
"Lantas bagaimana hubunganmu dengan artis Kanada itu? Bukankah kau kemarin mengejarnya? Ku dengar ia sudah pulang ke Kanada. Kau gagal?"tanya Allen, dengan senyum mengejek.
"Aku tidak akan gagal!"
"Ku kira kau tidak pernah gagal. Ternyata kau gagal dalam asmara." Allen tertawa. Wajah Andrean menggelap. Tangannya mengepal erat.
"Tarik kata-katamu! Kau pikir kau lebih baik dariku!"
"Off course! Aku tidak pernah gagal dalam asrama," jawab Allen dengan penuh percaya diri.
Andrean mendecih kemudian terkekeh. "Memangnya kau tidak pernah punya pacar? Selain itu, Camelia juga tidak menanggapimu. Darimana kau lebih baiknya?"sinis Andrean, mengejek Allen.
Wajah Allen memerah. "Kau!" Jarinya menunjuk Andrean. Andrean melengkungkan senyum.
"Lebih baik urus saja urusanmu. Dan jangan campuri urusanku karena mudah bagiku untuk mengalahkanmu!"bisik Andrean, mengancam Allen kemudian melangkah meninggalkan Allen yang mengepalkan keduanya tangannya.
"Andrean!"desisnya pelan.
"Sialan! Mengapa aku selalu kalah darinya? Dan tadi? Dia mengancamku?!" Dada Allen naik turun. Emosi melanda dirinya.
"Tuan Muda Allen, Anda baik-baik saja?"tegur salah seorang pelayan yang melihat wajah merah Allen.
"Aku baik-baik saja," jawab Allen, lekas meninggalkan tempat. Sementara pelayan itu, yang sebenarnya masih anggota keluarga Gong, mengangkat bahunya kemudian kembali melanjutkan lanjutnya.
"Beraninya dia!" Setibanya di kamar, Allen kembali mengumpat.
"Mengapa dia harus menjadi cucu utama?!"gerutunya lagi.
"Why?! Mengapa dia punya kuasa lebih tinggi daripada aku?!"teriak Allen frustasi.
Meskipun Andrean tidak mencampuri urusan perusahaan Gong, Andrean dengan statusnya sebagai cucu utama punya hak untuk ikut andil di dalamnya. Oleh karenanya, Andrean bisa mengancamnya seperti tadi.
"CK!"
"Aku harus cari cara agar dia tidak bisa lagi mengancamku!"gumam Allen, menggigit jarinya, memikirkan bagaimana caranya.
*
*
*
"Cih, membandingkanku dengannya? Memangnya siapa dia?!"
Kesal Andrean saat tiba di kamarnya.
"Tuan Muda, Tuan Besar, memanggil Anda untuk segera bersiap menghadiri pesta ulang tahun Nyonya Jiang," ucap asisten pribadi Kakek Gong pada Andrean, dari luar kamar seraya mengetuk pintu kamar Andrean.
"Ya, aku akan segera datang," sahut Andrean. Lekas datang, lekas pulang.
Gegas, Andrean bersiap mandi dan mengenakan setelan formal seperti biasa. Tak lupa menyisir rambutnya. Ketampanan pria berusia 36 tahun itu semakin terlihat. Semakin tua semakin mempesona.
Setelah siap, Andrean meninggalkan kamarnya menuju kediaman Kakek Gong untuk pergi bersama ke aula kesenian, menikmati hiburan. Sebelum disambung dengan acara makan bersama.
"Ayah!" Begitu melihat ayahnya, Crystal langsung berlari menghampiri Andrean.
"Hati-hati, Crystal! Lantai itu tidak lembut!"tegur Kakek Gong.
"Hehehe, rindu Ayah."
"Gaun dari mana, Kakek?"tanya Andrean..
"Sengaja kakek belikan," balas Kakek Gong. Andrean mengangguk singkat.
"Ayo kita pergi," ajak Kakek Gong kemudian.
Acara perayaan dimulai. Pertunjukan teater, juga musik dan nyanyian ditampilkan dengan begitu meriah.
Di aula itu, menjadi ajang temu sama. Memang di acara seperti ini, menjadi ajang temu ramah, mempertemukan anggota keluarga cabang yang tidak tinggal di kediaman lama.
Namun, selain menikmati pertunjukan dan memberi selamat ulang tahun serta hadiah pada Nenek Jiang, menyapa dan berbincang dengan Andrean adalah tujuan lainnya.
Andrean mulai jengah, menanggapi mereka. Terlebih lagi ada yang menawarkan pernikahan padanya. Memangnya ia tidak bisa mencari sendiri?
Ditambah lagi, mendengar bisik-bisik yang membicarakan Crystal. Sungguh, Andrean naik darah. Tapi, ini acara keluarga dan ada Crystal di dalamnya. Sedikit lega karena Crystal fokus pada hidangan dan pertunjukan. Pertunjukan tradisional ini memang jarang Crystal lihat.
"Kakek, aku keluar dulu." Pada akhirnya, Andrean memutuskan meninggalkan tempat sebelum acara berakhir.
Kakek Gong mengernyit. Melihat sorot mata Andrean, kakek itu mengangguk. "Sebelum keluar, sapa dulu yang berulang tahun dan berikan hadiahmu untuknya," tutur Kakek Gong.
Andrean mengangguk.
"Paman, Bibi, dan saudara sekalian, aku masih ada urusan jadi tidak bisa berlama-lama di sini," ujar Andrean. Disambut dengan ******* kecewa.
"Memang sulit berbicara dengan leluasa dengan orang sibuk. Baiklah, lain kali kita atur waktu agar bisa bicara banyak dan leluasa denganmu. Karena kau adalah cucu utama, harus banyak berinteraksi dengan kami, para orang tua ini."
Andrean mengangguk singkat. "Ayo, Crystal."
Crystal mendongak, kemudian menatap makanannya. "Crystal denganku saja. Kau keluar saja sendiri," ujar Kakek Gong.
__ADS_1
"Baiklah."
Andrean bergegas menghampiri nenek Jiang. Di mana, di sisi Nenek Jiang ada Allen yang tersenyum lebar padanya. "Andrean, kau datang rupanya. Aku sangat bahagia," ujar nenek Jiang. Ini memang hal langka.
"Apakah tidak ada yang memberitahu nenek aku datang?"balas Andrean, melirik Allen.
"Nenekku sudah mulai pelupa." Allen menjawab.
"Nenek, tadi aku sudah memberitahu Nenek. Mungkin Nenek lupa." Allen menggenggam tangan Nenek Jiang.
"Benarkah? Hahaha mungkin saja." Nenek Jiang tertawa renyah.
"Nenek, aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku ingin memberikan ini sebagai hadiah ulang tahun nenek." Andrean mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Kotak berwarna hitam dengan pita merah.
"Selamat ulang tahun, Nenek," ucap Andrean.
"Hoho … apa ini, Andrean? Kedatanganmu adalah hadiah terbesar untukku." Tampak sungkan. Namun, Andrean tetap menyodorkannya.
"Nenek, tanganku pegal."
"Terima kasih," ujar tulus Nenek Jiang.
"Nenek, coba buka, aku ingin melihatnya," ujar Allen, penasaran dengan hadiah apa yang Andrean berikan untuk neneknya.
"Sungguh tidak apa?" Meminta persetujuan sang pemberi hadiah.
Andrean mengangguk singkat. "Nenek, aku pergi dulu," lanjutnya langsung berpamitan.
"Hati-hati."
Andrean segera melangkah keluar. Menarik nafas dan menghembuskannya dengan lega. Rasanya sangat sesak di dalam.
Sementara nenek Jiang membuka hadiah dari Andrean. Sebuah gelang giok. Terlihat mewah dan pastinya mahal.
"Wow! Itu hadiah yang berharga!"seru yang melihatnya.
"Benar. Anda beruntung, Nyonya Jiang."
Nenek Jiang tersenyum senang. "Hadiah dari cucu utama, apapun itu tentunya berharga." Yang langsung dibalas dengan anggukan setuju.
"Nenek, kau ingin hadiah apa dariku?" Rupanya anak itu belum memberikan hadiahnya.
"Apalagi?" Nenek Jiang mendelik. "Tentu saja cucu menantu dan cicit darimu!"
"Nenek…." Allen merengek. Itu cukup dan sangat berat malah.
"Nenek maunya itu. Bukankah kau aku suruh mengejarnya?" Astaga, rupanya masih ingat. Allen menyengir canggung.
Tak berselang lama setelah Andrean keluar dari aula kesenian, Kakek Gong, juga Crystal dan asisten pribadinya, turut meninggalkan aula kesenian. Meninggalkan keramaian itu.
"Crystal, kau ikutlah dengannya. Kakek Buyut ada sedikit urusan. Di sana sudah ada makanan enak-enak."
"Iya, Kakek Buyut."
Kakek Gong melanjutkan langkahnya.
"Dugaan kakek benar. Ada yang ingin kau bicarakan."
Andrean yang tengah duduk di tepi kolam langsung menoleh.
Andrean menarik senyum tipis. "Katakan padaku apa itu? Apa karena kau ingin ke Kanada?"teka Kakek Gong kemudian.
"Itu salah satunya," sahut Andrean.
"Kalau begitu apa?"
"Ini mengenai Lucas, Liam, dan Lia." Meminta pertimbangan sang kakek.
"Hm … ada apa dengannya? Kau ke sana hanya untuk menemui mereka, kan? Lalu membawakan kembali."
"Tidak semudah itu, Kakek. Aku ke sana untuk bicara dengan keluarga Shane."
"Karena, Lia mengatakan bahwa Lucas dan Liam sampai kapanpun tidak akan ikut dengan keluarga Gong. Marga mereka juga tetap Shane."
Kakek Gong membulatkan matanya sejenak. Kemudian ekspresinya menjadi datar.
"Sudah kakek duga. Ada lagi yang dikatakannya?"
"Mau lanjut silahkan, apa berhenti, terserah. Mau berhadapan di meja hijau juga tidak masalah."
Kakek Gong beberapa saat. "Hahaha." Tertawa kemudian. "Ini benar-benar menarik."
"Jadi, apa keputusanmu?"
"Aku tidak akan berhenti dan tidak mau bertemu di meja hijau!"jawab Andrean mantap.
"Sulit berhadapan dengan mereka di meja hijau. Sama saja. Ah … sudahlah, Andrean. Kakek sudah lelah dengan semua ini. Kau pernah mengatakan bahwa mereka adalah anak yang genius. Mungkin, suatu saat nanti mereka akan datang dengan sendirinya."
Pria tua itu sudah berpengalaman dalam hal ini. Semakin dipaksakan, akan semakin rumit. Memang keturunan itu penting. Namun, lebih penting lagi harga diri dan kestabilan keluarga. Ah, memang berat jadi tetua utama.
__ADS_1
"Kakek? Kau?"
"Meskipun begitu, kau harus memberi kakek cicit laki-laki. Kakek akan atur perjodohan untukmu." Sama saja, tetap menuntutnya.
"Kakek, jangan lakukan hal yang sia-sia dengan mengatur perjodohan untukku. Karena meskipun perjuangan itu berhasil. Dan aku menikah dengannya, aku tetap tidak bisa memberi kakek cicit lagi. Karena aku tidak bisa 'berdiri' dengan wanita lain," terang Andrean.
"Apa?!" Kakek Gong terkejut. Tampaknya frustasi dengan penuturan Andrean.
Tidak bisa berdiri dengan wanita lagi? Apa takdir memang peruntukan Andrean dan Camelia bersama? Namun, untuk itu banyak rintangan yang harus dilewati yang akan menghabiskan waktu, tenaga, juga emosi.
Kakek Gong mengusap wajahnya kasar. "Andrean selain kaya dan tampan, aku rasa tidak ada lagi kelebihanmu."
"Oleh karenanya aku akan tetap pergi ke Kanada."
"Terserahmu! Aku hanya ingin cicit laki-laki untuk meneruskan keturunan utama!" Kakek Gong mengibaskan tangannya kemudian berbalik dan melangkah pergi.
"Kakek." Andrean kembali memanggil dan membuat langkah Kakek Gong terhenti.
"Aku titip Crystal untuk sementara waktu sampai aku kembali. Tolong jaga dia dengan baik."
"Cicitku pasti akan ku jaga," jawab Kakek Gong tanpa menoleh ke belakang dan kembali melanjutkan langkahnya.
Tak menunggu lama lagi, Andrean langsung bergegas menuju kamarnya, menghubungi pilot pesawat kemudian meninggalkan kamar dengan menarik kopernya.
Di perjalanan menuju mobilnya, banyak berpapasan dengan keluarga lain yang jelas mempertanyakan hendak ke mana dirinya. Hanya tersenyum tanpa menjawab. Setibanya di mobil, Andrean langsung melajukan mobilnya meninggalkan kediaman lama menuju bandara.
Lia, Lucas, Liam, aku datang.
*
*
*
*
*
*
Hei, Mr. Gong. Katanya kau adalah ayah kandung aku dan Lucas. Katanya kau juga mau mengejar Mom kami. Tapi, sampai saat ini, aku belum melihat tidak lanjutnya. Apa di sana kau menyerah karena latar belakang keluarga kami?
Di pesawat, Andrean menatap pesan itu dengan wajah datang, kemudian tersenyum, lalu tertawa.
Itu adalah pesan dari Liam, yang mempertanyakan keseriusannya. Sebagai pria dewasa, tentu itu adalah tantangan dan ia menerima tantangan itu. Itu adalah salah satu dukungan terbesar agar ia tetap terbang menuju Kanada.
"Hahaha. Tentu saja! Aku akan datang!"
Andrean telah memikirkannya. Dan akan mencoba segala cara untuk itu.
Selama penerbangan panjang itu, ia akan mengerjakan pekerjaannya, yang mana pada saat menghubungi Hans, pria itu bukannya memberi laporan malah mengeluhkan kepergian Andrean ke Kanada.
Poor Hans.
*
*
*
Setelah mengantar Dion ke bandara, Camelia menuju tempat pembacaan naskah drama Split Love. Di sana, ia akan bertemu dengan pemain lainnya. Bersama-sama akan memahami alur cerita dan karakter masing-masing. Juga karena ini ada genre action, maka perlu latihan untuk beberapa adegan laga.
Sementara Lucas dan Liam, mulai melakukan syuting untuk video dan foto iklan dan juga majalah. Camelia pergi sendiri ke tempat pembacaan naskah. Tidak ditemani Kak Abi, karena managernya itu menemani Lucas dan Liam.
Hm … Camelia memang membutuhkan manager baru. Karena ke depannya, pasti semakin sibuk dan ditakutkan, Kak Abi tidak bisa menghandle semuanya.
Pembacaan naskah berlangsung dengan lancar. Perkenalan pun seperti itu. Sudah terlihat bibit keakraban di antara para pemain.
Sementara, lawan main Camelia juga adalah aktor besar, hanya saja posisinya jelas di bawah Chris.
Dengan lawan mainnya, ini adalah sesi reuni mereka. Sebelumnya pernah dalam satu drama, dengan lawan main yang sama.
Jadi, dapat dikatakan mereka sudah cukup akrab dan mudah untuk menjalin chemistry.
Tinggal membangun hubungan dengan pemain lain.
Acara pembacaan naskah di hari pertama diakhiri dengan foto bersama.
*
*
*
Dion tiba di China keesokan harinya. Tepatnya di sore hari. Mobil kantor datang menjemputnya. Segera membawanya menuju tempat tinggalnya selama di sini.
Senang rasanya kembali ke tanah kelahiran, meskipun dengan tujuan bekerja bukan kembali untuk menetap.
Setibanya di tempat tinggalnya, Dion lekas menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Rasa lelah 20 jam penerbangan begitu mendera. Apalagi rasa asin makanan di pesawat, lidahnya terasa pedar.
__ADS_1
Rasa kantuk juga menyerang dan tak lama kemudian ia tertidur. Setelah mendatar tadi, Dion sudah mengabari Camelia bahwa ia sudah tiba. Begitu juga pada Tuan dan Nyonya Liang. Kedua orang tua itu akan datang besok pagi karena ini sudah hampir malam.