
Ughh!
Seorang pria mengerang saat bangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sangat pusing. Matanya menyipit, cahaya yang masuk terlalu terang untuknya.
"Pusing sekali," keluhnya.
"Hm? Sudah bangun, Joseph?" Suara wanita yang serak namun ceria menyapa.
"Alice?" Pria yang tak lain adalah Joseph itu terperanjat.
Membuatnya melompat turun dari ranjang. "Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa kita bisa satu ranjang??"
"Joseph?" Mata Alice langsung berkaca-kaca.
"B-bagaimana bisa kau melupakannya, Joseph?!" Wanita itu langsung terisak.
"Uhgh!" Joseph kembali memegang kepalanya. Kepingan ingatan datang. Perlahan, Joseph mengingat apa yang terjadi.
"Uuh!" Pria itu kembali mengeluh.
"K-kita sudah menjadi pasangan kekasih. Apakah kau mencampakkanku setelah menghabiskan malam denganku, Joseph? Bagaimana bisa kau sekejam itu?" Alice semakin terisak. Air matanya bercucuran. Bahkan, bahunya turut bergetar.
"Ah … tidak … bukan begitu maksudku. Ku mohon jangan menangis." Joseph kembali naik ke ranjang. Menyentuh pundak Alice dan menepuknya perlahan.
"Aku punya kebiasaan lupa sementara setelah mabuk. Aku sudah ingat semuanya. Kau kekasihku," tutur Joseph, menenangkan Alice.
"Really?" Joseph mengangguk.
"Aku bahagia!" Langsung memeluk Joseph erat.
"Hari sudah siang. Apa kau tidak lapar?"tanya Joseph. Melihat jam, ini hampir tengah hari.
Astaga! Mereka melakukannya semalaman!
"Bagaimana dengan makanan pembuka?"tawar Alice, ia mengigit bibirnya dan semakin merapatkan tubuhnya pada Joseph.
"Hei, jangan menggodaku!"peringat Joseph dengan mengeram.
"Aku bersedia!".
"Ughh! Sialan, kau!"umpat Joseph. Ia terpancing.
*
*
*
Puluhan tahun silam, keluarga Ling memiliki seorang anak perempuan. Anak itu menjadi putri emas di keluarga Ling karena merupakan anak perempuan semata wayang. Dimanja dan hidup bergelimang harta. Yang mengakibatkan anak perempuan itu tumbuh dengan baik, dengan sifat manja dan keras kepala. Hanya mana, sifat manjanya yang ditujukan pada orang terdekat. Di mana di mata selain keluarga Ling akan menganggap anak perempuan itu adalah anak yang keras kepala dan arogan.
Memang demikian. Dan nama anak perempuan itu adalah Ling Xiayu.
__ADS_1
Memang anak yang keras kepala lagi arogan. Hidupnya tenang dan bahagia. Akan tetapi, itu berubah saat Ling Xiayu bertemu dengan seorang pria asing, yang kala itu ada pekerjaan di Xian sekaligus berwisata.
Ling Xiayu jatuh cinta pada pria asing itu. Dan cintanya terbalas. Namun, tidak mendapatkan restu dari keluarga Ling.
Penentangan itu, sejalan dengan keras kepala Ling Xiayu. Alhasil, Xiayu membangkang keluarganya.
Ling Xiayu dan pria asing itu tetap berhubungan meskipun harus hidup di bawah tekanan Keluarga Ling.
Bahkan, saat Ling Xiayu hamil, keluarga Ling juga tidak menerima hubungan keduanya.
Hingga pada suatu hari, pria asing itu pamit pergi untuk melakukan sesuatu. Dengan janji akan segera pulang dan menjemput Ling Xiayu dan anak dalam kandungannya.
Ling Xiayu menunggu. Hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Pria asing itu tak kunjung kembali. Ling Xiayu lelah menunggu. Dan keluarga Ling menunggu kesempatan.
Saat anak yang dikandung Ling Xiayu lahir, keluarga Ling bertindak dengan memisahkan ibu dan anak.
Anak itu dibuang.
*
*
*
"Dan jika anak itu masih hidup hingga saat ini, itu adalah kau!"ujar Nyonya Besar Ling, menatap Camelia.
Ekspresi Camelia dingin. "Lantas bagaimana dengan Ling Xiayu?"tanya Camelia. Jika anak itu memang dirinya, maka di mana sang ibu?
"Ouh!" Camelia menghela nafasnya. Ia tidak berharap. Namun, mendengar bahwa Ling Xiayu sudah tidak ada, hatinya berdenyut nyeri.
"Bagaimana dengan Alexander?"tanya Camelia kemudian.
Sesuai dengan mimpinya. Pria yang bernama Alexander itu pamit pergi. Dan berjanji akan kembali. Namun, sampai Ling Xiayu melahirkan, pria itu tidak kunjung kembali.
"Kami tidak tahu," jawab Nyonya Besar Ling.
"Bagaimana bisa kalian tidak tahu?!" Tuan Shane angkat bicara.
"Atau … bisa saja kalian menyingkirkannya?" Dion menuduh.
"Kami tidak serendah itu!"tegas Nyonya Besar Ling.
"Dia meninggalkan kediaman kami entah kemana. Xiayu menunggunya pulang. Sampai melahirkan dan dia meninggal juga tidak kembali. Dan ini sudah berapa lama? Bahkan sampai saat ini, dia tidak lagi memunculkan batang hidungnya!" Nyonya Besar Ling berkata dengan ketus.
"Lantas, apa kalian tahu kewarganegaraan nya?"tanya Tuan Shane. Tidak mungkin bukan mereka tidak tahu? Secara sudah berhubungan dan Ling Xiayu juga hamil.
"Prancis. Aku ingat itu!" Nyonya Besar Ling menjawab setelah mengingat beberapa saat.
Camelia mengangguk singkat, dengan tetap menunjukkan ekspresi dingin. Ia kemudian melepas sesuatu. Itu adalah sebuah kalung.
Mata Nyonya Besar Ling melebar. "Apa Anda mengenal kalung ini?"tanya Camelia.
__ADS_1
"Dari cerita Anda tadi, Anda tidak menunjukkan penyesalan terhadap apa yang terjadi pada mereka. Seolah-olah, Anda dan keluarga ini tidak bertanggung jawab atas hal tersebut," sarkas Tuan Shane. Ia jengah dengan keluarga Ling yang seolah sepenuhnya meletakkan kesalahan pada Ling Xiayu dan juga Alexander.
"Memang salah mereka. Sudah tidak direstui, malah memberontak. Bukankah itu kebodohan mereka sendiri?"sahut Ling Rui, ketus pada Tuan Shane.
Tuan Shane tertawa pelan. "Penyesalan selalu datang di akhir. Namun, saya juga tidak menyalahkan kalian sepenuhnya."
"Kalung ini adalah petunjuk tentang siapa diri saya. Apa Anda mengenalnya?"tanya Camelia.
"Aku ingat. Itu ditinggalkan oleh pria itu!"jawab Nyonya Besar Ling.
"Okay. Itu sudah cukup." Camelia kembali menyimpan kalungnya.
"Urusan kita sudah selesai, ayo Dion, Dad," ajak Camelia, ia bangkit.
Dion dan Tuan Shane ikut bangkit.
"Terima kasih telah menjawab pertanyaan saya. Setelah ini, kita tidak akan berhubungan lagi. Selamat tinggal," ucap Camelia. Sedari tadi ia berkata dengan nada dingin.
Tuan Shane dan Dion juga bangkit. Mereka bersiap untuk pergi. "Tunggu!"
Nyonya Besar Ling menahan. "A-apakah kau tidak ingin melihat wajah Xiayu? Juga menziarahi makamnya? Biar bagaimanapun, di dalam darahmu mengalir darah keluarga Ling," ujar Nyonya Besar Ling.
Dion menatap Camelia. Keputusan ada di tangannya.
"Bermalamlah di sini. A-aku, biar bagaimanapun aku adalah nenekmu,"vujar Nyonya Besar Ling lagi. Dengan terbata. Takut jika Camelia menolak. Apalagi, ekspresi Camelia tetap dingin.
"J-jadi … wanita ini adalah sepupuku?!" Ling Rui berseru.
Mengapa dia lama sekali menangkap hal tersebut?!
Ling Lie meruntuk.
"Lebih tepatnya kakak sepupu kalian," ralat Nyonya Besar Ling.
"Baik." Camelia menjawab singkat. Wajah Nyonya Besar Ling berseri. Wanita tua itu bergegas menyuruh pelayan untuk membereskan kamar.
"Kalau begitu, Daddy akan kembali lagi besok pagi. Bersama dengan Mommy, Lucas, dan Liam," ujar Tuan Shane. Camelia dan Dion terkesiap.
"Mereka juga ikut?!" Wajah Camelia langsung berubah cemas.
"Mau bagaimana lagi?"
Camelia menggigit jarinya. "Aku ikut dengan Daddy. Besok pagi saja kita kembali kesini," tukas Camelia kemudian.
Tuan Shane mengangguk.
"Aku akan kembali besok pagi," ucap Camelia pada Nyonya Besar Ling.
"Ah? Baiklah kalau begitu." Meskipun terlihat sedih, wanita tua itu tidak bisa berbuat banyak. Camelia, Dion, Tuan Shane, dan seluruh pengawal kemudian meninggalkan kediaman Ling.
Nyonya Besar Ling melepas kepergian mereka dengan tatapan dalam.
__ADS_1
Xiayu … maafkan Ibu. Dan lihatlah putrimu, besok dia akan melihatmu….