
Tujuan Camelia kembali ke China sudah tercapai. Sejoli yang menghancurkan hidupnya hingga titik terendah, diusir oleh keluarga, dan dikecam oleh semua orang sudah merasakan apa yang Camelia rasakan. Namun, ada perbedaan.
Dahulu, Camelia dikecam dan dikenakan sanksi sosial. Sementara, Rose dan Jordan dikenakan sanksi sosial dan juga tindak pidana kejahatan.
Akan tetapi, selesainya balas dendam ini tidak serta merta memutuskan hubungannya dengan negeri ini. Selain karena ini tanah kelahiran, juga karena hubungannya dengan Andrean. Serta asal usulnya. Untuk menemukan panti asuhan tempatnya dulu sebelum diadopsi oleh keluarga Liang bukanlah perkara muda. Lebih-lebih China adalah negara yang luas. Luas negara itu mencapai 9,597 juta km². Itu hampir dua kali lipat dari luas negara Indonesia. Dengan informasi yang minim itu sangatlah sulit.
Lagi, hubungan Camelia dengan Andrean. Meskipun Camelia kembali ke Kanada dan tidak ingin berhubungan dengan Andrean dalam hal apapun, namun agaknya itu hal yang mustahil, lebih-lebih Lucas dan Liam adalah anak Andrean.
CK!
Camelia berdecak pelan memikirkan kedua hal itu. Dion yang menyetir menoleh singkat pada kakaknya. Sejak dari kantor polisi hingga sebentar lagi mereka tiba di rumah sakit, Camelia diam melamun kemudian berdecak.
"Hal apa lagi yang membuatmu kesal, Kak?"tanya Dion, ingin tahu, dengan kembali menoleh sekilas.
"Aku memikirkan masa depan. Pria itu pasti akan terus menggangguku aku telah kembali ke Kanada," jawab Camelia, dengan bibir mencebik kesal.
Dion mengernyit, pria itu? Pikirnya langsung tertuju pada Andrean.
"Jadi, benar dia ayah kandung Lucas dan Liam?" Melihat begitu tertutupnya dan penolakan Camelia pada Andrean, pasti ada alasan kuat di baliknya. Bahkan saat tanpa sengaja mengetahui Lucas dan Liam melakukan tes DNA, kakaknya itu begitu murka hingga menyuruh kedua keponakannya itu serta Kak Abi kembali ke Kanada lebih dulu.
Camelia menoleh pada Dion. Untuk beberapa saat Camelia menatap adiknya itu. "Hm." Camelia bergumam.
Dion menepikan mobil. Tidak cocok bicara hal serius sembari mengemudi.
"Benar?" Dion tidak begitu terkejut. Ia sudah menduganya. Hanya ingin memastikannya langsung.
"Ya, itu benar. Dia adalah ayah biologis Lucas dan Liam," jawab Camelia muram.
Dion yang peka, langsung tahu apa yang kakaknya kesal dan cemaskan. "Kakak…." Dion memanggil lembut.
"Apa dia tahu tentang hal ini?"tanya Dion.
"Ya." Camelia menjawab singkat. "Artinya kakak tidak akan bisa memutuskan hubungan dengannya. Entah itu teman, entah sebagai ayah kandung Lucas dan Liam, dan bisa saja dia akan menjadi pendamping hidup kakak menggantikan kak Chris." Mendengar penuturan adiknya, Camelia melebarkan matanya.
Dua permisalan yang pertama bisa dimengerti. Namun, yang terakhir, sebagai pendamping hidup?
Apa-apa itu?!
"Masa depan tidak ada yang tahu, Kak. Dan aku sebagai adik akan mendukung hal itu, jikalau dia bersungguh-sungguh pada kakak juga pada Liam dan Lucas. Namun, …."
"Bagaimana jika dia hanya mau Lucas dan Liam?!"sela Camelia cepat. Nada bicaranya tidak bersahabat. Dion tahu, Kakaknya itu tidak suka dengan apa yang ia katakan.
__ADS_1
"Jika begitu, sampai kapanpun aku tidak bisa menerimanya!"tegas Dion.
Camelia diam. Sudah jelas maksud dari Dion. Dion tersenyum lembut pada kakaknya.
"Kakak, aku bukan bermaksud mencampuri urusan asmara kakak. Namun, sebagai adik aku punya hak dan kewajiban untuk melindungi kakak. Menurutku, pria itu tidak buruk. Kakak juga masih muda, begitu juga dengan anak-anak. Jika dia cocok dan serius, ada baiknya diberi kesempatan. Terlebih dia punya ikatan batin dengan Lucas dan Liam," jelas Dion panjang lebar.
Camelia dengan cermat mendengarkan kata-kata Dion. Memang yang dikatakan itu tidaklah keliru. Akan tetapi ….
"Dion, hal ini tidak semudah itu. Ada banyak …."
"I know, my sister. I understand. Namun, tidak ada salahnya dicoba. Aku yakin sekalipun ada penentangan, pasti akan ada titik luluhnya. Dan kak, tidak ada cinta tanpa bukti perjuangan. Cinta, bukan hanya sekadar ucapan, bukan hanya sekadar saling suka, namun cinta butuh perjuangan dan pengorbanan," jawab Dion, tatapannya tetap lembut pada Camelia, begitu juga dengan nada bicaranya.
Camelia mengerjap. "Bocah …." Menggantung ucapannya.
"Usiamu belum ada 20 tahun. Kau juga belum pernah pacaran. Tapi, apa yang kau katakan padaku hari ini, seakan kau sudah pernah menjalin hubungan serius. Apa kau benar-benar tidak punya pacar?"tanya Camelia dengan mata menyipit dan wajah menyelidik.
"Hah?" Dion terkejut dan juga terhenyak. "Benarkah?" Dion bergumam. Tampaknya juga baru sadar. "Tapi, aku sungguh tidak punya pacar, Kak…." Namun, tatapan Camelia masih belum percaya. Malah semakin menyelidik.
"Sungguh?"
"Sungguh, Kak! Dengan kesibukanku, mana sempat aku mencari pacar."
"Lantas?"
Hahahaha
Camelia tertawa.
Dion mengerjap. Tadi penuh selidik, mengapa sekarang tertawa renyah seperti itu?
"Mengapa kau setakut itu?"tanya Camelia dengan senyum meledeknya.
"Hah?"
"Umurmu sudah 18 tahun, sudah termasuk dewasa. Kalau kau punya pacar pun, bukan sesuatu yang salah," kekeh Camelia, geli dengan wajah panik Dion tadi.
Ahh … Dion mendengus pelan. Dia paham sekarang.
"Kakak!!"rengeknya, menggemaskan di telinga Camelia.
"Hah!"
__ADS_1
Camelia menghela nafas.
"Kau yang katakan tadi tidak salah. Mungkin aku harus memberinya kesempatan." Setelah mengatakan hal itu, Camelia memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Tapi, aku tidak ingin memulai sebuah hubungan serius atau pernikahan sebelum aku tahu siapa diriku sebenarnya," lanjut Camelia.
"Maksud Kakak?" Dion tidak mengerti.
"Identitas asliku, siapa diriku, aku tidak tahu Dion. Aku hanya tahu bahwa Jasmine Liang adalah anak angkat keluarga Liang, sementara Camelia Shane adalah menantu keluarga Shane. Aku ingin tahu dan mencari tahu siapa keluarga kandungku," tutur Camelia panjang lebar.
"Kakak …." Dion paham. Sangat paham. Namun, terlepas apapun identitas kakaknya itu, entah itu Jasmine Liang ataupun Camelia Shane, wanita di sampingnya ini tetaplah kakaknya. Tak peduli dengan fakta bahwa mereka hanyalah angkat, karena bagi Dion, mereka lebih kuat dari saudara kandung.
"Tak peduli siapapun dirimu, aku tetaplah adikmu, selamanya."
Camelia tersenyum. Tangannya terulur menepuk pundak Dion. "Dan aku selamanya adalah kakakmu."
"Tadi, kakak mengatakan ingin tahu siapa kakak sebenarnya. Apa kakak sudah mulai mencari tahu?"tanya Dion kemudian, setelah menyeka sudut matanya.
"Sudah. Namun, petunjuknya sangat minim. Aku butuh nama dan lokasi panti asuhanku dulu sebelum diadopsi, mungkin dari sana aku dapat menyelidikinya," jawab Camelia.
Dion tidak membalas. Ia memejamkan matanya memikirkan jalannya. Usia kakaknya sudah menginjak 29 tahun.
"Maka hanya ayah dan ibu yang tahu. Jika tidak, kita butuh berkas adopsi Kakak dulu."
"Itulah yang aku pikirkan, Dion. Dengan identitas Camelia Shane, mana mungkin aku menanyakan hal privat seperti itu," balas Camelia lesu.
Dion mengusap wajahnya kasar. Beberapa saat kemudian wajahnya terlihat ragu. Agaknya ia punya ide namun ragu untuk mengatakannya. Takut Camelia tidak setuju dan malah balik memarahinya.
"Apa kita mengaku saja?" Mata Dion melebar. Itu sama seperti yang ada dalam pikirannya.
"Tapi, aku masih takut ayah membenciku." Menunduk sedih. Ia dilema.
Dion mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Camelia. "Kita lihat dulu. Jika memungkinkan kita akan mengaku," ujar Dion.
Melihat mata meyakinkan sang adik, Camelia memejamkan matanya kemudian mengangguk.
Dion kemudian kembali menghidupkan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.
*
*
__ADS_1
*