
Ada banyak hal yang dibicarakan oleh Camelia dan Andrean. Hingga matahari tenggelam sempurna dan hari menjadi gelap, pembicaraan itu belum berakhir. Efek lama tidak bertemu memang begitu.
Pemandangan malam yang indah di kota Paris. Apalagi dengan pemandangan ikonik menara Eiffel dan sungai Seine.
Suasana benar-benar romantis. Apalagi dengan julukan kota itu sebagai kota cinta.
"Pemandangan dari kamarku sangat cantik. Tapi, aku yakin lebih cantik lagi jika kita nikmati berdua," ucap Andrean. Nadanya serius. Tapi, jelas itu rayuan dengan nada datar.
"Saat bersama denganku, ke mana hilanglah kedinginanmu, Rean? Bahkan kau bisa mengatakan kata-kata seperti itu," sahut Camelia, menopang dagunya.
"Sudah aku katakan, ada banyak sumber belajar. Aku tinggal menghafal dan membiasakan," jawab Andrean, menonjolkan kemampuannya. Camelia mengangguk kecil.
"Lalu, bagaimana dengan penyakit prosopagnosia. Sudah sembuh?"tanya Camelia lagi. Sangat penasaran. Apakah selama ini karena mereka tahu tempat masing-masing jadi dapat dengan mudah mengenalinya atau bagaimana? Lebih-lebih mereka jarang bertemu. Bagaimana cara Andrean mengenali wajah orang terdekatnya?
"Hanya orang-orang tertentu. Terutama yang memiliki ikatan denganku. Atau dari suara mereka. Aku memang buta wajah. Tapi, pendengaranku tajam," jelas Andrean.
"Hans?"
"Dia sekretarisku. Sudah ikut aku sejak sepuluh tahun silam."
"Rose?"
"Siapa?"
"Ibunya Crystal."
"Kamu."
Camelia berdecak. "Bukan aku. Tapi, Rose Liang. Mantan tunanganmu!"ucap Camelia penuh penekanan.
"Oh, dia." Malas.
"Jika ada berbuat onar di ruangan atau di istana, itu adalah dia," jawab Andrean, enggan.
Camelia kembali berdecak.
"Lalu aku?"
"Jantungku berdebar kencang saat di dekatmu. Tidak, saat aku mengingatmu, berbicara denganmu di telepon, dan di sampingmu, aku mudah mengenalimu," jawab Andrean, tanpa keraguan sedikitpun.
Camelia terhenyak. Itu jawaban atau rayuan? Manis sekali. Telinga Camelia terasa panas.
Pria dingin memang lebih romantis.
"Okay. Lalu Lucas dan Liam? Mereka kembar, kau sudah bisa membedakan mereka, kan?"tanya Camelia lagi. Ingin menguji sampai mana ingatan Andrean. Dan ingin tahu jawaban Andrean.
Andrean menoleh ke arah anak-anak. Mereka tengah bermain balok susun. "Gampang. Dari ekspresi, nada bicara, dan tinggi. Lucas lebih tinggi daripada Liam."
"Hah?" Camelia tercengang. Ia saja tidak terlalu memperhatikan. Baginya, tinggi badan Lucas dan Liam itu sama. Karena mereka kembar, pertumbuhan mereka pasti sama, kan?
"Mereka beda satu sentimeter."
UHUK!
"Kau baik-baik saja?"
"Penglihatanmu tajam sekali. Tapi, sayang buta wajahmu sangat mengganggu." Entah itu pujian atau ejekan, yang pasti Andrean tersenyum lebar menerimanya.
"Eh sebentar." Ponsel Camelia berdering. Segera Camelia menjawabnya.
"Ya? Halo, Kak?"
"Masih di cafe, Kak."
"Iya, dengannya."
"Ah … aku lupa waktu. Okay, aku segera pulang."
"Iya-iya. Sampai nanti."
Panggilan berakhir. Camelia menghela nafasnya.
"Dari managermu?" Diangguki oleh Camelia.
"Sudah pukul 20.00 rupanya. Pantas saja dicariin. Ayo, pulang," ajak Andrean.
"Wajahmu lebih jujur," celetuk Camelia. Andrean masih ingin di sini, menghabiskan waktu dengannya.
Andrean tersenyum kecut. Ia belum puas. Belum cukup. Tapi, masih ada banyak waktu. Mari dinikmati.
"Kau pulanglah bersama dengan anak-anak. Aku akan menyetir sendiri," ujar Camelia.
"Yakin?"
"Iya."
"Kalau begitu sampai besok."
"Ya sampai besok."
Setelah itu, Camelia memanggil anak-anak. Kemudian pamit pulang lebih dulu.
"Besok juga akan bertemu lagi, Yah," cetus Lucas.
"Akan jadi kejutan untuk Mom kalian," sahut Andrean.
*
*
*
Sepertinya aku melupakan sesuatu, batin Camelia saat tiba di kamarnya. Sebelum itu, ia mengikuti brefing singkat dan juga omelan kak Abi.
"Tapi, apa?" Camelia duduk di pinggir ranjang. Dahinya mengernyit. Camelia ingat. Ada hal penting. Tapi, apa?
Pasti terlupa karena asyik ngobrol terus kena omelan, gerutu Camelia. Ia memutuskan untuk mandi. Mana tahu akan teringat nanti.
"Astaga!" Camelia berseru. Ia sudah selesai mandi. Buru-buru Camelia mengecek barang-barang yang ia beli tadi.
"Bagaimana bisa aku lupa?!"kesal Camelia pada dirinya sendiri.
Itu adalah sebuah parfum. Itu adalah parfum yang berasal dari kota yang terkenal dengan industri parfumnya, Grasse.
__ADS_1
"Aku lupa memberikannya pada Crystal."
Parfum itu ditujukan untuk Crystal. Sebagai hadiah ulang tahun ke enam Crsytal. Ulang tahun Crsytal adalah 2 hari setelah ulang tahun Lucas dan Liam. Camelia sudah mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tapi, belum memberikan hadiah. Sudah dibeli namun lupa diberikan.
"Huh! Besok saja aku berikan."
Camelia kembali menyimpan parfum itu. Kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Besok harus bangun sebelum matahari terbit. Karena akan diadakan gladi lagi sebelum acara.
Hari ini … sangat menyenangkan. Aku senang sekali.
Mata Camelia terpejam dengan senyum mengembang lebar.
*
*
*
Acara Paris Fashion Week digelar selama 9 hari. Camelia, Ascania, dan Moana mengikuti acara itu hanya di hari pertama dan kedua. Setelah itu mereka kembali ke Kanada. Singkat memang. Namun, sangat bermakna.
"Jadwal kita di jam 14.00," ucap Kak Abi.
"Masih ada waktu untuk gladi," sahut penanggungjawab brand yang dibawakan oleh Camelia dan rekan-rekannya.
"Semuanya, cek ulang. Jangan sampai ada kesalahan! Ini acara yang sangat penting!"
"Gaun, aksesoris, make up, harus sempurna!"
Ya, ajang fashion show akbar seperti ini, tentunya memang sangat penting. Baik bagi seorang model sendiri maupun bagi perusahaan brand. Karena, dengan acara besar ini dapat meningkatkan citra dan penjualan mereka. Meskipun dalam jumlah yang terbatas karena harganya pasti sangatlah mahal.
"Model selanjutnya harap bersiap."
"Kalian kau gugup?"tanya Kak Abi, menatap bergantian Camelia, Ascania, dan Moana.
"Gladi kita sudah bagus. Tampil nanti akan sempurna!"jawab Camelia dengan penuh percaya diri.
"Kami akan melakukan yang terbaik," jawab Ascania.
"Tanganku dingin. Tapi, lebih besar lagi excitedku!"jawab Moana. Ketiga wanita itu berseri-seri.
Kak Abi mengangguk puas. "Ayo, giliran kalian!"
Moana yang melangkah pertama. Disusul oleh Ascania dan terakhir Camelia. Ketiga melangkah di catwalk. Moana dengan kesan cerianya melambai, menunjukkan eksistensi dari fashion yang ia bawakan.
Begitulah pula dengan Ascania. Kesan lembut begitu terpancar darinya. Apalagi ditambah dengan senyuman yang lembut lagi menawan. Dan terakhir, Camelia.
Kesan yang ia bawakan, adalah sosok yang dingin nan misterius.
Eh?
Camelia terkesiap sesaat.
Rean?
Camelia menajamkan penglihatannya. Benar! Ia tidak salah lihat. Itu Andrean.
Tapi, bagaimana bisa ia duduk di bangku penonton?
Andrean bertepuk tangan. Tersenyum ke arahnya.
Dia mengejutkanku, batin Camelia saat sudah tiba di ujung catwalk.
Ya, acara berjalan di catwalk itu memang singkat. Namun, akan teringat seumur hidup.
"Kita berhasil!"seru Moana.
"Nona Moana!"tegur Kak Abi. Moana tertawa pelan. "Maaf-maaf."
"Besok malam akan diadakan pesta untuk kita, semua model yang satu brand dengan kita akan hadir. Dan akan ada pole dance," ujar Kak Abi, menginformasikan.
"Pole dance? Sepertinya aku hanya akan menonton," sahut Moana.
"Aku bisa. Tapi, tidak terlalu mahir. Tidak berani menampilkan," ucap Ascania.
"Apa setiap model harus melakukannya?"tanya Camelia. Kak Abi tahu Camelia bisa pole dance. Camelia adalah artis yang multitalenta.
"Aku rasa tidak." Ada banyak model. Itu cuma sebagai pertunjukan untuk memeriahkan pesta. Bukan adegan wajib.
"Kalau begitu aku hanya menonton saja."
"Okay."
Drttt
Setelah ini langsung pulang tidak? Jika iya, naiklah ke penthouse. Aku akan menunggumu.
"Setelah ini ada acara lagi, Kak?"tanya Camelia. Kak Abi langsung melihat jadwal.
"Nanti malam, ada peragaan lagi. Kau mau kemana?"
"Ke kamar. Tadi sudah sempat gladi. Aku rasa tidak perlu ikut lagi. Namun, hubungi aku jika ada perubahan," ujar Camelia, menepuk bahu Kak Abi kemudian melangkah pergi.
"Eh? Lia kau ke mana?"tanya Moana.
"Kembali ke hotel."
"Aku ingin menonton. Bagaimana denganmu, Nia?"
"Aku ikut denganmu."
"Kalau begitu aku akan menemani kalian."
*
*
*
"Mom!"
"Tadi sangat menakjubkan!"
"Aku juga ingin tampil di sana!"
__ADS_1
"Gaun itu seakan-akan memang diperuntukkan untuk Mom! Bagaimana jika kita membelinya?"
Begitu Camelia tiba di penthouse, langsung disambut oleh Lucas dan Liam yang begitu menyukai penampilannya di catwalk.
"Dari mana kalian menonton?"tanya Camelia, duduk di sofa.
"Kak Liam menghack CCTV acara, Aunty," jawab Crystal.
"Benarkah itu?" Liam tersenyum tipis.
"Dasar kalian ini!"gerutu Camelia.
"Mom, ayah ada di kamarnya," ucap Lucas.
"Hm."
"Crsytal."
"Iya."
Camelia menyodorkan paper bag berwarna pastel pada Crystal.
"Ini hadiah ulang tahunmu. Aku harap kau menyukainya," ujar Camelia. berkaca-kaca.
"Parfum! Crystal suka! Terima kasih, Autny!"
"Kalau begitu bermainlah. Aku temui ayah kalian dulu," ujar Camelia. Ketiga anak itu mengangguk. Duduk di sofa dan bergantian mencoba aroma parfum itu.
Memang baru satu malam mereka bersama. Namun, yang namanya anak kecil, jika sudah dipertemukan dengan kesukaan yang sama, akan mudah untuk dekat. Apalagi mereka tahu bahwa kedua orang tua mereka akan menikah. Tentu harus mulai menjalin hubungan saudara yang baik.
"Rean? Kau di dalam? Aku masuk, ya." Camelia lebih dulu mengetuk pintu. Sebelum akhirnya membuka pintu itu.
Baru selangkah masuk, ada yang menarik dirinya. Saat membuka mata, Camelia sudah terbaring di ranjang dan Andrean ada di atasnya.
"Aku sangat merindukanmu," ujar Andrean. Matanya sendu.
"Apa ini? Kita baru kemarin bertemu," ucap Camelia, mengeryit bingung. Tatapan matanya itu, tidak seperti biasanya.
"Aku tidak bisa menahannya lagi," ujar Andrean. Nadanya serak. Matanya mulai sayu.
"Apa?"
Camelia terbelalak. Paham maksud Andrean.
"Hei, jangan seperti ini. Aku tidak mau melakukannya!"
"Mengapa?"
"Aku sangat menginginkannya. Aku merindukanmu, Lia."
"Hei, hentikan, Rean!" Camelia berontak saat Andrean mulai mengecup lehernya.
Andrean tidak menggubrisnya. Camelia menggertakan giginya kesal.
Bugh!
Dalam sekali tendangan, Andrean langsung tersungkur. "Apa yang kau lakukan?!"seru Andrean.
"Aku katakan aku tidak mau. Kita belum menikah!"pungkas Camelia. Menyilangkan kakinya, menatap tajam Andrean. Tadinya, tidak mau menendang Andrean. Tapi, ucapannya tidak didengarkan.
"Bukankah itu lazim?"tanya Andrean. Masih tidak terima. Ia ingin melakukannya.
"Ternyata semua lelaki sama," ketus Camelia.
"Belum diikat secara sah tapi memaksa untuk melakukannya!"
"Apa aku salah penilaian padamu?!"
Deg!
"Tidak!" Andrean bangkit dan berseru. Ia menghela nafasnya. Menyugar ranburnya.
"Aku hampir gila!"
"Melihatmu tadi di catwalk, tiba-tiba gairahku naik. Hampir saja. Maaf. Maafkan aku, Lia. Aku bukan pria seperti itu."
"Hah?"
"Apa yang kau pikirkan tadi?"tanya Camelia.
"Malam itu."
"Katakan dengan jelas!"
"Saat kita tidur bersama."
"Rean, mungkin kau akan tersinggung. Akan tetapi, malam-malam itu adalah kesalahan. Saat ini aku sadar. Aku tidak mau melakukannya sebelum menikah!"tegas Camelia.
"Hah! Aku tahu. Maafkan aku."
Andrean duduk di samping Camelia. "Tapi, itu terlalu lama."
Camelia mendengus. "Tidak akan lama."
"Bagaimana dengan ciuman? Tidak harus tunggu menikah, bukan?"
Camelia tersebut. Dibalas oleh Andrean dengan ciuman. Cukup lama. Sampai Camelia merasa sesak karena hampir kehabisan nafas.
Nafas keduanya terengah. "Sangat manis!"
"Now, katakan padaku, mengapa kau bisa duduk di sana tadi?"
"Aku mendapat undangannya."
"Bagaimana bisa?"tanya Camelia heran. Ia sudah menduganya.
"Kau lupa siapa suamimu, Lia?"
"Suami?"
"Maksudku calon suami. Aku adalah Presdir entertainment terbesar di China. So, mudah bagiku untuk mendapatkannya. Selain itu, perusahaan juga menjadi model di acara ini," jelas Andrean. Sekali lagi membanggakan dirinya.
"Dasar narsis!"
__ADS_1