
Senyum jahil tersungging di bibir Lucas. Ia mengambil stabilo dan mencoret-coret wajah Liam.
Membuat garis tiga di setiap pipi Liam. Tak lupa, bagian dahi juga dicoret.
Lucas menahan tawanya. Wajah Liam benar-benar terlihat lucu. Persis seperti seekor kucing
yang tengah tidur.
“Lucas, apa yang kau lakukan?”tanya Camelia, kembali dengan membawa piring berisi makanan
yang dibeli di food court mall tadi.
“Eh, Mom.” Lucas masih menahan tawanya. Menatap Liam yang masih lelap dalam tidurnya.
“Gosh!”
Camelia membulatkan matanya sesaat. Tak lama kemudian, ia juga menahan tawanya.
Emm ….
Liam menggeliat. Matanya mulai membuka, seraya mengucek matanya. Merasa aneh melihat
ekspresi Camelia dan Lucas.
Camelia dan Lucas semakin tidak bisa menahan tawa mereka. Stabilo yang belum kering itu, menjadi
belepotan.
“Ada yang lucu?”tanya Liam dengan nada datarnya.
Camelia dan Lucas serentak menggeleng. “Lantas? Mengapa Mom dan kau membuat wajah seperti
itu?”selidik Liam. Matanya menyipit curiga.
“Hanya teringat sesuatu yang lucu, seperti seekor kucing galak yang kehilangan
kewaspadaan saat tidur,” jawab Lucas. Ia memalingkan wajahnya, dengan bahu gemetar
menahan tawa.
“Ya … ya itu benar,” imbuh Camelia menimpali.
“Really?” Liam masih curiga.
“Pergilah mandi. Aroma asamnya sangat pekat!”celetuk Lucas, menutup hidungnya, satu
tangan lagi melambai menyuruh Liam untuk beranjak.
Liam mencium bau tubuhnya. “Kau mengusirku?”
“Mom, Liam sudah bau asam, kan?”
“Ya,” jawab Camelia singkat. Liam mendengus pelan. Ia beranjak.
Namun, baru beberapa Langkah, berbalik, menatap Camelia, kemudian Lucas. “Mom, bangsa
kucing memang sangat waspada. Namun, saat ia merasa nyaman, kewaspadaannya dapat
saja menurun. Kucing tadi itu, memang lucu,” ucap Liam, kemudian kembali melanjutkan
langkahnya.
Camelia dan Lucas saling pandang. “Apakah itu pujian untuk diri sendiri?”tanya Camelia. Lucas
mengendikkan bahunya. “Ketimbang itu, aku lebih penasaran saat dia ucapannya
tadi nyatanya ditujukan untuknya,” jawab Lucas, terkikik geli.
*
“APA INI?”
Liam berteriak kaget saat melihat wajahnya di cermin. Mengusap kedua pipinya. “Stabilo?”
“Warna yang aku beli tadi.”
“Hanya teringat kucing galak?”
“Kucing mungkin akan kehilangan kewaspadaan saat merasa nyaman?”
“Apa yang aku katakan tadi?”
Liam membelalakkan matanya. Ia baru sadar. Rupanya itu sindiran untuk dirinya dan bisa-bisanya, ia
membenarkan sindiran itu.
“LUCAS!!!”
Liam berteriak kesal. Ia yakin itu ulah Lucas. “Awas saja kau!”
Liam segera membersihkan wajah dan tubuhnya. Dan percayalah, Liam bukan anak yang terima-terima
saja.
*
Liam turun ke ruang keluarga dengan wajah dinginnya. Ia duduk di samping Lucas. Camelia
sedang bertempur di dapur. “Bagaimana, kucing galak?”
Lucas tersenyum lebar, raut wajah tanpa dosa. Liam mendengus. “Kacang Macadamia memang sangat enak,”
ucap Liam.
“Memang sangat enak,” sahut Lucas cepat.
“Eh?”
Lucas spontan menatap kembarannya. Liam menyungingkan senyum. Dan mengangkat satu alisnya. “Jangan
katakan!
Lucas segera berlari menuju kamar. Selang beberapa waktu kemudian Lucas kembali
dengan wajah yang memerah. “LIAM! KAU MENCURI KACANGKU?!”
“Aku hanya makan,” sahut Liam.
“K-KAU!”
Lucas sudah kehabisan kata. “Siapa suruh mengangguku? Huh!” Liam bangkit, melenggang
santai menuju dapur.
“Mom! Dia menghabiskan semua kacangku!”aduh Lucas pada Camelia.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?” Camelia memang mendengar keributan. Ia belum selesai memasak.
“Mom kan tahu alasannya,” sahut Liam santai.
“Tapi … kan….” Lucas berdecak sebal.
“Sudah-sudah. Kan sudah seimbang,” ujar Camelia.
“Seimbang apanya, Mom? Kacang macadamia yang ku simpan habis. Aku kan hanya mencoret
wajahnya. Dicuci juga sudah hilang,” aduh Lucas, tetap tidak terima.
“Memangnya saat membalas, ada syaratnya harus setara?” Liam menjulurkan lidahnya.
“Stop it!”
Camelia mulai pusing. Tidak ada yang kalah. “Kacangmu akan Mom pesan nanti,”
putus Camelia.
“Really?”
Camelia mengangguk. Raut wajah Lucas berangsur membaik. Namun, masih agak sinis pada Liam. “Pesan
yang banyak ya, Mom,” ujar Liam.
*
Di China, sudah memasuki hari keempat awal tahun. Andrean sudah masuk kerja. Dan pagi harinya
di Starlight Entertaiment, Andrean mengecek beberapa proposal yang masuk. Proposal
itu terlebih dahalu sudah diseleksi oleh Hans. Kemudian yang terbaik akan ditentukan
Andrean.
“Wei Yan Li?”gumam Andrean, saat melihat satu proposal atas nama itu. Andrean merasa pernah
mengingat nama itu.
“Ah.”
Andrean ingat. Wei Yan Li ini menghadiri pesta ulang tahunnya. Dan sempat berbicara dengannya serta
menyinggung tentang proposal juga.
“Ternyata ada kemampuan,” gumam Andrean.
*
“Anda sudah menentukan desainer mana yang akan bekerja sama dengan kita, Tuan?”tanya
Hans.
Andrean menunjuk satu proposal di sudut meja.
“Proposal Wei Yan Li?”
“Saya dengar dia baru kembali dari luar negeri, apakah tidak masalah? Takutnya nanti
tidak cocok dengan proyek kita,” ujar Hans, menunjukkan kontranya dengan
pilihan Andrean.
“Idenya unik. Desainnya juga disertakan. Aku suka percaya dirinya,” ucap Andrean.
“Menurutmu?”tanya balik Andrean.
“Anda harus hati-hati. Saya sudah mendengar desas-desusnya, dia mengincar posisi
Nyonya Gong,” ujar Hans, mengingatkan Andrean.
“Jika sudah tahu, mengapa kau sertakan proposalnya padaku? Artinya kau mengakui bahwa
proposalnya bagus, bukan?”tanya balik Andrean, menatap tajam Hans.
“Saya kira Anda tidak akan memilihnya,” jawab Hans, menggaruk lehernya.
Andrean mendengus sebal. “Tidak perlu cemas. Aku tidak akan berpaling. Masa’ begitu
saja kau tidak tahu?”
Hans mengulum senyum. Ia melupakannya. Rose saja yang lebih lima tahun di samping Andrean
tidak mampu mendapatkan Andrean, apalagi Wanita lain? Andrean sudah ada
pawangnya, yakni Camelia. Dan tidak hanya satu, ada dua anak laki-lakinya serta
anak perempuannya.
“Okay.”
Hans sedikit lega.
*
“Ada apa, Sayang? Wajahmu terlihat tidak senang? Ada yang membuatmu kesal?”tanya Camelia.
Di Kanada ini tengah malam. Sementara di China ini adalah tengah hari. Keduanya
tengah video call.
“Rasanya aku tidak akan sanggup jika harus menunggu 2 tahunan lagi,” ujar Andrean.
“Jadi?”tanya Camelia, mengeryitkan dahinya. Ia agak overthingking.
“Dipercepat saja tidak bisa? Menjadi enam bulan lagi? Atau tiga bulan? Atau besok?”tanya Andrean
penuh harap.
“Ya … aku sih mau saja. But, untuk secepat itu, situasinya tidak mendukung,” jawab Camelia.
Masih terlalu cepat.
“Mengapa, Sayang? Ada yang mengusikmu akan itu?”tanya Camelia, tidak mungkin Andrean
menyinggung topik ini tanpa pancingan.
“Aku sudah sangat bosan mendengar para orang tua yang mempromosikan putri mereka, dan ya,
kau tahu sendiri aku ini seberapa popular,” sahut Andrean.
Camelia membulatkan matanya. Tentu saja ia tahu, namun nada bicara Andrean seakan menyombongkan dirinya,
apalagi kalau bukan narsis?
__ADS_1
“Artinya kuncinya ada padamu, Sayang. Jika kau memberi peluang, maka ada kemungkinan
peluangnya akan keluar,” ujar Camelia. Sudah sama-sama dewasa. Saling terbuka
saja. Daripada ujungnya pecah.
“Kalau karena dia punya kemampuan dan aku merekrutnya, bagaimana?”tanya Andrean. Camelia
mengeryitkan dahinya. Merekrut? Camelia paham mengapa tiba-tiba menyinggung
topik pernikahan.
“Jadi, kau merekrut orang yang berpotensi menjadi sainganku, Sayang?”
“Tidak! Tidak akan ada yang bisa menjadi sainganmu, Lia. Hubungan kita sudah direstui, tidak
akan bisa terurai!” Andrean dengan panik menjelaskan.
Camelia tidak menjawabnya. Ia lebih focus untuk mengatasi masalah merekrut orang itu. Andrean
bukan orang yang nepotisme. Jika direkrut, pasti orang yang memiliki kemampuan
di atas yang terbaik.
“Sebenarnya aku tidak terlampau masalah. Asalkan kau dapat menjaga hati dan hati-hati,
Sayang,” tutur Camelia.
“Itu pasti. Aku lega,” jawab Andrean.
“Ah iya, awal musim panas, aku akan menemuimu ke Kanada,” ujar Andrean.
“Hm … jangan awal musim panas, aku akan syuting ke Swiss.”
“Aku mengerti.” Andrean mengangguk paham. Karena malam yang semakin larut dan jam
makan siang yang sudah mau habis, obrolan mereka berakhir.
Camelia menghembuskan nafas pelan. “Sejujurnya kita itu sama,” gumam Camelia. Ia melihat jendela
notifikasinya. Di twitter ada cuitan yang memposting fotonya dan Nicholas saat
ada di restoran tadi. Padahal hanya foto biasa, namun mengapa dilebih-lebihkan?
Mereka bertemu tidak sengaja.
Camelia memijat pelipisnya. Rasanya serba salah. Tidak disapa, nanti akan dibilang sombong,
jika disapa, katanya melakukan janji makan siang. Malam tidak ada Liam lagi di
foto itu.
Namun, Camelia senang. Penggemar setianya tidak akan mudah percaya. Karena ini bukan pertama
kalinya. Dan semua rumor ataupun postingan gossip seperti itu, hampir semuanya
tidak benar.
“Namanya juga akan kerja sama, tidak boleh terlalu acuh, bukan?” Camelia menyimpan
ponselnya. Saatnya tidur.
*
“Lagi, dan lagi. Bosan lama-lama aku Kak,” keluh Dion saat melihat tayangan selebriti
pagi.
“Beli saja stasiunnya,” sahut Tuan Shane santai.
“Lagipula, tidak mungkin kan menjadi yang di bawah Chris? Setidaknya harus setara dan kalau
bisa lebih,” imbuh Nyonya Shane.
“Namanya juga untuk menciptakan topik,” celetuk Lucas.
“Padahal aku ikut, tapi tidak ada di dalam foto itu. Hatters kurang ajar!”gerutu Liam.
Camelia tersenyum simpul. “Jangan diambil pusing,” ujar Camelia.
“Beli stasiun televisinya? Itu ide bagus.” Dion tampak tengah memikirkannya.
“Jangan berlebihan. Itu hanya hal kecil,” sahut Camelia tidak setuju.
Dion berdecak.
Setelah sarapan, Dion berangkat ke perusahaan, bersama dengan Tuan Shane. Nyonya Shane tetap di
kediaman. Sementara Camelia akan ke Glory Entertaiment sebentar lagi.
*
“Anda dipanggil oleh Presdir, Bu Margaretha,” ucap salah seorang staff pada Margaretha.
Margaretha yang baru tiba langsung menuju ke ruangan David.
“Tuan.” Margaretha telah tiba di ruangan David. Margaretha mendapati di ruangan ini tidak hanya
ada David. Sekretarisnya, namun juga ada Lina yang duduk di sofa. Terlihat gugup.
“Tuan memanggil saya?”tanya Margaretha, sembari menerka situasi apa ini. David mengangguk.
“Ada hal penting yang ingin aku beritahukan padamu, y aini termasuk rahasia,” ujar
David.
“Ya?” Margaretha menatap Lina. “Apakah tentang hubungan Anda berdua?”tanya
Margaretha. David tertegun sesaat. Lina mendongak.
“Jika mengenai hal itu saya tidak terlalu terkejut dan saya siap mendengarnya. Sebelumnya
saya mengucapkan terima kasih karena telah menaruh kepercayaan pada saya.” Tatapan
Margaretha tegas. Kata-katanya juga begitu.
David tersenyum. Ia jadi tidak begitu heran. Justru rasanya aneh jika Manager senior tidak peka.
Lagipula, David sudah menikah, dan saat ini Lina ada di sini, serta ada hal
penting yang ingin dikatakan padanya.
“Seperti yang kau ketahui, aku sudah menikah. Dan identitas istriku adalah, Lina,” ujar
David, dengan lantang memperkenalkan Lina sebagai istrinya. “Dan sebentar lagi,
__ADS_1
aku akan menjadi seorang ayah.”
Margaretha membulatkan matanya. “Lina sudah hamil?”