
Dion juga merasakan perasaan yang sama dengan Nyonya Shane. Perasaan khawatir yang sangat mengganggu.
Lekas, Dion mengambil ponselnya dan mencall nomor ponsel Camelia. Beberapa deringan, panggilan itu telah dijawab.
"Halo, Kak."
"Halo, Dion. Ada apa?"sahut Camelia di ujung sana.
"Kak … are you okay?"tanya Dion, to the point.
Untuk beberapa saat tidak terdengar sahutan. Dion semakin merasa tidak enak. "Kak?"panggilnya pelan.
"Kakak okay. Ada apa rupanya, Dion? Suaramu terdengar cemas?"tanya Camelia heran.
"Ah … tidak, Kak. Tiba-tiba saja perasaanku dan ibu tidak enak mengenai kakak," jelas Dion, menatap kedua orang tuanya yang bernafas lega setelah mendengar Camelia baik-baik saja.
"Begitu rupanya. Tidak perlu cemas kakak baik-baik saja di sini. Dan kau sendiri bagaimana? Sudah bertemu dengan ayah dan ibu?" Camelia balas bertanya.
"Ya, aku baik-baik saja dan juga sudah bertemu ayah dan ibu," jawab Dion.
"Syukurlah. Aku lega mendengarnya."
"Dion, aku ingin bicara dengan ayah dan ibu," ujar Camelia.
Dion segera memberikan ponselnya pada Nyonya Liang setelah menyalakan loudspeaker.
"Halo, Lia."
"Halo, Ibu, Ayah."
"Bagaimana kabar ayah dan ibu?"
"Kami baik, Nak. Hanya saja, kami sangat merindukanmu," jawab Nyonya Liang.
Camelia tertawa renyah di ujung sana. "Kalau begitu ayah dan ibu mau ke Kanada? Biar Lia pesankan tiket," balas Camelia.
"Boleh. Tapi, sepertinya tidak dalam waktu dekat ini," jawab Tuan Liang.
"Bagaimana saat dengan Dion kembali nanti?"tawar Camelia lagi.
"Aku setuju!" Dion berseru, menyetujui.
"Haha … kalau begitu deal, ya?"
"Baiklah." Tuan Liang turut menyetujui.
"Ah, ayah, ibu, Dion, nanti lagi, ya? Aku akan berangkat kerja," ujar Camelia, berpamitan.
"Ya sudah. Sampai nanti, jaga kesehatanmu, ya."
"Iya, Bu."
Panggilan berakhir. Ketiga kembali menghela nafas lega.
"Hati ibu sudah tenang."
"Kalau begitu mari kita makan, Ibu," sahut Dion.
Tuan dan Nyonya Liang mengangguk. Mulai mengambil makan malam mereka. Tuan Liang mengambilkan Dion beberapa lauk dan juga pauk.
"Terima kasih, Ibu."
"Makanlah, Nak. Makan yang banyak."
Dion tersenyum. Namun, sejenak ia menoleh ke belakang.
Meskipun Kakak mengatakan dia baik-baik saja, akan tetapi aku merasa telah terjadi sesuatu.
*
*
*
"Padahal kejadiannya tadi malam, terasanya pagi ini," gumam Camelia seraya menggelengkan kepalanya.
Ini adalah pagi hari. Malam penculikan dan menyenangkan itu telah berlalu. Camelia menatap dirinya di cermin. Perbannya kemarin sudah ia buka, menampakan goresan yang cukup panjang namun tidak terlalu dalam. Camelia menatapnya dingin. Itu akan menimbulkan bekas luka. Apakah ia harus melakukan operasi plastik untuk menghilangkannya?
Sebagai seorang artis, tentu wajah atau visual adalah hal yang sangat penting.
CK!
"Wanita gila itu!"geram Camelia. Luka di wajah, sukar disamarkan terlebih ini masih basah. Dan tidak mungkin ia mengambil cuti sedang ini adalah hal yang paling penting sebelum syuting dimulai.
Lukanya ini, pasti akan jadi pertanyaan. "Harus jawab apa?" Camelia kembali bergumam.
Lukanya akan kembali diperban karena tadi sesuai mandi hendak ia ganti. Namun, terjeda karena panggilan dari Dion.
__ADS_1
"Khawatir luka itu dipertanyakan, Mom?" Lucas bertanya, ia baru saja selesai mandi. Liam menatap Camelia. Camelia mengangguk. Tadi malam, Lucas dan Liam tidur bersama dengannya.
"Bagaimana dengan menggunakan masker, Mom?"saran Lucas kemudian.
"Masker?"
"Astaga! Mengapa Mom tidak memikirkannya!" Camelia menepuk dahinya sendiri.
Sekarang, ia sudah harus menjawab apa jika dipertanyakan. "Kita tidak menjenguk Mr. Gong?"tanya Liam.
"Menjenguknya?"
Ah! Benar. Kata dokter ia akan sadar pagi. Aku harus menjenguknya. Setidaknya aku harus mengucapkan terima kasih, pikir Camelia.
Lagipula, cukup waktunya sebelum jam latihan.
"Baiklah, ayo lekaslah bersiap," ujar Camelia, yang mana ia sendiri kembali melakukan pekerjaan yang tertunda tadi. Lucas dan Liam segera bersiap.
*
*
*
Tiba di rumah sakit, Camelia, Lucas, dan Liam langsung menuju ke lantai VVIP. Mereka menggunakan masker, topi, dan jaket untuk penyamaran. Ya, akan jadi kehebohan jika mereka terang -terangan.
Tuan dan Nyonya Shane tidak ikut menjenguk. Tuan Shane ada meeting penting begitu juga dengan Nyonya Shane. Mereka akan menjenguk Andrean sore nanti saat pulang kerja.
Lantai VVIP, hanya bisa dihuni oleh orang-orang kelas atas, yang menginginkan privasi yang ketat.
Tiba di lantai VVIP, di mana di depan lift sudah ada dua pengawal. Keduanya membungkuk saat Nona Muda dan kedua Tuan Muda Kecil mereka datang.
"Dokter sudah memeriksanya?"tanya Camelia, pada pengawal yang menjaga pintu ruang rawat Andrean.
"Sekitar lima belas menit yang lalu sudah, Nona."
Camelia mengangguk. "Sudah sadar?"
"Belum, Nona." Camelia kembali mengangguk kemudian masuk ke dalam ruangan. Diikuti Lucas dan Liam.
Bisa dikatakan ini adalah kali pertamanya, keempatnya dalam satu frame, hanya berempat.
"Ayah." Camelia menoleh pada kedua anaknya, kompak memanggil pria berbaring yang belum sadar itu dengan sebutan Ayah. Jantung Camelia berdebar keras. Rasa kaget menguasai dirinya.
"Kalian … memanggilnya … Ayah?" Terbata, menatap kedua anaknya penuh tanya.
Benar. Tapi …. Camelia mengusap wajahnya. "Kalian … menerimanya?"
"Dia tidak buruk, Mom. Juga sudah menunjukkan kesanggupannya. Mom, dilindungi oleh banyak pengawal memang terlihat sangat aman dan juga hebat. Namun, dilindungi oleh seseorang, seperti seorang ayah atau yang dicintai, itu lebih dan sangat berarti," tutur Lucas. Sorot matanya begitu lembut pada Andrean.
Camelia memiringkan kepalanya, "bocah … darimana kau tahu kata-kata itu? Usiamu, belum cocok mengatakan hal itu."
Lucas tersenyum. "Hm … ya, memang sih. Tapi, aku tahu karena membaca, psikologi, hehehe…."
"Mom … sepertinya kau mulai melambat." Camelia menoleh pada Liam. Itu jelas sindiran untuknya.
Camelia tertawa canggung. "Uhh!" Ketiga orang itu serentak menoleh ke ranjang.
Mata Camelia menangkap gerakan pada jari Andrean.
Cepat, Camelia mendekati pria itu.
"Kau sudah sadar, Mr. Gong?"tanya Camelia saat mendapati kelopak mata Andrean terbuka dan perlahan terbuka. Menampakkan manik mata hitam yang memikat.
Awalnya pandangan Andrean terasa kabur. Setelah mengerjap beberapa kali baru jelas.
"Lia?!"
Pria itu langsung duduk.
"Lia … are you okay?" Tangannya memegang tangan Camelia.
"Yes. I'm okay." Camelia terkejut dengan itu.
"Seriously? Kau tidak berbohong kan?" Nadanya begitu khawatir, begitu juga dengan sorot matanya. Camelia mengangguk.
"Aku baik-baik saja. Justru kau terluka parah!"tandas Camelia, kemudian. Melepas genggaman tangan Andrean dan menyuruh Andrean untuk kembali berbaring.
"Auhh!" Andrean mengeluh sakit pada bagian bahu kirinya.
"Sttt!" Kembali meringis karena lukanya. Luka itu terasa begitu sakit, apalagi setelah pengaruh bius habis.
"Kau gegabah! Lihat akibat tindakanmu!"ketus Camelia kemudian.
Andrean tersenyum, "luka ini tidak artinya setelah melihatmu baik-baik saja."
"Tapi, luka di wajah itu … sangat berpengaruh untukmu. Tetap saja, maaf. Aku gagal melindungimu." Andrean menunduk. Luka di bahunya ini, mudah untuk ditutupi. Sementara luka di pipi Camelia ….
__ADS_1
"Pikirkan saja dirimu! Lukamu dalam. Harus dirawat beberapa hari. Itupun belum penyembuhan di luar rumah sakit!"ketus Camelia.
Andrean mendongak. Camelia, ia tidak menunjukkan perasaannya secara gamblang.
Andrean menarik Camelia. "Apa yang!"
Cup!
Luka itu seakan tidak ada artinya. Andrean menarik Camelia dalam pangkuannya, lantas mencium bibir wanita itu.
Melihat adegan itu, Lucas dan Liam sontak membalikan badan mereka.
Camelia meronta. Andrean malah semakin memeluknya erat. Hatinya yang sakit melihat perban di pipi Camelia itu, mendorongnya untuk melakukan ciuman ini.
"Auhhh!" Pada akhirnya ciuman lepas setelah Camelia menggigit bibir Andrean.
"Apa-apa kau?! Di sini ada Lucas dan Liam!"hardik Camelia dengan menunjuk ke arah Lucas dan Liam.
"Lucas? Liam?" Mengikuti arah tunjuk Camelia.
Lucas dan Liam berbalik. Keduanya menunjukkan wajah datar.
"Mom, tanganmu berdarah!"seru Lucas tiba-tiba.
"Hah?" Camelia melihat tangannya. Tangan kirinya memang ada noda merah.
"Uhhh!" Lagi, Andrean kembali mengeluh sakit.
Mata Camelia melebar seketika. Ia tahu itu darah dari mana. Pasti karena tadi ia menekan bahu Andrean hingga membuatnya kembali terbuka.
Camelia lekas menekan bel untuk memanggil dokter. Tak butuh waktu lama, dokter telah tiba dan langsung menangani Andrean.
"Mr. Gong, luka Anda masih basah dan cukup dalam. Anda harus berhati-hati ke depannya agar tidak menimbulkan infeksi dan berakhir dengan penyembuhan yang lebih lama," ujar Dokter tegas setelah selesai menangani luka Andrean.
Andrean mengangguk singkat. Sesekali masih meringis. "Bagaimana dengan lukanya? Apa itu bisa hilang?"tanya Andrean pada dokter.
"Tentu saja bisa, Tuan. operasi plastik dapat menghilangkan bekasnya," jawab dokter.
"Kau akan melakukan operasi plastik?" Mengalihkan pandang pada Camelia.
"Entahlah. Aku belum memikirkannya." Lihat saja dulu bekasnya.
Drt….
Drtt….
Alarm yang Liam setel pada jam tangannya berbunyi. "Mom, waktunya berangkat."
"Kalian akan pergi?" Tidak rela. Andrean memegang tangan Camelia.
"Aku harus bekerja. Kalau nanti sempat, kami akan datang setelah pulang kerja."
Andrean mengerucut bibirnya. Itu akan sangat lama. Dan ia akan menghabiskan waktu sendirian selama itu?!
"Hei, Mr. Gong! Kau bukan anak-anak lagi!"sentak Liam.
"Benar," timpal Lucas.
"Janji?" Menatap harap Camelia.
"Janji."
Setelahnya Camelia meninggalkan ruangan Andrean. "Sampai nanti, Ayah!" Sebelum benar-benar keluar, Lucas dan Liam menoleh pada Andrean dan berkata dalam bahasa China.
"A-apa?" Andrean tertegun. Ia tidak salah dengar, kan?
"Ayah?" Bergumam.
"Seperti ada bunga bermekaran di hatiku." Menyentuh dadanya. Tersenyum lembut.
"Harapan di hatiku seakan kembali mekar. Mereka sudah menerimaku, kan?" Ya, penerimaan itu yang paling utama.
"Mr. Gong. Anda pasti lapar. Silahkan sarapan Anda." Seorang perawat masuk dan membawakan sarapan Andrean.
"Thank you."
"You're welcome, Mr. Gong," sahut perawat itu, meletakkan sarapan di tempatnya kemudian beralih membuka gorden.
Cahaya dari luar masuk dan menambah terang ruangan. Andrean menoleh ke arah jendela.
Cahaya ini, seperti cahaya di hatiku. Aku tidak berharap tapi, aku berharap Tuan Shane melihat kesungguhanku.
"Ada yang Anda butuhkan, Tuan?"tanya perawat itu sebelum keluar.
"Tidak ada."
"Baiklah. Jika ada, silahkan panggil saja saya," balasnya kemudian meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Setelah perawat itu keluar, Andrean menikmati sarapannya. Tidak buruk, karena lukanya adalah luka akibat benda tajam, bukan penyakit dalam.