Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 252


__ADS_3

Kini mereka telah selesai makan malam dan kini kembali berkumpul lagi di ruang keluarga. Yuwen telah tidur begitu juga dengan Alvis. Sedangkan ketiga anak itu masih terjaga, bermain bersama dengan Kak Abi dan Evelin.


Kakek Gong makan malam di kamarnya ditemani dengan anak-anak tadi. Kini, pria itu sudah tidur.


"Jadi, Lia, apa rencanamu selanjutnya?"tanya David serius. Dan pertanyaan itu tentu tak jauh dari pekerjaan Camelia. Dan Camelia sudah lama vakum dari industri hiburan. Banyak yang menantikan comeback nya.


Andrean melirik sekilas. Jujur saja, ia juga ingin mendengarnya karena sebelumnya mereka tidak lagi membahas hal ini. Sejujurnya, Andrean lebih ingin Camelia berada di rumah saja, atau jika ingin bekerja, jadilah pimpinan saja di Sirius Entertainment. Merawat ibu dan istri yang baik, itu saja harapan Andrean. But, kembali lagi pada kepribadian Camelia yang tidak ingin dikekang mengenai masalah pekerjaan.


Menjadi artis sudah menjadi cita-cita. Ia tidak bisa mengurung Camelia dalam sangkar. Hanya saja, ya … namanya seorang artis pasti berakting kan? Meskipun akting, Andrean tidak bisa menjamin dirinya untuk tidak cemburu. Sungguh, ia mulai pusing dan kesal sendiri memikirkannya.


Camelia tersenyum. "Aku belum memikirkan hal itu, Kak," jawab Camelia jujur karena ia baru saja kembali beradaptasi dengan kehidupan menjadi istri dan ibu dari empat orang anak. Belum lagi mengurus rumah tangga, itu pekerjaan yang berat.


"Namun, aku tidak akan pensiun dari industri hiburan," jawab Camelia memberikan keputusan. Andrean menghela nafas pelan. Sudah ia duga. Mana mungkin meninggalkan mimpi itu. Lagipula, tidak ada alasan untuk meninggalkannya.


"Dan satu lagi, aku akan kembali berakting hanya jika naskahnya bagus," ujar Camelia. "Kemungkinan dalam waktu dekat aku akan comeback dengan pemotretan."


Industri hiburan tidak hanya perfilman. Ada banyak bidang.


"Sekalian saja dibahas di sini," ucap David yang melihat Kak Abi ingin mengatakan sesuatu.


"Sebenarnya dari brand D*ior sudah berulang kali menanyakan kapan Lia bisa melakukan pemotretan. Mengingat, sudah lama majalah dan katalog mereka tidak diisi dengan Camelia. Rencananya, untuk musim gugur, mereka ingin melakukan pemotretan untuk sampul depan majalah," terang Kak Abi.


"Untuk masalah naskah, sejauh ini yang masuk ada banyak naskah yang bagus namun ditolak karena Lia menginginkan sebuah naskah drama kuno, bukan masa sekarang," tambah Kak Abi.


"Mengapa kau menginginkan naskah yang seperti itu, Lia?"tanya David penasaran.


"Mungkin dari kostumnya yang menarik dan cantik. Lalu dari sisi latar dan juga karakter, dan kebanyakan drama kuno itu adalah genre wuxia. Aku ingin berperan sebagai seorang dewi yang menghadapi banyak cobaan dan rintangan untuk bisa duduk di baris teratas. Mungkin itu alasannya. Dan jujur saja, itu impianku sejak aku memasuki dunia akting. Karena drama dengan latar kerajaan, dewa dewi, atau bela diri itu sangat menantang dan menarik," jelas Camelia.


Lina yang mendengarnya, matanya berkaca-kaca. Ia ingat, Camelia sering mengatakan keinginannya itu. Dulu, sebelum semua berantakan. Namun, itu bukan hal yang patut diingat dan disesali. Masa itu, sudah berlalu. Kini, adalah masa kejayaan!


"Baiklah jika begitu. Terserahmu saja," ucap David. David juga tidak bisa memerintahkan Camelia seenaknya. Karena di Glory Entertainment, ketahuilah jika Chris memiliki saham yang termasuk saham mayoritas yang kini sudah berganti nama menjadi nama Camelia. Artinya, Camelia juga salah satu anggota dewan direksi perusahaan.


"Tuan." Tiba-tiba Toby datang dengan wajah yang serius.


"Ada apa?"tanya Andrean.


"Tuan Besar meminta seluruh anggota keluarga ke kamarnya," ujar Toby memberitahu.


Andrean mengernyit heran. Ada hal apa tiba-tiba Kakek Gong memanggil mereka ke kamarnya?


Perasaan tidak nyaman datang seketika. "Kami tinggal sebentar," ujar Andrean, mengajak anak dan istrinya untuk segera memenuhi panggilan itu.

__ADS_1


Dengan perasaan tak karuan, Andrean memasuki kamar Kakek Gong. Di sana, di ranjangnya, Kakek Gong duduk bersandar di kepala ranjang. Tersenyum hangat menyambut keluarga kecil itu.


"Kakek memanggil kami semua?"tanya Andrean lembut, duduk di samping Kakek Gong. Anak-anak naik ke ranjang dan duduk dengan tenang. Mereka juga penasaran mengapa dipanggil tiba-tiba.


"Cucuku, Rean," panggil Kakek Gong. Suaranya terdengar lemah. "Aku merasa, tanggung jawabku sudah selesai. Aku sudah memenuhi permintaan orang tuamu, aku juga sudah memastikan kelangsungan keluarga Gong. Pria tua ini dapat pergi dengan tenang," ujar Kakek Gong sendu.


"Kakek? Apa yang Kakek bicarakan? Kakak akan berumur panjang!"


"Hahaha … tubuhku sudah renta. Jiwaku sudah harus beristirahat dari dunia ini. Riwayatku akan segera berakhir cucuku."


"Kakek." Perasaan itu semakin tidak nyaman. Camelia yang berdiri di samping Andrean angkat bicara. "Adakah yang membuat Anda tidak nyaman, Kakek? Katakan saja pada kami. Tapi, tolong jangan katakan hal-hal yang berbau kepergian, Kakek."


"Benar, Kakek. Apa Kakek lelah bermain dengan kami? Apa kami yang terlalu nakal dan ribut? Kakek kami akan mengubahnya, ya?" Lucas menambahkan.


"Aku sangat mau. Sangat mau. Siapa yang tidak ingin bersama dengan anak dan cucu, cicitnya lebih lama. Tapi, tampaknya usiaku tidak akan lama lagi."


Semua tertunduk mendengar jawaban Kakek Gong. "Kakek, hiks … hiks …." Crystal yang pertama kali menangis.


"Tanggung jawabku sudah selesai, Rean. Dalam hidup ini, sudah tidak ada lagi beban dan penyesalan. Aku bisa melapor dan berdiri dengan tegak saat menghadapi leluhur dan orang tuamu." Kakek Gong mengusap punggung Andrean yang masih tertunduk.


"Hari tuaku juga sangat bahagia. Impianku tercapai. Aku sangat bahagia."


Kakek Gong diam sejenak mengatur nafas.


"Kakek-." Panggilan itu tertahan. Kakek Gong tersenyum lembut. Matanya memancarkan keteguhan, seperti ucapannya.


"Cucu menantuku, Lia."


"Iya, Kakek." Camelia mendekat. Menggenggam jemari Kakek Gong. "Terima kasih. Cucuku sangat beruntung memilikimu sebagai istri. Aku mohon, jaga dia. Jadilah tempatnya untuk pulang. Jadilah penengah dan peredam amarahnya, jadilah tempatnya bersandar jika dia lelah dan terpuruk. Lia, kau adalah segalanya bagi Andrean. Kakek tua ini mohon, temani dia sampai akhir. Hah, mungkin permintaan ini keterlaluan, aku memang sangat memperdulikan dan mementingkan cucuku ini."


"Lia, di kesempatan ini pula, aku ingin mengatakannya, terima kasih, karena telah menjadi cucu menantuku. Aku sangat senang. Terima kasih juga karena telah memberikan penerus keluarga Gong."


"Kakek, aku akan melakukannya. Anda tidak perlu cemas dan mengkhawatirkan Rean," jawab Camelia lembut dengan mata yang mulai memerah namun tidak menangis.


"Kakek, hiks … jangan pergi, hiks, Crystal sayang Kakek." Crystal memeluk Kakek Gong. Seakan sudah paham maksud dari pembicaraan ini. Kakek buyutnya … akan pergi dan tak akan kembali.


Lucas dan Liam masih tertunduk. Mengangkat kepala saat dipanggil oleh Kakek Gong.


"Cicitku, Kakek buyut itu sangat senang dan bahagia. Hari tuaku tidak kesepian. Kalian adalah mutiara berharga keluarga Gong. Kalian, jadilah kebanggaan keluarga. Terbanglah menembus awan. Restu Kakek buyut menyertai kalian."


"Lucas, Liam, Crystal, maaf karena tidak bisa menemani kalian sampai akhir. Kakek sangat menyayangi kalian. Dan Yuwen, Yuwen, didiklah dia dengan baik. Katakan padanya, Kakek buyutnya ini sangat menyayangi dirinya."

__ADS_1


"Kakek, kau tenang saja. Aku akan menjaga keluarga Gong dengan baik. J-jika Kakek akan pergi, K-Kakek dapat pergi dengan tenang," jawab Andrean dengan sedikit terbata.


"Syukurlah. Aku jadi lebih lega." Kakek Gong menghela nafasnya.


"Aku sangat bahagia." Air mata Kakek Gong mengalir begitu saja.


Andrean bersimpuh di samping ranjang.  Kakek Gong mengusap lembut kepala Andrean. Tangis Crystal semakin menjadi. Lucas dan Liam tak mampu menahan tangis mereka lagi.


Malam itu, diwarnai dengan suasana haru duka yang akan segera datang. "Pergilah dengan tenang, Kakek," ucap Camelia, air matanya menetes.


"Selamat jalan, Kakek." Andrean mengucapkan dengan gemetar.


Perlahan, Kakek Gong menutup matanya. Bersamaan dengan itu, nyawanya perlahan meninggalkan raga. Pergi untuk perjalanan yang panjang dan tak akan pernah kembali lagi.


Tangis itu, pecah saat Kakek Gong sudah benar-benar pergi untuk selamanya. Toby yang menyaksikan itu, juga tak bisa membendung air matanya.


"KAKEK!!"


*


*


*


David menatap Lina dengan perasaan tak karuan. Niatnya ingin datang untuk berkunjung dan mengunjungi leluhur, bukan menghadiri pemakaman dari anggota keluarga yang mereka kunjungi!


Acara kremasi Kakek Gong diadakan di Shanghai. Karena, di sanalah aula leluhur keluarga berada.


Keluarga Gong sangat berduka untuk itu. Bendera putih berkabung terpasang di setiap sisi rumah. Kediaman lama Keluarga Gong hening karena duka itu.


Setelah selesai dikremasi, abunya disimpan di tempat penyimpanan abu keluarga yang telah mendahului. Dan papan namanya akan diletakkan di aula leluhur, bersanding dengan papan nama lainnya.


Acara pemakaman itu, dihadiri oleh segenap anggota keluarga Gong. Juga Tuan dan Nyonya Liang. Kak Abi, Evelin, Toby, Hans, Silvia, Lie dan tentunya Lina dan David.


Acara pemakaman itu telah usai. Andrean yang sudah menjadi kepala keluarga tidak perlu sibuk mengurus masalah pewarisan kepemimpinan lagi.


"Menangislah jika kau ingin menangis, Rean," ucap Camelia pada sang suami yang berdiri di balkon. Di tangannya memegang sebuah gelas berisi minuman beralkohol. "Daripada kau mabuk lebih baik berbagi kesedihanmu denganku." Camelia memeluk Andrean dari belakang.


"Aku tahu, kau sangat kehilangan karena kepergian Kakek. Beliau adalah orang yang telah membesarkanmu, mengajarimu banyak hal, dan beliau sangat menyayangimu. Andrean, menangislah. Itu tidak akan membuatmu lemah, justru akan lega karena beban di hatimu hilang bersama dengan air mata yang jatuh."


"Lia …." Andrean meletakkan gelasnya. Berbalik dan menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Camelia. Bahunya bergetar dan perlahan terdengar isakan. Camelia mengusap lembut bahu Andrean.

__ADS_1


"Menangislah, Rean. Semua akan baik-baik saja."


"Hiks, Lia … hiks …."


__ADS_2