Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 242


__ADS_3

Di sisi lain, Camelia merasa bingung dan takut dengan Andrean. Mobil itu dikemudikan dengan kecepatan tinggi. Bandara semakin jauh.


"Andrean Gong! Apa yang kau lakukan?!"


"Apa ini? Apa maksudmu?"


"Aku akan segera berangkat, mengapa kau melakukan ini?!"


"Anak-anak akan khawatir jika kita tidak segera kembali!"


"DIAM CAMELIA!"


Camelia tercekat dengan bentakan itu. Matanya mengerjap tidak percaya. Tapi, Camelia tidak menerima hal ini. Tanpa alasan yang jelas, Andrean membawanya pergi.


"REAN, STOP! HENTIKAN MOBILNYA! AKU TAHU INI BERAT, TAPI KITA HANYA BERPISAH SEBENTAR. KU MOHON, MENGERTI KEPUTUSANKU INI! KU MOHON, KAMI HARUS SEGERA BERANGKAT. ANAK-ANAK AKAN KHAWATIR, PLEASE!"seru Camelia, ia memegang pegangan di bagian atas karena takut dengan cara mengemudi Andrean.


"APA KAU HANYA PEDULI PADA ANAK-ANAK? BAGAIMANA DENGANKU?! AKU SUAMIMU, CAMELIA!"jawab Andrean, dengan berseru pula. Tetap pada kemudian.


Deg!


Camelia terdiam. Andrean, marah dan juga pedih, lebih tepatnya sakit hati. "Apa kau tidak memikirkan perasaanku atas keputusanmu itu, hah?!" Nadanya melemah. Tapi, semakin dingin.


"R-Rean, aku … aku … tidak punya pilihan lain." Camelia menunduk.


"PERSETAN DENGAN PILIHAN!"umpat Andrean.


Andrean membelokkan mobil ke dalam area basement. Itu adalah basement apartemen.


"Andrean, lepaskan aku!" Camelia kembali berontak saat Andrean menariknya keluar dari mobil. Keduanya bertatapan. "Aku harus segera berangkat, Andrean. Liam …."


"Ugh!"


Andrean membungkam bibir Camelia dengan ciuman.


Kasar, itulah yang Camelia rasakan. Camelia kembali membelalakkan matanya saat merasa tubuhnya melayang, terangkat dalam gendongan Andrean. Tanpa melepas ciuman, masuk ke dalam lift.


"Ugh! Rean, lepaskan aku, ya," pinta Camelia yang dibalas dengan gigitan pada lehernya.


Ting.


Andrean menggendong Camelia keluar lift. Camelia baru menyadarinya, ini adalah lantai apartemennya dan juga Andrean.


Bugh!


"Ugh!" Camelia kembali mengadu saat Andrean melemparnya ke atas ranjang.


"Camelia, beraninya kau berencana seperti itu!" Andrean berkata dingin, sembari membuka satu demi satu kancing kemejanya.


"Rencana apa? Apa maksudmu?" Camelia memalingkan wajahnya saat Andrean melepas kain terakhir. Langsung naik dan kini berada di atas Camelia. Memenjara tubuh wanita itu.


"Tatap aku, Lia!" Mencengkram pipi Camelia akan menghadap padanya.


"Itu sakit!"ringis Camelia.


"Apa kau benar-benar berencana seperti itu, hah?!" Nadanya kembali naik.


"Kakek memberiku. Kau pikir bagaimana perasaanku saat ini, Lia?!"


Camelia membeku.


"Kakek memberitahumu?"


"Aku sangat marah, Lia! Aku akan segera kehilangan kendali! K-kau harus menanggung akibat dari berencana seperti itu!"


Andrean langsung menyerang Camelia. Tidak peduli Camelia meronta dan memohon untuk Andrean berhenti dengan tindakannya, Andrean bak menulikan telinganya.


Tidak ada kelembutan. Camelia merasa sakit akibat sentuhan itu.


"Andrean, hiks … sakit, uhg … hentikan, hiks …." Bahkan tangis Camelia tidak meruntuhkan amarah Andrean. Malah semakin menjadi.


"Camelia, ini hukumanmu! Kau benar-benar membuatku marah!"


"Hiks, sakit, lepaskan. Ini bukan dirimu, sakit, hiks … "


"ANDREAN HENTIKAN! KAU GILA! LEPASKAN AKU\, ANDREAN! LEPASKAN AKU\, BRE*NGSEK! SAKIT! HIKS! SAKIT\, BR*ENGSEK!"


"GILA?! KAU YANG GILA, LIA! KAU YANG GILA! AKULAH YANG SAKIT!"


Ranjang itu, berderit semakin kuat. Pendingin udara tak mampu mendinginkan suasana di antara keduanya. .


Andrean mengulurkan tangannya, menyeka air mata Camelia.


"Apa kau memikirkan perasaanku saat rencanamu dijalankan, hah? Apa kau ingin aku menyentuh wanita lain? Sedang kau sendiri tahu aku hanya bisa denganmu? Apa kau tidak tahu dampak akibat rencana itu? Apa kau tidak memikirkan rumah tangga kita? Anak-anak kita? Kau ingin aku memiliki anak dengan wanita lain, Camelia?" Pertanyaan itu, sukses membuat tangis Camelia semakin kencang.


"Hiks … maaf … maaf …."


"Ahhh … hiks … sakit! Andrean, perutku! Sakit!"


"SAKIIITT, AHGG, PERUTKU."


Tiba-tiba Camelia berteriak kencang. Dengan tangan memeluk perutnya. Andrean tersentak.


"Darah?"


Dan aduan sakit Camelia semakin menjadi.


"Sial!"


Andrean mengumpat dan segera memakai celananya. Dan membungkus Camelia dengan selimut.


Dalam sekejap, berubah menjadi kepanikan.

__ADS_1


"Lia? Lia, are you okay?"tanya Andrean, melajukan mobil keluar dari basement, melihat Camelia yang terus mengadu sakit dari spion tengah.


"Rean, sakit, aku tidak kuat, sakit …."


"Maaf, maaf, Lia. Bertahanlah!"


"Maafkan aku, Rean. Aku salah karena tidak memikirkan perasaanmu."


"LIA?!"


"SIAL! SIAL!" Tinggallah Andrean yang meruntuki kebodohannya. Amarah membuatnya gelap mata.




*


"DOKTER! DOKTER! DI MANA KALIAN, SELAMATKAN ISTRIKU!!" Andrean berteriak bak orang gila saat tiba di rumah sakit. Tak peduli dengan tatapan aneh dari pengunjung atau staf rumah sakit.


Pikirannya kacau. Apalagi dengan wajah Camelia yang memucat.


"Mr. Gong, apa yang terjadi?" Dokter itu adalah bagian dari dokter pribadi Andrean.


"Istriku selamatkan istriku!!"ucap Andrean.


Dokter itu tercengang dengan penampilan Andrean dan juga Camelia yang hanya berbalut selimut. Dalam benaknya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya telah terjadi? Tapi, menyelamatkan Camelia lebih utama.


"Silakan menunggu di luar, Tuan," ucap suster, menahan Andrean untuk tidak masuk ke ruang UGD.


"Istriku …."


"Kami akan melakukan yang terbaik, Tuan." Suster menutup pintunya.


"Lia …." Andrean meremas rambutnya frustasi. Menyesali apa yang ia perbuat pada Camelia. Bagaimana bisa ia lepas kendali?!


"Sial! Sial!"


Kembali meruntuk. "Mr. Gong, lebih baik ada perbaiki penampilan Anda terlebih dahulu," ucap dokter yang mengenal Andrean tadi. Bukan dokter itu yang menangani Camelia.


"Istriku lebih utama!"


"Anda masuk dan berteriak seperti orang tidak waras tadi. Saya khawatir, sebentar lagi akan ada beritanya," ucap dokter itu lagi.


Andrean akhirnya menggubris. Sekali lagi mengumpati kebodohan dirinya.


Namun, tidak beranjak. "Ponsel?"


Ponselnya tidak ada di saku, pasti terjatuh. "Boleh aku pinjam ponselmu?"


Dokter itu memberikan ponselnya.


"Hans, ini aku."


"Lia, ku mohon." Lesu, khawatir, bersalah, semua menyatu. Pria itu berjongkok di samping pintu dengan tubuh yang lemas.


"Sementara gunakan jas saya, Mr. Gong," ucap dokter itu. Usianya sudah paruh baya dan tampaknya sudah mengerti dengan apa yang terjadi.


Dokter itu melepas jas dokternya, dan memberikan jas biasanya pada Andrean. Jas berwarna biru itu menutupi tubuh Andrean.




*


"Mom!"


"Ayah!"


Lucas, Liam, dan Crystal tiba, berlari menghampiri Andrean. "Ayah, di mana Mom?"tanya Lucas. Ketiga anak itu sangat khawatir. Tiba-tiba Andrean membawa Camelia pergi dan begitu ada kabar di rumah sakit.


"Tuan." Hans maju dan memberikan pesanan Andrean.


Tuan Shane melihat banyak luka cakar pada Andrean. Dan penampilan berantakan itu. Matanya menyipit tajam.


"Abi, Evelin, bawa anak-anak keluar," ucap


Tuan Shane.


Ini akan jadi hal yang tidak ramah untuk anak-anak.


"Tapi, Grandpa…."


"Lucas." Lucas menunduk saat Tuan Shane menyebut namanya. "Baik, Grandpa."


"Apa yang terjadi di sini, Andrean?"tanya Tuan Shane, saat anak-anak sudah menjauh.


Hans maju dan memberikan pesanan Andrean. "Andrean Gong, apa yang terjadi pada Camelia?!" Nyonya Shane mengulang pertanyaan.


"Andrean Gong, sialan kau!" Tanpa basa-basi, Dion melayangkan pukulan pada Andrean. Berkali-kali dan tidak ada perlawanan darinya. Hanya Hans dan Leo yang berusaha memisahkan mereka.


Sementara Tuan dan Nyonya Shane, juga Tuan dan Nyonya Liang, diam melihat hal itu. Juga Kakek Gong. Pria itu hanya menutup matanya.


"Apa yang kau lakukan pada kakakku, hah?!"


"Kau menyakitinya?! Kau tahu konsekuensinya, hah?!"


"Cukup, Mr. Dion! Tuan kami sudah tidak berdaya!" Lie akhirnya bisa menahan Dion.


Tubuhnya kecil tapi tenaganya luar biasa, batin Lie.

__ADS_1


"Heh? Lantas bagaimana dengan kakakku di dalam, hah?!"


"Maafkan aku. Ini salahku," ucap Andrean menunduk, menyeka darah di sudut bibirnya.


"Maaf? Aku pernah memperingatkanmu, Andrean! Jika kau menyakiti kakakku, aku sendiri yang akan menghabisimu!" Amarah menggelegar dari tatapan Dion. Pemuda itu benar-benar marah.


"Cukup, Dion. Menjauhlah darinya!"ucap Tuan Shane, akhirnya angkat bicara.


Dion menghempaskan pegangan Lie dan duduk di ujung tempat duduk. Nyonya Liang menemani Dion. "Kendalikan dirimu, Nak." Menepuk lembut bahu Dion.


"Bu … Kakak, Bu …. Aku takut…."


Dan sekejap berubah menjadi gelisah dan dipenuhi khawatir. Tatapan amarah itu sudah tidak ada lagi.


"Kakakmu akan baik-baik saja. Mr. Gong … Ibu yakin dia tidak segila itu." Memeluk Dion. Dion hanya mengangguk pelan.


"Tapi, jika terjadi sesuatu pada Kakak …." Sorot matanya kembali berubah dingin.


"Kau benar-benar kacau, Andrean." Tuan Shane menggeleng pelan. Ia duduk di kursi. Menunggu dokter keluar dari ruang UGD.


"Lie, kau tangani kabar dan humas nanti," ucap Hans pada Lie setelah membantu Andrean mengenakan pakaian.


"Hm." Lie bergumam dan memilih bersandar di dinding, berseberangan dengan tempat duduk.


Nyonya, Anda harus baik-baik saja. Nyawa Tuan ada di tangan Anda, batin Lie diikuti dengan helaan nafas.


Semua menanti dokter keluar dari ruang UGD. Namun, ini sudah sekitar tiga puluh menit mereka menunggu. Ditambah dengan Andrean tadi, jadi sudah sekitar 1 jam Camelia berada di dalam ruang UGD. Entah apa yang terjadi di dalam. Bagaimana keadaannya? Merasa waktu berjalan dengan sangat lambat, frustasi semakin besar.


"Sial! Sial!" Terdengar umpatan Andrean lagi dengan memukul dinding. Dan Lie, mulai sibuk menangani berita yang mulai bermunculan.


Presdir Starlight Entertainment Berteriak-Teriak Di Rumah Sakit dengan Menggendong Istri Yang Dibungkus Selimut. Apa Yang Sebenarnya Terjadi?


Apakah Presdir Starlight Entertainment Melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga?


Ada Apa Dengan Rumah Tangga Kepala Keluarga Gong?


Semua hanya tentang waktu.


"Sialan! Mengapa mereka kepo sekali dengan urusan orang lain?! Wartawan sialan! Netizen sialan, kalian membuatku susah!!"umpat Lie yang sibuk menangani berita-berita itu.


"Hans sialan!"


"Diamlah, aku tidak lepas tangan, sialan!"


"Bos sialan!" Lie terus mengumpat. Ia sangat kesal.


Ceklek.


Semua langsung berdiri begitu mendengar suara pintu terbuka. Langsung mengurung bagi dokter.


"Siapa suami pasien?"tanya Dokter tersebut dengan mengedarkan pandangnya tajam.


"Saya, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya?"sahut Andrean.


Dokter tersebut menatap intens Andrean. Sinis, itulah yang Andrean rasakan. "Dasar bajingan gila! Apa Anda punya otak, hah?!"berang dokter Wanita itu menunjuk Andrean.


Andrean tercekat. Itu … benar. "Bagaimana kondisi Kakak saya, dokter?"tanya Dion, lupakan dulu mengumpat Andrean.


"Pasien mengalami pendarahan cukup fatal. Untunglah dibawa kemarin tepat waktu. Sekarang kondisinya sudah stabil. Mungkin butuh waktu beberapa jam untuk sadar dan beruntung, anak dalam kandungannya baik-baik saja. Anda harus lebih berhati-hati saat berhubungan ****!!"jawab Dokter itu penuh penekanan dengan tatapan penuh pada Andrean.


"H-hamil?!"


Semua terkejut.


"Istri saya hamil?"tanya Andrean tidak percaya.


"Anda kan suaminya, apa Anda tidak tahu istri Anda hamil?"tanya balik Dokter tersebut. Semakin sinis pada Andrean.


"Tidak, aku tidak tahu. Istriku juga. Kemarin, beberapa hari yang lalu, istrimu mendapatkan …."


Bugh.


"Andrean?!"


"Sepertinya Andrean terlalu terkejut." Tuan Shane menghela nafasnya. Kakek Gong meminta Hans untuk membawa Andrean ke kamar rawat yang telah dipesan sebelumnya.


"Terima kasih, dokter. Apakah kami bisa menjenguk anak kami?"tanya Tuan Shane. Dokter tersebut mengangguk.


"Pasien akan dipindahkan ke kamar rawatnya. Saran saya, lebih baik jangan mempertemukan mereka dahulu. Dikhawatirkan ada trauma akibat hal ini," ucap dokter tersebut, disusul dengan suster yang mendorong keluar ranjang. Camelia tak sadarkan diri di sana, dengan wajah yang sudah tidak sepucat tadi.


Dion menyipitkan matanya melihat banyak bercak merah pada leher Camelia. "Bajingan itu!"


"Sudahlah, Dion. Yang utama Camelia sudah dalam keadaan aman," ucap Nyonya Liang, memeluk lengan putranya.


Dion mendengus kasar. Tentu tidak semudah itu.


Mereka mengikuti suster mendorong ranjang Camelia menuju kamar rawat. Di sana, Andrean terbaring di sofa dengan tangan diinfus. Kedua sekretaris setia menemani dengan masih sibuk mengurusi akibat ulah Andrean.


Sekarang, Camelia sudah dipindahkan ke kamar rawat.


"Tuan dan Nyonya sekalian, mohon bantuannya menjaga Tuan Andrean. Kami harus mengurus masalah berita lebih dulu," ucap Hans yang diangguki oleh Tuan Liang.


"Hal ini pasti berpengaruh pada saham perusahaan," ujar Tuan Shane.


"Apa kalian melupakan aku? Masalah Grup Gong aku yang akan mengurus. Kalian urus saja Starlight Entertainment. Cucuku ini sangat gegabah, tidak memikirkan akibatnya. Syukurlah calon cicit dan cucu kita baik-baik saja," ucap Kakek Gong, pada akhirnya angkat bicara.


"Baik, Tuan Besar." Kedua sekretaris menyetujui dan segera beranjak.


"Sebenarnya apa yang terjadi, sebelum ini terjadi, dia bicara dengan Anda, bukan?"selidik Dion pada Kakek Gong.


Kakek Gong menghela nafasnya. "Masalah rumah tangga mereka, biarkan mereka saja yang tahu. Aku tidak akan mengumbarnya," ucap Kakek Gong, menolak memberitahu.

__ADS_1


"Tampaknya sesuatu yang besar hingga Andrean bisa lepas kendali seperti itu," pikir Tuan Shane.


"Terkadang Lia juga memiliki rencana yang beresiko. Aku rasa, kita tidak bisa mencampuri urusan mereka. Tidak mungkin Andrean seperti ini tanpa alasan yang kuat. Aku juga lihat penyesalan darinya," ujar Nyonya Shane. Yang kemudian disetujui oleh Tuan dan Nyonya Liang. Kakek Gong agak lega dengan itu. Kecuali Dion, yang masih menatap sinis Andrean.


__ADS_2