
Angin segar menerpa wajah tampan Dion yang tengah duduk melamun di bangku taman di salah satu taman kota Beijing. Goresan senja mewarnai ufuk barat. Sore menjelang gelap yang cerah, matahari masih gagah menyinari kota.
Dion tengah mengenang kembali masa-masa bahagianya dengan keluarga Liang sebelum Rose hadir. Dulu setiap akhir pekan, piknik di taman ini atau beberapa tempat lainnya adalah rutinitas. Canda tawa terekam masih jelas di ingatan Dion. Ia merindukan moment-moment kebersamaan dengan orang tuanya dulu, sebelum Rose hadir dan membuat rumah seakan terbakar. Membuat ia dan Camelia tidak nyaman berada di rumah. Tanpa sadar, air mata menetes dari kedua sudut mata Dion.
"Eh bukannya kamu adik dari wanita di restauran beberapa waktu lalu?" Dion mendongak saat ada pertanyaan yang ditujukan padanya. Bola mata Dion sedikit terbelalak. Itu pertanyaan dari Nyonya Liang yang menatapnya memastikan.
"Benar, kan?"tanya ulang Nyonya Liang. Dion mengangguk. Ia menguasai perasaaan rindunya, menyeka sudut mata dan tersenyum simpul pada Nyonya Liang. Dion masih harus mempertahankan sandiwara tidak mengenal Nyonya Liang yang tak lain adalah Ibu kandungnya. Sosok wanita yang sangat ia rindukan. Ingin rasanya memeluk, mendekap erat Nyonya Liang. Namun, lagi untuk sementara ini itu hanya akan akan menjadi angan.
"Silahkan duduk, Nyonya," ucap Dion, bergeser memberi tempat duduk untuk Nyonya Liang.
Nyonya Liang kemudian duduk. Wanita paruh baya itu menghela nafas pelan kemudian menoleh pada Dion yang tampak kaku dengan menatap lurus ke depan. Pemuda itu terlihat gugup."Kamu sendiri?"tanya Nyonya Liang memulai pembicaraan. Dion mengangguk.
Nyonya Liang ber-oh-ria. Ia ikut Dion menatap lurus ke depan. "Kamu tadi menangis. Apa taman ini menyimpan kenangan?" Nyonya Liang memang tipe orang yang cukup mudah bergaul, baik sesama usianya, di bawah atau di atas. Sebelum menghadiri Dion, Nyonya Liang yang berada tak jauh dari Dion tadi, sudah memperhatikan Dion sejak duduk di bangku taman ini. Rasa penasaran dan ada rasa keterikatan, membuatnya memutuskan menghampiri Dion.
Dion mengangguk. "Dulu, saya dan keluarga saya sering piknik di taman ini. Namun, itu sudah sangat lama sekali."
"Orang tuamu kemana memangnya, Nak?"
"Mereka …." Dion menjeda ucapannya.
Mengapa aku berharap orang tua anak ini dan kakaknya itu adalah aku?batin Nyonya Liang, matanya tak sanggup memendam binar harap. Sedang Dion tidak menyadarinya. Ia tetap melihat lurus ke depan. Di detik berikutnya Dion menunduk.
Kau ada di sampingku, Bu, lanjut Dion dalam hati seraya menggeleng.
"Ah … maaf. Ibu tidak bermaksud membuatmu sedih," ujar Nyonya Liang. Ia salah mengartikan gelengan Dion.
__ADS_1
"Tidak, apa," sahut Dion.
"Kita sudah berbincang banyak. Tapi, belum saling mengenal. Anak muda, perkenalkan nama Ibu Susan Wang. Kau bisa memanggilku Ibu Susan," ucap Nyonya Liang, memperkenalkan dirinya pada Dion seraya mengulurkan tangannya.
"Dion. Dion Shane itu namaku," ujar Dion, memperkenalkan dirinya dengan senyum manisnya.
Deg! Jantung Nyonya Shane berdetak lebih kencang mendengar nama pemuda di sampingnya ini. Tangan hangat Dion menyambut uluran tangan dingin Nyonya Liang. Dion tertegun merasakan suhu tubuh Ibunya.
"D-Dion?"
"Tangan Anda begitu dingin, Nyonya. Apa Anda sakit?"tanya Dion. Dion memperhatikan keterkejutan Nyonya Liang. Mata melebar lagi berkaca-kaca, sejuta rasa rindu terpancar darinya.
"Anda baik-baik saja, Nyonya? Apa ada yang salah dengan nama saya?"tanya Dion, menaikkan alisnya walau ia tahu penyebab mengapa Ibunya terdiam cukup lama.
Mungkinkah anak ini Dion, putraku? Tapi, mengapa dia bersikap tidak mengenal denganku? Dia juga sangat tenang, lagi marganya bukan Liang. Nyonya Liang tersenyum simpul.
"Hm kalau boleh tahu, putra ibu kemana rupanya?"
Wajah Nyonya Liang menjadi mendung. Dion langsung merasa bersalah. Ia hanya ingin tahu jawaban ibunya tentang kepergian ia dan Camelia lima tahun silam. "Ah maaf. Saya tidak bermaksud demikian."
"Tidak. Ibu rasa Ibu harus membagi perasaan Ibu pada seseorang. Dan Nak, Ibu merasa nyaman denganmu. Bersama denganmu membuat Ibu merasa tengah duduk di samping anak Ibu, Dion," sela cepat Nyonya Liang. Dion tidak bisa menolak. Ia hanya mengangguk kecil.
"Kedua anakku, Jasmine dan Dion meninggalkan keluarga kami karena suatu hal. Dion pergi karena kecewa padaku, pada ayahnya. Selama lima tahun ini, aku tidak bisa melupakan mereka. Aku sangat merindukan mereka. Taman ini adalah salah satu saksi kebersamaan dan kebahagian kami. Kau tahu, Nak? Rumah kami terasa mati tanpa kehadiran mereka," cerita Nyonya Liang dengan air mata yang mengenang. Dengan sedikit kaku, Dion merangkul dan membawa Nyonya Liang dalam peluknya. Nyonya Liang langsung memeluk erat Dion. Menumpahkan air mata dalam pelukan Dion.
"A-aku sangat merindukan mereka. Aku bahkan tidak tahu di mana dan bagaimana mereka sekarang. Andai, jika aku bisa mengulang waktu, aku akan kembali ke tahun itu. Aku tidak akan membiarkan mereka pergi, huhuhu!" Hari sudah gelap. Ibu dan anak itu masih berpelukan. Dion memejamkan matanya. Dalam hatinya meneriakan kata maaf untuk sang Ibu.
__ADS_1
Dion membuka matanya saat ponselnya berdering. Dion segera mengambil ponsel dan menjawab panggilan dari Camelia.
"Okay, Kak. Aku pulang sekarang," jawab Dion. Nyonya Liang sudah melepas pelukannya, sedang menghapus air mata yang membanjiri pipinya. "Dari kakakmu?"
"Iya, Nyonya." Nyonya Liang tersenyum simpul karena Dion enggan memanggilnya Ibu.
"Sudah malam. Pulang lah. Kakakmu pasti sangat cemas."
"Tapi, bagaimana dengan Nyonya?"
"Suamiku akan datang menjemput," jawab Nyonya Liang.
"Ah baiklah. Kalau begitu saya pamit. Makam, Nyonya," pamit Dion. Ia berdiri dan bersiap pergi.
"Eh tunggu!"tahan Nyonya Liang. Dion berbalik, "siapa nama kakakmu?"tanya Nyonya Liang.
"Camelia," jawab Dion.
"Camelia?" Nyonya Liang bergumam.
"Jika kalian ada waktu, mampirlah lagi ke restoran keluarga Liang lagi," pesan Nyonya. Dion mengangguk singkat.
"Sampai jumpa lagu, Bu," ucap Dion tersenyum, kemudian berbalik dan melangkah pergi. Nyonya Liang terpaku di tempatnya.
"Susan, apa yang lihat?" Suara lembut, diikuti tepukan ringan mendarat pada pundak Nyonya Liang.
__ADS_1
"Ah tidak ada. Ayo pulang." Nyonya Liang tak ingin membicarakan pertemuannya dengan Dion. Tuan Liang mengangguk dan mengajak Nyonya Liang untuk pulang karena hari semakin gelap