Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 159


__ADS_3

"Mom benar-benar tidur," ucap Liam, dengan nada pelan. Lucas dan Liam duduk di samping Camelia. Melihat wajah damai Camelia yang pulas dalam tidurnya.


"Eh? Ada lebam!"ucap Lucas, setengah memekik dan segera menutup mulutnya. Apalagi Liam melirik sinis padanya.


Nyonya Shane yang tadinya duduk di sofa beranjak mendekati ranjang. Menyibak rambut Camelia yang menutupi wajah.


"Astaga!" Nyonya Shane memekik.


"Oh … astaga! Lia! Lia! Wake up! Bagaimana bisa kau tidur dengan wajah seperti itu?!" Raut wajah panik langsung terpancar darinya.


"Mom berkelahi!"


"Dokter! Aku akan memanggil dokter!" Lucas bergegas keluar dari kamar. Sementara Camelia hanya bergumam tidak jelas. Ia tetap tertidur.


Meskipun bahunya diguncang, Camelia tidak membuka matanya. Hanya bergumam tidak jelas dan sesekali mendesis.


"Sepertinya bahu Mom juga cedera, Grandma," ujar Liam.


Mata Nyonya Shane membulat. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Wanita itu duduk lemas di tepi ranjang.


"Dari yang sebelumnya Grandpa katakan, kemungkinan besarnya adalah Mom terlibat perkelahian. Tadi, di luar juga banyak pengawal yang tidur, wajah mereka persis seperti Mom dan Grandpa yang kelelahan," papar Liam, sembari merapikan rambut Camelia.


Nyonya Shane mengernyit. "Jika Mom kalian seperti ini, artinya Dion …."


"Juga cedera seperti Mom!" Liam menimpali dengan menyela ucapan Nyonya Shane.


"Oh my God!!"


"Dokter sudah datang!" Lucas kembali, bersama dengan seorang dokter wanita.


"Nyonya, saya akan memeriksa Nona," ujar Dokter tersebut.


Nyonya Shane mengangguk. Ketiganya menunggu dengan tak sabar.


Sttt!


Camelia kembali mendesis. Matanya terbuka perlahan.


"Ada apa ini?" Bingung saat membuka mata, mendapati seorang wanita berjas putih sedang menyentuh wajahnya. Kemudian melirik ke samping ada kedua anaknya juga Nyonya Shane yang menatapnya cemas.


"Lucas? Liam? Mom?" Camelia segera bangkit.


"Mom! Mana saja yang sakit, Mom? Katakan pada kami!"ucap Liam, berkata dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ah? Memangnya Mom kenapa? Tidak ada yang sakit kok," ujar Camelia, mengelus rambut Lucas.


"Bohong! Mana mungkin tidak sakit?! Wajah Mom saja penuh lebam. Pasti bagian tubuh yang lain juga! Huhuhu…."


Lucas menangis. Air matanya bercucuran. Hatinya sakit melihat Camelia.


"Tidak. Ini tidak sakit. Cup-cup, Lucas, sudah ya …." Camelia panik. Dan tangis Lucas semakin kencang.


"Mom!" Liam memanggil kesal.


"Bagaimana bisa sikap Mom santai seperti itu?! Apa Mom tahu bagaimana perasaan kami saat tahu Mom pergi seorang diri? Apa Mom tahu seberapa khawatir kami? Apalagi Mom tidak bisa dihubungi dan datang ke kandang hewan buas! Apa Mom kira kami bisa tenang dan diam saja?!"


Camelia tertegun. Liam mengeluarkan kekesalannya. Dadanya naik turun dan matanya memerah. Liam menatap tajam Camelia.


"Dan sekarang! Mom mengatakan Mom baik-baik saja? Kami bukan anak kecil yang bisa dibodohi, Mom!!" Ya, itu terdengar kasar dan sarkas.


"Liam … Mom sungguh tidak …."


"Hentikan, Lia!"ucap Nyonya Shane. "Jangan berkata apapun lagi! Urus dulu lukamu baru kita bicara!" Berkata dengan tegas.


"I-iya, Mom." Camelia menunduk.


Dokter wanita itu kembali melanjutkan tugasnya.


"Apa di sini terasa sakit, Nona?"tanyanya sembari menyentuh bahu Camelia dan sedikit memberi tekanan di sana.


Camelia tidak menjawab. Namun, dari matanya yang terpejam, pasti jawabannya iya.


Dokter itu kembali memeriksa bagian tubuh yang lain. "J-jangan di sana!" Camelia menepis tangan dokter saat bagian perut diberi sedikit tekanan.


"Lihat! Itu yang kau katakan tidak apa-apa?! Jangan sok kuat, Lia! Rasa sakitnya tidak akan berkurang meskipun kau sembunyikan dari kami!"ketus Nyonya Shane. Wanita tua itu terlanjur kesal.


Camelia diam. Ia menunduk. "Maaf. Aku membuat kalian semua khawatir."


Nyonya Shane tidak menjawab. Menyuruh dokter kembali memeriksa. Tangis Lucas sudah mereda. Tapi, anak itu masih sesenggukan. Sementara Liam menyeka sudut matanya.


"Nona, baju Anda tolong dilepas agar saya mudah menangani cederanya," ujar dokter.


"Ah?" Camelia mendongak, kemudian menatap Lucas dan Liam.


"Lucas, Liam, keluarlah sebentar," ucap Nyonya Shane. Mengerti apa yang Camelia inginkan.

__ADS_1


"T-tapi …." Lucas enggan.


"Sebentar saja, ya?"bujuk Camelia. Pada akhirnya Lucas dan Liam mengangguk.


Setelah Lucas dan Liam keluar, Camelia membuka bajunya. Nyonya Shane membelalakkan matanya.


"Nona … ini …."


"Aku tidak sengaja beberapa kali terkena serangan," jawab Camelia, tersenyum simpul.


"Ini yang kau katakan tidak sakit, Lia?!"


"Ini tidak begitu sakit, Mom. Dion lebih dari ini," sahut Camelia.


"Kalian?!" Nyonya Shane tidak bisa berkata-kata lagi.


*


*


*


Dokter menyarankan agar Camelia melakukan pemeriksaan internal. Untuk mengetahui apakah ada luka dalam atau tidak. Camelia menyetujuinya. Namun, tidak sekarang.


Selesai memeriksa Camelia, dokter keluar untuk memeriksa Dion, bersama dengan Nyonya Shane. Lucas dan Liam menemani Camelia.


"Bagaimana, Mom?"tanya Lucas, masih dengan sorot mata khawatir. Camelia menggeleng.


"Sudah tidak begitu sakit."


"Mom harus janji ini yang terakhir kalinya!"tegas Liam.


"Mom tidak boleh menanggungnya sendiri! Ada kami. Mom, kami adalah perisai Mom! Kami akan melindungi Mom! Jadi, kami harap Mom tidak menyembunyikan apapun apalagi melakukan hal berbahaya seperti malam tadi sendirian!!"papar Liam. Anak itu menatap serius Camelia. Wajahnya meminta Camelia untuk berjanji.


"Itu benar! Kami adalah anak laki-laki Mom!"imbuh Lucas.


"Jadi, kalian mau Mom berjanji untuk Mom tidak menyembunyikan apapun juga melakukan hal berbahaya sendirian? Apakah kalian mau ikut di dalamnya?"tanya Camelia, ingin memperjelasnya.


Lucas dan Liam mengangguk membenarkan. "Kalau begitu kalian juga harus berjanji pada Mom, kalian tidak akan memberitahu ayah kalian mengenai hal ini!"


"Hah?" Kedua anak itu saling pandang. Tidak menduga itu yang akan Camelia katakan.


"Okay?" Camelia meminta keputusan.


"Alright." Keduanya menyetujuinya. "Tapi, mengapa Mom?"tanya Lucas, penasaran.


"Ya?" Camelia tersenyum. Lucas dan Liam saling lirik, masih belum mengerti mengapa. Padahal kan Andrean adalah ayah mereka dan juga 'pacar' Mom mereka.


*


*


*


Dion merasa terganggu saat ada yang menepuk bahunya juga memanggil namanya. Suara yang familiar.


"Ehm … Mom?" Saat membuka mata yang pertama ia lihat adalah wajah Nyonya Shane. Yang menatapnya cemas dengan mata sudah sembab.


"Ada apa, Mom? Mengapa Mom menangis?" Dion langsung bangkit.


"Mom tidak akan memaafkan mereka!" Kedua tangan Nyonya Shane mengepal.


"Beraninya mereka melukai kalian!!"


Dion mengerutkan dahinya. Mengapa Mom nya sangat kesal seperti itu?


"Tuan Muda, di tubuh Anda terdapat banyak memar. Di wajah Anda juga. Saya sarankan kita ke rumah sakit untuk pemeriksaan menyeluruh." Dion memalingkan wajahnya.


"Bagaimana Anda bisa tahu?"tanya Dion.


"Anda tidak pakai baju," jawab Dokter, menunjuk Dion.


"Ah … bagaimana bisa aku lupa?"gumam Dion. Nyonya Shane pasti melihatnya dengan jelas. Mau berkilah tidak bisa. Dion hanya tertawa sambil menggaruk pipinya.


"Keluarga itu cari mati!" Sekali lagi Nyonya Shane mengeram.


"X!" Tiba-tiba saja Nyonya Shane berteriak.


Itu adalah panggilan untuk Tim X. "Nyonya besar!" Tim X langsung menghadap.


"Kumpulkan semua! Musnahkan keluarga itu!" Memberi titah.


"Baik, Nyonya!" Tim X langsung menyetujuinya.


"Tunggu, Mom!"tahan Dion. Bisa kacau kalau perintah itu terlaksana.

__ADS_1


"Ada apa? Kau mau mencegah Mom?" Nyonya Shane menjawab galak.


"Sepertinya itu tidak perlu dilakukan, Mom," jawab Dion. Raut wajahnya harap-harap cemas.


"Tidak! Mom akan melakukan! Mereka harus menerima akibat dari menyakiti keluarga Shane! Selain itu, Dion kau kira Mom tidak akan membuat perhitungan terhadapmu dan kakakmu?!"


Dion menelan ludahnya.


Gawat! Mom marah besar!


Dion memekik dalam hati. Marahnya Nyonya Shane lebih mengerikan daripada Tuan Shane.


Dion turun dari ranjang. "Mom, itu tidak perlu. Masalahnya sudah selesai. D-dan mereka itu adalah keluarga kandung kakak dari pihak Ibu."


"Diamlah! Kau rawat saja lukamu! Hasil tindakanmu tanpa memberitahu Mom!"ketus Nyonya Shane. Wanita itu keluar setelah menyuruh dokter menangani luka Dion.


Luka-luka itu sebelumnya sudah ditangani saat di keluarga Ling. Namun, tetap saja harus ditangani kembali.


"Bagaimana ini?"


"Daddy! Daddy pasti bisa menghentikan Mom!"


Dion langsung berlari meninggalkan kamar. Bahkan dokter saja belum menyentuh dirinya. Sang dokter mengerjap matanya.


"Pagi yang kacau!" Dokter itu menepuk dahinya.


Pagi itu benar-benar kacau. Apalagi Nyonya Shane telah siap mengumpulkan seluruh pengawal yang dibawa. Dan wanita itu kembali menggerutu saat tahu banyak yang terluka dan ada juga yang gugur.


Sementara itu, Dion membangunkan Tuan Shane.


"Ada apa?" Tuan Shane menjawab tanpa membuka matanya. Suaranya serak.


"Dad! Gawat! Mom mau menyerang kediaman Ling!"


"Ahhhh…."


"APA?!"


Tuan Shane langsung bangun. "Apa katamu tadi?"


"Mom! Mom mau menyerang kediaman Ling!!


"Oh God!" Gegas pria tua itu keluar dari kamarnya. Diikuti oleh Dion.


"Ayo berangkat!" Di luar, Nyonya Shane memberi perintah untuk berangkat.


"Hentikan, Lily!"


"Suamiku, kau sudah bangun?" Wajah Nyonya Shane berubah menjadi sumringah.


"Apa yang akan kau lakukan? Menyerang keluarga Ling? Jangan gegabah, Lily!"


"Jangan menghentikanku, suamiku. Mereka harus membayar…."


"Sudah, cukup!" Tuan Shane menarik sang istri dalam pelukannya. Satu tangannya memberikan kode pada pengawal untuk bubar.


Para pengawal itu saling pandang. Dan hanya bisa menurut.


Dion sedikit bernafas lega.


"Mengapa kau melarangku? Apa kau tidak marah melihat anak-anak kita terluka?!"


"Aku marah. Tapi, kita tidak perlu melakukan hal ini! Ini … terlalu rendahan, Lily. Ayo lakukan tanpa ada darah. Kau tahu bukan, aku tidak suka darah. Kau juga, Lily. Jadi, ayo gunakan cara tanpa kekerasan, okay?"


"Hah?" Dion terhenyak.


"Mom? Dad?"


Kedua orang tua itu menjawab dengan tersenyum.


"Bagaimana dengan menjadikan mereka bawahan kita? Aku dengar mereka keluarga gangster. Cocok digunakan jika kita kesulitan," saran Nyonya Shane. Tampaknya ia menerima apa yang Tuan Shane katakan.


"Boleh juga."


Astaga! Aku salah percaya pada Daddy. Mereka sama saja, runtuk Dion dalam hati.


"Aku akan menemui Kakak," putus Dion. Namun, baru saja Dion melangkah beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya.


"Tapi … mengapa juga aku harus mencegahnya? Mereka berani melukai kakak. Aku harus membalasnya. Selesai kakak berziarah, hehehe…."


Bukankah mereka sama saja?


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2