
Dan begitulah. Keputusan kemarin sore berefek jangka panjang. Keesokan paginya, Lucas, Liam, dan Camelia kembali menjenguk Andrean. Disambut dengan suka cita. Meskipun hanya sebentar namun sangat berarti.
"Kalian menjenguknya pagi dan sepulang kerja. Itu akan menimbulkan kecurigaan. Sementara, Mr. Gong rawat jalan saja di paviliun kita. Itu akan lebih efesien." Di saat malam, Tuan Shane mengatakan hal itu pada Camelia.
"Mom setuju." Nyonya Shane menimpali.
"Baiklah kalau begitu." Camelia juga setuju. Tidak ada sanggahan. Lucas dan Liam berseru senang. Mereka tidak perlu repot lagi menyamar dan ke rumah sakit.
"Aku akan menghubunginya," ujar Camelia.
"Biar Daddy saja," cegah Tuan Shane yang otomatis membuat Camelia menurunkan ponselnya.
"Alright."
Tuan Shane menghubungi Andrean. Mengatakan hal itu. "Berikan kartu kamarmu pada pengawal. Mereka akan mengurus barang-barangmu yang ada di hotel," ucap Tuan Shane sebelum menutup panggilan.
Dan malam itu juga, Andrean keluar dari rumah sakit dan tinggal di paviliun keluarga Shane. Semua barang yang ada di hotel juga sudah dipindahkan. Sekalian melakukan check out.
Ini lebih mudah. Juga akan menambah interaksi antara ayah dan anak. Mendekatkan jarak di antara mereka.
Selama di sini, sesekali Andrean mencuri kesempatan pada Camelia. Merayu dan menggoda wanita itu.
Hingga sudah tiga hari Andrean berada di paviliun kediaman Shane. Lukanya sudah membaik. Dan hari ini adalah hari berakhir Andrean di sini karena esok pagi, Andrean akan kembali ke China, dengan jadwal utama menghadiri peresmian Presdir baru Group Gong.
"Kau khawatir mereka semakin dekat?" Nyonya Shane menepuk ringan bahu Camelia yang tengah memperhatikan interaksi antara kedua putranya dengan Andrean.
"Hubungan darah, rasanya wajar jika mereka semakin dekat, Mom," jawab Camelia dengan tersenyum tipis.
"Jangan menutupi perasaanmu. Mom tahu apa yang kau rasakan. Mom juga melihat kedekatan mereka. Dan kau benar, hubungan darah, tak heran jika mereka cepat sekali dekatnya."
Senyum Camelia menjadi kecut. "Aku sedikit takut, Mom. Kalau ke depannya Lucas dan Liam bergantung pada Andrean. Di sisi lainnya, aku bahagia Lucas dan Liam kembali merasakan kasih sayang seorang ayah. Ah … sepertinya aku memang plin plan." Sorot mata Camelia sendu. Tatapannya tetap tertuju pada Andrean dan kedua anaknya yang tengah berada di gazebo. Terdengar tawa Andrean. Membuat Camelia memejamkan matanya.
"Teguhlah pada pendirianmu, Lia. Lucas dan Liam juga akan teguh pada pendirian mereka. Aku tahu, ini akan terasa berat. Tapi, kita akan menjalaninya bersama. Kita akan selalu bersama dan ada satu sama lain," papar Nyonya Shane, menggenggam tangan Camelia.
Camelia menatap Nyonya Shane penuh arti. Perasaannya sedikit lebih tenang. Namun, belum menghilangkan rasa takutnya. Dan itu adalah ketakutan yang wajar.
*
*
*
"Lihatlah." Nyonya Shane membawa Camelia menuju halaman samping. Itu terjadi saat Camelia pulang dari latihan. Camelia bingung, semakin bingung di hadapan pada Tuan Shane dan Andrean yang duduk berhadapan. Di atas meja, ada papan catur beserta bidaknya.
"Apa, Mom?" Camelia belum mengerti.
"Kau tidak mengerti?"tanya Nyonya Shane dengan menatap Camelia heran. Camelia menggeleng.
"Mereka sedang bermain catur."
"Ya? Aku melihatnya. Lantas?" Menurut Camelia itu wajar.
"Astaga! Mengapa kau tidak peka sih, Lia?"gemas Nyonya Shane.
"Pernah melihat Chris dan Daddy bermain catur?"tanya Nyonya Shane kemudian. Camelia mengerutkan dahinya, mengingat-ingat.
"Tidak," jawab Camelia, menjawab dengan yakin setelah mengingat cukup lama.
"Itulah yang ingin Mom perlihatkan," sahut Nyonya Shane. Wanita tua itu tersenyum lebar. Pancaran bahagia meluap darinya.
Camelia mengalihkan pandang pada Tuan Shane dan Andrean. Kembali mengernyitkan dahinya dengan mata menyipit.
Tuan Shane, meskipun tidak diperlihatkan dengan jelas, pria tua itu tengah bahagia.
Catur? Camelia tahu Tuan Shane punya hobi bermain catur. Namun, selama menikah dengan Chris, tidak pernah melihat ayah dan anak itu bermain.
Chris yang super sibuk, bahkan jarang sekali pulang ke kediaman ini. Camelia dengan Lucas dan Liam lah yang sering berkunjung. Terkadang, ah tidak setiap kali Camelia berkunjung sendiri, Tuan Shane pasti akan mengomel.
"Aku memaklumi keinginannya. Tapi, tidak bisakah dia pulang sebentar saja? Mengobrol dan menemaniku bermain catur?!" Kata-kata itu sering Tuan Shane keluarkan.
"Usia Andrean hampir sama dengan Chris. Paras mereka juga hampir mirip. Andai kata, mereka dikatakan sebagai adik kakak, juga akan diterima." Nyonya Shane memecah lamunan Camelia.
"Bedanya, Andrean lebih mudah diajak daripada Chris. Bisa dikatakan, Andrean menutupi hubungan Chris dan Daddy dulu. Mewujudkan keinginan Daddymu."
Ah … itu jawabannya. "Kau benar, Mom." Camelia menyetujuinya.
"Tapi, untuk apa Mom menunjukkan hal ini?"tanya Camelia kemudian. Masih belum mengerti sepenuhnya.
Nyonya Shane kembali tersenyum. Semakin gemas. Menggerutu, mengapa menantunya ini loading nya lama sekali?
"Tentu saja untuk memberitahumu bahwa kesempatan dan jalan untuk kalian dibuka lebar!"
"Hah?" Camelia tertegun. Kembali mencerna jawaban Nyonya Shane.
Kesempatan terbuka lebar?
"Jujur saja, Mom lihat kedekatan kalian. Jika hubungan itu terjaga, tiga tahun kemudian mungkin akan menjadi pernikahan keduamu," ucap Nyonya Shane, dengan nada menggoda.
__ADS_1
"Mom?!" Camelia membelalakkan matanya. Wajahnya bersemu seketika.
Apa-apaan itu? Dilihat oleh Mom? Memalukan! runtuk Camelia pada dirinya sendiri, tentu saja di dalam hati.
"Hehehe. Bagaimana keputusan yang kami buat? Hebat bukan bisa memprediksi jauh?" Nyonya Shane menyenggol bahu Camelia, semakin menggoda Camelia.
Sekarang … Camelia benar-benar menyadarinya. Terlebih dulu, wanita itu mendengus. Dan perlahan senyumnya mulai mengembang sampai menunjukan deretan giginya.
*
*
*
Keesokan paginya, Andrean telah bersiap untuk menuju bandara, meninggalkan kediaman Shane dan Kanada.
Setelan formal pria itu kenakan. Berpamitan pada keluarga Shane.
"Terima kasih atas waktunya, Tuan Shane," ucap Andrean sebelum masuk ke dalam mobil.
"Semoga perjalananmu menyenangkan." Andrean mengangguk. Kemudian masuk ke dalam mobil.
"Sampai jumpa lagi, Ayah!" Lucas dan Liam melambaikan tangan mereka.
"Sampai jumpa lagi," balas Andrean, melambaikan tangannya pula. Senyumnya semakin lebar setelah Camelia turut melambaikan tangan padanya.
Perlahan, mobil mewah tipe Mercedes Benz itu meninggalkan halaman kediaman Shane. Melewati gerbang utama, semakin kaku, dan menghilang dari pandangan.
Camelia kemudian berangkat untuk latihan. Lucas dan Liam menunggu dijemput Kak Abi untuk ke perusahaan. Tuan dan Nyonya Shane juga meninggalkan kediaman Shane menunggu perusahaan.
"Good morning, Camelia."
"Morning, Mr. Joseph," balas Camelia, dengan sedikit memutar bola mata malas. Pria itu, beberapa hari belakangan ini menjadi sok ramah padanya. Camelia sadar, itu karena rasa penasaran Joseph pada dirinya. Sampai saat ini, Camelia tetap menggunakan masker. Lukanya sudah hampir mengering. Perbannya juga sudah ia buka.
"Anda masih flu?"tanya Joseph.
"Sebentar lagi akan sembuh."
"Sudah hampir lima hari. Itu artinya bukan flu biasa. Anda perlu ke rumah sakit."
"Tidak perlu. Besok saya sudah sembuh."
"Huh. Anda keras kepala sekali."
"Karena saya memiliki privasi."
"Anda berkata demikian, dapat membuat saya salah paham, Mr. Joseph!" Camelia melayangkan tatapan tajam pada Joseph. Sontak, Joseph menghentikan langkahnya. Tampaknya terkejut. Baru menyadari arti kata katanya.
"J-jangan salah paham! Saya …."
"Sudahlah. Aku tahu jawabanmu. Mengkhawatirkan syuting. Tenang saja, saya bukan anak baru lagi," balas Camelia, melanjutkan langkahnya meninggalkan Joseph yang masih termenung.
"Astaga! Aku benar-benar tidak mengerti dengan diriku! Jelas-jelas bukan urusanku, mengapa aku begitu gencar?!"runtuk Joseph pada dirinya sendiri.
"Belakangan ini, aku lihat Camelia dekat dengan Joseph. Apa ada sesuatu di antara mereka? Dan lagi, aku penasaran mengapa Camelia terus menggunakan masker, bahkan saat latihan fisik. Seperti ada yang ditutupi."
"Kau benar. Aku juga sangat penasaran. Tapi, aku rasa Joseph lah yang mendekati Camelia. Aku lihat, Camelia juga memasang tembok," sahut lainnya.
"Sampai kapan wanita itu bertahan memasang tembok. Secinta apapun pada pasangan, jika ditinggal mati, pasti akan mencari yang baru. Mana ada wanita yang tahan dengan kesepian." Yang pertama membahas tadi, menyahut dengan mencibir Camelia.
"Hei, jangan berkata demikian. Kita tidak tahu kebenarannya. Andai kata dia menjalin hubungan lagi, toh itu hal wajar. Dia kan masih muda," timpal yang lainnya.
"Kalian mendukungnya?"
"Bisa satu drama dengannya adalah satu kehormatan. Tentu kami mendukungnya."
"Hei, Ariel! Jangan katakan kau cemburu padanya, ya?"terka yang lainnya.
"Hah? Apa?" Wanita yang dipanggil Ariel itu terhenyak. Matanya membulat sempurna.
"Cemburu? Mustahil!"
"Hahaha … akui saja, Ariel. Mana ada kaum hawa yang tidak cemburu dengannya, termasuk kami." Wajah Ariel memerah. Ia ditelakkan.
"Ehem!" Perhatian sekelompok wanita itu teralih saat mendengar suara deheman.
"C-Camelia?" Mereka gagap seketika. Camelia menatap mereka tajam. Wajah mereka pucat pasih.
"Lain kali kalau mau bergosip di tempat yang tertutup," ucap Camelia datar, kemudian tempat duduk di tempat biasa.
Camelia mendengar semuanya. Ia sengaja tidak segera masuk karena mendengarkan gosip mereka.
Mereka ini … tidak bisakah acuh saja?
*
*
__ADS_1
*
"Kak David menyuruhku ke perusahaan?"tanya Camelia via telepon pada Kak Abi.
"Iya. Segeralah datang."
"Baiklah."
Latihan di akhir pekan tidak begitu lama. Camelia bergegas menuju agensinya.
Jantungku semakin berdebar bila di dekatnya. Ah … bagaimana ini jika sudah syuting? Bisa-bisa aku jantungan setiap saat.
Joseph yang berada di dalam mobilnya, mengusap wajahnya kasar. Perasaan itu, tumbuh dengan cepat. Ia sangkal, namun semakin menjadi.
*
*
*
"Kau kenapa, Lia? Mengapa belakangan ini selalu memakai masker. Di luar sana ada gosip yang membicarakan hal itu!" Baru masuk, Camelia disambut dengan pertanyaan itu.
Ia masih menggunakan masker. Di ruangan ini, tidak hanya ada Camelia dan Tuan David. Akan tetapi juga Lucas, Liam, dan juga Kak Abi.
"Benar, Lia. Kami semua bingung dan cemas. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi padamu?"tanya Kak Abi.
"Buka maskermu. Aku ingin lihat separah apa flumu!"titah Tuan David kemudian.
"Mereka berdua mengatakan itu alasannya, saudaramu itu, si Lina juga berkata demikian!"
Ah … sejenak, Lina dilupakan. Saat tahu, bahwa Camelia diculik, wanita itu sangat heboh dan takut. Apalagi setelah melihat Camelia terluka, menangis sejadi-jadinya.
Camelia yang sudah cukup puas menerima luka saat diculik. Hanya saja, ini kali pertama luka pada wajahnya.
Jika mengingatnya, Camelia akan tersenyum.
"Baiklah." Camelia menjawab. Kemudian membuka maskernya.
"Lia, wajahmu?!" Kak Abi langsung berseru dan menutup mulutnya. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Tuan David memiliki reaksi yang sama.
"Apa yang terjadi padamu?!" Tuan David memegang pipi Camelia. Menatap lekat luka itu yang sudah mulai mengering.
"Hah … ada insiden, hm … wanita gila," jawab Camelia, dengan menyentuh pipinya. Tersenyum tipis.
"Wanita gila?" Kak Abi mengernyit.
"Apa ada hubungan dengan hilangnya Alexis?"teka Kak Abi.
"Lia?"
Camelia mengangguk pelan. "Ah … oh my god!"
Kak Abi mengusap wajahnya kasar. Pantas saja ia merasa ada yang aneh. Alexis tiba-tiba hilang dan kabarnya masuk ke rumah sakit jiwa. Padahal, sebelumnya sangat baik-baik saja. Kemudian paginya, Camelia memakai masker saat keluar sampai hari ini.
"Oh … astaga! Astaga! Bagaimana ini! Your face! Itu terluka parah sekali. Ah bagaimana ini?" Tuan David panik bukan main.
"Lukanya akan menimbulkan bekas panjang! Bagaimana bisa wajah seorang wanita terluka?! Selain itu, siapa wanita gila itu? Alexis? Artis dari perusahaan di ujung jalan?!"
Mondar mandir dan mengomel. Mengacak-ngacak rambut dan sesekali mengesah.
"Uncle, kau seperti setrika," celetuk Liam.
"Pantas saja! Tapi, tidak bisa terus ditutupi, Lia!"
"I know."
"Kau sudah membuat rencana?"
"Luka ini memang sangat mengganggu."
"Lebih baik maskernya dilepas, Mom," saran Lucas.
"Dilepas?"
"Satu Minggu lagi, itu waktu yang cukup lama. Dan gosip di luar sana semakin melebar. Lagipula, jika mengatakan Mom diculik dan terluka karenanya, tidak akan terus digunjing bukan? Ya, awalnya itu memang saran kami. Maaf, Mom."
"Walaupun itu sedikit beresiko, akan tetapi itu bisa diterima. Aku setuju dengan itu, Lia." Tuan David yang telah mencerna saran Lucas menyetujuinya.
"Artinya kita harus segera menyiapkan konferensi pers," imbuh Kak Abi.
"Harus bilang pada Grandpa dan Grandma juga." Liam menimpali.
"Baiklah." Camelia juga berpikir itu hal yang tepat meskipun mengandung resiko.
Lukanya akibat senjata tajam, bukan air keras ataupun luka bakar. Tidak terlalu lebar juga.
__ADS_1
Namun, artinya aku harus siap dengan banyak pertanyaan, gumam Camelia, mengeluh untuk itu karena itu akan sangat melelahkan.