Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Gong. 62


__ADS_3

Allen memijat pelipisnya. 


Ia kesal. 


Tentu saja! Mengapa asistennya begitu bo*doh? 


Menyebalkan jika Camelia mengira bahwa kakak sepupunya lah yang mengirimkan bunga. 


Astaga! ****! Sekali lagi Allen mengumpat. Mengacak rambut. Kemudian bangkit dan menuju ke rak berisi minuman beralkohol. Mengambil salah satu botol yakni whiskiy. 


Menuangnya ke dalam gelas lalu melangkah menderita jendela. Menatap keluar ruangan dari lantai tertinggi perusahaan keluarga Gong, Gong Group. Langit tampak kelabu, sama seperti moodnya yang dalam keadaan buruk.  


Allen adalah Presdir dari perusahaan besar itu. Mengapa bukan Andrean yang naik? Dilihat dari silsilah, Andrean adalah cucu pertama. Seharusnya Andrean yang memimpin.


Itu karena Andrean menolak. Andrean sama sekali tidak berminat menjadi penerus perusahaan keluarga Gong. Ia ingin membangun kerajaannya sendiri yakni dalam dunia entertainment. Dan itu dibuktikan olehnya. 


Keputusannya sudah bulat. Kakek Gong tidak bisa menahan. Maka, yang naik adalah Allen sebagai cucu kedua. Keluarga Gong hanya punya Andrean dan Allen sebagai pewaris. Karena perbedaan jalur itu pula yang membuat keduanya tidak terlalu berselisih. Kedua juga tidak terlalu akur. Seperti saling menjaga jarak. 


Akan tetapi, agaknya kedua sepupu itu akan berselisih karena mengejar wanita yang sama.


"Kakak … aku yang akan menang. Kali ini, aku tidak akan mengalah!" Allen bergumam. Tatapannya tajam. 


Allen menyeruput whiskiy nya. "Ya, kali ini aku yang akan memang." Bergumam lagi dan menarik senyum seringai.  


*


*


*


Ting tong!


Ting tong!


Bel dibunyikan berulang kali. Andrean yang tengah mengoleskan selai di atas roti mengeryitkan dahinya. Siapa itu? Mengapa terburu-buru sekali menekan bel pintu apartemennya?


"Ayah, kita ada tamu?"tutur Crystal yang duduk di samping Andrean. Yeah. 

__ADS_1


Andrean hanya tinggal berdua di apartemen ini. 


"Aku akan melihatnya. Kau segeralah sarapan!" Berkata dengan datar. Andrean lalu berdiri. Crystal meraih roti yang telah diolesi selai coklat dan makan dengan tenang. 


Andrean membuka pintu. Dan ia menangkap sesuatu. Bucket bunga dan itu dilemparkan oleh orang yang menekan bel pintu. "What this?" Andrean mengangkat wajahnya. Melihat Camelia yang menatapnya sinis. 


"Seharusnya saya yang bertanya, Tuan Gong! What this?  What do you mean send me those flower buckets?" Camelia berkata dengan nada ketus. Menunjuk ke salah satu sudut di mana di sana terdapat beberapa bucket bunga lain. Beragam bunga, mulai dari mawar merah, tulip, dan anyelir. 


Andrean jelas bingung. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi bingung yang nyata. 


"Send you those flower bucket? Saya tidak mengerti maksud Anda! saya sama sekali tidak ada mengirim apapun untuk Anda!"bantah Andrean. Ia jujur. Namun, Camelia tidak percaya. 


"Jelas-jelas nama Anda pengirimnya. Bagaimana bisa Anda mengelak?" Camelia jelas tidak percaya. Tadi pagi, resepsionis lobby menghubunginya. Mengatakan bahwa ada banyak kiriman bunga untuknya. Dan saat Camelia mengecek nama pengirimnya. Lagi-lagi AG.


Bagaimana Camelia tidak langsung kesal? Dan menghampiri Andrean? 


"Nyonya saya rasa Anda salah paham. Saya sama sekali tidak mengirim apapun untuk Anda!!"tegas Andrean. Ia tidak melakukannya.


"Apa di sana tertera jelas nama saya? Andrean Gong?"selidik Andrean. Andrean juga tidak setergesa itu. Mengirim bunga dalam jumlah banyak? Itu sangat menarik perhatian dan bisa menyebabkan masalah. Andrean sudah beberapa kali terlibat sensasi dengan Camelia. Mana mungkin ia kembali mengulangi hal yang sama. Camelia akan semakin jauh dan sukar untuk didekati bukan? 


"AG! Itu inisial nama Anda, bukan?!" Itu lebih kepada tuduhan. Bukan pertanyaan. 


"Lantas siapa? Bukankah Anda yang mengejar saya? Anda yang terus mencari perhatian saya? Inisial yang sama. Tindakan Anda belakangan ini juga semakin membuatnya jelas. Jangan berkilah lagi, Tuan Gong!"cerca Camelia dengan menunjuk Camelia. Andrean tampaknya tersinggung. Ia menangkap tangan Camelia dan membuat Camelia bersandar pada dinding. 


Kedua tangan Camelia dipegang olehnya. Andrean memenjara Camelia. "Lepaskan!"ucap Camelia dingin. Tatapan Andrean begitu tajam dan lekat padanya. Camelia tidak takut. Hanya saja …  jantungnya berdegup sangat cepat. 


"Anda sangat percaya diri ya, Nyonya? Mengejar Anda? Untuk apa saya mengejar Anda?" 


Camelia tertegun. Nadanya … nada bicaranya dingin dan lebih kepada sinis. 


"Jika saya mau, wanita mana yang bisa menolak saya? Mengejar Anda yang seorang janda ini? Seorang artis yang akan membuat saya terlibat skandal? Di luar sana masih banyak gadis, untuk apa saya mengejar Anda? Jangan melucu, Nyonya!" Sinis. Camelia terkesiap. Janda katanya? Mengapa harus mengejarnya?


What this? Andrean tengah bersilat lidah? Masih banyak gadis? 


Ah. Andrean memang semakin tampan di usia yang di kepala tiga. Ia kaya, tampan, siapa yang bisa menolaknya? Namun, apa yang dilakukan Andrean jelas bertolak belakang dengan apa yang ia ucapkan. 


Sejatinya, selama ia hidup, Andrean hanya menyentuh satu perempuan yakni Jasmine Liang atau yang sekarang adalah Camelia Shane. 

__ADS_1


Terlibat skandal? Bukan hanya sekali. Camelia tersenyum tipis. "Begitu rupanya! Baiklah. Saya mengerti. Saya juga berharap Anda jangan menunjukkan sikap yang seolah-olah tengah mengejar saya karena saya sama sekali tidak tertarik dengan Anda!" Dalam sekali sentakan, Camelia melepaskan pegangan Andrean pada kedua tangannya. Mendorong Andrean sebelum ia bereaksi. 


"Saya harap Anda memegang ucapan Anda tadi!"ucap Camelia sebelum melangkah pergi dan hilang dari pandangan Andrean. 


Andrean berpikir seraya melihat buckets bunga yang masih berada di sudut tadi. "Siapa yang mengirim itu dengan inisial nama yang sama denganku?" 


"Lalu, apa yang aku katakan tadi? Dia tidak tersinggung, kan?"


*


*


*


"Lie! Dasar kau sialan!" Allen kembali memaki Lie. 


Yang dimaki malah tersenyum lebar. "Mengapa kau mengirimkan lebih banyak lagi padanya? Dia akan semakin salah paham?!"gerutu Allen. Bagaimana bisa asistennya seceroboh itu?


"Tenang, Tuan. Anda jangan marah dulu. Dengarkan penjelasan saya," ucap Lie dengan tenangnya. 


"Apa? Penjelasan dia akan dekat dengannya?"sengit Allen.


"Bukan, Tuan. Justru itu akan membuat mereka jauh!"sergah Lie. 


"Jauh?!" Allen mengeryit. Ia menatap Lie bingung.


 Lie mengangguk, "benar, Tuan. Menjauh …." 


Lie berkata dengan memisahkan tangan yang awalnya ia satukan. 


"Bagaimana bisa?" Yeah sepertinya Lie lebih berpengalaman. 


"Saya yakin Anda tahu beberapa berita yang menyeret nama Nyonya Camelia dan Tuan Gong, bukan?" Allen mengangguk. Keluarga Gong mengikuti berita tentang Andrean. 


"Jika Nyonya Camelia berpikir bahwa Tuan Andrean lah yang mengirimkan buket buket bunga itu maka, di antara mereka akan terjadi kesalahpahaman yang akan membuat mereka saling menjauh. Mengapa saya berkata demikian? Mereka setiap saling terlibat atau ada yang menyeret salah satu nama akan mengatakan mereka sama sekali tidak ada hubungan spesial apapun.  Semua hanya kebetulan. Tuan Andrean jelas tidak akan mengaku bahwa dia yang mengirim itu. Sementara Nyonya Camelia tidak kamu percaya dengan pengakuan itu. Dan di situlah kesempatan anda untuk bisa dekat dengannya Camelia. Kebetulan Anda ada jadwal mengunjungi Beijing selama satu minggu. Saya harap Anda bisa memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan sebaik mungkin," papar Lie panjang lebar. 


Allen menelaah penjelasan Lie. Benar juga! Ini kesempatan untuknya. "Ternyata kau tidak sebodoh itu. Pergi ambil bonusmu!" Secarik kertas yang tak lain adalah sebuah cek, Allen berikan pada Lie. 

__ADS_1


Lie tersenyum lebar. "Terima kasih, Tuan!"


__ADS_2