
Nyonya Liang menghela nafas pelan sebelum masuk ke dalam rumah sakit tempat Tuan Liang dirawat. Melangkah menuju lift dan naik ke lantai kamar rawat Tuan Liang.
"Nyonya."
Nyonya Liang disambut oleh pelayan yang ditugaskan menjaga Tuan Liang di saat Nyonya Liang tidak ada. Nyonya Liang mengangguk singkat. Menatap sang suami yang tampak nyenyak tidur.
"Sudah ada kunjungan dokter?"tanya Nyonya Liang.
"Sudah, Nyonya. Kata dokter, Tuan harus bed rest selama beberapa hari ke depan kemudian tidak boleh melakukan aktivitas berat dan mendengar kabar tidak mengenakkan," jawab pelayan tersebut.
"Saya mengerti. Kau boleh istirahat," balas Nyonya Liang. Pelayan tersebut mengangguk kemudian keluar dari kamar.
Nyonya Liang kemudian duduk di sofa. Menatap sekeliling. Sedikit menghela nafas lega karena Tuan Liang tidak mendengar kabar terbaru tentang Rose Liang. Jika tidak, niscaya serangan jantung pasti akan kembali menghampirinya. Dan mungkin keadaannya akan jauh lebih parah.
Sebenarnya pun, Tuan Liang enggan lagi mendengar apapun tentang Rose. Bahkan selama dirawat, pria itu tidak menanyakan tentang Rose. Rasa kecewa sudah sangat memenuhi hatinya.
"Ahh … meskipun saat ini kau belum mendengarnya, aku yakin di dalam hatimu sudah ada penyesalan. Bagaimana jika kau mendengarnya nanti? Isu perselingkuhan Rose saja kau sudah begini, bagaimana jika kau mendengar bahwa putri kandung kita adalah orang yang menyakiti Jasmine kita? Aku saja tidak sanggup bagaimana denganmu?"gumam Nyonya Liang.
Merasa tertekan. Nyonya Liang menunduk. Air mata Nyonya Liang kembali tumpah.
"Emm … Susan? Kau sudah datang?" Nyonya Liang mendongak. Tuan Liang sudah bangun, mungkin karena tangisan Nyonya Liang.
"Suamiku, kau sudah bangun? Apa aku membangunkanmu?"tanya Nyonya Liang dengan buru-buru menghapus air matanya dan menghampiri Tuan Liang.
"Kau menangis?"tanya Tuan Liang, dengan menatap selidik sang istri. Nyonya Liang hanya tersenyum. Mau mengelak? Mata merahnya terlihat jelas.
"Menangisi apa? Aku yang sakit atau anak tidak tahu diri itu?"tanya Tuan Liang lagi. Dari dua pilihan itu, wajah Tuan Liang menunjukkan rasa tidak suka.
Dengan masih sesenggukan, Nyonya Liang menggeleng. "Bukan menangisimu atau Rose. Aku hanya menangisi nasib buruk keluarga kita. Aku malu pada leluhur. Rasanya kelak aku tidak akan sanggup untuk bertemu dengan mereka," jawab Nyonya Liang.
Mendengar itu, Tuan Liang mendengus pelan. "Tidak ada yang perlu ditangisi. Semua sudah terjadi," ucap Tuan Liang, dingin.
"Bagaimana bisa aku tidak menangis? Hidup kita hampa, anak kita juga mengecewakan. Kepada siapa aku mengadu? Aku hanya bisa menangis untuk melegakan perasaanku," sergah Nyonya Liang, tidak sependapat dengan apa yang Tuan Liang katakan.
Tuan Liang diam tidak membalas. "Setidaknya aku tidak sepertimu. Yang menyembunyikan perasaanmu hingga berujung penyakit," imbuh Nyonya Liang kemudian dengan ketus.
"Sudahlah. Jangan dilanjutkan lagi." Kepala Tuan Liang mulai pusing.
"Daripada kau memarahiku lebih baik kau hubungi Nona Camelia, barangkali ia ada waktu untuk menjengukku," ucap Tuan Liang. Nona Liang sedikit melebarkan matanya.
"Apa yang kau katakan?"
"Aku ingin dijenguk oleh Nona Camelia," jawab Tuan Liang, mengulang perkataannya.
Nyonya Liang terdiam beberapa saat. Kemudian ia tertawa terbahak. "Apa aku tidak salah dengar? Kau memintanya untuk menjenguk? Atas dasar apa?"tanya Nyonya Liang.
__ADS_1
Lima tahun ia menahan untuk tidak menyalakan suaminya atas kepergian Jasmine dan Dion dulu. Namun, dengan pecahnya kasus Rose dan Jordan, amarah dalam dadanya meledak. Nyonya Liang tertawa sinis. Hal itu membuat Tuan Liang menatap rumit istrinya. Hatinya gusar, ada perasaan tidak nyaman.
"Karena dia mirip dengan Jasmine?"tanya Nyonya Liang kemudian.
"Andai kata dia datang, apa yang hendak kau katakan padanya? Kau mirip putriku? Maukah kau jadi putriku? Atau apa? Bercerita tentang pengusiran itu? Atau apa?!" Seorang ibu yang menahan luka atas kepergian kedua anaknya. Dan itu karena ulah satu anaknya dan atas ketidakpercayaan sang suami yang tega mengusir Jasmine dulu.
Tuan Liang membuka bibirnya. Namun, tidak ada yang keluar dari sana. Tidak ada pembelaan. Artinya, ia merasa itu semua benar.
Tuan Liang menunduk. "Maaf." Satu kata keluar dari bibirnya.
"Putri yang kita rawat sejak kecil, yang kau dan aku didik dengan baik, hanya karena satu kesalahan kau tidak percaya padanya? Bahkan kau tega mengusirnya di saat demikian!!"
Emosi dan perasaan kesal menguasai Nyonya Liang. Tidak terpikir lagi penyakit jantung Tuan Liang. Fokusnya adalah melampiaskan isi hatinya.
"Maaf. Maafkan aku." Tuan Liang semakin tertunduk. Dan terlihat tetes air mata membasahi selimut.
"Jujur saja aku bangga pada putraku. Dia mampu membedakan mana yang benar dan salah. Dan jujur saja, aku merasa kurang beruntung memiliki anak seperti Rose! Sekarang aku tidak peduli lagi padanya. Aku tidak peduli lagi, kau dengar itu!!" Tidak peduli, Tuan Liang marah atau tidak. Yang penting beban di hatinya hilang.
"Aku tahu. Ini salahku. Aku sudah buta!" Tuan Liang menangis dan memohon. Ia tahu, ia sendiri yang membawa hal tidak baik dalam keluarganya. Ini memang salahnya, ia gagal menjadi kepala keluarga dan juga seorang ayah.
Nyonya Liang kini bersimpuh di lantai. Dan juga menangis. Rasanya lebih lega setelah mengeluarkan unek-uneknya.
Suami istri itu menangis, menyesali kekeliruan mereka.
Hah…
Hah…
Hah…
"Suamiku!" Buru-buru ia menghampiri sang suami dan membunyikan bel memanggil dokter.
"Sakit … sakit sekali," rintih Tuan Liang dengan meremas dada kirinya.
"Suamiku, maafkan aku …." Nyonya Liang panik. Tak lama kemudian dokter tiba dan segera menangani Tuan Liang.
Nyonya Liang berdiri di dekat sofa. Wajahnya begitu pias. Tak lama kemudian, dokter selesai menangani Tuan Liang. Tuan Liang tampak tak sadarkan diri, mungkin diberi penenang.
"Nyonya, kondisi Tuan Liang belum stabil. Tolong dijaga perasaannya untuk mempercepat penyembuhan," tutur Dokter.
"Baik, Dok."
"Kalau begitu saya permisi."
Setelah dokter pergi, Nyonya Liang duduk di samping ranjang Tuan Liang. Diraihnya jemari sang suami, mengecupnya lembut. "Maafkan aku. Aku marah padamu tanpa melihat kondisimu. Aku mohon, cepatlah sembuh." Dan pada akhirnya menyesal.
__ADS_1
"Aku akan penuhi keinginanmu tadi. Aku akan minta Camelia kemari, menjengukmu."
Nyonya Liang segera mengambil ponselnya dan menghubungi Camelia. Setelah beberapa kali deringan, akhirnya dijawab di ujung sana. "Hallo, Ibu," jawab Camelia.
"L-Lia." Namun, rasanya ragu untuk mengatasinya.
"Iya, Ibu. Ada hal apa Ibu menghubungiku?"tanya Camelia. Nada bicaranya seperti biasa. Hangat dan bersahaja.
"Itu …."
"Ibu, merindukanmu," jawab Nyonya Liang dengan memejamkan matanya.
"Ah … begitu rupanya. Nanti sore aku akan menjenguk Paman. Bersama dengan Dion. Jadi, kita akan bertemu, Ibu," ujar Camelia.
"Sungguh?" Wajah Nyonya Liang langsung sumringah.
"Iya, Ibu. Ah … Ibu ingin apa? Atau Paman ingin apa? Nanti biar Lia belikan," tawar Camelia.
"Tidak. Tidak ada. Kamu datang saja Ibu sudah sangat senang," jawab Nyonya Liang, dengan menyeka sudut matanya.
"Kalau begitu sampai nanti, Ibu."
"Ya."
Panggilan berakhir. Nyonya Liang tersenyum. "Jika benar dia Jasmine. Maka, aku tidak akan terkejut. Ia masih hangat seperti dulu," gumam Nyonya Liang.
*
*
*
"Kakak." Dion mengetuk pintu kamar Camelia. Yap, Dion kembali ke Beijing.
Tak lama kemudian, pintu kamar Camelia terbuka. Penampilan Camelia begitu rapi. Dengan menggunakan dress berwarna putih gading dengan list hitam merah di bagian pinggang dan sedikit list hitam pada ujung lengan, Camelia keluar kamar dengan menyeret koper.
"Kita ke kantor polisi dulu, lalu ke rumah sakit menjenguk ayah kemudian kembali ke Kanada," ucap Camelia pada adiknya. Ya, hari ini Camelia berencana langsung kembali ke Kanada setelah menyelesaikan semuanya.
"Kita tidak akan mengaku pada ayah dan ibu?"tanya Dion, yang juga sudah siap dengan tas ransel di tangannya.
"Tidak." Camelia menjawab singkat.
"Kita hanya akan berpamitan," lanjut Camelia.
"Baiklah," jawab Dion. Mengikuti keinginan sang kakak.
__ADS_1
"Ayo," ajak Camelia seraya menggunakan kacamatanya.
Dion mengikut keluar setelah memastikan semua ditinggalkan dalam keadaan aman. Karena entah kapan lagi mereka akan kembali ke negeri ini.