Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 63


__ADS_3

"Sarapan dulu, Nak!"seru Nyonya Liang yang melihat Rose turun dari tangga namun tidak menuju meja makan. Rose sudah berpakaian rapi. Lengkap dengan menggunakan masker dan topi. 


Rose tidak menjawab. Melangkah meninggalkan kediaman. Terdengar suara mobil yang menjauh. 


Nyonya Liang menghela nafasnya. Sedih dengan sikap Rose. Duduk dengan bertopang dagu. Suasana rumah tidak ada bedanya. 


Tak berselang lama, Tuan Liang tiba di meja makan. Mengernyit melihat wajah murung istrinya. "Ada apa? Mana Rose? Belum bangun?"tanya Tuan Liang seraya duduk. 


Nyonya Liang menggeleng, "dia sudah pergi. Tidak tahu kemana," jawab Nyonya Liang dengan murung. 


"Tidak pamit?" Diam. Tuan Liang mengepalkan tangannya namun tidak bisa berbuat apapun. 


"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin ada hal yang mendesak. Kau tahu juga kan kalau dia tengah pusing dengan kasusnya. Lebih baik kita sarapan. Jangan sedih, Susan," bujuk Tuan Liang. Meskipun kesal, hanya bisa dipendam. 


"Kau jadi keluar kota?"tanya Nyonya Liang. Tatapannya begitu seduh pada suaminya. 


"Malam juga aku akan kembali. Tidak akan lama, Susan," jawab Tuan Liang. 


"Baiklah." Nyonya Liang tersenyum, tampak terpaksa. 


"Tolong jangan seperti ini. Aku hanya sebentar, Susan." Tuan Liang kembali membujuk. Ia tahu istrinya tidak ingin ditinggal namun ia harus mengecek pembangunan restoran di luar kota. 


"Aku mengerti. Aku akan jalan-jalan nanti," balas Nyonya Liang.  Mulai mengisi piring dengan sarapan juga mengambilkan sarapan untuk suaminya. 


Mereka sarapan dalam keheningan. Nyonya Liang tidak banyak bicara. Selesai sarapan, Nyonya Liang mengantar Tuan Liang sampai mobil. 


Sebelum pergi, lebih dulu mencium kening Nyonya Liang. Nyonya Liang melambaikan tangannya.


Setelah mobil yang ditumpangi Tuan Liang dari kediaman Liang, Nyonya Liang juga bergegas meninggalkan kediaman. Ia mengemudi sendiri. 


"Ibu sangat merindukan kalian, Nak."


*


*


*


"Maaf, Nona. Anda dilarang masuk ke perusahaan selama masa skorsing!" Penjaga menghalangi Rose masuk ke dalam gedung Starlight Entertainment. 


"Aku ingin bertemu Andrean! Jangan halangi aku!"ucap Rose dengan nada pelan namun penuh tekanan. Akan tetapi, jaga tersebut tentu saja mementingkan perintah atasannya. Jika Rose masih tunangan Andrean mungkin penjaga tersebut akan takut dan segera mempersilahkan masuk. 


"Apa hak kalian menghalangiku?!"desis Rose. 


"Kami hanya menjalankan perintah, Nona. Mohon jangan persulit kami," jawab tegas penjaga. 


"Aku ingin bertemu anakku! Kalian tidak berhak menghalangiku!" Tujuan Rose datang memang untuk menemui Crystal. Namun, apa alasan untuk menemui itulah yang menjadi pertanyaan. 


"Berani biarkan Anda masuk tanpa izin dari Presdir Gong!" Tetap teguh pada perintah. Terlihat dari sorot matanya, Rose sangat kesal. 


Rose memang tahu kebijakan perusahaan akan artis yang terkena skorsing yakni memang dilarang menginjakkan kaki di Starlight Entertainment selama masa skorsing. Akan tetapi, haruskah itu berlaku padanya juga? Apakah ia butuh pemeriksaan seperti ini? Butuh izin untuk bertemu dengan anaknya? Anak kandungnya, Crystal?


Yeah!


Rose berbalik. Namun, tidak pergi melainkan mengambil ponselnya untuk menghubungi Andrean. 

__ADS_1


"Aku ada di lobby! Aku ingin bertemu dengan Crystal!"ucap Rose begitu panggilan dijawab. 


"Sayangnya kami tidak lagi di perusahaan!!" Setelah menjawab, demikian panggilan diputus sepihak. 


"Halo! Halo! Andrean! Di mana kalian?!" 


Sigh!


Sialan!


Kemana mereka? 


Tidak! Aku harus masuk untuk memastikannya!! 


Rose meninggalkan tempat untuk merencanakan bagaimana bisa masuk ke dalam tanpa ketahuan. Ia kembali ke mobil. Di saat bersamaan, ada petugas kebersihan yang membuang sampah di tempat yang terletak di sisi samping gedung. Rose tersenyum lebar, "dapat!"


*


*


*


"Kakak di mana?" 


"Di taman. Aku sangat merindukan ayah dan ibu. Namun, aku tidak berani mendatangi mereka." 


Setelah Kak Abi, Lucas, dan Liam berangkat untuk pemotretan, Camelia juga meninggalkan apartemen menuju taman yang dulunya biasa dijadikan tempat piknik oleh keluarga Liang. 


Masalah buket bunga dengan inisial pengirim AG, sudah tidak terlalu Camelia pikirkan. 


"Juga sangat merindukan mereka. Namun, sama seperti kakak." Lesu. 


"Haruskah kita mengaku sebelum kembali?"pikir Camelia. 


"Takutnya Ayah dan Ibu, mereka akan menahan kita pergi lagi. Kakak kita tidak bisa melupakan identitas kita. Namun, kita juga tidak bisa meninggalkan keluarga Shane," tutur Dion. Yang diangguki oleh Camelia. 


"Tapi, Dion. Hanya identitasmu yang jelas. Sedangkan aku?" Camelia murung. Ia tidak tahu siapa orang tua kandungnya. 


"Jangan begitu, Kakak. Kau adalah kakakku. Aku adikmu. Jangan ragukan identitasmu. Kau adalah Camelia Shane!!"ujar Dion. 


"Apakah aku perlu mencari tahu siapa orang tua kandungku sebelum kembali ke Kanada?" Camelia kembali berpikir. 


"Kakak berpikir seperti itu?" Dion terhenyak di tempatnya. Selama ini, Camelia tidak pernah menyinggung pasal keluarga kandungnya. 


Mengapa tiba-tiba berpikir untuk mencari tahu soal keluarga kandungnya? 


"Entahlah, Dion. Aku sudah mendapatkan apa yang selama ini ingin aku raih. Popularitas, kekayaan, keluarga, anak, dan kebahagian. Aku sudah memilikinya. Namun, aku tidak bisa memastikan identitas ku sendiri. Apakah aku adalah Camelia Shane, ataukah Jasmine Liang? Atau ada yang lain?" 


Dion menghela nafas. "Jika itu keinginan Kakak. Aku akan mendukung Kakak."


"Terima kasih, Dion," balas Camelia dengan tersenyum tipis. 


"Bekerjalah. Kau harus menyelesaikan pekerjaanmu agar kita bisa segera kembali ke Kanada," tutur Camelia. 


"Baiklah, Kak! Dadah …." Panggilan berakhir. 

__ADS_1


Aku harus menemui Ibu untuk mencari tahu identitasku, gumam Camelia dalam hati. 


"Nak Lia?" Camelia mendongak. 


"Nyonya?" Itu Nyonya Liang. Camelia sedikit terkejut. Untuk apa Nyonya Liang di sini?


"Kau di sini? Sendirian?" Nyonya Liang mendekat. 


"Iya, Nyonya. Mari duduk," jawab Camelia ramah. Wajahnya yang tadi murung kini begitu sumringah. 


"Anda juga sendirian?"tanya Camelia.


"Ehm. Sepertinya ini kebetulan atau memang sebuah takdir." Nyonya Liang menatap langit, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. 


"Ya, sepertinya begitu," sahut Camelia. 


"Mana yang lain, Lia? Mengapa kau hanya sendiri?"tanya Nyonya Liang. 


"Dion di Shanghai, Nyonya. Anak-anak juga tengah pemotretan. Jadi, saya hanya sendiri," terang Camelia. 


"Nyonya? Bukankah terakhir kali kau memanggilku ibu?" Itu lebih kepada pinta. Tatapan matanya penuh harap. Camelia tersenyum canggung. "Ba-baiklah, Ibu." Camelia canggung. Terbata. Namun, hatinya sungguh bahagia. 


Nyonya Liang langsung memeluk Camelia. "Terima kasih." 


Hatiku yang gusar dan sedih langsung hilang begitu memeluknya. Apakah kamu benar-benar anakku Jasmine? 


Jika benar, mengapa kau tidak mengakuinya? Apa kau masih marah pada ayah dan ibu?


Jika bukan? Mengapa hatiku begitu tentram bersamanya?  


"Ngomong-ngomong, kapan kau akan kembali ke Kanada, Lia?"tanya Nyonya Liang. Melepas pelukannya. Menyeka sudut mata yang berair. 


"Minggu depan," jawab Camelia. 


Nyonya Liang terdiam. Minggu depan? 


"I … itu sebentar lagi, ya," ujar Nyonya Liang. Tampak sedih. 


"Hehe, masa cuti saya sudah hampir habis, Ibu," jawab Camelia. 


"Sebelum pulang, maukah kau berkunjung ke rumah Ibu?"tawar Nyonya Liang. Camelia tertegun. 


Ke kediaman Liang? Sungguh ingin! Namun, di sanakan ada Rose. 


"Itu … tawaran yang sangat bagus. Namun, saya ragu putri Anda nantinya tidak suka. Anda pasti sudah mendengar berita kurang sedap akan kami, bukan?"


"Oh Rose ya? Itu rumah Ibu, dia tidak berhak mengusir orang yang Ibu ajak!" Nyonya Liang berkata tegas. 


"Ah begitu ya?"


Ini juga kesempatan. 


"Jika begitu, bagaimana jika sekarang saja?"


"Boleh. Ayo!" Nyonya Liang begitu bersemangat. Dengan bergandengan tangan, keduanya meninggalkan taman. 

__ADS_1


Aku akan kembali ke rumah?


__ADS_2