Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 240


__ADS_3

Hari telah gelap. Dan udara semakin dingin karena sudah awal musim dingin. Andrean yang baru saja kembali dari ruang kerjanya mengerti melihat pintu balkon yang terbuka.


"Apa yang kau lakukan di sini, Lia?"tanya Andrean ketika mendapati Camelia tengah berdiri di balkon dan menatap ke arah langit.


"Ah, Rean." Camelia menoleh sekilas pada Andrean dan kembali melihat ke arah langit.


"Di sini dingin, tubuhmu sedang tidak sehat. Ayo masuk," ajak Andrean sembari memeluk Camelia dari belakang.


Camelia mengangguk singkat dan keduanya masuk ke dalam kamar. "Apakah kesadaran Liam tidak mengurangi kekhawatiranmu, Lia?"tanya Andrean sembari menundukkan Camelia di sofa.


Andrean turut duduk dan menyeduh bunga chamomile kering.


"Kekhawatiranku akan benar-benar hilang jika Liam sudah sembuh, Rean," jawab Camelia.


"Minumlah ini dapat membuat hidupmu lebih nyenyak," ujar Andrean.


Camelia menerimanya namun tak langsung meminumnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Lia?"tanya Andrean lagi. Andrean merasa Camelia tengah memikirkan sesuatu yang berat.


Camelia menghela nafasnya dan meletakkan cangkir ceh itu. Menatap Andrean dengan serius.


"Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan Liam, Rean," ucap Camelia serius.


Andrean tertegun sesaat kemudian tertawa. "Lia, apa yang kau bicarakan, hm?"


"Aku serius, Rean!"


"Tentu saja, aku percaya itu. Aku hanya merasa lucu kau mengatakan hal itu. Seolah selama ini kau tidak melakukan apapun, Lia," papar Andrean.


Tatapan Camelia menjadi muram. Camelia merasa apa yang Andrean katakan benar, ia tidak melakukan apapun dan hanya menunggu kabar dari dokter. Camelia tahu semakin lama antibiotik untuk menyembuhkan Liam ditemukan semakin lama pula penderitaan Liam dan semakin menyebar pula septicaemia itu.


"Aku sudah memutuskannya, Rean," ucap Camelia kemudian.


"Aku akan merasa sedih dan tidak berguna jika kau tidak melibatkanku dalam keputusanmu. Apapun itu aku akan mendukungmu. Liam bukan hanya putramu. Namun, juga putra kita, anak kita, Lia. Mari berjuang bersama." Antrian berkata sembari menangkupkan kedua tangannya pada pipi Camelia. Menatap dalam sang istri, menyalurkan keyakinan dan kepercayaan yang besar.


"Baiklah," jawab Camelia, dan keduanya kemudian berpelukan.


Rean, aku harap jawabanmu akan sama seperti hari ini, batin Camelia, memejamkan matanya yang sudah lelah.


*


*


*


Menjelang hari ulang tahun Lucas dan Liam, ada banyak hal yang dilakukan. Salah satunya adalah kegiatan amal yang merupakan ide dari Lucas.


Tiga hari sebelum hari ulang tahun Lucas dan Liam, Andrean secara pribadi mengunjungi beberapa yayasan Amal dan juga panti asuhan untuk memberikan donasi bagi anak-anak yang membutuhkan. Sekaligus meminta doa untuk kesembuhan Liam.


Lucas dan Liam tidak ikut. Mereka hanya akan hadir pada acara puncaknya yakni hari H ulang tahun mereka.


Acara ulang tahun itu akan diadakan di sebuah panti asuhan. Yang akan dihadiri oleh anggota keluarga Gong, Tuan dan Nyonya Liang, serta tamu undangan dari Starlight Entertainment dan juga Gong Group.


Kondisi Liam terpantau aman. Dan besok adalah hari ulang tahun mereka.


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00.


Dan Liam masih terjaga. Anak itu merasa bosan. Tidak ada lagi teman tidurnya semenjak sakit. Ponsel, rasanya benda itu tidak bisa menghilangkan rasa bosannya.


Laptop?


Kebiasaannya dulu?


Jujur saja, Liam merasa tidak bersemangat untuk itu.


Kesehatan, sembuh, itulah yang Liam inginkan. Semakin lama ia sembuh semakin lama pula kabut sedih tinggi di kediaman ini.


Uhuk … uhuk ….


"Ah? Dadaku sakit," gumam Liam.


"Apakah aku akan sembuh atau …."


"Ahhh … Liam! Apa yang kau pikirkan?! Kau bahkan belum mencapai puncak, sudah berpikir untuk menyerah?! Tidak boleh!"

__ADS_1


Liam memukul kepalanya sendiri.


"Besok hari ulang tahunmu yang ketujuh. Harusnya kau membuat permohonan untuk sembuh, dasar bod*h kau Liam!"runtuk Liam pada dirinya sendiri.


"Keluargaku tidak menyerah bagaimana mungkin aku menyerah?"gumam Liam.


"Ya meskipun aku muak dengan infus ini," gumam Liam, menatap jarum infus di pergelangan tangannya kemudian menaikkan pandangannya. Itu entah sudah botol infus keberapa yang masuk ke tubuhnya. Belum lagi cairan lain.


Lelah bermonolog sendiri, Liam memutuskan untuk tidur.


Tidak tahu berapa lama sudah Liam tidur. Tapi, baginya itu sudah sangat panjang. Hingga Liam merasa ada yang menyentuh wajahnya, mengusapnya lembut dan membisikan kata-kata penuh kasih sayang.


Matanya perlahan membuka. Siluet yang penuh kehangatan, tersenyum padanya. Meskipun kesadarannya belum penuh, Liam langsung mengenalinya.


"Mom?"


"Liam, kau mendengar Mom, Nak?" Suara lembut yang bercampur dengan gemetar menyapa pendengaran Liam.


"Mom? Mengapa Mom menangis? Ada apa, Mom?" Dengan cepat menyadari rintik air mata yang membasahi pipi Camelia.


"Mom takut, Liam." Langsung memeluk Liam.


Liam mengernyit. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di ruangan ini.


"Huhu … syukurlah. Syukurlah." Liam mendapati ada orang lain di sini.


Lucas dan Crystal? Mereka juga menangis dan berpelukan?


Begitu juga dengan Kak Abi dan Evelin.


Lalu ada Tuan dan Nyonya Liang.


Kakek Gong.


Dan Ayahnya, Andrean, juga menangis.


Dan juga ada wajah lain.


"Grandma, Grandpa, Uncle Dion?"panggil Liam dengan lemah.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kalian semua menangis?"tanya Liam, bingung.


"Mom sangat takut, Liam. Syukurlah kau sudah bangun," ucap Camelia.


"Bukankah aku hanya tidur, Mom," heran Liam. Bukankah ia hanya tidur? Apa yang dicemaskan?


Liam mengernyit bingung. Matanya memikirkan apa yang terjadi. "Memangnya ini jam berapa dan berapa lama aku tidur, Mom? Eh, bukankah kita harus bersiap untuk ke panti asuhan?" Liam baru ingat.


"Ke panti asuhan apanya?! Ulang tahun kita sudah lewat, dasar pembohong!!"ketus Lucas, menatap marah Liam.


"Hah? Apa?! Sudah lewat? Ini tanggal berapa?" Liam bergegas mengecek ponselnya.


Liam tertegun melihat tanggal berapa hari ini. Pantas saja, sudah lewat tiga hari dari hari ulang tahunnya. "Apakah aku koma lagi?"tanya Liam, menatap anggota keluarganya.


"Liam, cucuku sayang." Nyonya Shane mendekati pada Liam, memeluk anak itu dengan lembut.


"Jangan takut, semua sudah lewat. Yang penting kau sudah bangun, Liam."


"Grandma …."


Liam baru paham sepenuhnya. Tapi, bagaimana bisa ia tiba-tiba koma?


"Perawat rumah tidak berefek pada Liam. Kami akan membawanya kembali ke Kanada. Kanada memiliki fasilitas dan pengobatan terbaik dunia," ucap Tuan Shane, dan itu mengagetkan semua yang ada di ruangan itu.


"Apa maksud Anda, Daddy?"tanya Andrean, tidak senang. Tuan Shane hanya kakek, atas dasar apa memutuskan hal itu?!


"Kau lihat sendiri, kan? Ku pikir membiarkan mereka ikut denganmu akan memberikan dampak siginifikan untuk penyembuhan Liam. Namun, tidak ada hasilnya, malah seperti ini. Sebagai Grandpa yang melihat pertumbuhannya, aku tidak bisa membiarkan hal ini lagi. Lama-lama cucuku bisa mati di sini! Dua Dokter terbaik apanya?! Ini nyaris sudah 6 bulan," tegas Tuan Shane.


"Tapi, Anda tidak bisa memutuskan secara sepihak, Daddy!"tentang Andrean.


"Aku bisa asalkan Lia setuju. Lagipula mereka adalah keluarga Shane!"tegas Tuan Shane lagi.


Kakek Gong tampaknya juga tidak berdaya dengan itu. Pria tua itu hanya memejamkan matanya dengan menggeleng pelan.


Sementara tatapan Andrean beralih pada Camelia yang diam setelah mendengar kata-kata Tuan Shane. Begitu juga dengan Lucas dan Liam yang menanti jawaban Camelia.

__ADS_1


"Lia?"panggil Andrean. Ia berharap … berharap Camelia tidak menyetujuinya.


"Aku …."


"Aku ikut saran Daddy," jawab Camelia kemudian menghela nafasnya.


"Lia?!"


"Jangan meninggikan suaramu pada putriku, Andrean Gong!"seru Nyonya Shane.


"Lia? Apa kau sudah memikirkannya? Apa kau tidak memikirkan Lucas, aku dan Crystal?"tanya Andrean.


Camelia menatap Andrean. "Saat ini fokusku adalah Liam, anak-anakku. Lucas dan aku, aku akan ikut ke Kanada. Sementara Crystal, dia bebas mau ikut atau tidak, dan itu juga berlaku padamu," jawab Camelia.


"Lia …." Andrean memelas.


"Andrean, aku bukan keluar dari rumah ini, mengapa kau tidak bisa mengerti? Apa kau tidak takut seberapa takutnya aku saat Liam koma, hah?"kesal Camelia. Mengapa kekanakan sekali?


"Ayah, ini tidak akan lama," ujar Lucas, tersenyum lembut. Anak itu, juga setuju. Dan Liam, ia juga diam saja.


"Ikut Mom," ucap Crystal memecahkan keheningan beberapa saat itu.


"Kalau begitu kita berangkat besok pagi," ucap Tuan Shane.


"Grandpa," panggil Lucas.


"Iya, Lucas?"


"Rencana di hari ulang tahun kami tidak berjalan lancar. Aku pikir bisa dilakukan besok pagi sebelum berangkat," tanya Lucas.


"Benar, Grandpa." Liam juga menginginkan hal yang sama.


Tuan Shane menimbang sejenak. Kedatangan keluarga Shane ke istana ini juga untuk ulang tahun Lucas dan Liam, juga menjenguk kondisi Liam. Namun, saat tiba malah di hadapan pada Liam yang kembali koma.


Mengunjungi panti asuhan, keinginan itu begitu besar.


"Jika kalian sudah meminta, bagaimana mungkin pria tua ini bisa menolak?"tanya balik Tuan Shane.


Senyum Lucas dan Liam merekah seketika. "Terima kasih, Grandpa!"


"Kalau begitu istirahatlah. Besok akan jadi penerbangan yang panjang," ujar Camelia.


"Mom, aku lapar," ujar Liam dengan mata memelasnya.


"Ahh … Mom akan segera kembali." Camelia bergegas keluar kamar. Diikuti oleh Kak Abi dan Evelin, juga Tuan dan Nyonya Shane.


Andrean menghela nafas kasar. Camelia sudah mengambil keputusan, ketiga anak juga setuju.


Tuan Shane juga keras dengan keputusannya. Di belakangnya juga ada Dion. Kakek Gong saja tidak berkomentar.


"Hah." Andrean kembali menghela nafas kemudian tanpa sepatah kata keluar dari kamar.


"Liam, istirahatlah. Kami keluar dulu," ujar Tuan Shane yang diangguki oleh Liam. Tuan dan Nyonya Shane keluar dari kamar. Disusul oleh Kakek Gong. Tinggallah Dion bersama dengan tiga anak itu.


"Crystal, jika kau ikut, kau harus menulis dan mengirim surat izin ke sekolahmu," ucap Lucas.


"Ah, Kak Lucas benar! Aku akan minta Paman Toby menulis surat." Anak itu bergegas keluar kamar.


"Uncle Dion, sepertinya ada banyak hal yang ingin Uncle katakan," ucap Lucas, sesaat setelah Crystal keluar.


"Hm, dan semua itu terangkum dalam empat kata, Uncle sangat merindukan kalian," ucap Uncle. Ia tersenyum lebar dan lebih menyerupai tawa kecil. Mendekat dan duduk di tepi ranjang. Sementara Lucas mengambil posisi duduk di ranjang, di samping Liam.


"Pantas saja Kakakku bertambah kurus, rupanya kau sudah semakin kurus, bagaimana bisa seperti ini, hm?"


"Hm? Entahlah, Uncle."


"Ah, lupakan saja."


"Begini saja, bagaimana rasanya akan pulang kampung?"tanya Dion.


"Aku senang. Tapi, sedikit tidak tega pada Ayah," ucap Lucas, matanya memancarkan rasa khawatir.


"Ayah kalian itu Pria. Hal ini, seharusnya ia dapat menjalaninya. Jangan terlalu dipikirkan," ujar Dion.


"Baik, Uncle."

__ADS_1


__ADS_2