Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 101


__ADS_3

"Jangan lupa nanti jemput kak Lina di bandara, pukul 10.00," ucap Camelia saat bertemu di meja makan untuk sarapan. Wanita itu mengenakan setelan jas untuk wawancaranya di pukul 10.00 nanti.


"Iya, Kakakku. Tenang saja aku akan membawa kak Linamu itu dengan selamat," sahut Dion.


"Aunty Lina sudah berangkat?"tanya Lucas, terkejut tiba-tiba Dion disuruh menjemput.


"Sudah, kemarin," jawab Camelia.


"Kok tidak diberi tahu?" Lucas mendengus pelan. "Lucas kan ingin memberikan hadiah selamat datang. Sekarang mana sempat lagi untuk mempersiapkannya," tambahnya dengan murung.


"Lina? Apa dia temanmu dari China itu, Camelia? Dia datang ke Kanada? Untuk apa? Liburan?"tanya Tuan Shane.


"Iya, Dad. Kak Lina datang untuk bekerja di Glory Entertainment. Dulu ia sempat menjadi managerku, kali ini datang mengasah kemampuan di Glory Entertainment," jawab Camelia, menjelaskan.


"Aunty Lina jadi tinggal di sini?"tanya Liam.


Camelia mengangguk. "Yeah!!" Lucas berseru senang.


"Lalu dia akan tinggal di mana?"tanya Nyonya Shane.


"Em … Mom, Dad." Memanggil ragu. "Apa boleh Kak Lina tinggal di sini?"tanya Camelia, harap-harap cemas, takut tidak diperbolehkan.


"Jika kau membawa seseorang tinggal di rumahmu, pasti itu teman dekatmu, bukan?"


"Terima kasih, Dad!" Ya, itu sebuah persetujuan.


"Ya sudah, ayo sarapan. Kalian harus berangkat, bukan?"ajak Nyonya Shane.


"Ya, ayo. Aku sudah lapar," sahut Dion cepat.


Sepertinya suasana aneh kemarin sudah menghilang, batin Lucas setelah menilik singkat keluarga yang ada di meja makan.


Sepertinya kakak sudah menerimanya, batin Dion dengan menoleh sekilas pada Camelia.


Aku sudah memiliki pengalaman di hal berat seperti ini. Di saat aku harus memilih di antara dua pilihan yang sulit. Hanya saja kali ini, dua pilihan itu memiliki jangka waktu yang lama. Aku menerimanya….


*


*


*


Setelah selesai sarapan, mereka berangkat menuju kantor masing-masing.


Setibanya di perusahaan, Tuan Shane mengajak Dion ke ruangannya dulu sebelum menuju ruangannya sendiri. Nyonya Shane tidak ikut ke kantor karena ada acara sosialita.


"Ada apa, Dad?"tanya Dion setelah tiba di ruangan Tuan Shane.


"Berapa lama jangka waktumu di China?"tanya Tuan Shane.


"Sekitar dua bulan lagi, Dad," jawab Dion dengan mengernyit.


Apa Daddy hendak menggantikanku dengan orang lain? Agar aku tak perlu lagi kembali ke China? Dion menduga-duga dalam hati. Menatap Tuan Shane yang berdiri di dekat jendela.


Tuan Shane, ia memiliki perawakan yang tinggi, tetap, dan tampan. Gurat ketampanan tidak hilang meskipun usianya sudah tidak lagi mudah. Bahkan sebentar lagi, ia akan pensiun dan Dion akan menggantikan. Itu tinggal menunggu waktu, sekitar 3 bulan lagi.


"Kapan kau akan kembali ke China? Menyelesaikan tugas itu?"


"3 hari lagi, Dad. Mengapa, Dad?"tanya Dion.


Tuan Shane berbalik. "Segeralah selesaikan tugas itu. Lebih cepat lebih baik. Daddy belum menemukan orang yang tepat untuk cabang di sana."

__ADS_1


"Baik, Dad."


"Selain itu, ada hal yang ingin Daddy tanyakan lagi." Kali ini dengan mimik lebih serius daripada sebelumnya.


*


*


*


"Mendengar ceritamu, sepertinya akan sulit. Namun, bisa tidaknya, tidak hanya dari sisi Lia tapi juga sisi mereka."


"Daddy benar. Hubungan itu antara dua orang. Mengapa harus kakak sendiri yang bingung dan tertekan?"


"Yah … baiklah. Sepertinya cukup sampai di sini saja. Sudah hampir pukul 10.00. Kau diminta untuk menjemput teman kakakmu, bukan?" Tuan Shane mengalihkan pandang ke arah jam dinding.


"Eh, benar. Kalau begitu kau pergi dulu, Dad!" Dion bangkit. Namun, baru beberapa langkah, Dion berhenti dan membalikkan badannya. "Dad, Kak Lina itu bukan hanya sekadar teman. Namun, dia adalah saudara kami. Dia adalah orang yang setia pada kami, di saat senang maupun susah."


Tuan Shane tertegun sesaat. "Hm … Daddy mengerti," jawab Tuan Shane. Dion tersenyum dan kembali melanjutkan tujuannya.


*


*


*


Ladies and gentlemen, as we start our descent, please make sure your seat backs and tray tables are in their full upright position. Also, make sure your seat belt is securely fastened and all carry-on luggage is stowed underneath the seat in front of you or in the overhead bins. Thank you.


Lina menegakkan duduknya setelah mendengar pengumuman dari pramugari. Sebentar lagi mereka akan mendarat. Lina melihat jam tangannya.


Pukul 06.00 pagi di jam tangannya. Namun, saat melihat keluar jendela, hari sudah sore. Dahinya mengernyit.


Tak berselang lama, pesawat mulai mendarat.


"What time is it here?"tanya Lina pada pramugari.


"18.00, Madam," jawab pramugari tersebut. "Ada yang perlu dibantu, Nyonya?"tawarnya kemudian.


"Ah … no. Thank you," jawab Lina. Pantas saja matanya terasa berat, jika di sana ia baru bangun tidur.


Penerbangan sungguh panjang. Menggunakan pesawat pribadi dan komersial itu punya perbedaan jam tiba yang jauh karena tadi ada transit lebih dulu.


Dengan langkah lemas karena pengaruh jet lag, Lina keluar dari pesawat. "Ah … aku baru ingat ada perbedaan waktu yang signifikan," gumam Lina.


Lina kemudian menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Selamat datang di Kanada, Lina," ucap Lina pada dirinya sendiri sebelum melangkah untuk mengambil koper dan barang-barangnya yang lain. Setelah mendapatkan barang-barangnya, Lina menghubungi Camelia.


Namun, sebelum itu, Dion sudah menghubunginya lebih dulu.


"Ya, Dion. Aku sudah mendarat."


"Baiklah, sebentar lagi aku akan tiba." Menutup panggilan dan menuju pintu keluar.


"Kakak!" Baru saja ia keluar, panggilan yang familiar dengan bahasa China menyapa pendengarannya.


"Dion!" Membalas dengan melambaikan tangan pula.


"Akhirnya sampai juga." Lina menghela nafas lega. Kemudian berpelukan dengan Dion.


"Kakakmu tidak ikut?"tanya Lina yang tidak mendapati batang hidung Camelia.


"Kakak ada acara penghargaan," jawab Dion. Lina ber-oh-ria.

__ADS_1


"Ayo, sebentar lagi gelap," ajak Dion, kemudian memasukkan barang-barang Lina ke dalam bagasi mobil.


"Sudah hampir pukul 19.00, jam berapa matahari terbenam di sini?"tanya Lina.


"Jam 21.00," jawab Dion.


"Selama itu?" Lina membulatkan matanya.


"Sepertinya untuk beberapa hari ke depan akan sulit untukmu, Kak," sahut Dion dengan terkekeh pelan.


"Ini saja aku sudah terkena jet lag," ketus Lina.


"Tapi …." Tiba-tiba wajahnya menjadi murung.


"Ada apa, Kak?"


"Dulu pasti sangat sulit sekali untuk kalian. Tinggal di negeri asing dengan budaya dan waktu yang berbeda, hanya berdua tanpa sanak-saudara."


Dion terkekeh pelan. "Ya memang tidak mudah. Perlu adaptasi yang cukup lama. Namun, kami berhasil melewatinya dan bertahan sampai saat ini," jawab Dion. Menghela nafas pelan mengingat jalan hidupnya selama di sini.


"Kabar ayah dan ibu, bagaimana?"


"Mereka baik."


"Syukurlah."


"Kalau begitu, ayo lekas naik, Kak. Aku tak mau ketinggalan melihat acara penghargaan itu," ajak Dion, wajahnya kembali ceria.


"Lia akan mendapatkan penghargaan?"


"Seharusnya ada, makanya aku tidak mau ketinggalan." Lina mengangguk cepat dan langsung naik ke mobil.


"Sebenarnya tadi aku salah jam menjemput kakak. Tidak sebenarnya kak Lia yang salah jam," ujar Dion, bercerita dalam perjalanan.


"Maksudmu? Salah jam bagaimana?"


"Ya mungkin karena kami terbiasa berpergian dengan pesawat pribadi, jadi lupa dengan lamanya penerbangan dengan pesawat komersial," jawab Dion dengan terkekeh.


"Jam berapa memangnya kau menjemputku tadi?" Lina ingin tahu.


"10.00."


"Hampir satu jam aku menunggumu. Ku kira ada sesuatu yang buruk."


"Jadi, bagaimana kau tahu aku tiba di jam tadi?"


"Apa gunanya resepsionis?"


Lina lantas tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Astaga! Kalian ini … aku tak mampu berkata lagi."


Kehidupan Camelia dan Dion benar-benar makmur di sini. Dulu, naik pesawat komersial kelas ekonomi, sekarang terbiasa menaiki pesawat pribadi. Ah, bahkan untuk menjemputnya tempo hari juga menggunakan pesawat pribadi.


"Hidup kalian benar-benar berbeda."


"Aku juga tidak menyangka," sahut Dion.


Namun, untuk itu semua, ada pengorbanan yang besar, tersenyum kecut dalam hati.


Sekitar lima belas menit kemudian, mereka tiba di mansion keluarga Shane. Lina membulatkan matanya melihat mansion keluarga ini.


Hanya terdiri atas dua lantai namun begitu luas. Kebanyakan dindingnya berupa kaca. Pepohonan mengelilingi mansion. Dan ada air mancur di depan mansion ini.

__ADS_1


Di saat sudah hampir gelap seperti ini, lampu-lampu dinyalakan, menambah kemewahannya. Dominasi bangunan berwarna biru.


Dan ada beberapa Pelayan di pintu masuk. "Selamat datang di keluarga Shane, Kak," ucap Dion.


__ADS_2