan. Siapa yang tega menolaknya?
"Baiklah. Baiklah. Besok kita pergi menjenguknya. Sekarang, waktunya tidur. Besok akan jadi hari yang panjang!"tegas Camelia.
__ADS_1