Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 166


__ADS_3

"Tuan pukul 13.30 nanti Anda ada janji bermain golf dengan …." Belum selesai Hans menyelesaikan ucapannya, Andrean memotong dengan mengangkat tangannya.


"Batalkan semua jadwalku," ucap Andrean. Pria itu meninggalkan kursi kebesarannya menuju kamar.


"Tuan?"


Hans mendesah pelan. "Apakah semua workaholic akan berubah saat mengenal cinta? Lagi? Bukankah ini berlebihan? Come on, Nona Camelia bukan orang yang stay pada ponselnya. She is busy! Dan di sana ini juga tengah malam. Tuan, Anda melakukan hal yang sia-sia." Hans mengomel kesal.


Pekerjaannya jadi bertambah. Menghubungi satu persatu pihak untuk mengatur ulang jadwal. Dan harus kembali mengatur jadwal hari esok dan setelahnya yang sudah Hans atur sebelumnya.


"Menyebalkan!"


"Ahhhh! Aku ingin berhenti!!"


Frustasi kembali menghampiri Hans. Ia menjadi bertanya-tanya, bagaimana jika Andrean dan Camelia menikah nanti? Kehidupan seperti apa yang akan ia jalani?


Belum menikah saja dengan hubungan jarak jauh sudah sangat tersiksa. Hans ragu jika ia akan lebih baik jika Andrean dan Camelia sudah menikah.


"Apakah aku akan menyaksikan kebucinan mereka? Kemesraan mereka? Setiap hari? Oh No! Aku bisa gila!!"


Hans menjadi overthinking.


"Pada akhirnya aku yang akan ditumbalkan. Akan tetapi, mana mungkin aku menghalangi kebahagiaan Tuan."


Hans menghembuskan nafas berat. Sungguh, bukan hal mudah menjadi sekretaris. Terutama sekretaris Andrean, pimpinan dari agensi terbesar di China, Starlight Entertainment.


Ucapan ingin berhentinya juga tidak akan terlaksana. Andrean dan Hans adalah pasangan yang cocok. Hans adalah orang yang sudah terbiasa menghadapi cara kerja juga jam kerja Andrean. Begitu juga dengan dirinya.


Terhitung sudah 10 tahun ia mengabdi pada Andrean. Itu waktu yang lama. Dan sejujurnya, bukan masalah wanita yang membuat Hans frustasi. Akan tetapi, karena Andrean sudah bucin. So, jika pesannya tidak dibalas atau tidak disemangati ayang, semangat kerjanya akan hilang entah kemana. Contohnya saja hari ini, kembali terulang lagi.


Hans yakin, Tuannya tidur dengan menggumam resah.


Huft!


"Aku akan sekretaris terbaik Tuan!"


Hans menghubungi seseorang. "Tuan, Anda harus berterima kasih pada saya. Saya akan meminta sesuatu pada Anda."


*


*


*


"Haruskah aku terbang ke Kanada? Aku sangat merindukannya. Aku ingin memeluknya. Menciumnya."


Andrean terus bergumam. Jasnya sudah ditanggalkan. Dua kancing atas kemejanya terbuka. Rambutnya berantakan. Tatapannya begitu resah dan gelisah.


"Jika aku hubungi, apa akan dijawab? Dia masih sibuk atau sudah tidur? Bagaimana jika Lia terganggu? Bagaimana jika tidurnya kurang? Ahhh … sial! Bagaimana ini? Aku akan gila menahannya!"


Bergumam dan menggerutu. Semangat menjalani hari menguap pergi. Padahal tadi pagi, ia begitu bersemangat. Bermimpi melewatkan malam bersama. Kemesraan yang bahkan masih melekat jelas dalam hati dan pikirannya. Namun, hal itu malah menganggunya. Membuatnya tidak tenang. Apalagi pesannya tak kunjung dibalas.


"Lia … ini menyiksaku." Masih bergumam. Mata Andrean terasa berat. Saat matanya hendak menutup sempurna. Suara dering ponsel mencegahnya.


Nada dering itu….


Andrean langsung meraba-raba. Mencari di mana ponselnya berada.


Ia hafal benar nada dering itu. Nada dering khusus untuk Camelia.


"Gotta!"


Seakan hujan di tanah tandus, wajah Andrean langsung berseru.


"Lia!" Tanpa sapaan, langsung memanggil Camelia dengan berseru. Rasanya, kerinduan di hati langsung menyeruak keluar.


"Aku tidak tuli, Rean." Disambut ketus oleh Camelia. Ya, itu salah satu yang Andrean rindukan. Nada ketus, yang terkadang malas.


"Aku dengar dari sekretarismu, kau malas-malasan. Apa benar seperti itu?"


Nada kesal yang membuat Andrean candu. Bukankah menyenangkan jika setiap hari ada yang mengingatnya untuk bekerja dengan giat? Tentu saja bukan Hans. But, Camelia.


"Wait. Hans menghubungimu? Berani sekali dia!"


"Hei-hei, Mr. Gong. Bukankah ini kau yang inginkan?"sahut Camelia. Kembali dengan nada ketusnya.


"Hanya aku yang menginginkannya?" Serasa ada yang menusuk. Andrean menyentuh dadanya.


"Aku takut mengganggu pekerjaanmu," ujar Camelia kemudian. Tidak lagi ketus. Melainkan lemah. Cepat sekali perubahannya.


"Saat aku membaca pesanmu, di sana sudah jam kerja. Berdasarkan pengalamanku selama ini, kau akan fokus berbalas pesan padaku ketimbang pekerjaanmu. Selain itu, aku juga lelah. Jadi, sebelumnya aku putuskan untuk membalas pesanmu besok pagi. Tapi, perkiraanku meleset," terang Camelia.


Andrean mendengarkan dengan seksama. Tidak ada yang aneh dengan penjelasan itu. Begitulah realitanya.


"Pekerjaan menyebalkan!" Andrean kembali bergumam kesal.


"Sebenarnya aku juga takut menghubungimu. Aku tahu kau pasti lelah. Aku tidak mau mengganggu waktu istirahatmu. Tapi, beraninya sekretaris sialan itu mengganggu waktu tidurmu?!"


Gawat! Sepertinya Hans akan berada dalam masalah lagi. Wajah Andrean memerah kesal. Lagi, kembali menggumam kesal.


Aku saja tidak berani mengganggunya, dia malah mengadukanku padanya!


"Sudahlah. Intinya kau senang, bukan? Jangan salahkan sekretarismu itu. Selain itu, aku juga sudah tidur tadi. Jadwalku besok juga agak siangan. Jadi, tidak ada masalah," jelas Camelia.


Andrean manggut-manggut. Mereka terus mengobrol. Seputar keseharian dan juga keluarga.


"Fufu … benarkah?" Camelia tertawa.


"Itu benar. Akan aku tunjukkan nanti padamu."


"Baiklah-baik. Aku akan menunggunya. Omong-omong, Rean. Aku menyukai kenarsisanmu."


"Aku juga."


"Hah?"


"Hahaha … lupakan saja."


Begitulah. Waktu telponan itu tidak singkat. Lebih dari 30 menit. Bagi keduanya, itu waktu yang teramat singkat.


Ah … itu bukan hal baru. Sudah sangat lazim.


*


*


*


"Hans."


Hans langsung datang menghadap begitu namanya dipanggil.

__ADS_1


Hans tersenyum lebar.


"Kerja bagus!"puji Andrean. Hans mengangguk.


"Kalau begitu Tuan, mari selesaikan berkas-berkas ini," ucap Hans, merujuk pada tumpukan berkas di meja kerja Andrean.


Andrean tersenyum. "Karena kau sangat memperhatikanku. Sekretaris Hans, tolong gantikan aku menyelesaikannya. Aku akan pulang ke istana," ujar Andrean. Dengan santainya langsung melenggang pergi. Tanpa mempedulikan wajah Hans yang shock berat.


Hans kebingungan. Bukankah itu sudah membantu Andrean menyelesaikan gundah gulananya?


Tapi, mengapa pekerjaan Andrean diserahkan padanya.


Apa yang salah?


Apa ia melakukan kesalahannya?


Tapi, bukankah ia tadi dipuji?


"Tunggu, apa mereka bertengkar?"


Ah … tidak peduli apa, tapi yang pasti tumpukan berkas itu melambai untuk segera disentuh.


"Uh! Sebaiknya aku berhenti saja."


*


*


*


Rasanya lega. Juga nyaman. Ada sesuatu yang hilang.


Camelia mengulas senyum lebar. "Penyakit narsis memang tidak ada obatnya. Ah … aku mengakuinya. Asal jepret saja hasilnya sangat bagus."


Camelia menatap foto terbaru Andrean. Selfie dengan senyum menawan dan rambut berantakan. Percayalah, itu lebih tampan. Apalagi dua kancing kemeja atas yang terbuka. Dada bidangnya mengintip manja, semakin menambah keseksian Andrean.


"Selamat malam, Rean." Camelia meletakkan ponselnya.


*


*


*


Tak terasa tiga minggu telah berlalu. Camelia melewatkan waktu syuting dengan tenang tanpa gangguan. Meskipun demikian, Camelia tetap waspada.


Sementara itu, rumor pacaran Joseph dan Alice semakin mencuat. Hal itu didukung dengan postingan Alice. Meskipun tidak langsung menunjukkan foto Joseph. Namun, netizen memiliki mata elang.


Tapi, seperti kebanyakan para artis, mereka memilih diam. Tidak memberikan komentar apapun.


Dengan siapa Nona berbalas pesan? Sampai senyum-senyum sendiri seperti itu, batin Evelin. Mengerutkan dahinya penasaran.


"Aduh … imutnya."


Belakangan ini Nona selalu asyik dengan ponselnya saat bangun dan sore hari. Apa mungkin dengan keluarga? Atau … apa Nona punya pacar?


Evelin menerka. Evelin hanya mengurusi pekerjannya. Urusan pribadi Camelia, ia sama sekali tidak tahu menahu. Apalagi jika Camelia berkomunikasi dengan bahasa yang tidak ia mengerti, Mandarin misalnya. Camelia juga tidak begitu terbuka padanya.


"Evelin."


Evelin tersadar saat dipanggil.


"Saya, Nona."


"Baik, Nona."


Suasana hati Nona sangat bagus hari ini. Semoga sampai pulang tetap seperti ini, harap Evelin.


Bekerja dengan atasan yang memiliki suasana hati bagus memang lebih menyenangkan ketimbang yang sedang badmood.


Tapi, bunga untuk apa ya?


Evelin kembali bertanya-tanya.


*


*


*


"Suasana hati Anda sepertinya sangat baik hari ini," ujar Joseph. Camelia menganggukinya.


Rasanya muak harus berinteraksi dengan Joseph. Apalagi Camelia mengungkap rencana busuknya. Ya, meskipun hanya ia sendiri dan beberapa yang terlihat yang tahu.


Menanggapi Joseph hanyalah formalitas semata. Ia adalah seorang aktris besar. Gerak-geriknya selalu diawasi.


"Apa karena kita akan beradegan ciuman lagi?"tanya Joseph dengan serius.


"Apa?" Camelia melotot kesal. Manusia di depannya ini semakin tidak tahu malu.


"Haha … saya hanya bercanda," lakar Joseph. Ia tertawa.


"Tolong jangan buat saya kesal!"tegas Camelia.


"Maaf. Maafkan saja. Anda sangat cantik. Saya tidak tahan untuk menggoda Anda," jawab Joseph.


"Ugh!" Tatapan muak terlihat jelas.


Aku tidak akan ambil proyek lagi dengannya, batin Camelia.


"Hehe … saya merasa punggung saya dingin. Sepertinya ada yang panas melihat kita. Lain kali harap jaga jarak. Karena di sini …." Camelia mendekatkan wajahnya. Joseph memejamkan matanya. "Ada pacar Anda," bisik Camelia.


Alice?


Joseph langsung membuka matanya. Dan Joseph melihat punggung Camelia menjauh.


Joseph mengedarkan pandangnya. Mencari keberadaan Alice di sekitarnya. Namun, tidak ia jumpai.


*


*


*


"Bukankah kau berjanji padaku untuk tidak dekat-dekat padanya kecuali saat adegan?"protes Alice. Selesai Joseph melakukan adegannya dengan Camelia, Joseph hendak kembali ke ruangannya. Namun, sebelum tiba, ia ditarik oleh Alice.


"Aku melakukannya," jawab Joseph.


"Tidak. Aku lihat kau menggodanya tadi." Rupanya benar Alice melihatnya tadi.


"Joseph, tolong jangan dekati wanita lain. Sebagai pacarmu aku cemburu. Selain itu, aku mulai bosan dengan kata rumor. Hubungan kita sudah satu bulan, ayo umumkan hubungan kita yang sebenarnya," ajak Alice. Wajahnya begitu menghadap pada Joseph.

__ADS_1


Joseph tersenyum. Mengusap bibir Alice dengan ibu jarinya.


"Apa aku harus mengulang kata-kataku lagi?" Berbisik pada Alice dengan dingin.


"T-tapi, kita …."


"Jika kau ingin, pergilah denganku nanti malam." Sebelum pergi, Joseph mengecup bibir Alice sekilas.


"Sial!" Alice mengigit bibirnya.


UPS … sepertinya aku melihat yang tidak seharusnya.


*


*


*


"Em … Nona," panggil Evelin.


"Hm?" Camelia menoleh.


Saat ini, mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Ada apa, Eve?" Sudah disahut. Tapi, tidak kunjung mengatakan apapun.


"Menurut Nona, Tuan Joseph bagaimana?"tanya Evelin.


Pantas lama. Ternyata hal yang tidak begitu penting. Mungkin, Evelin ragu untuk mengatakannya.


"Mengapa kau menanyakannya?" Camelia melipat majalahnya. Sorot matanya berubah dingin.


"Nona, jangan balas pertanyaan dengan pertanyaan," protes Evelin. Bibirnya mengerucut.


"Buruk."


Evelin terkesiap sesaat. Kemudian mengangguk kecil. "Saya juga setuju dengan Anda. Tadi saya melihat sesuatu yang menarik," cerita Evelin.


"Menarik?" Camelia lebih tertarik dengan alasan mengapa Evelin setuju dengannya.


"Jika benar pacaran, untuk apa terus bungkam. Di lokasi syuting malah main petak umpet. Lalu, sibuk mendekati Nona. Setiap hari, tidak pernah absen mencari perhatian Nona. Padahal, Nona sudah memasang tembok Cina untuk itu. Bukankah itu buruk dan menyebalkan?"


"Wow." Camelia berdecak. "Aku kira kau hanya fokus pada rupa."


"Jika rupa mendukung sifat tidak, maaf saja. Saya tidak pantas untuk pria ba*jingan!"


"Daebak!" Camelia bertepuk tangan.


"Omong-omong apa kau yang lihat tadi?"tanya Camelia.


"Mereka berciuman. Tapi, tampaknya juga bertengkar."


"Hm … begitu."


Baru lihat mereka berciuman saja sudah seperti ini, bagaimana jika melihat yang lebih besar?


Camelia bertanya-tanya.


"Saya baca komentarnya, banyak yang mendukung hubungan mereka. Jika perilaku seperti itu, benar-benar hubungan yang toxic." Evelin kembali berdecak.


"Apa kau ingat gosip yang pernah kau sampaikan waktu itu, Eve?"tanya Camelia.


"Jika ingat, kemungkinan itulah jawabannya."


"Nona, saya akan menjaga Anda dari pria seperti itu!"


Camelia tertawa. "Baik-baik. Aku menunggu performamu."


Tak berapa lama kemudian, mobil berhenti di toko bunga. Camelia turun untuk membeli bunga. Evelin turut mengikuti.


"Tolong satu bucket mawar merah," ujar Camelia pada penjaga toko.


"Mohon tunggu sebentar, Nona."


Sembari menunggu, Camelia melihat-lihat. Ada beberapa bunga pot yang menarik perhatiannya.


"Ini adalah kaktus mawar, Nona. Bentuknya mirip seperti bunga mawar, selain itu perawatan juga sangat mudah. Kemudian tidak memakan banyak tempat. Anda letakkan di dekat jendela kamar, asalkan asupan sinar matahari dan airnya cukup, kaktus ini akan hidup subur," terang penjaga toko.


"Ketimbang mawar ini lebih mirip teratai. Baiklah, aku ambil ini satu. Selain itu, masukkan juga itu, itu, dan itu."


Camelia menunjuk beberapa bunga pot lainnya. Setelah membayar, mereka melanjutkan perjalanan.


"Eh, Nona, rumah saya kelewatan," ucap Evelin.


"Temani aku menjemput seseorang," jawab Camelia. Artinya sengaja dilewatkan.


Siapa?


Nona juga beli mawar. Pagi orang yang spesial. Apakah pacar Nona? Makanya itu suasana hati Nona begitu bagus?


Sekitar 30 menit kemudian, mereka tiba di bandara.


Evelin kembali berdecak. Memang orang kaya sulit dimengerti. Menunggu seseorang tidak lagi di bangku tunggu atau ataupun parkiran. Melain masuk ke area bandara, lebih tepatnya area parkiran pesawat.


Camelia keluar dari mobil. Menyandarkan tubuhnya ke body mobil.


Evelin semakin terpesona dengan Nonanya. Kacamata hitam itu menambah pesona Camelia.


"Em … Nona. Siapa yang kita tunggu?"tanya Evelin. Sudah hampir lima menit mereka menunggu.


"Seseorang."


"Uh?"


Sekitar dua menit kemudian, ada pesawat yang mendarat. Berjalan untuk parkir tidak jauh dari Camelia berada.


Di badan pesawat, ada tulisan Shane Group. Artinya, itu pesawat pribadi keluarga Shane.


Siapa yang di dalamnya?


Pintu pesawat terbuka.


Mata Evelin melebar. Sosok pria muda. Tinggi dan tampan. Wajahnya khas Asia.


"Dion." Camelia melambaikan tangannya.


Dion membalas lambaian itu.


Astaga! Tampan sekali! Jantung Evelin terasa terpanah asmara. Ia tidak mengalihkan pandangnya dari Dion.


"Welcome back, Dion. Bagaimana penerbanganmu?"tanya Camelia. Keduanya bertukar pelukan.

__ADS_1


Apakah ini pacar Nona? Berondong?


__ADS_2