
"Aku gagal mendidiknya. Anda adalah kepala keluarga, saya menyerahkan semua keputusan pada Anda," ucap Nenek Jiang dengan berat.
Kabar Allen yang mencoba melakukan percobaan pembunuhan telah menyebar dengan cepat di kediaman Gong. Membuat penghuninya geger.
Tidak menduga, Tuan Muda Kedua keluarga Gong akan melakukan hal tersebut. Tidak habis pikir dan langsung memaki Allen tidak tahu diri dan malu.
Padahal Andrean telah mendukungnya duduk di kursi Presdir. Bukannya menjaga dukungan itu, Allen malah menghancurkannya. Bukankah itu suatu kebodohan. Dan tak banyak yang menyayangkan tindakan Allen itu.
"Jujur aku berat untuk membiarkannya dihukum. Karena itu akan mempengaruhi reputasi keluarga. Tapi, kesalahannya begitu fatal. Maafkan aku."
Kakek Gong menunduk kepalanya. Kasihan pada Nenek Jiang. Wanita tua itu pasti sangat tertekan dan sedih dengan kelakuan cucu tunggalnya.
"Tidak ada. Anda memang harus melakukannya." Nenek Jiang menyeka sudut matanya. Satu tangannya lagi meremas sapu tangan.
Terlihat jelas bahwa ia sangat sedih. "Baiklah. Aku akan mengurusnya." Kakek Gong bangkit. Sebelum keluar, ia menatap Nenek Jiang, menghela nafasnya kasar.
Sepeninggal Kakek Gong, tangis Nenek Jiang tidak tertahan. Air matanya langsung jatuh. "Nyonya!" Kepala pengurus kediaman menatapnya cemas dan juga prihatin.
Nenek Jiang meremas dadanya. "Mengapa kau harus melakukannya, Allen? Apa kau tidak kasihan pada nenekmu ini? Apakah merasa sebegitu kurangnya hingga hendak membunuh Andrean?" Wanita tua itu meratap. Kepala pengurus kediaman mendekat dan memeluk Nenek Jiang. Menabahkan wanita itu.
*
*
*
Sekarang, di sinilah Allen berada. Di balik jeruji besi dengan ubin yang dingin. Allen, duduk di sudut ruangan berbentuk persegi itu. Menyembunyikan kepalanya di balik lutut.
Pria itu tampak kacau. "Persaingan keluarga Gong akhirnya pecah?" Dua orang polisi yang melewati jeruji itu, menghentikan langkah mereka. Memberikan Allen dengan tatapan sinis.
"Aku kira dia pendiam dan puas. Rupanya sampai di tahap ini. Ckckck." Temannya menimpali.
"Aku rasa dia akan mendekap lama di sana."
"Tidak tahu juga. Keluarga besar dan aristokrat seperti mereka, sulit untuk dimengerti."
Dan keduanya polisi itu kemudian berlalu. Allen mengangkat wajahnya. Ini sudah pagi hari. Satu malam Allen mendekap di dalamnya.
Semalaman itu, Allen tidak bisa tidur. Rasa penyesalan hadir. Kata andai pun tercipta. Tujuannya tidak tercapai. Malah ia yang terancam. Tidak, hukumannya sudah di depan mata. Terbayang sudah. Tidak akan ada yang membelanya. Semuanya pro pada Andrean.
Semalaman itu, tidak hanya menyesal. Namun, campur aduk. Marah, kesal, kecewa, dan takut. Dan semua itu tidak akan ada artinya lagi.
Merendahkan dirinya di hadapan Andrean? Berada di dalam sini sudah termasuk merendahkan dirinya sendiri. Dan dengan watak Andrean, mengingat pula seruan Lie dan peringatan Andrean, itu adalah mustahil. Ia tidak akan lepas.
__ADS_1
Hah….
Ia hanya bisa menghela nafasnya kasar. Semua sudah kepalang tanggung.
"Berakhir sudah." Kembali menyembunyikan wajahnya. Ia sudah tidak punya muka lagi.
*
*
*
Dion kembali ke restoran Liang saat pagi hari. Sebelumnya ia sudah mengabari akan pulang pagi. Dan ia langsung disambut dengan banyak pertanyaan.
Restoran Liang tutup hari ini, sebagai dampak dari insiden tadi malam. Rencananya akan kembali buka lusa. Setelah lebih tenang. Karena pasti akan menimbulkan trauma.
"Kau baik-baik saja kan, Dion? Ada yang terluka?" Nyonya Liang memeriksa tubuh Dion.
"Hanya luka kecil, Bu," jawab Dion, tersenyum. Berkelahi tentu saja akan ada luka, meskipun hanya memar.
"Ahh!! Pasti rasanya sakit! Dion lain kali jangan seperti itu! Apa yang kau lakukan sangat berbahaya!"ucap Nyonya Liang, dengan berkaca-kaca. Memegang kedua tangan Dion, memintanya berjanji.
Dion menarik senyum. Mencium kedua tangan Nyonya Liang. "Akan Dion usahakan, Bu."
"A-apa katamu, Dion?"
Nyonya Liang membelalakkan matanya. Jika terjadi pada Camelia?
"Tidak apa, Ibu. Kami sudah menyesuaikan diri. Tidak perlu khawatir." Dion menepuk pundak Nyonya Liang.
"Su-suamiku! Huhuhu!" Langsung menghambur dalam pelukan Tuan Liang. Nyonya Liang menangis.
Dion menyentuh dahinya. Agak susah memang jika begini. Apalagi yang belum terbiasa dan mengenal keluarga konglomerat dengan baik.
"Tenanglah, Susan. Anak-anak kita bukan anak-anak yang lemah. Mereka kuat. Ayo, jangan buat mereka tidak nyaman." Tuan Liang membujuk. Lima tahun, mereka hanya mendengar secara garis besarnya saja. Ada banyak hal yang terjadi. Dan itu pasti tidak mudah.
"T-tapi … aku …."
"Percaya pada mereka. Lihat wajah putra kita," sela Tuan Liang. Keduanya menatap Dion yang tampak menghela nafas.
Nyonya Liang kemudian menatap suaminya. "Ibu?"
"Benar tidak papa?"
__ADS_1
"Iya, Bu. Percaya pada Dion."
Meskipun terlihat ragu. Wanita itu mengangguk. "Lalu bagaimana kondisi Andrean saat ini, Dion?"
"Lukanya cukup parah, Yah. Terutama di pahanya. Dan saat ini, ia sudah pulang. Ya, keluarga Gong. Mereka punya dokter pribadi."
Tuan dan Nyonya Liang mengangguk paham. "Ibu, tanyanya nanti saja lagi boleh? Aku lapar," aduh Dion dengan mengusap perutnya.
"Ahh! Maaf Ibu, Dion." Gegas, Nyonya Liang menarik Dion ke arah dapur, untuk sarapan. Tuan Liang berdecak pelan dan segera menyusul.
*
*
*
"Allen akan diadili sesuai hukum yang berlaku. Direksi juga menolaknya untuk tetap berada di kursi Presdir. Selain itu, ada kemungkinan ia dikeluarkan dari keluarga Gong," ujar Hans pada Andrean. Saat ini Andrean telah kembali ke kediamannya. Dan Hans langsung terbang ke Shanghai begitu mendengar hal buruk yang terjadi pada Andrean.
"Luka di wajahku ini, sama seperti luka yang pernah terjadi pada Lia." Andrean bukannya menanggapi hal itu, malah membicarakan lukanya.
Luka di pipinya. Memajang dan lumayan dalam. Rasanya? Perih dan gatal bercampur menjadi satu.
"Kira-kira bagaimana reaksinya saat tahu aku terluka? Apa dia akan terbang ke Shanghai?" Menjadi senyum penasaran. Hans menyentuh dahinya.
Luka begini pun yang dipikirkan adalah Camelia. Sepertinya Tuannya ini sudah termasuk golongan budak cinta.
"Saya dengar dari Anda, Nona Camelia tengah sibuk syuting. Jika Anda mengganggunya, akan menciptakan banyak kerugian!"sahut Hans.
"CK!" Andrean berdecak sebal. "Aku tahu! Aku hanya berandai!"kilahnya.
"Haish! Mengapa harus membuat luka di wajah?! Ini semakin membuatku kesal!"gerutu Andrean kemudian.
"Aku tidak akan memaafkannya!"
"Hans, kau urus semua perpindahan kepemimpinan Group Gong. Aku yang akan mengambil alihnya!" Andrean menurunkan titah.
"Ah!" Hans terhenyak sesaat. Ia kira Andrean akan menunjuk kepercayaan. Namun, malah akan turun tangan sendiri.
"Baiklah, Tuan!"
Hans undur diri. Andrean duduk dengan menghela nafasnya. Pahanya yang terluka terasa sangat perih dan nyeri. Juga gatal. Dan juga luka di lehernya.
Sungguh mengesalkan!
__ADS_1
"Aku sudah memperingatkanmu setiap saat. Namun, kau sama sekali tidak peduli malah semakin menjadi. So, jangan salahkan aku jika aku membalasmu, secara total!!"