
"Mom are you okay?"tanya Lucas cemas yang melihat Camelia masuk dengan mata sembab. Padahal Camelia sudah mencoba menutupinya dengan mencuri muka dan merias kembali wajahnya. Namun, mata elang Lucas dan Liam tetap bisa melihatnya.
"Uncle? Kau juga?"
"Apanya?"
"Apa kalian bertemu dengan Grandpa or Grandma Liang?"tanya Lucas.
"Yes. Kami tadi bersinggungan dengan Grandma. Namun, she's tidak mengenali kami. Sudah lama sekali jadi bukan hal aneh," sahut Camelia, mengambil tempat duduk diikuti oleh Dion.
"Only familiar?"tanya Liam memastikan.
"Akan ada saatnya kami bertemu dengannya dengan nama Dion dan Jasmine Liang. Sekarang, kami, juga kalian berdua adalah keluarga Shane," jelas Dion.
Lucas dan Liam mengangguk. "Sudahi obrolan kalian. Ayo makan malam dulu! Walaupun kalian sedang dalam masa cuti, kondisi tubuh harus sangat dijaga agar comeback kalian nanti kuat biasa!"tukas Kak Abi. Mengambil mangkuk lebih dulu dan mengambil beberapa macam daging, seafood, dan sayuran untuk dicelupkan ke kuah panas, merah, nan pedas hot pot. Camelia yang bukan pecinta pedas memilih menu lain yakni kwetiau dan won tow.
"Ah ya besok pagi, Kak bisakah kau berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari kita?"tanya Camelia. Besok ia ada sesuatu yang ingin dikerjakan.
"Bersama dengan Lucas dan Liam?" Kak Abi yang kepedasan bertanya agak kesusahan.
"Kalian mau kan?"tanya Camelia pada kedua anaknya. Lucas dan Liam mengangguk, mereka juga kepedasan namun tak bisa berhenti menyantap hot pot di depan mata.
"Aku juga ikut," ucap Dion mengajukan dirinya sendiri. "Sekalian traveling, no problem kan?" Dion tahu kakaknya ingin melakukan hal penting. Jadi, ia juga harus ikut membantu dengan memberi ruang pada Camelia.
"Itu bagus! Traveling kah ke beberapa spot di sini," timpal Camelia. Kak Abi, Lucas, dan Liam bukannya tidak menyadari maksud lain Camelia. Mereka bertiga kompak mengangguk.
*
*
*
Keesokan paginya, di mana setelah sarapan roti yang diolesi selai, Lucas, Liam, Dion, dan Kak Abi langsung keluar apartemen untuk pergi berbelanja sekaligus jalan-jalan. Lucas dan Liam kompak mengenakan masker di area publik. Dion bertindak sebagai sopir.
Dion memberhentikan mobil di depan sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Beijing. Ia menatap bangunan mall bertingkat yang tidak berubah sejak ia meninggalkan kota dan negara ini lima tahun silam. Hanya saja beberapa tambahan, lainnya sama sekali tidak ada yang berubah.
Dion mengambil dua troli besar karena dari daftar belanjaan yang Camelia berikan, sangat banyak yang harus dibeli. Awal yang mereka datangi tentu saja bagian bahan pokok dan alat dapur. Bukannya tidak disediakan pihak apartemen. Namun, tentu saja ada beberapa lagi yang ingin Camelia lengkapi.
Troli pertama telah penuh dengan dengan bahan masak, alat makan, alat dapur, dan produk kamar mandi.
Troli kedua sudah terisi sebagain oleh makanan ringan, roti, selai, dan lainnya. Mereka melakukan pembayaran pertama dengan black card yang dimiliki oleh Camelia.
Kini mereka naik ke lantai tiga di mana tempat aneka sandang berada, juga peralatan ATK, dan aneka permainan.
"Aunty kami ke sana dulu ya," ucap Lucas menunjuk ke bagian yang rak yang menyajikan aneka macam mainan.
__ADS_1
"Jangan berkeliaran ke mana-mana. Nanti Aunty akan menyusul," pesan Kak Abi.
"Okay!"
Keduanya berlari kecil menuju jajaran rak yang menjual mainan. Lucas melihat-lihat mobil mainan remote control aneka rupa dan merk. Sementara Liam sibuk memilih ragam rubik untuk ia mainnya.
Saat asyik pada fokus masing-masing, Lucas dan Liam dikagetkan dengan suara tangisan dari seberang rak mereka berada. Tangisnya begitu menyedihkan. Penasaran, keduanya menguping dan mengintip apa yang terjadi di sana.
"Hiks … hiks … hiks … Ibu tidak sayang dengan Crystal. Huhuhu Ibu berjanji akan datang. Tapi, Ibu berbohong. Huhuhu…." Terlihat seorang anak perempuan yang menangis dalam gendongan seorang pria yang umurnya keduanya perkiraan sama dengan Chris.
"Ssttt … Nona Kecil jangan menangis. Tuan Muda sedang menuju kemarin." Dari sapaannya jelas pria itu bukan ayah dari gadis kecil itu.
"Ayah akan datang?"tangis gadis kecil itu sedikit mereda, ia bertanya dengan nada tidak pernah.
"Benar, Nona Kecil. Tuan Muda akan menemani Nona Kecil berbelanja kebutuhan sekolah," ujarnya seraya menghapus air mata gadis kecil itu.
"Kau mengenalnya?"tanya Lucas yang melihat dahi Liam mengeryit tipis.
"Aku pernah melihatnya di bandara. Gadis ini adalah sepupu kita karena ibunya adalah adik dari Mom," bisik Liam.
"Oh. Kau tahu siapa ayahnya?"
"Tentu."
Belum sempat Liam menjawab, seorang pria tampan yang wajahnya sudah dewasa, diikuti dengan seorang pria berkacamata menghampiri gadis kecil dan pengasuhnya itu. Lucas tampak terkejut. Sedang Liam biasa saja karena ia sudah merasakan hal sama sewaktu di bandara kemarin.
"Apa kau menangis?" Nadanya terdengar datar. Crystal mengangguk, ia yang tadinya tampak senang berubah menjadi sedikit takut.
"Jangan menangis. Aku sudah membuat ibumu akan datang kemari secepatnya," ucap Pria itu, mengulurkan tangannya mengatakan agar Crystal dipindahkan dalam gendongannya.
"Sungguh?"
"Kapan aku berbohong?"
"Boleh temani aku memilih mainan?"tanya harap Crystal, masih takut-takut bahkan ia menunduk.
"Nona Kecil adalah putri Tuan Muda, pasti akan dipenuhi," ujar pria berkacamata di belakang Tuan Muda itu. Disambut senyum tipis Tuan Muda dan anggukan sumringah gadis kecil itu.
Lucas dan Liam buru-buru kembali ke aktivitas mereka sebelumnya. Canggung nantinya jika ketahuan menguping.
Tuan Muda itu awalnya fokus pada Crystal namun saat melihat wajah Lucas yang tidak tertutup oleh masker, Tuan Muda itu terperanjat. Begitu juga dengan pria berkacamata dan pengasuh Crystal tadi. Sedang Crystal tidak menyadarinya karena ia asyik memilih mainan yang akan dibeli.
Anak laki-laki itu … begitu mirip dengan Tuan Muda. Apa dia benih yang asli?batin Pria berkacamata itu.
Aku tidak tidak salah lihat kan? Anak itu dan Tuan Muda bagai pinang dibelah dua, batin pengasuh Crystal yang bernama Toby itu.
__ADS_1
Liam menyadari tatapan terkejut itu. Saat melihat Lucas, ia langsung meruntuk kesal dalam hati. Lucas bodoh! Bagaimana bisa ia lupa memakai maskernya? Bagaimana ini? Kami begitu mirip, bagaimana caranya berkilah?
Aku merasa ada tatapan yang begitu tajam dan penasaran dari arah sana. Bagaimana ini? Wajahnya begitu mirip dengan kami … siapa Tuan Muda itu?racau Lucas dalam hati.
Ahh … lupakan saja! Memangnya siapa dia? Aku anak Lucas Shane, putra dari Chris Shane!
Lucas berbalik dan tersenyum ramah pada ketiga pria dewasa yang menjadi salah tingkah karena ketahuan begitu memperhatikan Lucas. "What's up, Master?"tanya Lucas. Tuan Muda itu menyuruh Toby membawa Crystal ke tempat yang ajak jauh. Toby menganggukinya.
Liam terbelalak, apa yang kakakku ini lakukan? Liam melihat kanan kiri mencari keberadaan Dion dan Kak Abi, namun tidak terlihat batang hidung mereka berdua. Liam mendengus, ia harus membantu Lucas.
Ahh lupakan saja! Toh identitas kami sejak lahir adalah putra dari Daddy!
"Kak," panggil Liam. Lucas dan kedua pria dewasa itu menoleh pada anak kecil yang mendapati Liam yang mengenakan masker.
"Ayo, Mom pasti sudah menunggu kita," ucap Liam.
Lucas mengerti. "Kami permisi, Tuan-Tuan," pamit Lucas.
"Eh tunggu!"seru Tuan Muda itu. Seruan itu begitu lantang dan sedikit terburu-buru.
"Ya?"sahut Lucas, ia kembali menoleh ke belakang.
"Siapa ibu kalian?"tanya Tuan Muda itu. Tanpa Liam membuka maskernya, dari suara yang hampir mirip dan body, ia tahu bahwa keduanya kembar.
"Kita tidak saling kenal, saya tidak ada kewajiban menjawab pertanyaan Anda. Terlebih itu sangat privasi!"sahut Liam.
"Ah maafkan aku!"
"Anak-anak, di mana orang tua kalian? Apa kalian kemari hanya berdua?" Pria berkacamata itu bertanya pada Lucas dan Liam. Sebelum keduanya menjawab, Kak Abi datang menghampiri keduanya.
"Sudah selesai?"
"Sudah, Mom!"jawab Lucas dan Liam. Kak Abi mengeryit, tatapannya beralih pada dua pria dewasa yang berdiri tak jauh dari ketiganya. Ia terkejut dalam hati, mirip sekali?
"Anda ibu dari mereka?" Tuan Muda itu kembali bertanya.
"Benar," jawab Kak Abi lugas.
"Ahh begitu ya." Tuan Muda itu tampak kecewa. Ia lantas pergi meninggalkan tempat tanpa sepatah katapun.
Pria berkacamata itu langsung mengambil alih, "jika kalian berminat dalam modeling, silakan datang ke Starlight Entertainment," ucapnya buru-buru, menyerahkan selembar kartu nama pada Kak Abi. Ia lantas menyusul Tuan Mudanya.
"Andrean Gong? Presdir Starlight Entertainment?"gumam Kak Abi.
"Andrean Gong?"gumam Lucas
__ADS_1