
Camelia tengah sibuk menjalani pemotretan untuk sampul majalah edisi musim dingin. Acara itu berlangsung indoor. Evelin menemani Camelia
Memperhatikan Camelia yang tengah di pose di depan Camelia dari tempatnya berada. Dipikirkan berulang kalipun, rasa kagumnya pada Camelia semakin membesar. Semakin ia ikut dengan Camelia, semakin ia melihat banyak hal baru.
Apalagi untuk dirinya yang masih pendatang baru. Evelin bisa berada di posisi ini karena rekomendasi asisten Camelia terdahulu.
Camelia tipe yang mudah dilayani. Juga seorang pengayom. Semakin membuatnya bertekad untuk terus berada di samping Camelia dan menjadi asisten terbaik sepanjang masa.
Mana tahu saja kedepannya ada penghargaan untuk asisten artis.
"Eve, ada kabar terbaru apa mengenai Joseph dan kasus Alice?"tanya Camelia, saat sudah break.
"Eh?" Evelin terkesiap. Ia tidak salah dengar kan?
Hari ini Nonanya tertarik pada kedua orang itu?
"Hei, ditanya malah melamun," sentak Camelia.
"Eh, iya, Nona. Hehe."
"Kabar terbarunya tentang adalah Tuan Joseph dijatuhi hukuman penjara dan dendam. Saya dengar hukumannya cukup lama. Dan apa Anda tahu, Nona. Ada kabar terbaru lagi. Katanya, Tuan Joseph juga terseret kasus pelecehan seksual di bawah umur. Sepertinya di balik kamera, ia punya segudang perilaku buruk yang termasuk kejahatan besar. Jika tidak, mana mungkin tuduhan padanya seperti jamur di musim hujan." Seperti yang Camelia harapkan, Evelin selalu update.
"Lalu penyelidikan kasus kematian Alice?"tanya Camelia lagi. Camelia tidak mengikuti perkembangan terbaru. Ia hanya membaca judulnya sekilas dan itupun sudah lupa. Dengan Evelin, Camelia bisa mendengar beritanya tanpa membaca sekaligus mendengarkan pendapat Evelin.
"Tidak ada perkembangan terbaru. Hanya beritanya saja yang terus disiarkan. Nona, Anda benar. Kehidupan seorang artis atau model itu, berbeda dengan yang ditampilkan di depan dan di belakang kamera. Selain itu, secara tidak langsung kebebasan mereka juga seakan terenggut karena banyak yang mengintai. Belum lagi tekanan yang dirasakan. Nona, Anda sangat kuat bisa bertahan di industri tanpa skandal atau kasus buruk apapun!"
Camelia tertawa mendengarnya. "Evelin, karena aku bekerja dengan hati. Mendedikasikan diriku sepenuhnya untuk menghasilkan karya dan performa terbaik. Selain itu, mungkin karena aku memiliki dua bintang yang sangat terang," jawab Camelia.
Evelin terpana. Ia kemudian menganggukinya.
"Evelin, tetaplah berada di sisiku." Nadanya terdengar lembut bagi Evelin. Entah itu perintah atau permintaan Evelin menganggukinya.
"Nona, saya ada permintaan." Evelin menjeda ucapannya. Camelia mengangkat alisnya. "Bawa saya kemanapun Anda akan pergi. Saya ini orang yang cepat tanggap dan selalu update. Saya yakin tidak akan merepotkan Nona jika anda membawa saya ke luar negeri."
Camelia mengerjap.
"Saya merasa hampa saat Nona pergi ke Prancis tanpa saja. Nona, saya sudah belajar keras untuk belajar bahasa Inggris. Saya juga sudah tes TOEFL, hasilnya mendekati sempurna! Ya, meskipun belum tes resmi, hehehe."
Evelin berasal dari kota Quebec, sebuah kota di bagian timur Kanada. Bahasa resmi di kota itu adalah bahasa Prancis. Hanya kota itu yang lain sendiri.
Selama ini mereka berkomunikasi dengan bahasa Prancis. Namun, tetap disisipi dengan bahasa Inggris. Jika kalimatnya singkat maka menggunakan bahasa Inggris. Jika panjang, maka bahasa Prancis yang digunakan. Ya, cukup merepotkan memang. Namun, juga bermanfaat. Di zaman globalisasi ini, kemampuan berbahasa sangat diperlukan.
"Baiklah. Aku akan membawamu. Apa tahu, Eve? Kalau syuting film nanti akan diadakan di Swiss?"tanya Camelia. Dibalas dengan mata Evelin yang berbinar.
"Saya akan berusaha keras, Nona. Saya pastikan sebelum berangkat saya sudah menjalani tes TOEFL resmi!"
"Alright. Aku percaya padamu."
*
*
*
Tok
Tok
"Mom, aku masuk, ya."
Liam mengetuk pintu kamar Camelia.
"Iya!"
Liam membuka pintu dan masuk. Mendapati Camelia tengah duduk di depan laptop. Sepertinya mengerjakan sesuatu.
"Mom, aku sudah mendapatkannya!"ucap Liam. Ia duduk di sofa. Menunjukkan sebuah flashdisk di tangannya.
"Valid?"tanya Camelia, memutar kursinya ke arah Liam.
"Tentu saja, Mom. Aku sudah memasukkan semua datanya ke dalam," jawab Liam dengan penuh percaya diri.
Camelia tersenyum puas. Liam menghampiri Camelia untuk memberikan flashdisk itu.
Camelia segera mengecek datanya. Liam berdiri di samping Camelia. Tubuhnya yang masih kecil, bahkan tidak sampai permukaan meja.
"Lucas mana?"tanya Camelia. Biasanya, kedua anaknya itu tidak pernah berpisah.
"Tidur."
"Mom, apa yang akan Mom lakukan dengan semua data itu? Mengirim orang untuk menyingkirkannya tanpa jejak?"tanya Liam. Bahkan, dalam pikirannya sudah seperti itu.
"Mungkin," jawab Camelia.
"Rendam saja dalam cairan asam pekat. Lalu gunakan pembakaran tingkat rendah dan abunya dibuang ke laut, maka orang itu akan hilang tanpa jejak," ucap Liam, menyeringai. Camelia melirik sekilas pada putra keduanya itu. Jika orang lain yang mendengarnya pasti sudah menatap horor Liam. Masih kecil tapi sudah punya ide mengerikan seperti itu.
"Darimana tahu kau itu, Liam?"tanya Camelia.
"Film crime thriller," jawab Liam santai. Camelia tertawa pelan.
Camelia kembali fokus pada data yang ditemukan Liam. Biodata Vivi serta kehidupan setelah menikah.
Camelia tercengang. "Menyedihkan!"gumam Camelia.
"Tidak, jika dia berani menjadi pengganggu hubungan Mom dan Ayah."
__ADS_1
"Hah. Baiklah. Sekarang, pergilah tidur," ujar Camelia.
"Tidur di sini," jawab Liam. Ia berlari dan langsung mengambil tempat di ranjang. Camelia sedikit memiringkan kepalanya.
"Tidurlah duluan. Mom menyelesaikan ini dulu," tutur Camelia. Liam mengangguk. Ia sudah menarik selimut.
Camelia meraih ponselnya. Mengirim pesan pada Andrean. Tak berselang lama, ada panggilan masuk. Dari Andrean.
"Aku lupa," gumam Camelia, ia menepuk dahinya pelan. Jika ia bertanya Andrean sibuk apa tidak, jawabannya tentu tidak.
"Ehem … kau pasti sibuk, kan?"
"Tidak. Aku tengah istirahat setelah meeting," jawab Andrean di seberang sana. Camelia mendengus. Entah mengapa ia tidak percaya dengan jawaban itu.
"Baiklah. Aku tidak akan panjang lebar. Aku akan mengirim data wanita itu padamu. Aku mau kau selesaikan dengan cepat. Jika tidak, aku akan menggunakan cara Liam," ucap Camelia. Ia memang tidak tenang dengan kehadiran Vivi. Meskipun Andrean menolaknya, Camelia tidak yakin dengan Vivi.
"Sudah ku duga. Kau tidak mungkin diam saja. Baiklah, kirimkan padaku. Tiga hari, aku akan menyelesaikan semuanya," jawab Andrean dengan pasti.
Camelia mengangguk kecil. "Tiga hari!"
"Hei, Rean. Aku beritahu padamu, cara Liam ini sangat ampuh. Tapi, jika selesai dengan caramu, tidak akan aku gunakan cara itu," peringat Camelia.
"Percaya padaku."
"Okay. Aku mau istirahat. Kau kembali bekerja. Aku tahu kau sedang sibuk, Mr. Gong!"putus Camelia, ia mengakhiri panggilan.
Huh!
"Saatnya tidur."
*
*
*
Tidak sibuk apanya? Apa tumpukan berkas dan jadwal meeting Anda kurang padat, Tuan?
Hans mendelik kesal di belakang Andrean.
Huh! Cinta memang merubah bongkahan es dan batu ini!
"Meeting selesai, ingat revisi kalian!"
Andrean bangkit. Meninggalkan ruang meeting. Hans menyusul. "Hans, sepertinya kau harus belajar lagi," ucap Andrean dengan nada meledek. Saat ini sudah tiba di ruangan Andrean.
"Maksud Anda, Tuan?"
"Data yang Liam temukan lebih detail dari data yang kau berikan."
"Tuan? S-saya ini tidak segenius putra Anda. Tolong jangan melihat saya terlalu tinggi."
Hans buru-buru membungkuk.
"Kau benar. Anakku memang genius."
"Malam ini bawa wanita itu padaku. Lia memberiku waktu untuk menyelesaikannya," ujar Andrean.
Hans mengangguk.
*
*
*
Vivi mengigit jarinya. Ia menatap gerbang kediaman yang menjulang tinggi bak istana. Tidak terlalu dekat karena banyak penjaga di sana.
"Apa aku tidak bisa menyentuh anaknya? Sesayang apa kak Andrean pada anaknya itu?!"
Ya, kediaman dengan gerbang tinggi itu adalah istana Andrean.
Tampaknya rencana Vivi adalah mendekati Crystal untuk mendapatkan Andrean.
Vivi memutar otaknya. Rencana itu sepertinya sangat sulit. Selama ia mengintai, Vivi tidak melihat Crystal keluar dari kediaman. Selain itu, ia juga tidak berani meminta izin masuk.
Di gerbang, dipasang juga spanduk yang melarang dia masuk.
"Eh?"
Vivi terkejut saat ada mobil yang berhenti di sisinya. Kaca mobil turun.
"Kak Andrean!"
"Aku ingin bicara padamu."
"Sungguh?!" Vivi berteriak senang. Ia meraih handel pintu untuk masuk. Namun, tidak bisa dibuka.
"Kak?"
Andrean tidak menjawab, apalagi menoleh padanya. Menaikkan kaca mobil dan mobil melaju meninggalkan Vivi.
"Kak? Kakak!"
Vivi menggertakan kakinya. Dengan terpaksa ia berlari menuju gerbang. "Tuan kalian ingin bicara padaku!"ucap Vivi angkuh. Para penjaga itu saling pandang.
__ADS_1
"Gunakan itu baru Anda bisa masuk." Seorang penjaga memberikan Vivi pakaian.
"Apa ini?"
"Peraturan di sini adalah pakaian di bawah lutut! Ini istana bukan bar!"
"Apa?!" Wajah Vivi merah padam. Para penjaga ini menghina gaya berpakaiannya?
Memang terlalu seksi. Dengan terpaksa lagi, Vivi menambal pakaian dengan pakaian yang diberikan oleh penjaga tadi. Itu celana panjang yang sangat longgar dengan koas oblong.
Style itu benar-benar bukan seleranya. Ia tidak bisa menunjukkan keseksian tubuhnya.
Tapi, asal bisa masuk tidak masalah.
Jarak gerbang ke kediaman utama cukup jauh. Ia berkeringat sangat banyak saat tiba di ruang tamu.
"Air, air …."
Pelayan memberikannya.
Di sana, Andrean duduk dengan ekspresi datar. Di belakangnya, ada Hans.
"Kak, mengapa kau menghindariku? Apa aku ada salah padamu?"tanya Vivi, dengan nada sedih dan memelas.
"Terlalu mencolok," gumam Hans.
"Istanamu sangat indah, Kak. Aku menginap di sini, ya! Oh iya, ku dengar Putri kakak sangat cantik. Aku ingin bertemu dan bermain dengannya."
Vivi beranjak duduk di sofa.
"Wah! Kau benar-benar kaya, Kak! Aku yakin di sini ada banyak kamar. Aku pindah, ya?! Kamar hotel sangat membosankan!"
"Benar! Kak, kau harus mempertimbangkannya. Aku ini berjiwa keibuan. Aku juga menyukai anak kecil. Aku cocok menjadi ibu sambung untuk putri kakak!"
Prttt
Andrean tetap tenang. "Sekretaris Hans? Anda menertawakan saya? Apa yang lucu?"tanya Vivi kesal.
"Kepercayaan diri Anda, Nona Vivi," jawab Hans. Wajahnya benar-benar menahan tawa.
"Apa yang salah? Dengan pengorbanan Kakak saya, Kak Andrean pasti menyetujuinya. Iya kan, Kak?" Vivi menatap Andrean penuh harap.
Andrean terkekeh sinis. "Pengorbanan itu sudah tidak berarti lagi padaku, Nona."
"Kak?!"
"Yang berkorban adalah kakak Anda, bukan Anda. Mengapa Tuan saya harus bertanggung jawab pada Anda? Selain itu, Tuan saya juga sudah membalas pengorbanan itu di masa lalu. Nona, Anda benar-benar lucu!"ucao Hans.
Vivi kembali menggertakan giginya. "Namun, Tuan saya masih bermurah hati pada Anda. Tuan saya akan memberikan Anda sejumlah uang. Dengan syarat Anda harus meninggalkan negara ini. Pergi jauh sana," ucap Hans. Kata-katanya begitu gamblang.
"Aku tidak setuju!"tolak Vivi langsung.
"Nona, balas jasa atas pengorbanan juga ada batasnya. Jika Anda menuntut pada Tuan saya untuk membayar seumur hidup, Anda benar-benar orang yang tamak dan serakah atas apa yang bukan hak Anda!"kecam Hans.
"Kakakku meninggal karena menyelamatkannya!"
"Hei!" Andrean menggebrak meja. Ia sudah tidak bisa tenang mendengar ocehan Vivi.
"Aku sudah memberimu kesempatan lagi. Jangan melampaui batas atau aku tidak akan bisa lari! Putuskan sekarang, aku beri kau uang lalu pergi, atau kau memilih jalan suramnya?"ucap Andrean dingin. Jika uang tidak bisa menyelesaikannya, maka Andrean akan bertanya pada Camelia mengenai cara ampuh Liam.
"Kau mengancamku, Kak?"
"Anggap saja begitu."
Andrean membisikkan sesuatu pada Hans. "Tidakkah itu terlalu banyak, Tuan?"
Andrean tidak menjawab. Hans mengangguk. Ia meninggalkan ruang tamu.
Andrean menyesap tehnya. Melirik Vivi sekilas. Wanita itu menunduk.
Hiks … hiks … hiks
Terdengar tangisan. Vivi menutupi wajahnya, menangis. "Mengapa Kakak membenciku? Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Kemana aku akan pergi?"
"Di rumah itu sangat menyeramkan. Aku dipaksa melakukannya dengan banyak pria. Aku tidak sanggup lagi. Aku pikir kakak akan menerimaku. Memperlakukanku dengan baik. Mengapa kau begitu kejam, Kak? Hiks … hiks … hiks …."
Bukannya iba, rasa bosan hingga pada Andrean.
"Nona Vivi, jangan membuat drama. Kami sudah berniat baik membantu Anda." Hans kembali. Menjawab rintihan Vivi dengan datar.
"Silakan lihat nominalnya. Jika Anda setuju, mohon segera angkat kaki dari sini!"
"Apa kau Tuannya?"sinis Vivi. Ia mulai menampakan wajah alisnya. Air matanya diseka kasar.
"Benar-benar tidak tahu terima kasih!" Namun, Vivi menerima cek itu dengan kasar.
Hans terkekeh tanpa suara.
"Tambah 5 milyar lagi. Aku akan pergi!"
Andrean mengangguk. Hans merebut kembali cek itu. Merobeknya kemudian membuat cek baru.
Setelah itu, Vivi pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Selesai begitu saja, Tuan?" Entah mengapa Hans merasa tidak puas.
"Sejujurnya aku tidak rela memberikan uang itu. Aku juga tidak yakin jika dia tidak akan datang lagi. Hans, mendekatlah." Hans mendekati. Andrean membisikan sesuatu.
__ADS_1
Hans tercengang beberapa saat. Sebelum akhirnya tersenyum smirk.