Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 134


__ADS_3

Andrean turun dari mobil. Menatap sejenak kediaman Liang. Ia datang untuk menjemput Crystal. Sudah hampir tiga hari Crystal bersama dengan Tuan dan Nyonya Liang.


"Tuan Liang," sapa Andrean saat tiba di ruang tengah.


"Sudah datang, duduklah Andrean." Tuan Liang meletakkan majalah yang ia baca.


Andrean duduk. Tuan Liang meminta pelayan untuk membawakan minum untuk Andrean. "Tidak perlu. Saya datang untuk menjemput Crystal!" Dengan awalnya menolak dan akhirnya menerima.


"Jangan menolak, Andrean. Sebelum kau membawa Crystal pulang, makan malamlah dengan kami dulu," ajak Tuan Liang. Memang sudah hampir jam makan malam.


"Crystal pasti senang," imbuh Tuan Liang lagi. Membujuk Andrean.


"Hm."


Tuan Liang menyunggingkan senyum. Itu persetujuan. "Crystal di mana?"tanya Andrean.


"Sebentar lagi akan turun," jawab Andrean.


Selagi menunggu, Andrean menghabiskan minum yang disajikan untuknya. "Pak tua ini dengar … kau dekat dengan Camelia? Apalagi kemarin di pesta, kau cukup akrab dengan Dion."


"Aku tahu mengenai hal itu. Anda tenang saja. Aku tidak akan mengecewakannya ataupun kalian," sahut Andrean. Tuan Liang mengangguk kecil.


"Aku tidak tahu ini takdir apa? Yang membawa kedua putriku berhubungan denganmu. Sepertinya … memang ditakdirkan tidak akan terputus." Tuan Liang terkekeh pelan. Mengingat masa lalu.


Andrean tersenyum tipis. "Apakah Anda sudah pernah bertemu dengan keluarga Shane?"tanya Andrean, sedikit penasaran. Tuan Liang menggeleng.


"Semoga kedepannya bisa berbicara dan bertemu," harap Tuan Liang, berharap rencana untuk bertemu akan berlangsung dengan lancar.


"Ayah!"


Andrean menoleh saat mendengar suara putrinya. "Ayah! Ayah! Ayah sudah datang?"tanya Crystal dengan gembira, langsung memeluk Andrean.


"Bagaimana kabarmu?"tanya Andrean.


"Merindukan ayah," jawab Crystal dengan menunjukkan deretan giginya.


"Saat tahu hari ini akan pulang, dia tak berhenti mengoceh tentangmu, Andrean," tutur Nyonya Liang, duduk di samping Tuan Liang.


"Masih sedih?"tanya Andrean, mengusap kepala Crystal.


Crystal menggeleng. "Rindu ayah, rindu Paman Toby," ujar Crystal.


"Baik-baik, ayo makan malam dulu sebelum pulang," ajak Tuan Liang, melihat Crystal yang tak sabar untuk pulang.


*


*


*


"Sampai jumpa lagi, Kakek, Nenek," pamit Crystal sebelum masuk ke dalam mobil.


"Sering-seringlah berkunjung, Crystal," jawab Nyonya Liang. Crystal mengangguk pelan.


"Saya pamit," ujar Andrean. Diangguki oleh Tuan dan Nyonya Liang. Andrean masuk ke dalam mobil.


Tuan dan Nyonya Liang masuk ke dalam rumah ketika mobil Andrean melewati pintu gerbang. "Jadi sepi lagi," ujar sedih Nyonya Liang.


Saat ada Crystal, rumah ini menjadi ramai. Meskipun diawali dengan tangis yang berubah jadi tawa.


"Aku sudah pesan tiket ke Shanghai," ujar Tuan Liang, merangkul Nyonya Liang.


"Benarkah?" Mata Nyonya Liang berbinar. Wajahnya sumringah seketika.


"Hm … penerbangan kita pagi, seperti kemarin."


Apakah keterlaluan jika menyebutnya one step closer? batin Tuan Liang kemudian.


"Tapi, Suamiku, apa Lia akan mendengarkan permintaan Rose? Memberi pengampunan?"tanya Nyonya Liang. Sejak berbicara dengan Camelia beberapa hari lalu, mereka tidak ada kontak lagi. Nyonya Liang terkadang gusar.


"Tenanglah. Putri kita adalah orang yang bijak," jawab Tuan Liang, mengecup pucuk kepala sang istri.


"Aku harap begitu." Nyonya Liang memejamkan matanya.


*


*


*


Paris Fashion Week, adalah salah satu pergelaran atau perhelatan fashion terbesar di dunia. Paris, selain dikenal sebagai kota yang romantis juga dikenal sebagai kota yang memiliki kontribusi sangat besar kepada dunia fashion. Karena itu yang membuat Paris menjadi salah satu bagian dari Big Four.

__ADS_1


Berbagai nama besar brand fashion masuk dan hadir di dalamnya. Setiap brand mengirimkan model mereka untuk acara itu.


Dan nama Camelia ada dalam jajaran nama model yang akan hadir. Camelia, ia adalah brand ambassador dari salah satu brand yang akan hadir dalam acara tersebut.


Beruntung, acara itu digelar setelah Camelia menyelesaikan acara syuting. Jadi, tidak akan ada benturan jadwal.


"Lia," panggil Tuan David, sesaat setelah Camelia bangkit. Apa yang hendak dibicarakan sudah selesai. Saatnya pergi ke lokasi latihan.


"Ya, Kak?"balas Camelia. Kak Abi turut menanti apa yang Tuan David katakan.


"Apa setelah latihan kau ada kegiatan lain?"tanya Tuan David.


"Kebetulan kosong. Mengapa?"


"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, apa kau ada waktu untuk itu?" Tuan David was-was ditolak. Camelia mengernyit. Tidak langsung menjawabnya.


Jika bertemu di luar, ada resiko paparazzi dan kemungkinan gosip lagi, pikir Camelia.


"Aku ada waktu. Tapi, sebaiknya Kakak datang saja ke kediaman Shane," ujar Camelia. Ia tak mau ambil resiko besar.


"Ah …."


"Aku setuju dengan Lia. Berbicara di kediaman Shane lebih privasi," ujar Kak Abi, menyetujui jawaban Camelia.


"Baiklah." Tuan David setuju.


"Kalau begitu aku pergi dulu, bye-bye." Camelia meninggalkan tempat.


"Sepertinya sangat penting, Presdir," cetus Kak Abi, menatap Tuan David dengan menyelidik.


"Jangan salah paham. Aku hanya ingin bercerita padanya, seperti aku bercerita pada Chris!"tegas Tuan David. Sekilas menyentuh lehernya. Kak Abi tersenyum simpul.


"Aku harap tak lebih dari aku. Masih banyak wanita di luar sana, Presdir. Dan Anda jangan menghancurkan karier Lia yang sedang berada di puncak!"tegas Kak Abi, memperingati Tuan David.


"Aku tahu," jawab Tuan David.


*


*


*


Kak David akan dijodohkan.


Ada kesempatan, dan pilihan ada ditanganmu, Kak.


Aku harap kau tidak menyesal nanti.


"Hais!" Lina mendesis pelan. Ucapan Camelia teringat di benaknya.


"Aku tidak menyukainya!" Menyakinkan dirinya sendiri. "Aku membencinya!"lanjutnya kemudian.


"Tapi, mengapa aku terus memikirkannya?!" Lina menusuk kue di depannya dengan garpu. Ini adalah jam makan siang. Lina makan siang di kantin Glory Entertainment.


Biasanya, Lina makan bersama dengan rekan yang lain. Namun, kali ini menyendiri dan menggusar dalam bahasa China.


"Lina!" Tepukan di bahunya, membuat Lina terperanjat dan menoleh.


"B-Bu Retha?" Lina terkejut, yang menepuk bahunya adalah mentornya, manager senior Margaretha.


"Kau sendirian?"tanya Manager Margaretha, nada datar.


"I-iya." Entahlah. Meskipun sudah terbiasa, Lina masih saja gugup.


"Mengapa? Apa kau ada masalah dengan yang lain?"tanya Manager Margaretha, duduk di samping Lina.


"Eh … tidak ada, Bu. Saya hanya ingin sendiri," ujar Lina, menjelaskan dengan gugup.


"Benarkah?" Manager Margaretha menatapnya tajam.


Lina mengangguk pelan. "Baiklah. Ayo habiskan makananmu," ujar Manajer Margaretha.


Lina merasa gugup, duduk dan makan bersama dengan Manager Margaretha. Rasanya, kurang nyaman karena aura Manager senior itu begitu pekat.


"Lina," panggil Manager Margaretha, sesaat setelah makan siangnya habis dan berdiri, hendak meninggalkan kantin.


"I-iya, Bu."


"Apa kau ada menyukai seseorang di sini?"tanya Manager Senior itu serius. Lina terkesiap.


Pertanyaan apa itu?

__ADS_1


"T-tidak, Bu," jawab Lina gugup. Manager Margaretha menyipitkan matanya sesaat, sebelum akhirnya menghela nafas.


"Kau masih anak baru. Fokus perkuat pondasimu!"tegas Manager Margaretha sebelum akhirnya meninggalkan kantin.


Apa itu peringatan?gumam Lina dalam hati.


*


*


*


Seperti yang dijanjikan, malam harinya, Tuan David bertandang ke kediaman Shane. Tuan David yang dulunya, cukup sering berkunjung ke kediaman ini, disambut oleh pelayan. Dan kemudian menyapa Tuan dan Nyonya Shane.


"Uncle, Aunty."


"Lia sudah mengatakan kau akan datang," ujar Nyonya Shane.


"Iya, Aunty. Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan Lia," jawab Tuan David.


"Di luar pekerjaan?"tanya Tuan Shane, memastikan. Tuan David mengangguk.


"Baiklah."


Beberapa saat kemudian, Camelia turun bersama dengan Lucas dan Liam, dan kemudian Lina.


Lina tertegun melihat Tuan David duduk bersama dengan Tuan dan Nyonya Shane. Wanita itu mematung di tengah tangga.


Benaknya bertanya-tanya, mengapa Tuan David ke kediaman ini? Dan mereka dekat sekali? Apa keluarga ini dan Tuan David ada hubungan kekerabatan? Apa itu alasannya Camelia dan Tuan David dekat?


"Ayo-ayo, kita makan malam dulu," ajak Tuan Shane, mengajak mereka menuju meja makan.


"Kak Lina, ayo turun. Mengapa melamun di sana?"teriakan Camelia membuyarkan Lina. Tuan David menoleh ke arah tangga. Untuk beberapa saat, mereka saling tatap.


"Kak?!" Camelia kembali berseru.


"Ah … iya." Lina menjawab gagap dan segera turun.


Dan semakin gugup juga canggung saat di meja makan. Tuan Shane duduk di tengah. Camelia dan Nyonya Shane berhadapan, begitu juga dengan Lucas dan Liam. Sementara, Lina berhadapan dengan Tuan David. Lina banyak menunduk. Sungguh, tidak nyaman.


"Ngomong-ngomong, kau mengenal Lina kan, David?"tanya Tuan Shane.


Tuan David mengangguk. "Dan kau Lina?"


"T-tentu saja," jawab Lina, gagap.


"David ini, sahabatnya Chris. Jadi, jangan heran kalau kami akrab dengannya," jelas Nyonya Shane. Lina mengangguk.


Jadi, wanita ini benar-benar tinggal di sini?


Padahal Lia sudah bilang kemarin. Bisa mengetahui tentang perjodohan, pasti punya hubungan dekat.


Lina memejamkan matanya, meruntuk dalam hati.


"Ayo makan," ajak Tuan Shane.


Hening. Tidak ada pembicaraan selain denting alat makan yang beradu. Selama makan malam itu, Tuan Shane memperhatikan interaksi antara Lina dan Tuan David. Karena mereka berhadapan, Lina cenderung lebih sering menunduk dan fokus pada makanannya. Sementara Tuan David, tertangkap sering mencuri pandang pada Lina, menatapnya intens, dan menangkap sebuah kesimpulan. Tuan Shane menyunggingkan senyum tipis.


"Jadi, bagaimana rencana perjodohanmu, David?"tanya Tuan Shane, setelah selesai makan malam.


"Belum tahu, Uncle. Mom memberikan dua pilihan, dan itu sama-sama sulit," jawab Tuan David, mengeluhkan keputusan sang ibu.


Tuan David terkekeh pelan. Menilik sekilas ekspresi Lina. Wanita itu diam dengan dahi mengernyit tipis.


"Pilihan yang paling kau senangi. Meskipun sulit pasti ada jalan keluarnya, kan?" Tuan Shane menaikkan alisnya.


Tuan David tertawa pelan. "Bukankah di depan Uncle ada wanita cantik? Untuk apa pusing memikirkannya?"celetuk Lucas.


"Ah?" Lina terkejut mendengarnya. Wajahnya memerah dan menunduk. Sementara Tuan David, menatap Lina sekilas kemudian tersenyum tipis.


"Mungkin saya akan mempertimbangkannya," jawab Tuan David.


Deg!


Lina mengangkat wajahnya. Mengerjap. Apa yang pria di depannya ini katanya?!


"Wow!" Nyonya Shane berdecak. "Aku rasa ini pertama kalinya yang menanggapi serius soal wanita yang kami katakan padamu, David," lanjutnya.


"Mungkin sudah takdirnya, Aunty."


"Hei-hei, hentikan, Kak! Apa kau tidak melihat wajah merah kakakku?!"

__ADS_1


"Hehe … maafkan aku."


"Ayo, katanya ada yang dibicarakan denganmu," ajak Camelia kemudian. Tuan David mengangguk. Camelia mengajak Tuan David menuju gazebo yang terletak di tak jauh dari beranda kanan mansion.


__ADS_2