
Beberapa orang polisi sudah ada di ruang tamu kediaman Liang saat Rose pulang. Di sana juga ada sang ibu yang berwajah datar, tidak menyambut kepulangan. "Yang Anda cari sudah datang. Silahkan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ucap Nyonya Liang, datar pada para polisi itu.
"I-ibu?"
Rose terkejut. Ia kira ibunya akan membelanya. Tapi, mengapa malah menyerahkannya?
"Ibu, kau percaya pada semua berita bohong itu?" Rose memekik. Para polisi itu menatap datar Rose yang tampak kalap dan gagap.
"Mau bagaimana lagi? Kau tak henti-hentinya membuat masalah. Ibu kira kau akan sadar setelah kasus kemarin. Tapi, ternyata ibu salah," jawab Nyonya Liang. Wanita itu tetap tenang meskipun terkesan dingin. Rose tercengang.
"Ibu…."
"Bawa dia pergi, Pak. Saya mulai muak dengannya. Biarlah kami tidak punya anak jikalau anak kami seperti dirinya." Sepertinya Nyonya Liang sudah jengah dan lelah.
"Tidak, Ibu! Ibu tidak boleh seperti ini! Ibu harus percaya padaku!"ucap Rose, memberontak saat dua orang polisi hendak memasang borgol pada dirinya.
"Jika kau merasa tidak bersalah maka kau pasti tidak bersalah. Dan sebaliknya, kau harus menanggung akibat dari perbuatanmu sendiri. Belajarlah bertanggung jawab seperti kakakmu!"tandas Nyonya Liang.
Rose tidak membalas lagi. Lidahnya keluh. Ia tidak bisa lagi mengungkit masalah Jasmine Liang dulu. Jika ia melakukannya, maka Nyonya Liang akan semakin murka padanya. Selain itu, Rose juga kebingungan sekarang. Mengatakan bahwa Camelia adalah Jasmine? Maka dirinya yang benar-benar dirugikan. Terlebih lagi Jordan sudah diciduk dan memberi pengakuan.
Sial!!
Rose hanya bisa mengumpat.
"Kalau begitu kami permisi, Nyonya," pamit polisi yang sekiranya adalah pimpinan dari beberapa polisi itu. Nyonya Liang mengangguk kecil.
Para polisi itu kemudian membawa Rose yang tanpa perlawanan berarti ke kantor polisi.
Setelah Rose pergi, Nyonya Liang langsung menangis.
"Nyonya, Anda baik-baik saja?"tanya pelayan. Nyonya Liang menggeleng.
"Bagaimana bisa saya baik-baik saja? Sementara keluarga ini telah kehilangan muka. Sebagai menantu saya merasa sangat malu pada leluhur keluarga Liang. Saya gagal mendidik anak. Saya juga gagal sebagai orang tua, Bik," ungkap Nyonya Liang. Dadanya terasa sangat sesak.
"Nyonya, saya tahu Anda sangat terpukul. Akan tetapi, saya kira Anda tidak boleh terpuruk mengingat kondisi Tuan yang belum stabil," tutur pelayan tersebut, yang merupakan pelayan senior yang tak lain adalah kepala pelayan di kediaman ini. Tahu seluk beluk keluarga Liang karena telah mengabdi puluhan tahun pada keluarga Liang.
"Entahlah, Bik. Jika dirasa-rasa saya sudah tidak kuat lagi. Menghadapi isu bahwa Rose, anak kandung saya adalah dalang di balik kehancuran Jasmine, anak angkat yang sudah saya rawat dan besarkan dari bayi. Saya hancur, Bik. Saya seumur hidup akan menanggung penyesalan. Bahkan, anak kandung saya sendiri, Dion tidak pernah pulang semenjak hari itu. Pasti kekecewaannya pada kami sangat besar. Entah bagaimana nasib mereka sekarang. Saya benar-benar seorang ibu yang gagal," sahut Nyonya Liang dengan menunduk dan mengusap wajahnya kasar. Tangisnya belum mereda.
"Belum lagi setelah kasusnya diselidik, entah hal apalagi yang akan muncul," desah Nyonya Liang, sembari mengusap sudut matanya. Nyonya Liang menatap lurus ke depan, sorot matanya dingin. Seakan menerawang bahwa hal yang akan muncul adalah sebuah kabar buruk.
"Entah dosa apa yang saya perbuat di kehidupan sebelumnya. Sehingga saya menghadapi semua hal ini," gumam Nyonya Liang. Sungguh bingung, mengapa hal buruk kembali menerpa keluarganya.
Mendengar isi hati dan keluhan Nyonya Liang, Kepala pelayan menghela nafas panjang.
"Nyonya, yang sudah terjadi tidak akan bisa diubah lagi. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, entah itu besar atau kecil. Namun, ada beberapa kesalahan yang bisa diperbaiki. Jadi, Nyonya harus tabah dan kuat menjalaninya," tutur kepala pelayan.
"Selain itu, saya yakin, Nona Jasmine dan Tuan Muda Dion pasti mengerti keadaan di hari itu. Dan saya yakin, mereka pasti menjalani kehidupan yang baik di suatu tempat. Namun, sejak kedatangan Nona Camelia ke kediaman ini, entah mengapa saya sangat yakin bahwa Nona itu adalah Nona Jasmine. Dan adik beliau yang memiliki nama yang sama dengan Tuan Muda adalah benar Tuan Muda Dion," imbuh kepala pelayan. Membuat Nyonya Liang mendongak.
__ADS_1
"Anda juga merasa demikian?"tanya Nyonya Liang, memastikan, barangkali ia salah dengar.
"Nyonya, saya merawat Nona dan Tuan Muda sejak kecil, sama seperti Anda. Jika saya saja merasa bahwa itu adalah mereka, bagaimana mungkin Anda tidak? Saya yakin, perasaan Anda lebih besar, Anda adalah ibu mereka, saya yakin kita punya keyakinan yang sama. Mereka adalah Nona dan Tuan Muda," ucap kepala pelayan dengan penuh keyakinan.
Nyonya Liang tertegun beberapa saat.
Sejak aku bertemu dengan Camelia aku bilang merasa demikian. Hatiku mengatakan bahwa ia adalah Jasmine dan Dion, adalah Dion putraku. Namun, mengingat latar belakang keduanya, itu mematahkan keyakinanku. Apakah benar, mereka kedua anakku?
Nyonya Liang merenung. Latar belakang Camelia dan Dion yang begitu terpandang, membuatnya ragu.
"Tapi, jika itu mereka, bagaimana bisa berhubungan dan menjadi bagian dari keluarga Shane yang jauh di luar negeri sana? Mengapa mereka tidak datang dan mengatakan bahwa aku adalah ibu mereka? Mengapa Dion, putraku mengganti marga?"tanya Nyonya Liang, menatap kepala pelayan mencari jawaban.
"Terkadang ada beberapa hal yang tidak boleh diungkapkan. Mereka pasti ada alasan kuat untuk hal itu. Namun, entah mengapa saya merasa jika itu benar-benar mereka, maka mereka pasti kembali untuk membalas dendam kepada orang-orang yang menyakiti mereka," tutur kepala pelayan.
Nyonya Liang sedikit membulatkan matanya. "Apa maksudmu mereka kembali untuk balas dendam? Sehingga tidak mengungkap identitas asli mereka?" Kepala pelayan mengangguk.
"Dan balas dendam pada yang menyakiti mereka, apakah itu merujuk pada Jordan? Rose? Tuan? Juga saya?"
"Mungkin," jawab kepala pelayan.
Nyonya Liang terdiam. Tak lama kemudian, Nyonya Liang menggeleng.
"Mineku tidak akan melakukannya," gumam Nyonya Liang tidak percaya. Kepala pelayan itu menggeleng, kemudian tersenyum.
"Nona Jasmine mungkin tidak akan melakukannya. Namun, bagaimana jika Nona Jasmine sudah tidak ada? Berganti dengan Nona Camelia?" Bukan mencekoki. Namun, membuka pikiran Nyonya Liang. Bahwa seseorang dapat berubah karena hal besar menimpa hidupnya.
*
*
*
Kasus yang menimpa sejoli itu langsung saja mewarnai kabar selebritis negeri tirai bambu, bahkan menjadi trending yang lebih besar daripada kabar putusnya Andrean dan Rose tempo hari.
Agensi keduanya pun menjadi tempat untuk mencari keterangan. Starlight Entertainment, sampai saat ini masih bungkam mengenai kasus yang menimpa Rose. Itu atas perintah Andrean. Apalagi mengingat Rose yang saat ini tengah dibekukan.
Peach Entertainment pun belum buka suara. Apalagi Jordan juga tengah tidak aktif. Mereka juga kaget bukan main mendengar dan mengetahui kabar tersebut. Untuk sementara ini, kedua agensi itu tetap diam. Membiarkan kedua artis itu menjalani penyelidikan sebagaimana mestinya. Untuk Andrean, ia hanya mengirimkan pengacara untuk menemani Rose. Namun, tentu saja hanya untuk menemani.
Dan Peach Entertainment mereka juga mengirim pengacara meskipun kemungkinan menang kecil.
*
*
*
Di ruang kerjanya di Starlight Entertainment, Andrean tersenyum puas sembari menikmati wine.
__ADS_1
Tok
Tok
Hans masuk ke dalam ruangan Andrean.
"Tuan," sapa Hans pada Andrean.
Andrean menoleh pada Hans. "Ada yang ingin bertemu dengan Tuan," ujar Hans.
"Siapa?"tanya Andrean.
"Tuan Xu," jawab Hans. Andrean menaikkan alisnya.
"Suruh dia masuk," titah Andrean kemudian sebelum menghabiskan wine yang tersisa di dalam gelas. Hans mengangguk.
Tak berselang lama, Hans dan Tuan Xu masuk ke dalam ruang kerja Andrean. "Tuan Gong," sapa Tuan Xu hormat pada Andrean. Dan yang mengejutkan adalah wajah Tuan Xu sama persis dengan pria yang menghabiskan malam dengan Rose tadi malam. Apakah Tuan yang dipanggil olehnya pagi tadi adalah Andrean?
Andrean mengangguk singkat.
"Bagaimana rasanya bersenang-senang semalaman, Tuan Xu?"tanya Andrean, dengan menatap Tuan Xu penuh senyum.
"Yang namanya bersenang-senang, pasti lah menyenangkan, Tuan Gong," jawab Tuan Xu dengan senyum sumringah.
"Hm. Anda benar," sahut Andrean singkat.
"Jadi, setelah ini apa tugas saya, Tuan?"tanya Tuan Xu serius dan itu juga membuat wajah Andrean menjadi serius.
"Pergilah keluar negeri dan ganti nomor ponselmu," jawab Andrean.
"Baik, Tuan." Tuan Xu kemudian izin undur diri.
"Selanjutnya apa yang akan Tuan lakukan?"tanya Hans setelah Tuan Xu pergi.
Andrean tersenyum. Ia kemudian menatap ke arah jendela. Tujuan Andrean mengirim Tuan Xu untuk Rose adalah untuk membuat Rose terkecoh dan tenggelam dalam kesenangan. Dan itu berhasil.
"Balas dendam hampir final. Setelah ini semua berakhir, aku akan mulai mengejarnya. Kali ini aku serius, Hans. Aku tidak akan melepasnya. Aku akan membawa pulang anak-anakku, juga dirinya," ucap Andrean dengan penuh keyakinan. Hans mendengus senyum. Sepertinya Andrean benar-benar jatuh hati pada Andrean.
"Meskipun demikian, Anda harus punya persiapan matang untuk mengejarnya. Apalagi dengan identitasnya yang sekarang," ujar Hans, mengingatkan Tuannya ini.
Andrean mengangguk. "Ah ya, bagaimana dengan Crystal?"tanya Andrean.
"Nona Muda sudah mulai belajar, Tuan. Anda tenang saja, guru Xie adalah guru yang berpengalaman dan cocok dengan Nona Muda," tutur Hans.
Andrean kembali mengangguk. "Tuan, bagaimana dengan Nona Rose? Apakah kita sudah bisa memberikan tanggapan kepada media?"tanya Hans, karena di luar gedung, banyak wartawan menunggu tanggapan dari agensi.
Andrean sedikit berdecak. Namun, ia kemudian menorehkan senyum smirk. "Bagaimanapun caranya, dia tidak akan lepas. Mengenai tanggapan, katanya saja dia akan diproses sesuai hukum yang berlaku. Jika bersalah, maka harus bertanggung jawab. Jika tidak, maka dia tetap harus memohon maaf," jawab Andrean, memberikan perintah pada Hans.
__ADS_1
Hans tidak bisa untuk tidak tersenyum. "Ini lebih dari sekadar black list, Tuan."