Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 207


__ADS_3

Senyum jahil tersungging di bibir Lucas. Ia mengambil stabilo dan mencoret-coret wajah Liam.


Membuat garis tiga di setiap pipi Liam. Tak lupa, bagian dahi juga dicoret.


Lucas menahan tawanya. Wajah Liam benar-benar terlihat lucu. Persis seperti seekor kucing


yang tengah tidur.


“Lucas, apa yang kau lakukan?”tanya Camelia, kembali dengan membawa piring berisi makanan


yang dibeli di food court mall tadi.


“Eh, Mom.” Lucas masih menahan tawanya. Menatap Liam yang masih lelap dalam tidurnya.


“Gosh!”


Camelia membulatkan matanya sesaat. Tak lama kemudian, ia juga menahan tawanya.


Emm ….


Liam menggeliat. Matanya mulai membuka, seraya mengucek matanya. Merasa aneh melihat


ekspresi Camelia dan Lucas.


Camelia dan Lucas semakin tidak bisa menahan tawa mereka. Stabilo yang belum kering itu, menjadi


belepotan.


“Ada yang lucu?”tanya Liam dengan nada datarnya.


Camelia dan Lucas serentak menggeleng. “Lantas? Mengapa Mom dan kau membuat wajah seperti


itu?”selidik Liam. Matanya menyipit curiga.


“Hanya teringat sesuatu yang lucu, seperti seekor kucing galak yang kehilangan


kewaspadaan saat tidur,” jawab Lucas. Ia memalingkan wajahnya, dengan bahu gemetar


menahan tawa.


“Ya … ya itu benar,” imbuh Camelia menimpali.


“Really?” Liam masih curiga.


“Pergilah mandi. Aroma asamnya sangat pekat!”celetuk Lucas, menutup hidungnya, satu


tangan lagi melambai menyuruh Liam untuk beranjak.


Liam mencium bau tubuhnya. “Kau mengusirku?”


“Mom, Liam sudah bau asam, kan?”


“Ya,” jawab Camelia singkat. Liam mendengus pelan. Ia beranjak.


Namun, baru beberapa Langkah, berbalik, menatap Camelia, kemudian Lucas. “Mom, bangsa


kucing memang sangat waspada. Namun, saat ia merasa nyaman, kewaspadaannya dapat


saja menurun. Kucing tadi itu, memang lucu,” ucap Liam, kemudian kembali melanjutkan


langkahnya.


Camelia dan Lucas saling pandang. “Apakah itu pujian untuk diri sendiri?”tanya Camelia. Lucas


mengendikkan bahunya. “Ketimbang itu, aku lebih penasaran saat dia ucapannya


tadi nyatanya ditujukan untuknya,” jawab Lucas, terkikik geli.


*


“APA INI?”


Liam berteriak kaget saat melihat wajahnya di cermin. Mengusap kedua pipinya. “Stabilo?”


“Warna yang aku beli tadi.”


“Hanya teringat kucing galak?”


“Kucing mungkin akan kehilangan kewaspadaan saat merasa nyaman?”


“Apa yang aku katakan tadi?”


Liam membelalakkan matanya. Ia baru sadar. Rupanya itu sindiran untuk dirinya dan bisa-bisanya, ia


membenarkan sindiran itu.


“LUCAS!!!”


Liam berteriak kesal. Ia yakin itu ulah Lucas. “Awas saja kau!”


Liam segera membersihkan wajah dan tubuhnya. Dan percayalah, Liam bukan anak yang terima-terima


saja.


*


Liam turun ke ruang keluarga dengan wajah dinginnya. Ia duduk di samping Lucas. Camelia


sedang bertempur di dapur. “Bagaimana, kucing galak?”


Lucas tersenyum lebar, raut wajah tanpa dosa. Liam mendengus. “Kacang Macadamia memang sangat enak,”


ucap Liam.


“Memang sangat enak,” sahut Lucas cepat.


“Eh?”


Lucas spontan menatap kembarannya. Liam menyungingkan senyum. Dan mengangkat satu alisnya. “Jangan


katakan!


Lucas segera berlari menuju kamar. Selang beberapa waktu kemudian Lucas kembali


dengan wajah yang memerah. “LIAM! KAU MENCURI KACANGKU?!”


“Aku hanya makan,” sahut Liam.


“K-KAU!”


Lucas sudah kehabisan kata. “Siapa suruh mengangguku? Huh!” Liam bangkit, melenggang


santai menuju dapur.


“Mom! Dia menghabiskan semua kacangku!”aduh Lucas pada Camelia.

__ADS_1


“Apa yang terjadi?” Camelia memang mendengar keributan. Ia belum selesai memasak.


“Mom kan tahu alasannya,” sahut Liam santai.


“Tapi … kan….” Lucas berdecak sebal.


“Sudah-sudah. Kan sudah seimbang,” ujar Camelia.


“Seimbang apanya, Mom? Kacang macadamia yang ku simpan habis. Aku kan hanya mencoret


wajahnya. Dicuci juga sudah hilang,” aduh Lucas, tetap tidak terima.


“Memangnya saat membalas, ada syaratnya harus setara?” Liam menjulurkan lidahnya.


“Stop it!”


Camelia mulai pusing. Tidak ada yang kalah. “Kacangmu akan Mom pesan nanti,”


putus Camelia.


“Really?”


Camelia mengangguk. Raut wajah Lucas berangsur membaik. Namun, masih agak sinis pada Liam. “Pesan


yang banyak ya, Mom,” ujar Liam.


*


Di China, sudah memasuki hari keempat awal tahun. Andrean sudah masuk kerja. Dan pagi harinya


di Starlight Entertaiment, Andrean mengecek beberapa proposal yang masuk. Proposal


itu terlebih dahalu sudah diseleksi oleh Hans. Kemudian yang terbaik akan ditentukan


Andrean.


“Wei Yan Li?”gumam Andrean, saat melihat satu proposal atas nama itu. Andrean merasa pernah


mengingat nama itu.


“Ah.”


Andrean ingat. Wei Yan Li ini menghadiri pesta ulang tahunnya. Dan sempat berbicara dengannya serta


menyinggung tentang proposal juga.


“Ternyata ada kemampuan,” gumam Andrean.


*


“Anda sudah menentukan desainer mana yang akan bekerja sama dengan kita, Tuan?”tanya


Hans.


Andrean menunjuk satu proposal di sudut meja.


“Proposal Wei Yan Li?”


“Saya dengar dia baru kembali dari luar negeri, apakah tidak masalah? Takutnya nanti


tidak cocok dengan proyek kita,” ujar Hans, menunjukkan kontranya dengan


pilihan Andrean.


“Idenya unik. Desainnya juga disertakan. Aku suka percaya dirinya,” ucap Andrean.


“Menurutmu?”tanya balik Andrean.


“Anda harus hati-hati. Saya sudah mendengar desas-desusnya, dia mengincar posisi


Nyonya Gong,” ujar Hans, mengingatkan Andrean.


“Jika sudah tahu, mengapa kau sertakan proposalnya padaku? Artinya kau mengakui bahwa


proposalnya bagus, bukan?”tanya balik Andrean, menatap tajam Hans.


“Saya kira Anda tidak akan memilihnya,” jawab Hans, menggaruk lehernya.


Andrean mendengus sebal. “Tidak perlu cemas. Aku tidak akan berpaling. Masa’ begitu


saja kau tidak tahu?”


Hans mengulum senyum. Ia melupakannya. Rose saja yang lebih lima tahun di samping Andrean


tidak mampu mendapatkan Andrean, apalagi Wanita lain? Andrean sudah ada


pawangnya, yakni Camelia. Dan tidak hanya satu, ada dua anak laki-lakinya serta


anak perempuannya.


“Okay.”


Hans sedikit lega.


*


“Ada apa, Sayang? Wajahmu terlihat tidak senang? Ada yang membuatmu kesal?”tanya Camelia.


Di Kanada ini tengah malam. Sementara di China ini adalah tengah hari. Keduanya


tengah video call.


“Rasanya aku tidak akan sanggup jika harus menunggu 2 tahunan lagi,” ujar Andrean.


“Jadi?”tanya Camelia, mengeryitkan dahinya. Ia agak overthingking.


“Dipercepat saja tidak bisa? Menjadi enam bulan lagi? Atau tiga bulan? Atau besok?”tanya Andrean


penuh harap.


“Ya … aku sih mau saja. But, untuk secepat itu, situasinya tidak mendukung,” jawab Camelia.


Masih terlalu cepat.


“Mengapa, Sayang? Ada yang mengusikmu akan itu?”tanya Camelia, tidak mungkin Andrean


menyinggung topik ini tanpa pancingan.


“Aku sudah sangat bosan mendengar para orang tua yang mempromosikan putri mereka, dan ya,


kau tahu sendiri aku ini seberapa popular,” sahut Andrean.


Camelia membulatkan matanya. Tentu saja ia tahu, namun nada bicara Andrean seakan menyombongkan dirinya,


apalagi kalau bukan narsis?

__ADS_1


“Artinya kuncinya ada padamu, Sayang. Jika kau memberi peluang, maka ada kemungkinan


peluangnya akan keluar,” ujar Camelia. Sudah sama-sama dewasa. Saling terbuka


saja. Daripada ujungnya pecah.


“Kalau karena dia punya kemampuan dan aku merekrutnya, bagaimana?”tanya Andrean. Camelia


mengeryitkan dahinya. Merekrut? Camelia paham mengapa tiba-tiba menyinggung


topik pernikahan.


“Jadi, kau merekrut orang yang berpotensi menjadi sainganku, Sayang?”


“Tidak! Tidak akan ada yang bisa menjadi sainganmu, Lia. Hubungan kita sudah direstui, tidak


akan bisa terurai!” Andrean dengan panik menjelaskan.


Camelia tidak menjawabnya. Ia lebih focus untuk mengatasi masalah merekrut orang itu. Andrean


bukan orang yang nepotisme. Jika direkrut, pasti orang yang memiliki kemampuan


di atas yang terbaik.


“Sebenarnya aku tidak terlampau masalah. Asalkan kau dapat menjaga hati dan hati-hati,


Sayang,” tutur Camelia.


“Itu pasti. Aku lega,” jawab Andrean.


“Ah iya, awal musim panas, aku akan menemuimu ke Kanada,” ujar Andrean.


“Hm … jangan awal musim panas, aku akan syuting ke Swiss.”


“Aku mengerti.” Andrean mengangguk paham. Karena malam yang semakin larut dan jam


makan siang yang sudah mau habis, obrolan mereka berakhir.


Camelia menghembuskan nafas pelan. “Sejujurnya kita itu sama,” gumam Camelia. Ia melihat jendela


notifikasinya. Di twitter ada cuitan yang memposting fotonya dan Nicholas saat


ada di restoran tadi. Padahal hanya foto biasa, namun mengapa dilebih-lebihkan?


Mereka bertemu tidak sengaja.


Camelia memijat pelipisnya. Rasanya serba salah. Tidak disapa, nanti akan dibilang sombong,


jika disapa, katanya melakukan janji makan siang. Malam tidak ada Liam lagi di


foto itu.


Namun, Camelia senang. Penggemar setianya tidak akan mudah percaya. Karena ini bukan pertama


kalinya. Dan semua rumor ataupun postingan gossip seperti itu, hampir semuanya


tidak benar.


“Namanya juga akan kerja sama, tidak boleh terlalu acuh, bukan?” Camelia menyimpan


ponselnya. Saatnya tidur.


*


“Lagi, dan lagi. Bosan lama-lama aku Kak,” keluh Dion saat melihat tayangan selebriti


pagi.


“Beli saja stasiunnya,” sahut Tuan Shane santai.


“Lagipula, tidak mungkin kan menjadi yang di bawah Chris? Setidaknya harus setara dan kalau


bisa lebih,” imbuh Nyonya Shane.


“Namanya juga untuk menciptakan topik,” celetuk Lucas.


“Padahal aku ikut, tapi tidak ada di dalam foto itu. Hatters kurang ajar!”gerutu Liam.


Camelia tersenyum simpul. “Jangan diambil pusing,” ujar Camelia.


“Beli stasiun televisinya? Itu ide bagus.” Dion tampak tengah memikirkannya.


“Jangan berlebihan. Itu hanya hal kecil,” sahut Camelia tidak setuju.


Dion berdecak.


Setelah sarapan, Dion berangkat ke perusahaan, bersama dengan Tuan Shane. Nyonya Shane tetap di


kediaman. Sementara Camelia akan ke Glory Entertaiment sebentar lagi.


*


“Anda dipanggil oleh Presdir, Bu Margaretha,” ucap salah seorang staff pada Margaretha.


Margaretha yang baru tiba langsung menuju ke ruangan David.


“Tuan.” Margaretha telah tiba di ruangan David. Margaretha mendapati di ruangan ini tidak hanya


ada David. Sekretarisnya, namun juga ada Lina yang duduk di sofa. Terlihat gugup.


“Tuan memanggil saya?”tanya Margaretha, sembari menerka situasi apa ini. David mengangguk.


“Ada hal penting yang ingin aku beritahukan padamu, y aini termasuk rahasia,” ujar


David.


“Ya?” Margaretha menatap Lina. “Apakah tentang hubungan Anda berdua?”tanya


Margaretha. David tertegun sesaat. Lina mendongak.


“Jika mengenai hal itu saya tidak terlalu terkejut dan saya siap mendengarnya. Sebelumnya


saya mengucapkan terima kasih karena telah menaruh kepercayaan pada saya.” Tatapan


Margaretha tegas. Kata-katanya juga begitu.


David tersenyum. Ia jadi tidak begitu heran. Justru rasanya aneh jika Manager senior tidak peka.


Lagipula, David sudah menikah, dan saat ini Lina ada di sini, serta ada hal


penting yang ingin dikatakan padanya.


“Seperti yang kau ketahui, aku sudah menikah. Dan identitas istriku adalah, Lina,” ujar


David, dengan lantang memperkenalkan Lina sebagai istrinya. “Dan sebentar lagi,

__ADS_1


aku akan menjadi seorang ayah.”


Margaretha membulatkan matanya. “Lina sudah hamil?”


__ADS_2