
Crystal merasakan suasana aneh di ruang kerja Andrean. Crystal melihat ayahnya. Ekspresi ayahnya datar seperti biasa. Crystal memalingkan wajahnya menatap pria muda yang duduk di depan Andrean dengan senyum ramah.
Crystal juga menoleh pada Hans yang berdiri di samping Andrean dengan tersenyum memegang tablet. Di antara Andrean dan Allen, mereka seperti tengah bertengkar lewat tatapan.
"Apa Ayah dan Paman bertengkar?"tanya Crystal setelah mencoba menyimpulkan suasana ini.
"Tidak, Crystal. Inilah cara kami saling menyapa," jawab Allen, dengan tetap tersenyum.
"Benarkah, Ayah?"tanya Crystal.
"Aku dan dia akan bicara. Hans antar Crystal keluar. Di sana ada Toby." Alih-alih menjawab pertanyaan Crystal, Andrean malah secara tidak langsung menyuruhnya keluar. Hans mengangguk.
"Paman Toby di sini?"tanya Crystal dengan sumringah.
"Ayo, Nona," ajak Hans, mengulurkan kedua tangannya pada Crystal kemudian menggendongnya.
"Yeah. Aku sangat merindukan Paman Toby." Crystal begitu senang bertemu dengan pengasuhnya setelah beberapa hari tidak bertemu.
"Eh tunggu, Paman Hans!"ucap Crystal saat Hans baru melangkah satu langkah.
"Ada apa, Nona?"tanya Hans bingung.
"Ayah, Paman Allen, cepatlah berbaikan. Bertengkar itu tidak baik. Anak kecil saja bisa berbaikan, masa' orang dewasa tidak bisa?"
"Tenang saja, Crystal. Ayah dan Pamanmu ini akan segera berbaikan kok," sahut Allen. Andrean berdecak pelan.
"Okay, Paman Allen." Hans kemudian melangkah keluar.
"Paman, apa orang dewasa bertengkar seperti itu? Sulit berbaikan?"tanya Crystal pada Hans.
"Ya memang seperti itu, Nona. Saat Nona dewasa nanti, Nona akan mengerti," jawab Hans.
"Aku jadi tidak ingin dewasa. Aku ingin tetap seperti ini," ujar Crystal.
"Di mata saya, Nona tetaplah Nona kecil yang menggemaskan. Sampai kapanpun itu," balas Hans.
"Apa bagi ayah juga begitu?"
"Tentu saja. Tuan sangat menyayangi Nona."
Crystal tersenyum. "Aku harap juga begitu, Paman."
*
*
*
Setelah Hans dan Crystal meninggalkan ruangan, tatapan Andrean semakin tajam pada Allen. Allen juga semakin melebarkan senyumnya. Ketegangan di antara keduanya semakin menjadi.
"Ah Kakak, kau tidak suka aku di sini?"tanya Allen, dengan meraih teh yang dituangkan oleh Hans tadi.
"Untuk apa kau kemari? Bukankah kau sibuk?"balas Andrean, sedikit menyindir Allen.
"Ini jam makan siang, Kakak. Dan sepertinya belakangan ini Kakak yang sangat senggang hingga dalam waktu berdekatan pulang ke kediaman lama," balas Allen, balas melemparkan sindiran.
"Itu urusanku!"tegas Andrean.
"Kalau begitu, aku sibuk atau tidak juga urusan pribadiku!"ucap Allen, tak kalah tegas. Senyumnya memudar, menatap tajam Andrean.
Andrean terhenyak beberapa saat kemudian tersenyum, "kau … semakin berani, ya?"
"Ah tidak. Aku tidak seberani Kakak," kilah Allen dengan dibantu gerakan tangan. Allen kembali tersenyum.
"Kakak pasti sudah tahu dari Kakek Gong kalau aku akan di Beijing selama satu Minggu. Dan tadi aku juga sudah menyampaikan niatku pada sekretaris Hans. Aku ingin menginap di istanamu, Kak. Aku harap kau mengizinkannya," jelas Allen, menyampaikan niatnya.
"Apa semua hotel di kota ini penuh?" Penolakan yang jelas.
"Hm. Kau tahu aku tidak nyaman tidur di hotel," jawab Allen.
"Setahuku di perusahaan Gong ada penthouse," sahut Andrean. Tidak berkecimpung di dalam Gong Group bukan berarti Andrean tidak mengetahui struktur kepengurusan dan juga struktur bangunan perusahaan keluarga. Ia adalah cucu pertama sekaligus ahli waris utama, meskipun pada akhirnya ia tidak memilih perusahaan, ia pernah mempelajari tentang perusahaan keluarga.
"Ah ayolah, Kak!" Memelas dan membujuk.
__ADS_1
"Kita ini sepupu dan jarang bertemu. Padahal Beijing dan Shanghai tidak terlalu jauh. Selain itu, aku akan di kota ini selama seminggu. Istanamu itu luas. Atau kau ingin memberitahu bahwa hubungan kita tidak baik kepada media, begitu?" Mulai mengeluarkan sedikit ancaman. Andrean mengernyit lalu mendengus senyum.
"Kau begitu memaksa. Katakan saja niatmu yang sebenarnya! Aku tidak suka orang yang berbelit-belit!"tegas Andrean. Mulai jenuh dengan pembicaraan ini. Ya sebenarnya sejak tahu Allen di ruangannya, Andrean sudah merasa malas.
Kesal pada sekretarisnya, Hans malah tersenyum lebar kurang lebar.
Keduanya saling pandang untuk beberapa saat. Suasana kembali menegang. Allen memajukan wajahnya. Tatapannya begitu serius. "Jauhi Nona Camelia!"
Tidak jauh dari perkiraan Andrean. "Jadi kau sudah tahu hm?"
Allen tahu, Andrean tidak suka kalau wilayahnya diduduki oleh orang lain selagi ia tidak ada di tempat. Contohnya adalah istana. Saat ini ia tinggal di apartemen bersama dengan Crystal. Jika mengizinkan Allen tinggal di istana, Andrean juga harus kembali ke istana.
"Kau juga menyukainya, bukan? AG? Kau bahkan mengirim banyak bunga untuknya. Dan apa kau tahu dikemanakan bunga yang kau kirim itu?"
"Tentu saja diterima olehnya," jawab Allen dengan percaya diri.
"Ya! Dia memang menerimanya. Namun, bunga-bunga itu kemudian ia buang. Kau melakukan usaha yang sia-sia. Dan sayangnya, akulah yang dianggap olehnya," ucap Andrean dengan tersenyum.
"Dia malah infill denganmu, Kakak. Aku tidak begitu sakit karena tidak melihatnya. Sementara kau yang dituduh, itu artinya jika kau pun yang mengirim bunga itu, bukankah hal yang sama akan terjadi?"
Allen menaik-turunkan alisnya. Kedua pria itu tengah beradu. Saling memprovokasi satu sama lain. Andrean tersenyum tipis.
"Setidaknya aku tahu, dia tidak akan takluk dengan semudah itu. Bunga, ckckck. Kau begitu terang-terangan," decak Andrean.
"Daripada kau, ucapan dan tindakanmu berlainan!"
"Ah, sepertinya aku tidak jadi menginap di istanamu. Kau benar, ada penthouse," ucap Allen seraya berdiri.
"Tapi, peringatanku masih berlaku. Jauhi Camelia! Lagipula Kakak, apa Kakek Gong akan setuju jika kau bersama dengannya? Kalau aku, Nenek sangat mendukungnya. Selain itu, bukankah jika kau bersama dengannya akan menciptakan banyak masalah? Ah belum bersama saja sudah banyak skandal yang menyeret nama kalian. Kakak kau itu Presdir entertainment, pasti mengerti hal yang aku maksud. Kemudian, apa restu keluarganya akan kau dapatkan? Ku dengar adiknya tidak begitu suka padamu. Selain itu, kau juga punya anak bawaan. Lebih baik kau muncul daripada berjuang sia-sia!"ucap Allen, memperingati sekaligus menasehati Andrean.
Andrean malah terkekeh. "Hal itu juga berlaku padamu!"balas Andrean.
"Ingatlah, Nenekmu bukan satu- satunya tetua di keluarga Gong. Kakekku adalah kepala keluarga. Tanpa izinnya pun kau tidak akan bisa menikah. Dan jangan lupakan juga, dia juga memiliki anak bawaan. Dan anak-anaknya bukanlah anak sembarangan. Allen, mari kita lihat, kau atau aku yang akan bersama dengannya!"
*
*
*
Camelia mengeluh. Ia duduk dari tidurnya. Memikirkan pertemuan tidak terduganya tadi dengan Allen.
"Apa aku salah sangka?"gumam Camelia.
"Andrean Gong. Allen Gong. Mereka punya inisial nama yang sama. Dan lain, Allen Gong itu terang-terangan tadi."
Camelia kemudian mengingat saat tadi pagi. Saat ia melabrak Andrean dan memperingatinya untuk tidak mengirim bunga padanya.
Dia tidak mengaku. Artinya memang bukan dia yang mengirim? Benar. Jika bukan dia pasti memang bukan dia.
Aish. Aku malah dihantui rasa bersalah.
Camelia kesal sendiri. "Tapi, bagaimana caranya? Mengundangnya makan malam? Mengajaknya minum teh? Atau bagaimana?" Camelia gelisah sendiri. Ia salah menuduh orang dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.
"Ah. Tidak. Hm? Benar juga." Camelia tersenyum dan keluar dari kamarnya.
Menuju dapur dan memakai alat perangnya. Camelia akan memasak untuk makan malam. Di saat ia tengah memotong sayuran, ponselnya berbunyi. .
Dari adiknya, Dion.
Camelia menghentikan kegiatannya dan segera menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Dion."
"Hai, Kak. Kakak di apartemen?"
"Iya. Aku sedang memasak. Ada apa?"tanya Camelia.
"Sepertinya aku akan pulang ke Beijing malam ini."
"Mengapa? Apa pekerjaanmu sudah selesai?"
"Belum. Aku merindukan kakak," jawab Dion.
__ADS_1
"Aku atau masakanku, hm?"balas Camelia. Disambut tawa oleh Dion di sana.
"Keduanya," jawab Dion. Camelia tersenyum.
"Pulanglah kalau itu tidak membuatmu terlalu lelah," ujar Camelia.
"Aku akan pulang ke Shanghai besok pagi. Aku akan berangkat sekarang," sahut Dion. Terdengar sangat bersemangat.
"Kau menghubungiku hanya untuk mengatakan hal ini?"
"Tentu saja tidak, Kakak. Aku sudah mendapatkan apa yang kakak butuhkan."
"Sungguh?" Wajah Camelia menjadi serius.
"Aku akan mengatakan setelah tiba di sana. Selain itu, kita bisa menyelesaikannya malam ini juga. Kakak aku sangat bersemangat!"terang Dion.
"Akhirnya, akan segera tiba. Jasmine namamu akan segera bersih!"
"Ya! Namanya akan segera bersih. Dan para bedebah itu akan segera mendapatkan balasan yang setimpal!"
"Kau lebih bersemangat dari aku ya, Dion," ledek Camelia.
"Hehehe. Aku sangat ingin memukul perutnya itu!"
"Jangan terlalu kejam, Dion."
"Tidak, Kakak. Aku tidak akan kejam kok. Bermain-main sebentar tidak masalah bukan?"
"Kalau bisa, buat mereka merasakan apa itu mati dalam hidup mereka! Kita lihat seberapa kuat mental mereka setelah mengalami hal yang sama denganku!"
"Uh kakak, wanita itu seperti kupu-kupu malam. Berapa banyak pria yang menyentuhnya, dia tidak akan merasa terhina malah akan semakin menikmatinya."
"Bagaimana jika semuanya terekspos? Kau tahu obat halusinasi?"
"Kakak? Maksudmu?"
Camelia tersenyum di tempatnya. "Dion, aku adalah Camelia not Jasmine! Tapi, aku merasakan apa yang Jasmine rasakan. Pulanglah dan jalankan rencana kita!"
"Ah benar. Mari lanjutkan permainan!"
"Oh iya, Kak. Apa kau sudah tahu kalau pria itu sudah bebas?"tanya Dion.
"Pria itu?"
"Jordan." Dion menyebut nama itu dengan malas.
"Oh." Dari reaksinya, Camelia belum tahu.
"Ya sudah. Segeralah berangkat. Makan malam menunggumu," ujar Camelia.
"Okay, Kakak!"
Panggilan berakhir. "Hm. Sudah pulang? Jordan, istirahatlah untuk kejutan selanjutnya." Camelia kembali melanjutkan memotong sayuran.
*
*
*
Setelah selesai berbicara dengan Camelia lewat ponsel, Dion segera bersiap dan meninggalkan kantor menuju bandara. Di perjalanan, Dion berhenti untuk memberi beberapa buah tangan dan juga pesanan Camelia.
"Oh iya, Kakak paling suka bunga lily." Dion kembali berhenti dan membeli bunga untuk kakaknya.
Lima belas menit kemudian, Dion tiba di bandara. Pesawat sudah menunggu dan segera mengudara menuju Beijing.
Kurang lebih dua jam penerbangan, Dion tiba di Beijing dan segera pulang menuju apartemen. Tiba di basement, Dion keluar dengan membawa cukup banyak barang. Barang yang ia beli dalam perjalanan pulang.
"Eh? Mengapa kau di sini?" Dion terhenyak saat berselisih dengan Andrean.
"Ya, aku tinggal di sini. Kau pulang, Tuan Muda?"balas Andrean.
"Ah begitu ya?" Dion merasa kik-kuk sejenak.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya duluan." Segera Dion masuk ke dalam lift.
"Wow. Aku tidak menyangka dia sampai pindah," gumam Dion, menarik senyum tipis.