Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 54


__ADS_3

Ingin tahu kasus apa yang menimpa Jordan? 


Sejak menerima kabar miring tentangnya, Jordan tidak bisa tidur. Ia terjaga semalaman memikirkan bagaimana caranya lepas dari skandal yang menyeret namanya itu. Sebenarnya tidak menyeret karena dialah pelaku utama dalam hal tersebut. 


Ingin meninggalkan tempat?


Artinya ia secara  tidak langsung mengakui bahwa benar dirinya bersalah atas tuduhan tersebut. Manajer menyuruhnya untuk tetap tenang dan tetap berada di apartemen. Karena jika dia bertindak, seperti meninggalkan apartemen, pasti akan menyebabkan kecurigaan yang mendalam. Lebih baik tetap tenang dan  mengikuti proses hukum sebagaimana mestinya.


Mengapa membawa hukum? 


Tentu saja karena Jordan dituduh melakukan pelecehan secara fisik dan verbal. Itu seperti tuntutan ganda, bukan?


Siapa yang melaporkan dan mem-posting hal itu? Sama seperti yang terjadi pada Rose. Pengupload postingan tidak bisa ditemukan namun, ada saksi yang kuat untuk itu. 


Dan turunnya berita itu kembali membuat dunia entertainment gempar. Reaksi publik lebih besar untuk Jordan. Pasalnya, Jordan dikenal sebagai aktor yang tidak punya skandal buruk apapun. Di mata publik ia punya kepribadian yang baik. Terlebih Jordan juga seorang aktor top yang sudah meriah beberapa penghargaan. Rasanya sulit dipercaya, terlebih untuk penggemar dirinya yang kebanyakan adalah kaum hawa. 


Kemarin Rose, lalu sekarang Jordan. Berita sama-sama miring, mungkin besok ada tagar dou bermasalah. Mungkin juga publik akan memasangkan mereka. 


Di dalam kamar itu, Jordan memikirkan akan reputasinya.


"Bagaimana ini? Jika diselidiki aku akan benar-benar tamat," gumamnya dengan penuh rasa takut. Sepertinya tuduhan itu benar adanya. Karena hanya orang yang salah dan benar melakukan tuduhan lah yang akan merasa takut dan gelisah. Jika tidak, maka ia akan tetap tenang, optimis, dan tidak gentar. Kecuali kalau dia seorang psikopat.


*


*


*


Rose berjalan tergesa dengan wajah memerah. Sepertinya ia begitu kesal. 


"Brakk!!" Rose membuka kasar sebuah pintu. 

__ADS_1


"Di mana Crystal? Di mana kau menyembunyikannya?!"teriak Rose pada Andrean yang masih berada di meja kerjanya. Andrean mengangkat wajahnya, menatap Rose dengan tatapan dingin. 


"Untuk apa kau tahu di mana dia? Bukankah kau tidak peduli padanya??"tanya Andrean dingin. 


"Dia anakku! Aku ibunya! Aku berhak tahu di mana anakku berada, Andrean Gong!!!"teriak Rose dengan menunjuk Andrean. 


"Oh," sahut Andrean dingin. 


"Yang pasti dia ada di tempat yang aman." Andrean menarik senyum miring melihat wajah Rose yang memerah padam.


 "Lebih baik kau bersiap untuk besok. Ah jangan lupa, besok pagi silahkan angkat kaki dari rumah ini sebelum aku bertindak!!" Andrean memberikan penegasan dan ultimatumnya, memberi peringatan yang ke sekian kalinya.


"Kakek. Dia tidak akan setuju …."


"Heh?" Andrean berdecak. "Kau menggunakan kakekku? Hei Nona Liang, yang dibutuhkan oleh kakekku adalah seorang cucu bukan menantu."


"Kakek belum mendapat cicit laki-laki."


"Apa hanya kau wanita yang ada di dunia ini?" 


"Andrean, Crystal adalah anakku. Kalau kita putus maka Crystal juga akan ikut denganku. Kau tidak bisa memisahkan antara ibu dan anak. Tidak perlu menunggu besok, aku akan keluar malam ini juga!!"


"Get out!" Andrean menunjuk pintu keluar. Rose menghentakkan kakinya sebelum pergi. Andrean acuh dengan hal itu. Ia kembali menatap lembaran yang ia baca tadi.


"Ternyata dia beli apartemen di lantai yang sama. Entah mengapa aku merasa harus berterima kasih padanya."


Lembaran itu adalah adalah lembaran barang yang dibeli oleh Rose dengan menggunakan uang Andrean. 


*


*

__ADS_1


*


Benar.


Keesokan paginya, dua orang polisi datang ke apartemen Jordan dengan membawa surat perintah melakukan pemeriksaan terhadap Jordan. Sesuai dengan arahan managernya, Jordan mengikuti perintah tersebut. 


Jordan keluar dengan menggunakan jaket dan juga masker. Saat ia keluar dari lift diikuti oleh dua polisi tersebut, beragam pandangan ia terima. Jordan tersenyum. Ia membayangkan dirinya tengah melakukan screen syuting sehingga tidak akan terpengaruh oleh tatapan itu. 


Setelah Jordan meninggalkan lobby dan pergi bersama dengan dua polisi itu, beragam gosip membicarakan Jordan terdengar semakin jelas. 


"Hei, Liam. Apa kau akan melakukan hal yang sama pada pria itu?"tanya Lucas pada Liam. Mereka melihat perginya mobil polisi itu dari jendela kamar apartemen. 


"Tentu saja," jawab Liam. 


"Apakah tidak terlalu kelihatan?"


"Ada bukti untuk apa takut? Lagipula mereka tidak akan bisa menemukan aku. Selain itu, siapa yang percaya jika anak kecil ini yang melakukannya?"balas Liam, melemparkan pertanyaan.


"Kau mengaku jika dirimu masih anak kecil, Liam?" Camelia baru baru keluar dari kamar mandi menyambut balasan Liam.


"Bukankah itu benar?"sahut Liam. Ia tersenyum lebar. 


"Okay. You're." Camelia merunduk dan merentangkan kedua tangannya, "give Mom a hug," pinta Camelia. Lekas, tanpa diminta dua kali, Lucas dan Liam langsung memeluk Camelia. 


"Doakan Mom sukses untuk Casting nanti," pinta Camelia lagi. 


"Off course, Mom," jawab Lucas dan Liam, serentak. Camelia tersenyum lebar.


*


*

__ADS_1


*


Setelah sarapan, Camelia langsung berangkat menuju Phoenix Teknologi untuk mengikuti casting menjadi brand ambasador game mereka.  Camelia berangkat sendiri sebab Kak Abi, Lucas, dan Liam akan ke perusahaan pakaian yang mengontrak Lucas dan Liam. Hari ini adalah hari pemotretan seri kedua. Ya, dipercepat atas permintaan Lucas dan Liam. Kalau bisa langsungkan saja sampai semua sesi selesai. 


__ADS_2