
*
"Sebenarnya takdir buruk apa ini? Mengapa tidak kunjung berakhir? Hal buruk apa yang dilakukan oleh putraku hingga menerima penderitaan seperti ini?"
Camelia bergumam. Wajahnya tertunduk dengan tangan menggenggam erat jemari Liam. Sendu, gusar, sedih, semua bercampur aduk menjadikan hatinya benar-benar tidak tenang. Kegundahan itu begitu meresahkan.
"Tuhan, ataukah ini karena kesalahanku? Kesalahan fatal apa yang aku buat hingga seperti ini? Dan … dan mengapa bukan aku saja yang menderita? Mengapa harus putraku ini?"
Merenung.
Mengaduh.
Mengeluh.
Sebenarnya di mana salahnya?
Ini sudah di penghujung musim gugur.
Mata yang merah itu akhirnya mengeluarkan air mata. Camelia memejamkan matanya. "Apakah … apakah ini karena balas dendamku? Apakah aku salah?" Bergumam.
"Liam … Nak, maafkan Mommy. Maafkan Mommy … hiks … hiks … hiks. Mom gagal … Mom gagal melindungimu. Mom gagal menyembuhkanmu … hiks … hiks, maafkan Mom …." Tangisnya pecah.
Namun, tadi itu segera reda. Camelia mengangkat wajahnya, lurus ke depan. "Tidak!! Aku tidak boleh seperti ini! Masih ada cara. Cara itu! Ya cara itu!!"
"Cara apa, Lia?"
Camelia berbalik. "Rean?" Langsung bangkit dan memeluk pemilik suara itu.
"Kau sudah pulang." Memeluk erat. Menumpahkan kegundahannya dalam pelukan Andrean.
"Ya, aku sudah pulang. Tenanglah, aku ada di sini." Mencium dahi Camelia dengan mata melihat Liam yang terbaring lemah. Hati Andrean semakin berdenyut nyeri.
"Cara apa, Lia?" Kembali Andrean menanyakan pertanyaan itu.
"Anak," jawab Camelia.
"Kita juga sedang mengusahakannya, Lia," ucap Andrean, hal ini sudah menjadi perbincangan beberapa kali. Namun, harapan mereka tak kunjung terwujud. Entah memang belum waktunya apakah ada faktor lain seperti fisik dan mental Camelia.
"Mari, berusaha lebih keras lagi! Liam tidak bisa menunggu terlalu lama." Suara itu, terdengar seperti putus asa yang dikuatkan dengan keyakinan.
"Baiklah. Aku akan membatalkan semua perjalanan ke luar, kita akan berusaha lebih keras lagi."
Camelia tersenyum.
Liam … bertahanlah, Nak.
"Liam, kau harus bertahan. Jika tidak, separuh nyawaku juga akan ikut denganmu. Tidak, separuh nyawa ini tidak akan pernah kembali lagi," gumam Lucas, yang mendengar percakapan Andrean dan Camelia dari depan pintu. Lucas kemudian meninggalkan tempat.
*
*
*
Setelah keluar dari kamar Liam, Andrean berbicara mengenai kata-kata Camelia yang menyuruh Dokter Adam dan Dokter Leo keluar jadi dokter Liam. Camelia menghela nafasnya. Ia bersandar dalam pelukan Andrean, sudah berada di kamar mereka.
"Maafkan aku, Rean. Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku menyesalinya. Aku akan meminta mereka untuk kembali," ujar Camelia.
"Aku senang kau menyadarinya. Lia, penyakit Liam ini tidak sederhana. Kita harus banyak bersabar."
"Kau benar." Camelia kembali menghela nafasnya.
"Sudah, tidak perlu kau pikirkan lagi. Kedua dokter masih ada di sini dan terus merawat Liam sampai sembuh," ujar Andrean.
"Sungguh?" Sedikit kelegaan. Andrean mengangguk.
"Syukurlah. Kau datang di saat yang tepat."
"Lia …."
"Ya?"
"Kita harus berusaha lebih keras lagi. Mari, kita mulai," bisik Andrean.
Bulu kuduk Camelia sedikit bergidik. Jelas maksud Andrean. "Aku akan berusaha keras. Anak kita pasti akan segera hadir."
*
*
*
"Dokter Adam, Dokter Leo, tolong maafkan ucapanku tadi. Pikiranku terlalu kalut setelah mendengar kondisi Liam," ucap Camelia, sembari membungkukkan tubuhnya pada Dokter Adam dan Dokter Leo. Waktu sudah ke pagi harinya. Camelia mengatakan hal itu saat mengunjungi kamar Liam.
__ADS_1
Kedua Dokter saling pandang. "Kami juga memohon maaf, Nyonya," jawab Dokter Adam kemudian.
Camelia berdiri tegak. Ia tersenyum tipis. "Tolong rawat putraku sampai sembuh. Kami juga akan berusaha keras," ucap Camelia, dibalas anggukan kedua Dokter.
Andrean sudah berangkat ke kantor. Begitu juga dengan Crystal yang sudah berangkat sekolah. Meninggalkan Camelia bersama dengan Lucas di gazebo halaman.
Liam belum mendapatkan kesadarannya juga. Anak itu tengah dalam kondisi koma.
Sengaja Lucas mengajak Camelia untuk menikmati sinar mentari dan juga suasana di penghujung musim gugur, udara dingin mulai terasa.
Camelia memejamkan matanya dan duduk bersandar. Sementara Lucas bermain bersama dengan Archie dan Alel yang semakin bertumbuh besar.
Drtt ….
Lucas mendengar getar ponselnya. Langsung mengeceknya. Bibirnya menyunggingkan senyum.
"Baguslah," gumamnya pelan.
"Hei, Archie, Alel, ambil ini!" Lucas melemparkan bola ke sembarang arah. Kedua black panther itu langsung mengejar, saling mendahului untuk mendapatkan bola lebih dulu, bahkan tak segan untuk saling menggigit. Ya, itulah cara bermain hewan. Saling gigit bukan berarti bertengkar.
Byurrr!!
"Apa itu, Lucas?" Camelia membuka matanya saat mendengar suara seperti ada yang jatuh ke air.
"Err … sepertinya Archie dan Alel jatuh ke kolam, Mom," sahut Lucas dengan menggaruk lehernya dan juga tertawa canggung.
Camelia langsung membelalakkan matanya. "Kolam itu dalam, Lucas!"seru Camelia.
"H-Hah? Astaga!!" Keduanya bergegas berlari panik menuju arah kolam yang di maksud.
Itu adalah kolam ikan yang berisi ikan hias. Cukup dalam dan terutama bagian dinding kolam yang terbuat dari bata yang diplaster kasar sehingga akan sulit untuk hewan berkuku tajam seperti Archie dan Alel berpegangan. Dan resikonya dapat membuat kuku kedua hewan itu rusak akibat terus mencakar dinding kolam.
"Err?" Camelia dan Lucas terdiam heran di pinggir kolam. Mereka tidak mendapati Archie dan Alel yang meminta bantuan ataupun kesulitan. Justru sebaliknya, kedua hewan itu malam berenang dengan lincah dan saling berebut bola. Gerakan kedua black panther di dalam air itu menimbulkan gelombang atau ria air yant cukup besar, cukup untuk membuat ikan penghuni kolam merasa takut dan terganggu.
"Haha hehehe, Lucas lupa, Mom. Black panther kan handal berenang, hehe."
Camelia menggelengkan kepalanya. Lalu memanggil pelayan untuk menaikkan kedua hewan itu. "Archie, Alel, come here!" Lucas memanggil agar kedua hewan itu menepi dan pelayan mudah untuk mengangkatnya.
"Hahaha jangan, bajuku basah, tidak mau!"
"Hentikan, Alel, Archie, ahhhhh."
"Lucas." Camelia menggeleng pelan melihat apa yang terjadi. Archie dan Alel masih semangat bermain, dengan bulu yang basah, menggosokkan tubuh ke kaki Lucas, dan menerjang anak itu jatuh terbaring di rumput. "Hah … hah, stop, berhenti menjilatku! Aku baru saja mandi!"
"Ppffff, hahahaha …."
"Mom? Kau tertawa?"
"Hahaha…."
Lucas tertegun sesaat. Sudah lama tidak melihat tawa lepas Camelia. Ternyata bermain hari ini bisa kembali menimbulkan tawa itu.
Lucas menahan kepala Archie dan Alel untuk tidak menjilatnya lagi. "Cukup, sekarang kejar bola itu lagi!" Kembali Lucas melemparkan bola. Kali ini, ia memilih tempat, tidak sembarangan lagi.
Archie dan Alel langsung mengejar. Kedua hewan itu memang sedang berada di fase yang sedang lincah-lincahnya.
"Mom, kecantikan Mom bertambah saat tertawa," puji Lucas.
Camelia menatap putranya itu. "Hahaha." Namun, ada semburat merah di pipinya. Lucas tertawa renyah.
"Mom, tolong jangan bersedih terus. Pasti ada jalannya, okay?"
Camelia tersenyum dan mengangguk. Mereka kemudian berjalan memasuki kediaman.
*
*
*
"Mom!!"
"Crystal," balas Camelia. Anak perempuannya itu baru saja tiba di rumah. Kebetulan, tepat dengan jam makan siang.
"Bagaimana sekolahmu hari ini?"tanya Camelia, menunduk dan mengusap rambut Crystal.
"Luar biasa, Mom! Tadi ada kuis mendadak dan Crystal dapat nilai full," ucap Crystal dengan antusias, mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Waah! Kau sangat cerdas, Crystal." Menghadiahi Crystal kecupan di pipi. Crystal tersenyum lebar.
"Crystal kan anak Ayah dan Mom!"ucapnya dengan bangga. Camelia tertawa renyah.
"Ayo-ayo, segera ganti baju, lalu makan siang, sekalian panggil Lucas juga," tutur Camelia.
__ADS_1
Crystal mengangguk. "Eh, iya. Mom, tadi Crystal bertemu dengan seseorang," ujar Crystal.
"Who?"
"Me," sahut seseorang, menjawab pertanyaan Camelia. Camelia mendongak.
"Kak Abi?" Terkesiap.
"Surprise, Lia."
Ya, itu Kak Abi. Dan tidak hanya Kak Abi, akan tetapi juga Evelin.
"Nona," sapa Evelin.
"Kak!" Camelia langsung lari dalam pelukan Kak Abi. Tak butuh waktu lama, tangis Camelia terdengar.
"Menangislah. Jangan dipendam," ucap Kak Abi, mengusap lembut punggung Camelia.
"Hiks … hiks, aku tak kuat, Kak. Apa yang harus aku lakukan?"
"Selalu ada jalan, Lia. Berusaha dan yakinlah," ucap Kak Abi.
"Aunty Abiii!"
"Lucass!"
Kak Abi melepas pelukannya pada Camelia, langsung memeluk Lucas yang berlari ke arahnya.
"Akhirnya Aunty datang juga."
"Miss me?"
"Of course," sahut Lucas.
"Really?"
"Yes!"
"Sebesar apa?"
"Tidak terlukiskan," sahut Lucas.
"Hahaha semakin manis bibirmu ini," sahut Kak Abi. Keduanya tertawa.
"Nona, aku sangat merindukanmu," ucap Evelin.
"Kemarilah, Evelin." Keduanya berpelukan.
"Bagaimana kabarmu, hm?"
"Baik, Nona. Saya senang bisa bertemu dengan Anda lagi."
"Ya, aku juga."
"Di mana Liam?"tanya Kak Abi kemudian.
"Ada di kamarnya."
"Lucas, makanlah lebih dulu dengan Crystal, Evelin ikutlah dengan Lucas," titah Camelia pada Lucas dan juga Evelin.
"Alright, Mom."
*
*
*
"Lia, ini …."
Camelia menghela nafasnya. "Jujur saja aku sudah putus asa. Tapi, mana mungkin aku menyerah. Liam akan kembali seperti dulu, Kak."
Tatapan mata Camelia sendu. Kak Abi langsung memeluknya. "Aku percaya hal itu."
"Ah, maafkan aku. Kau pasti lelah, ayo aku antar ke kamarmu," ucap Camelia.
Kak Abi mengangguk. "Sudah lama kita tidak bertemu, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, Lia," ucap Kak Abi dalam perjalanan menuju kamarnya.
"Aku senang kau datang, Kak. Hal ini, mari bicarakan besok saja. Kau pasti sangat lelah," ucap Camelia, setelah tiba di kamar yang ditujukan untuk Kak Abi. Sementara Evelin sudah mendapat kamar sendiri.
Kak Abi hanya mengangguk mengerti. Barang-barang yang ia bawa sudah berada di dalam kamar. "Kau pasti sangat tertekan, Lia."
*
__ADS_1
*