
Setelah semua surat perjanjian ditandatangani Lucas, Liam, dan Kak Abi langsung pamit. Ketiganya serentak menolak tawaran Andrean untuk makan siang bersama, "Mommy sudah memasak dan menunggu kami pulang." Itu jawaban Lucas yang membuat Andrean semakin merasa tertarik pada Camelia. Andrean tersenyum sebelum akhirnya memalingkan wajahnya Hans yang seperti ketakutan. "Mana?"
"M-maaf, Tuan Muda. Saya tidak mendapat kesempatan untuk mengambil rambut salah satu di antara mereka," jawab Hans, menunduk dalam. Andrean berdecak. Dari wajah, raut wajah kesal dan gusar menyatu.
"Kau semakin tidak bisa diandalkan, Hans. Sepertinya kau menunjukan tanda-tanda ingin pensiun," sarkas Andrean dengan dinginnya.
"T-tidak, Tuan Muda. Sungguh saya berkata jujur! Kedua anak itu bukan bocah lima tahun, Tuan Muda. Mereka begitu waspada, l-lagipula mencabut akan menimbulkan kecurigaan." Hans menunjukkan pembelahan untuk dirinya.
"Kau bahkan semakin pandai berkilah!"sinis Andrean yang semakin membuat keringat Hans bercucuran. Hans berpikir keras untuk membuat Tuan Mudanya stabil.
"Ya!" Hans berseru tiba-tiba yang membuat Andrean hampir terjengkang dari kursinya.
"Kau! Beraninya kau berteriak di depanku!!"tunjuk geram Andrean pada Hans. Sudah gagal melakukan tugas untuk mengambil rambut Lucas atau Liam, malah hampir membuatnya celaka.
"Tuan Muda saya punya solusinya, mengambil rambut tanpa menimbulkan kecurigaan dan ketahuan oleh mereka," ucap Hans yang mengabaikan wajah Andrean yang menggelap. Saat mendengar itu, Andrean berangsur-angsur kembali datar," apa caranya?"
Hans mendekat dan membisikkan caranya pada Andrean. Andrean sedikit menyeringai mendengarnya. Dan Hans merasa lega karena merasa Andrean sudah lupa dengannya. "Sepertinya kau belum mau pensiun. Baiklah aku beri kau tugas bagus sebagai remedial."
"Ah??"
"Enggan?"tanya Andrean dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, Tuan Muda."
"Hmhp!" Hans mendekatkan dirinya kepada Andrean. Andrean membisikkan tugas baru Hans. Bola mata Hans mengembang, "T-Tuan Muda, i-itu langkah yang terlalu besar. Akan ada masalah besar yang ditimbulkan nanti."
"Kau tak percaya padaku?"tanya Andrean dingin.
"P-percaya … t-tapi." Hans masih sangat ragu dan gusar dengan apa yang Tuan Mudanya perintahnya.
"Tidak ada tapi-tapian!"
*
*
*
"Dia kira mudah apa mengambil sampel DNA kita!"timpal Lucas.
"Rekan kerja kita kali ini adalah rubah. Kalian berdua jangan lengah dan kecolongan ya. Lebih lagi, ular betinanya belum menunjukkan diri," pesan Kak Abi yang sedang menyetir.
"Understand, Aunty!"jawab Lucas dan Liam serentak. Kak Abi tersenyum. Lima belas menit kemudian mereka tiba di basement. Bertepatan dengan Jordan yang juga sepertinya baru kembali.
__ADS_1
Lucas dan Liam saling melempar pandang.
Sedetik kemudian, keduanya tersenyum smirk. "Aunty Abi, mau bekerja sama?"tawar Lucas.
Dan Kak Abi tidak bisa menolak walau belum tahu kerja sama dalam hal apa. Kak Abi bergidik, apa yang kedua anak ini rencanakan?
*
*
*
"Siapa yang membunyikan bel?"tanya Camelia bingung. Ia yang tengah berada di dapur mematikan kompor gas dan melepas apronnya. Camelia berpikir itu bukan Kak Abi, Lucas, Liam, atau Dion karena mereka semua tahu sandi pintu apartemen ini.
"Ya?"jawab Camelia setelah membuka pintu.
"Kau?" Camelia terkesiap mengetahui siapa yang membunyikan bel pintu.
"Kita bertemu lagi!"
"Ya, kita bertemu lagi. Saya penasaran dengan apa yang membawa Nona Gong ke apartemen sederhana saya ini," jawab Camelia dengan senyum manisnya.
__ADS_1