Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 124


__ADS_3

"Tuan, para investor telah kembali menanamkan saham di Starlight Entertainment. Harga saham kita sudah kembali normal. Namun, tidak menjamin untuk turun lagi mengingat masih banyak gosip beredar di luar sana," terang dan lapor Hans pada Andrean di sore hari.


Andrean yang letih menangani masalah itu, hanya bergumam. Bersandar dan memejamkan mata di kursi kebesarannya. Jas tidak ia kenakan. Mengenakan kemeja dengan dua kancing atas terbuka.


"Sebentar lagi, Anda akan menemui para artis yang tersandung rumor," ucap Hans, mengingatkan.


"Bangunkan aku," jawab Andrean.


Hans mengangguk. Ia sendiri juga sangat letih. Tapi, lebih letih Andrean lagi.


Menunggu jam jadwal, Hans juga beristirahat. Duduk di sofa dan minum segelas anggur merah.


"Tuan … Tuan." Saat sudah jamnya, Hans bangkit dan membangunkan Andrean.


Andrean terperanjat sekilas. Mengerjapkan matanya. Matanya sedikit memerah, dan berat. Namun, jadwalnya belum selesai. Ada istirahat tiga puluh menit saja sudah bagus.


"Ayo," ucap Andrean setelah mencuci wajahnya, menyambar jas dan meninggalkan ruang kerja diikuti Hans.


Andrean menuju ruangan yang difungsikan sebagai salah satu ruang meeting. Letaknya ada di lantai 10.


Tiba di ruangan itu, Andrean menatap dingin enam orang yang berada di sana. Keenam itu adalah yang terkena rumor diluar yang berkaitan dengan hukum seperti narkotika.


"Tuan." Serentak mereka semua menunduk dan menyapa Andrean.


Andrean tidak menjawabnya. Duduk di kursi. Tatapannya masih dingin dan itu sangat menakutkan. Keenam orang itu menelan ludah takut.


"Sudah puas?"tanya Andrean dingin.


"Kalian tidak hanya membahayakan karir kalian sendiri tapi juga mengancam perusahaan!"


Semakin menunduk. "Tidak ada pembelaan dari kalian?"tanya Andrean.


Andrean memang tidak membaca pernyataan apa yang dikeluarkan oleh perusahaan. Ia fokus menangani investor dan Hans fokus menangani pernyataan.


"Aku memang tidak bisa terlalu banyak mencampuri urusan kalian. Tapi, jika mengancam perusahaan, aku tak segan membuat kalian menandatangani perjanjian yang akan mengekang kalian!"tegas Andrean lagi. Ia masih menanti enam orang di hadapannya ini menjawab pertanyaannya.


"CK! Kalian sangat ceroboh!"dengus Andrean lagi.


"T-Tuan." Salah seorang dari mereka mengangkat tangan, dengan gemetar.


"Ah! Sudahlah!" Andrean mengibaskan tangannya.


"Tidak perlu kalian jelaskan. Lain kali jangan ceroboh!" Andrean berdiri, bersiap meninggalkan ruangan.


"T-Tuan. Maaf!" Keenam orang itu berdiri dan membungkuk pada Andrean.


"Hm." Setelahnya meninggalkan ruangan.


"Tuan, tidakkah Anda merasa ini terlalu mengejutkan?"tanya Hans.


"Bukankah sudah jelas?"balas Andrean.


*


*


*


Andrean tidak ke ruangannya. Melainkan naik menuju rooftop. Hans kembali ke ruangannya, mengurus beberapa hal lagi.


Andrean mengeluarkan rokok dan pemantik dari balik jasnya. Menghisap dan menghembuskan asapnya.


"Hah!"


Andrean menghela nafasnya. Dalam waktu singkat, entah berapa kali ia menghela nafas.


"Padahal aku sudah memberinya peringatan," dengus Andrean, tersenyum miring.


"Kau ingin rupanya," kekeh Andrean kemudian.


"Hahaha!" Andrean kemudian tertawa terbahak. Mengusap wajahnya kasar.


Tatapannya sungguh mengejek. "Kau pikir ucapanku main-main?!" Andrean mematikan rokoknya.


Ekspresinya berubah cepat. Andrean memegang pagar pembatas rooftop. Pandangan lurus ke depan, begitu serius.


"Cari mati!"


*


*

__ADS_1


*


"Cepat sekali. Tidak seru," dengus Allen saat membaca artikel bahwa saham Starlight Entertainment sudah membaik dan kembali normal.


"Tuan, sebaiknya jangan Anda lakukan lagi. Tuan Muda Gong pasti tidak akan tinggal diam," ujar Lie, mengingat Allen.


"Apa yang perlu ditakutkan, Lie? Dia tidak akan tahu," sahut Allen, ia begitu santai, menikmati anggur merah di sore hari.


Lie memijat pelipisnya. Mengapa Tuannya ini begitu ceroboh? Apa tidak memperkirakan akibatnya jika Andrean mengetahuinya?


"Tuan Muda Gong tidak sebodoh itu, Tuan! Dia orang yang cermat!"ucap Lie lagi, agar Allen tidak menyepelekan Andrean.


"Dia tidak akan tahu," jawab Allen, masih dengan nada santai. Sama sekali tidak ada perasaan khawatir.


"Tuan, jika ketahuan Anda tidak akan bisa lagi berada di ruangan ini!"gemas Lie, mengapa susah sekali diperingati?!


"Tenanglah, Lie. Meskipun dia tahu, dia tidak dapat berbuat banyak," ucap Allen, menenangkan Lie.


"Mengapa kau panik sekali?"cetusnya kemudian.


"Astaga!" Lie tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Tuan, bagaimana jika Tuan Muda Gong menarik sahamnya? Perusahaan ini akan goyah dan Anda akan dituntut untuk itu!" Lie kembali berucap setelah diam beberapa saat.


"Memangnya dia berani?" Allen menjawab dengan senyum seringainya. Sorot matanya penuh dengan keyakinan.


"Aku sudah memperkirakannya, Lie," imbuh Allen.


Lie tidak menjawab lagi. Hanya menghela nafasnya, menyerah untuk memperingatkan Tuannya.


*


*


*


"Tuan, saya sudah mendapatkan data yang Anda inginkan," ujar Hans, memegang beberapa lembar kertas.


"Hm."


Saat ini, Andrean tengah berada di ruang gym istananya.


Keringat mengucur deras dari pelipis, turun ke wajah, melewati leher, dan bertemu dengan keringat lainnya di dada yang bidang.


Andrean menghembuskan nafas setelah selesai gym. Sebelum minum, Andrean mengguyur wajahnya dengan air minum.


Dadanya naik turun, tanda lelah setelah gym. Hans menyerahkan lembaran kertas di tangannya begitu Andrean menengadahkan tangannya.


"Apa yang akan Anda lakukan dengan semua data itu, Tuan?"tanya Hans, penasaran. Semua data itu berkaitan dengan Allen dan juga Group Gong.


"Membuatnya membayar hutang," jawab Andrean. Ia mengalami kerugian besar akibat masalah kemarin.


"Maksud Anda dalangnya adalah Tuan Allen?" Hans terhenyak.


"Menurutmu siapa lagi?"balas Andrean.


"Tapi, bukankah dia sangat ceroboh? Maksud saya, jika Anda goyah, bukankah dia akan terancam?"heran Hans, menerka kemana arah pola pikir Allen.


"Apa karena dia sudah jadi Presdir Group Gong?"pikir Hans.


"Karena dia bodoh," jawab Andrean.


"Tapi, si bodoh itu bagian dari keluarga Gong dan dia dipandang pantas menduduki jabatan itu. Masalah sudah jadi Presdir, hal mudah menurunkannya," lanjut Andrean.


"Dan menyinggung Anda bukankah dapat mengancamnya?"


"Sudah ku katakan dia itu bodoh!"tandas Andrean.


"Lantas apa yang akan lakukan? Bagaimana cara membuatnya membayar hal kemarin? Sementara, menyinggung Group Gong dapat membahayakan semua keluarga Gong." Hans lebih cemas, panik, dan juga bingung daripada Andrean. Pria itu dengan elegan membalik lembar demi lembar dan membacanya dengan cermat.


"Siapa yang mengatakan aku akan menyinggung Group Gong?"tanya balik Andran, dengan senyum tipis.


"Kerjasama dengan perusahaan sampah seperti ini? Dia mau menurunkan derajat Group Gong?" Tiba-tiba Andrean berkata dengan geram.


"Dan ini lagi! Biaya ini terlalu besar! Bisa diminimalisir!"lanjut Andrean lagi.


"Selanjutnya…."


"Beraninya dia! Si bodoh ini!" Andrean semakin menggeram kesal. Wajahnya merah padam. Hans bergidik.


Allen, kau dalam masalah!

__ADS_1


"Hans, kirim data perusahaan sampah ini kepada Kakek dan juga jajaran tinggi Group Gong!"ucap Andrean pada Hans. Mengembalikan beberapa lembar kertas pada Andrean kemudian meminta pulpen pada Hans.


Andrean mencoret-coret sisa kertas sembari melihat ponselnya. "Dan ini juga. Jangan lupa diperbaiki," ucap Andrean, menyerahkan kertas terakhir pada Hans.


Hans melihat hasil coret - coret Andrean.


"Group Gong pasti akan terkejut karena Anda turun tangan."


"Jika aku tidak turun tangan, si bodoh itu akan menghancurkan perusahaan. Semakin memajukan? Cih! Omong kosong yang besar!"decak Andrean.


Hans meringis. Kasihan sekali Allen. Namun, itu salahnya sendiri. Baru diangkat sudah mencari masalah.


Memangnya Andrean orang yang mudah?


Maybe, hanya mudah pada Camelia, Lucas, dan Liam. Juga Kakek Gong dan Crystal.


"Ada lagi, Tuan?"


"Hm, mendekatlah." Hans mendekatkan telinganya pada Andrean. Andrean membisikan sesuatu yang membuat Hans membelalakkan matanya.


"Dia harus membayar semuanya!"ucap Andrean, menjawab kekagetan Hans.


"Baik, Tuan," jawab Hans.


*


*


*


"Kakek mengadakan meeting? Mengapa tidak meminta persetujuanku?"


Pagi harinya, saat baru tiba di ruangan, Allen dikagetkan dengan pemberitahuan dari Lie. Bahwa Kakek Gong mengadakan meeting pagi hari ini.


"Ada masalah apa?" Dengan dipenuhi tanda tanya, Allen menuju ruang meeting.


Di dalam sana, sudah ada kakek Gong dan petinggi perusahaan.


"Duduk!" Kakek Gong memberi titah. Duduk di hadapan Kakek Gong. Keduanya duduk berhadapan dengan para petinggi lain di sisi kanan dan kiri.


"Ada masalah apa, Kakek?"tanya Allen, bingung. Suasana di ruangan itu begitu serius.


"Lihat itu!" Asisten Kakek Gong memberikan sebuah map pada Allen.


Allen membukanya. Membacanya dengan cepat. Matanya membulat setelahnya.


"Kau hampir membuat masalah besar, Allen!" Kakek Gong berkata dengan berat.


"Kakek aku sama sekali tidak tahu tentang hal ini," ujar Allen cepat.


"Tidak tahu? Kau sebagai seorang pimpinan tentu harus tahu dan mencari tahu bagaimana perusahaan yang akan bekerja sama dengan kita! Kau lalai!"seru salah seorang petinggi.


"Belum ada sepekan, kau melakukan kekeliruan. Bekerja sama dengan perusahaan seperti itu akan sangat mempengaruhi kredibilitas perusahaan!"tandas yang lainnya. Kakek Gong diam menatap dirinya.


"M-maafkan aku. Aku keliru." Segera Allen berdiri dan membungkuk.


"Kau bukan baru dalam hal seperti ini, Allen! Seharusnya kau tak melakukan kekeliruan seperti ini!"ucap Kakek Gong.


"Jika Tuan Muda Gong tidak meninjau ulang, mungkin di masa depan, kredibilitas kita akan hancur!"


Andrean mengangkat wajahnya. Apa katanya tadi? Andrean meninjau ulang?


"Selain itu, mengapa kau menyetujui biaya yang sangat tinggi ini? Sementara proyeknya tidak begitu besar?"tanya Kakek Gong, meraih remote dan menyalakan layar yang ada di belakangnya.


Di sana, terdapat rincian dana yang sebelumnya Allen setujui.


"Sementara Andrean, membuat rincian yang lebih minimal dari dengan kualitas yang sama," sambung Kakek Gong, membandingkan rincian dana yang Allen setuju dengan rincian dana yang Andrean buat.


Allen menatap lurus layar. Tidak tahu harus berkata apa. Tangannya mengepal, ia menahan malu.


"Ke depannya, jika ada kekeliruan seperti ini, kami tidak akan mentolerirnya!"tegas salah seorang dari mana. Dan Kakek Gong tidak mengatakan untuk hal itu.


"Rapat selesai!" Kakek Gong menutupnya. Dan kemudian meninggalkan ruang rapat diikuti oleh para petinggi.


"AGGHHKK …. SIALAN!"


BRAKK!


Allen memukul meja dengan keras. Lie terperanjat.


"Sialan itu!"desis Allen, matanya memerah. Dengan dada naik turun, sungguh emosi.

__ADS_1


Lie tidak mengatakan apapun. Karena sebelumnya, ia sudah memperingatkan Allen. Namun, Allen sangat percaya diri bahwa Andrean tidak akan menyentuhnya. Namun, siapa sangka?


Andrean menyerangnya dari sisi ini. Tidak hanya tidak membahayakan Group Gong akan tetapi juga dianggap menyelamatkan Group Gong. Dan ia, sangat-sangat malu. Andrean mempermalukannya tanpa menyentuh perusahaan!


__ADS_2