Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 131


__ADS_3

"Mom!"


Camelia tersentak. Menoleh dengan ekspresi polos. "Ada apa, Lucas?"


"Mengapa tidak turun, Mom? Mom mau tidur di mobil?"tanya Lucas, dengan tatapan heran pada Camelia.


"Ah?" Camelia kembali tersentak dan melihat di mana ia berada. Di dalam mobil dan sudah berada di depan mansion.


"Apa yang kau pikirkan, Mom? Kau melamun sedari tadi. Paman sopir tidak berani mengganggu Mom," terang Liam, menyipitkan matanya.


"Begitu rupanya." Camelia menyentuh dahinya. Ia melamun, sampai-sampai tak menyadari telah tiba di mansion beberapa menit yang lalu. Lucas dan Liam menjemputnya setelah mendengar penuturan sopir Camelia.


"Kau pasti sangat lelah, Mom. Ayo masuk dan minum teh putih. Delima kemarin juga masih ada. Lalu kita masak tteokbokki, biar kembali semangat," ajak Lucas, tersenyum riang.


"Ya … baikah," jawab Camelia. Ia sedikit linglung karena kabar tentang Rose tadi.


"Acaranya berlangsung dengan lancar kan, Mom?"tanya Liam, di saat mereka menuju dapur.


"Sangat lancar."


"Apa filmnya bagus?"tanya Liam lagi.


"Bagus. Kalian mau menontonnya?" Camelia menawarkan.


"Iya."


"Bagaimana jika akhir pekan?"tawar Camelia.


"Setuju!" Lucas yang menjawab lebih dulu. Diikuti oleh dengusan Liam.


Akhir pekan, itu waktu yang cocok untuk menonton. Meskipun sudah lewat beberapa hari setelah penayangan perdana, tidak masalah. Karena jika bersama, lebih baik sedikit orang daripada menonton di keramaian yang membludak.


"Mom, minumlah." Lucas menyodorkan segelas kecil teh putih pada Camelia.


"Terima kasih," ujar Camelia, menerimanya. Mencium aroma teh itu sebelum menyesapnya perlahan.


Sementara Liam, membuat tteokbokki. Lucas mengurus buah delima. Camelia menopang dagunya. Sesekali masih menghela nafas.


Sungguh, ucapan Nyonya Liang tadi benar-benar terus terngiang-ngiang dan mengusik dirinya.


"Ada apa, Mom? Mom terus melamun pasti ada hal penting," cetus Lucas, menatap Camelia sekilas sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.


"Apa kalian tahu jika … Rose Liang meninggal?"tanya Camelia, nadanya sendu dan juga lesu.


Lucas dan Liam sontak menghentikan pekerjaan mereka.


Terkejut.


Saling pandang. Mereka sama sekali tidak tahu.


Keadaan hening beberapa saat.


Cetek.


Kembali tersadar begitu Liam mematikan kompor.


"Jadi, Mom terus melamun karenanya?"tanya Liam, datar dan sedikit ketus.

__ADS_1


"Bukan karena itu namun … ada hal lainnya." Camelia kembali menghela nafas. Membicarakan tentang kehidupan dengan kedua anaknya, tampaknya sangat tidak pas.


"Sudah hampir larut, kalian pergilah tidur," ujar Camelia.


"Tapi, Mom …."


"Ayo." Liam menutup mulut Lucas.


"Kami ke kamar, Mom. Mom juga harus istirahat," ujar Liam, sebelum menarik Lucas menjauh.


Camelia tersenyum tipis, kemudian melihat tteokbokki yang telah Liam buat. Wanginya, membuat perutnya berbunyi lapar. Setidaknya, ia sedikit memperbaiki perasaannya.


Selesai makan dan minum, Camelia hendak ke kamarnya dengan membawa delima yang telah Lucas kupas dan isinya diletakkan di dalam mangkuk.


"Lia." Saat tiba di anak tangga pertama, Camelia dipanggil oleh seseorang. Itu Tuan Shane. Rupanya, Tuan dan Nyonya Shane berada di ruang keluarga.


Sejak kapan?


"Iya, Dad." Camelia menghampiri keduanya.


"Duduklah," titah Tuan Shane. Camelia mengangguk. Meletakkan mangkuk delima itu itu di atas meja. Duduk di samping Nyonya Shane. Tuan Shane duduk di sofa tunggal.


"Daddy sudah mendengar sedikit dari Lucas tadi. Katanya, anak dari orang tua angkatmu meninggal. Dan katanya juga, setelah pulang kau tampak linglung, dan katanya bukan karena hal itu. Apa itu benar, Lia?"tanya Tuan Shane. Tampaknya, Lucas mengadu.


Camelia menghela nafasnya kemudian pelan. "Kami tidak terlalu berhak mencampuri urusan seperti ini. Namun, jika berdampak buruk padamu, kami tidak bisa diam saja, Lia. Ceritakan pada kami, barangkali kami ada jalan keluarnya dan kau mendapatkan ketenangan hatimu," tutur Nyonya Shane, menyentuh tangan Camelia. Menatap Camelia meyakinkan.


Camelia menunduk. Memikirkannya. Ia butuh teman bicara. Teman yang memiliki pengalaman hidup, yang telah lebih banyak mengecap rasa kehidupan ini.


"Ceritalah, Lia. Kau memendamnya sendiripun akan semakin sulit menemukan jalan keluar atau ketenanganmu. Jika kau terus seperti ini, anak-anak akan terpengaruh. Begitu juga dengan pekerjaanmu. Dan juga Dion, anak itu pasti akan langsung pulang jika tahu kau seperti ini setelah mendengar kabar itu." Nyonya Shane membujuk Camelia.


Tuan dan Nyonya Shane adalah orang yang bijak.


"Dad, Mom, apa Lia boleh menanyakan sesuatu?"tanya Camelia. Yang diangguki oleh keduanya.


"Jika seandainya kalian memiliki dendam kepada seseorang. Kemudian kalian berhasil membalasnya. Kemudian dia menerima hukuman dan meninggal, apakah kalian akan memaafkannya? Sepenuhnya? Tidak ada perasaan dendam lagi? Karena, meskipun dendam itu sudah terbalas, rasanya masih ada di dalam hati," papar Camelia, menanyakan yang menjadi keresahan hatinya.


"Jadi, hal itu yang mengganjal di benakmu?"tanya Tuan Shane. Camelia mengangguk.


Tidak ada balas dendam yang selengkap pengampunan.


Itu kembali terngiang.


"Dendam adalah penyakit hati. Dan penyakit hati itu, sulit sekali dicari obatnya. Meskipun dendam sudah terbalas, bekasnya belum kering, dendam itu masih tertinggal, jika diturut, rasanya tidak akan pernah selesai," ujar Tuan Shane, menatap lurus ke depan. Setelah bicara, kemudian merenung.


"Itu benar, Lia. Memaafkan adalah balas dendam terbaik. Memperbaiki diri adalah balas dendam terbaik. Daripada menjaga luka tetap basah, lebih baik dikeringkan. Meskipun membekas, setidaknya itu hanya bekas, tidak lagi merasakan sakitnya," timpal Nyonya Shane.


"Seharusnya memang demikian. Tapi, tidak semua hati manusia itu sama. Tidak semua luka itu sama. Tapi, inti dari semua itu adalah satu yakni mencari ketenangan dan keluar dari bayang-bayang. Maka cara terbaiknya memang pengampunan dan melepas dendam itu. Ya, tidak semua bisa. Itu sangat sulit. Bahkan Daddy pun ragu untuk bisa bersikap demikian," ujar Tuan Shane, menarik senyum tipis. Tatapannya seakan tengah menerawang.


Penyakit hati, itu sangat sulit. "Yang pasti, mendekatkan diri dengan sang pencipta dapat membuat kita menetralisir dendam itu."


Camelia terdiam. Perkataan yang sama. Balas dendam terbaik adalah pengampunan. Lepaskan dan maafkan, ketenangan itu akan didapat. Ikhlas, dan keluarlah dari bayang-bayang.


"Jadi, maafkan dia. Luka di hatimu akan sepenuhnya kering. Hanya tinggal bekas yang semakin berjalannya waktu, akan pudar dan hatimu akan lepas rasa dendam juga rasa bersalah," terang Tuan Shane lagi.


"Daddy tahu apa yang membuatmu tampak linglung seperti ini. Kau bingung, merasa bersalah. Berpikir jika dia meninggal karena balas dendammu. Takut jika orang tuamu menyalahkan dirimu karenanya."


Kata-kata Tuan Shane mengalir, bak angin semilir yang menerpa Camelia. Yang dikatakan Tuan Shane itu benar adanya.

__ADS_1


"Jadi, artinya aku harus mengampuninya?"tanya Camelia, memastikan.


"Lia, dendam terbalas, belum tentu dengan pengampunan. Namun, jika sudah memberi pengampunan, dendam itu akan benar-benar terbalas. Orang yang memiliki dendam tidak akan pernah tenang meskipun dendamnya sudah terbalas. Lia, kau sudah dewasa, sedikit banyaknya kau mengerti inti pembicaraan ini."


Nyonya Shane menepuk bahunya. Mengulas senyum pada Camelia.


Camelia masih menunjukkan keraguan.


Bingung.


Ia belum bisa mencerna sepenuhnya.


Apa yang dikatakan, terdengar baik dan mudah untuk dilakukan.


Namun, realitanya, berbanding terbalik. Sulit dan butuh waktu yang panjang.


"Kami tahu ini sulit. Bagaimana jika begini saja, kau katakan pada dirimu sendiri, aku memaafkannya, aku mengampuninya. Setiap hari kau katakan demikian, setiap pagi dan sebelum tidur. Daddy pernah melakukannya, perlahan perasaan dendam itu akan menghilang dengan sendirinya. Karena, Lia … orang jahat, mereka yang melakukan kejahatan, pada dasarnya adalah orang baik yang terdesak dengan kebutuhan dan lingkungan. Jadi, Daddy harap kau tidak terus menerus menjaga lukamu tetap basah. Lepaskanlah, maka ketenangan hati akan kau dapatkan." Selagi lagi, Tuan Shane memberikan nasehat. Saran, juga jalan keluar.


"Kau tampak sangat lelah, Lia. Pergilah tidur. Istirahatkan tubuhmu. Semoga besok pagi, sudah lebih jernih," tutur Nyonya Shane, meminta Camelia untuk kembali ke kamar, istirahat.


Camelia menghela nafasnya. Benar. Ia sudah sangat lelah. Tak mampu lagi memikirkan hal lain. Apalagi hal sensitif seperti ini. Mengucapkan maaf, memberi ampun, tidaklah mudah.


*


*


*


Camelia telah kembali ke kamarnya, meninggalkan Tuan dan Nyonya Shane berdua di ruang keluarga. Keduanya saling tatap, dan kemudian menghembuskan nafas kasar.


"Kau berbicara panjang lebar demikian, apa lukamu sendiri sudah kering?"tanya Nyonya Shane, sedikit ketus.


Tuan Shane tertawa pelan. Kemudian tersenyum kecut. "Mungkin akan hilang saat aku bertemu dengannya lagi," ujarnya sendu. Agaknya mengingat masa lalu.


"Sampai saat ini, aku masih mengingatnya. Apa kau sudah mengampuninya?"tanya Nyonya Shane lagi. Nada ketusnya masih ada.


"Belum sepenuhnya. Makanya aku katakan mungkin akan hilang setelah aku pergi."


"Apa katamu?!" Nyonya Shane mendelik kesal. "Kau mau meninggalkan aku sendiri hah?"bentaknya kemudian.


"Hei, calm down, Honey. Aku bukan bermaksud begitu. Namun, jika aku hidup semakin lama, kapan perasaan sisa ini hilang?"


"Kau?!" Nyonya Shane tercekat. Rasanya serba salah. Ada dua keinginan di antara dua orang yang bertolak belakang.


"Jangan menatapku seperti itu, Honey. Mungkin aku egois, ingin menghabiskan banyak waktu dengan kalian, menghabiskan masa tua yang bahagia. Di sisi lain, aku ingin segera mengakhiri. Hehehe, benar-benar tidak konsisten. Pandai menasehati orang lain tapi diri sendiri tidak mampu diatasi." Tuan Liang terkekeh. Kekehan yang hambar dan terdengar penuh luka.


"Suamiku." Suara Nyonya Shane kembali tercekat. Matanya memerah.


"Serahkan semua pada Yang Kuasa! Kau tak berhak menentukan kapan kau akan pergi! Lakukan saranmu tadi. Apa saja kau katakan pada Lia, juga harus menerapkannya juga! Jika tidak, aku akan sangat marah padamu! Kau harus berjanji!!"tegas Nyonya Shane dengan menunjuk Tuan Shane, matanya memancarkan ancaman yang dipadukan dengan air mata.


Tuan Shane menyeka sudut matanya. "Kemarilah. Peluk aku yang renta ini."


Nyonya Shane langsung masuk, memeluk Tuan Shane. "Berjanjilah. Jangan bicara tentang pergi lagi. Masih banyak hal yang belum kita lakukan," Isak Nyonya Shane.


"Aku berjanji. Jangan menangis. Hatiku menjadi sangat sakit. Lagipula usiamu tidak cocok lagi."


"Memang ada batasan usia untuk menangis?!"ketus Nyonya Shane, dengan mencubit pinggang Tuan Shane, yang menghadirkan senyum di antara keduanya.

__ADS_1


__ADS_2