
"Ibu, aku mencintainya. Tolong restui kami."
Seorang wanita cantik menatap harap seorang wanita yang berusia dua kali dari usianya. Dilihat dari fitur wajahnya, wanita itu tidak lain adalah Nyonya Besar Ling.
"Pernikahanmu telah ditentukan, Xiayu!"
"Aku tidak mau, Ibu! Aku … aku sudah memilikinya," ucap wanita muda itu, menunduk dengan mengusap perutnya.
Nyonya Besar Ling membelalakkan matanya.
"LING XIAYU!!"teriaknya murka.
Wajahnya merah padam. Membuat Ling Xiayu gemetar takut.
*
*
*
"Xiayu … Xaiyu … mengapa namamu kembali muncul?" Nyonya Besar Ling berkata dengan lirih. Duduk di kursi dan menatap keluar jendela. Wajahnya suram, tatapannya menyimpan kesedihan.
"Padahal aku sudah hampir melupakanmu, melupakan kemarahan dan kesedihan atas perilakumu. Tapi, mengapa? Anak muda itu datang dan mengungkit tentangmu? Bahkan … dia nyam0 Alexander. Xiayu … Xiayu … apa bayi itu selamat sampai saat ini?"
Nyonya Besar Ling bermonolog. Berbicara pada malam yang larut. Angin berhembus besar, dingin menerpa wajahnya. Kelabu menyelimuti hatinya.
"Nenek, sebagai calon penerus, aku punya hak untuk tahu seluk beluk keluarga Ling. Entah itu prestasi atau aib!"
Teringat kembali penegasan Ling Lie, sebelum pergi meninggalkan ruangannya tadi. Di mana Nyonya Besar Ling tidak memberi jawaban.
"Hah!"
"Anak itu keras kepala. Apa yang harus aku lakukan?"
*
*
*
"Kakak, cecunguk itu tetap menunggu di luar gerbang. Apa perlu aku mengusir mereka pergi?" Ling Rui berkata dengan nada keras. Khas anggota gangster.
Ling Lie yang tengah menyesap rokok, menggeleng. "Biarkan saja."
"Kau pergilah tidur," titah Ling Lie.
"Apa kau masih memikirkan ucapan cecunguk itu? Lupakan saja, Kak! Cecunguk itu hanya membual!"
"Pergi tidur atau aku akan menidurkanmu!"ucap Ling Lie, dengan berteriak. Ling Rui terperanjat. Dan bergegas pergi.
"Dasar udang!"maki Ling Lie setelah Ling Rui keluar.
Untuk apa membual dengan keluarga Ling? Dilihat dari sikap dan orang yang dibawa, Ling Lie dapat melihat bahwa Dion sudah tahu siapa yang ia hadapi.
"Ada rahasia besar. Aku harus mengetahuinya!" Ling Lie bangkit, mematikan rokoknya kemudian keluar dari kamar.
*
*
*
Pagi telah datang. Dion membuka matanya dan keluar dari mobil. Merenggangkan lehernya. Rasanya pegal semalaman tidur di mobil. Kemudian melihat Tim X. Ada yang tidur, ada pula yang melakukan latihan kecil, dan beberapa pergi untuk membeli sarapan.
"Tuan Muda, sampai kapan kita menunggu di sini?"tanya salah seorang dari Tim X.
Dion menatap datar gerbang kediaman Ling. Satu malam mereka berada di depan. Namun, tidak ada reaksi dari keluarga Ling.
"Kita tunggu di sini," jawab Dion, mendudukkan dirinya di rerumputan.
Dion kemudian mengeluarkan ponselnya. Mengecek email dan pesan dari sekretarisnya. Kemudian mengirim pesan bahwa hari ini ia tidak akan ke kantor.
"Apa kita panggil Tim lain untuk menyerang keluarga ini?"
__ADS_1
"Jika memang tidak ada perkembangan. Kita akan melakukannya," jawab Dion. Negosiasi tidak bisa, maka harus gunakan kekerasan.
Keluarga ini sangat tertutup dan banyak media yang mencari informasi tentang mereka. Jika melihat kami di sini … aku yakin keluarga Ling tidak akan mengambil resiko baru.
*
*
*
Menjelang siang, belum ada juga pergerakan dari keluarga Ling. Dion dan Tim X berteduh di bawah pohon dengan tetap waspada.
Dalam hati Dion meragu. Apa benar keluarga ini tidak ada hubungannya dengan Ling Xiayu?
Juga, Dion tahu sudah ada beberapa orang yang mematai-matai mereka. Dion yakin, itu adalah media.
Bahkan mereka sudah makan siang. Namun, juga belum ada pergerakan. Tidak mungkin informasi dari kakaknya salah.
"Sebentar lagi!"ucap Dion saat Tim X kembali bertanya dan memberikan saran.
Dion menepis keraguannya. Ia optimis. Namun, jika tidak ada kunjung ada pergerakan jua, terpaksa harus menggunakan kekerasan.
Satu hari sudah mereka menunggu. Dion merasa kesal. "Tuan, sepertinya memang harus memakai cara gangster."
Dion menatap gerbang sejenak. Barangkali, ada tanda gerbang akan dibuka. Akan tetapi, rasanya itu hanyalah angan.
"Baiklah." Dion menyetujuinya. Mengangkat ponselnya untuk menghubungi Tuan Shane, meminta izin pada pria itu untuk menggunakan anggota Tim X yang tersisa di Kanada serta mengirim anggota tim lainnya.
Akan tetapi, baru beberapa deringan, terdengar suara dari gerbang. Semua menatap waspada. Gerbang itu terbuka. Pria tua yang menyambut mereka tadi malam, berdiri di depan mereka.
"Nyonya Besar memanggil Anda, Anak Muda," ucapnya dengan tersenyum.
Sudah datang?
"Halo, Dion. Ada apa?"
Dan setelah itu, panggilan Dion dijawab oleh Tuan Shane. "Tidak, Dad. Sudah teratasi," jawab Dion. Kemudian menutup panggilan.
"Ayo," ajak Dion pada Tim X. Salah satu dari mereka mengemudikan mobil masuk. Sementara Dion dan lainnya berjalan kaki.
"Nyonya Besar Ling ada di dalam. Anak Muda, silahkan Anda masuk sendiri," ucap pria tua itu.
"Sendiri?" Tim X saling pandang. Mereka tampak tidak setuju.
Namun, Dion mengangguk. "Tunggu saja di sini," titah Dion pada Tim X, sebelum masuk ke dalam bangunan itu.
Dion masuk, disambut dengan rak-rak berisi buku. Dalam sekali lihat, jelas bangunan ini adalah sebuah perpustakaan. Yang dibangun dengan gaya yang benar-benar kuno.
"Naiklah, anak muda!" Dion mendongak. Suara itu berasal dari atas. Di sana, Dion melihat Nyonya Besar Ling, juga Ling Lie.
Dion segera menapaki satu demi satu anak tangga.
"Dari mana kau tahu mengenai Xiayu dan Alexander?" Begitu Dion duduk, Nyonya Besar Ling langsung bertanya.
"Ah … Anda mengakuinya?"tanya balik Dion. Ia menarik senyum.
"Jawab pertanyaanku!"ucap Nyonya Besar Ling.
"Hei!" Ling Lie bangkit dan menekan bahunya. Dion melirik bahunya kemudian mendongak.
"Jika kau mau cepat selesai, jangan membuat pembicaraan berputar-putar!"ucap Ling Lie, memberi peringatan pada Dion, dengan menambah kekuatan menekan bahu Dion.
Dion menarik senyum miring. Mereka tidak sabar. Tapi, itu sakit.
"Okay. Tapi, tolong. Bahu saya tidak nyaman," ucap Dion.
Ling Lie mendengus. Ia kembali duduk.
"Salah satu keluargaku berkaitan dengan mereka. Jadi, aku ingin tahu siapa sebenarnya mereka. Dari keluarga mana dan bagaimana bisa seseorang yang penting bagiku itu masa lalunya terombang-ambing," jelas Dion.
Tidak menyebutkan nama Camelia dan hubungannya dengan Ling Xiayu secara spesifik. Namun, Dion yakin dua orang di depannya ini dapat menangkap maksud dari ucapannya.
"Siapa?"
__ADS_1
"Saya tidak bisa memberitahunya. Belum ada kesepakatan di antara kita," jawab Dion.
"Kau lupa ini wilayah siapa?!"ancam Ling Lie.
"Jika demikian, saya yakin hari ini saya tidak ada di ruangan ini." Dion telah menciptakan kondisi di mana saling membutuhkan. Membangkitkan kembali memori serta menaburkan bubuk rasa penasaran. Dan saat ini, kegusaran bersarang di hati mereka.
"Kau pikir aku tidak bisa membunuhmu?!"
"Hentikan, Ling Lie!" Nyonya Besar Ling berkata dengan sedikit berteriak.
"Kau ingin tahu yang sebenarnya, bukan? Maka diam dengarkan percakapan kami. Jangan anggarkan ototmu!"
Ling Lie terdiam. "Sial!" Mengumpat pelan.
"Orang yang kau cari adalah aib bagi keluarga Ling. Membicarakan mengenai mereka, membangkitkan kembali rasa malu dan terlukanya keluarga Ling. Apa yang kau tawarkan untuk hal itu, Anak Muda? Hal apa yang bisa menutupi rasa malu yang kau bangkitkan kembali itu? Bahkan nyawamu, rasanya kurang untuk hal itu!!"
Dion tertegun sesaat. Ling Xiayu adalah aib? Artinya, kakaknya juga bagian dari itu? Sebenarnya apa yang terjadi? Amarah hadir di hati Dion. Ia tidak senang mendengarnya.
"Jika dia adalah aib, maka akan saya tawarkan informasi mengenai bagian dari dirinya. Juga saya akan menundukkan kepala saya agar Anda dapat memberitahu saya, sebenarnya apa yang terjadi. Ketahuilah, aku tidak akan mengecewakan kalian. Nyawaku adalah jaminannya!!"
Dion menahan amarahnya. Ia berkata dengan tenang.
"Kau?" Ling Lie terkesiap. Menundukkan kepala? Dalam artinya itu mengakui seseorang atau tanda menyerah. Itu adalah hal yang sangat berat. Karena, bagi gangster lebih baik mati daripada kehilangan harga diri dengan menundukkan kepala.
Sebenarnya seberapa penting informasi itu? Hingga rela mempertaruhkan harga dirinya?!
"Apa yang kau maksud adalah bayi itu? Bayi itu bertahan sampai saat ini?"
"Bayi?" Wajah sangar Ling Lie kebingungan.
"Anda cerdas," puji Dion. Akhirnya terkuak.
Wajah Nyonya Besar Ling begitu gusar. Ada rasa tidak percaya di sana. Juga sorot mata yang sukar Dion artikan. Rasa bersalah? Senang? Atau marah?
"Orang yang sangat penting bagi saya adalah kemungkinan besar adalah bagian dari keluarga Ling. Yang berasal dari aib yang Anda katakan tadi. Jadi, bagaimana? Mau melanjutkannya?"tawar Dion. Karena, tujuannya telah tercapai. Memastikan apakah benar Ling Xiayu adalah bagian dari keluarga Ling di Xian. Hanya saja, rasanya masih kurang, itu belum tuntas.
"Kau tidak menipu kami, bukan? Kau akan mati jika melakukannya!" Ling Lie kembali mengancam.
"Ketahuilah, Tuan Muda Ling Lie, saya berasal dari keluarga bermartabat yang tidak ada untungnya menipu keluarga Anda. Yang saya butuhkan hanyalah kebenaran. Bukan harta benda ataupun kekuasaan!!"papar Dion.
"Huh! Darimana sebenarnya kau? Aku penasaran apakah kesombonganmu sebanding dengan latar belakangmu!"sinis Ling Lie.
"Anda serius ingin tahu?"sahut Dion.
"Ya! Aku ingin melakukan sparing!!"ucap Ling Lie.
"Hm … baiklah. Akan aku katakan. Aku berasal dari salah satu keluarga di benua Amerika, keluarga Shane!"ujar Dion.
"Dan aku adalah Dion Shane," lanjut Dion.
"Keluarga Shane?" Ling Lie bergumam. Nama keluarga yang sangat asing.
Nyonya Besar Ling juga ikut mengeryitkan dahinya.
Nyonya Besar Ling menyentuh kepalanya. Rasa pusing datang.
"Ugh!"
Bugh!
"Nenek!"
Tiba-tiba Nyonya Besar Ling tidak sadarkan diri. Ling Lie segera menggendong sang nenek dan berteriak memanggil dokter.
Dion mengernyitkan dahinya. "Apa terlalu banyak informasi dan memori tuanya di ambang batas?"gumam Dion.
"Mari, Anak Muda. Saya akan mengantar Anda ke kamar Anda," ujar pria tua itu. Masuk dan menyusul Dion diikuti dengan Tim X.
Dion mengangguk. "Apa yang terjadi, Tuan Muda? Apa Anda memukul wanita tua itu?"
"Aku akan mati jika melakukannya," sahut Dion dengan ketus.
"Saya rasa Anda memprovokasinya terlalu berat."
__ADS_1
Dion terkekeh pelan. "Maybe."