
"Aku tidak tahu apakah ini keputusan yang tepat atau bukan? Tapi, aku harap ini yang terbaik," gumam Camelia setelah masuk ke dalam apartemennya. Ia melemparkan tubuhnya ke atas sofa.
"Satu sisi anak-anak memang butuh sosok seorang ayah. Aku juga tidak bisa memutuskan hubungan di antara mereka. Oh, God! Aku tahu ini bukan sepenuhnya salahnya? Namun, entahlah. Mungkin setelah ini, aku bisa mengizinkannya mengenal anak-anak. Tapi, tidak untuk mengambil mereka. Menginginkanku juga? Aku tidak ingin menikah lagi."
Gagal dua kali dalam hal percintaan, pertama gagal di waktu pacaran, dan gagal pula di pernikahan, itu membawa trauma tersendiri. Camelia merasa kesendirian lebih baik ketimbang gagal lagi.
Terlalu menolak, terlalu keras pun tidak bisa dibenarkan. Terlalu lemah, juga akan ditindas. Harus pandai mengambil moment.
Hah….
Camelia kembali menghela nafas. "Mungkin ini jalan tengahnya. Ahhh … aku sesalkan pun tiada arti. Lebih baik aku prepare saja untuk nanti malam," putus Camelia, mengakhiri kegelisahan hatinya.
Camelia bangkit, menuju kamarnya dan kembali lagi ke ruang tengah dengan membawa laptopnya. Camelia mempersiapkan amunisinya untuk nanti malam. Ya, balas dendam final. Setelah itu ia akan kembali ke Kanada. Ini bukan sekadar wacana. Namun, ini akan menjadi kejutan!
*
*
*
Di sisi lain, Jordan tengah uring-uringan. Kasus yang menyeret namanya membuat karirnya meredup. Ya, begitu industri hiburan. Ketat, ada sedikit saja isu miring, dapat menyebabkan kredibilitasnya menurun. Terlebih lagi negeri tirai bambu. Kalau sudah ada isunya pasti akan dikupas tuntas dan sulit untuk bangkit kembali. Seperti kasus-kasus yang sudah terjadi. Mereka diblacklist, dan tidak bisa masuk industri hiburan lagi.
Rasanya, Jordan sudah kehilangan banyak relasi. Sejak kasusnya pecah, ia kehilangan banyak teman. Meskipun telah dibuktikan tidak bersalah, tetap saja. Ia tidak bisa seperti dulu lagi.
Apalagi perusahaan. Beberapa kontrak dibatalkan. Dan tawaran kontrak lainnya pun ditarik. Jordan, sang bintang yang dulu bersinar terang, kini mulai kehilangan sinarnya.
Vakum sebulan pun, rasanya bukan menenangkan dirinya. Malam membuat dirinya stress dan setiap hari berpikiran negatif. Penampilan tak terurus, begitu juga dengan rumahnya.
Ditambah lagi tentang Rose dan Andrean yang putus. Itu semakin menambah beban pikirannya. Bukan hanya karena ia dan Rose sementara waktu yang loss contact. Akan tetapi, karena ia telah sepenuhnya kehilangan hak atas putrinya, Crystal.
Satu sisi, setidaknya ia merasa lega karena Crystal akan mendapat kehidupan yang layak bersama dengan Andrean. Di sisi lain, ia sedih karena bukan ia yang memberikan putrinya kebahagian. Apakah itu balasan untuknya? Karena ia pernah menyakiti dan mengkhianati kekasihnya dulu? Apakah ini karma untuknya?
Ah … lelah rasanya memikirkan apa yang terjadi padanya. Dalam kekalutan, muncul bayangan, ingatan akan kekasihnya dulu, Jasmine Liang. Teringat kembali masa-masa mereka bersama. Dari pendekatan sampai putus. Lalu teringat lagi pada Camelia. Mereka terlihat seperti orang yang sama namun dengan sifat berbeda jauh.
__ADS_1
Ah … sejujurnya hati Jordan percaya benar bahwa Camelia adalah Jasmine. Akan tetapi, logikanya menolak hal itu. Dari segi karakter dan latar belakang saja sudah berbeda. Bagaimana mungkin itu orang sama? Itulah yang ada dalam pemikirannya.
"Entahlah. Bahkan kini aku merasa malu pada diriku sendiri. Entah iya atau bukan, aku tidak punya wajah lagi untuk muncul di hadapannya. Jasmine, Mine maafkan aku…."
Jordan pria itu masih memiliki urat malu. Penyesalan. Pria itu menyesal. Ia merasa telah mengambil jalan yang salah. Jelas salah! Ia memilih pasir daripada berlian.
Dan ya … manusia itu selalu ada perubahan. Dengan alasan yang sama seperti Rose memilih menduakan Jordan, begitu juga dengan Jordan yang mengkhianati Camelia. Mencari ketenaran, menjadi popularitas.
Namun, penyesalan selalu datang diakhir. Nasi sudah menjadi bubur dan semua tidak akan bisa diulang kembali. Jordan hanya bisa menyesali dan mengutuk dirinya sendiri. Hancur sudah. Hidupnya akan suram. Namun, apa mau dikata ia hanyalah publik figur yang akan langsung hilang begitu terkena skandal.
Hah….
Lagi-lagi ia menghela nafasnya. Helaan nafas yang terasa begitu berat. Jordan memejamkan matanya. Teringat masa-masa ia bersama dengan Rose.
Satu hal lagi, bagaimana bisa seorang pria rela dan bahkan berubah posisi seperti selingkuhan Rose padahal dialah Jordan adalah kekasihnya. Sedangkan anak yang dikandungnya yakni Crystal adalah anak Jordan?
Money. Uang, harta, ketenaran, kekuasaan, pengaruh, siapa yang bisa menolak itu? Apalagi kesempatan benar-benar di depan mata? Rose, pada dasarnya dia tidak mencintai Jordan. Wanita itu hanya ingin ia unggul dari segala unggul dengan ketidakmampuannya.
Namun, apa daya? Jordan terlanjur masuk terlalu dalam. Bahkan lebih dalam daripada Jasmine. Bujukan Rose, rayuan Rose, membuat pria itu luluh dan pada akhirnya inilah yang ia dapatkan.
"Apa lebih baik aku putus saja dengan Rose? Pergi dan menjauh? Lagipula aku dan anakku sudah terpisah begitu jauh. Apa dengan begitu aku akan merasa lebih tenang?" Jordan bermonolog. Agaknya perlahan ia melepaskan semua ambisinya dulu.
Ahh Jordan, segini saja kau sudah kelimpungan! Bagaimana dengan Jasmine dulu? Ternyata mentalmu tidak sekeras mental Jasmine Liang.
*
*
*
Di sisi lain, Rose juga tengah gusar. Ia kehilangan semuanya dalam waktu singkat. Hanya kata putus dari Andrean, ia kehilangan semua kemewahan hidup yang Andrean berikan.
Apalagi keuangan tengah kritis. Wanita itu boros dan ia juga tidak pintar. Membeli aset atas nama Andrean, tentu saja setelah putus semua kembali pada Andrean. Belum lagi gaya hidupnya yang mewah.
__ADS_1
Meminta pada orang tuanya? Ayahnya bisa mengusirnya jika ia meminta uang untuk gaya hidupnya.
CK!
Rose berdecak. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Meminta pada Jordan? Pria itu saja dengan goyah. Meminta pada Andrean? Apalah haknya?!
Memang ia ibu kandung Crystal, ia bisa menuntut pada Jordan. Namun, ia pasti kalah dan itu akan membuatnya semakin malu. Ibarat kata, maju kena mundur pun kena.
Cara apa lagi? Hm …. Selama ini, ia lah yang membayar, bukan ia yang dibayar. Karena dalam hal mendapatkan peran, ada Andrean. Belum lagi pesta dan lainnya.
"Bagaimana ini? Apa aku harus …." Wanita itu tidak melanjutkan ucapannya. Namun, wajahnya melanjutkan apa yang ingin ia katakan. Wajahnya terlihat ragu namun ia juga terlihat penasaran.
"Lagipula aku tidak merugikan mereka, bukan?" Rose tersenyum. Sepertinya ia sudah menentukan pilihannya.
Namun, tak lama kemudian wajahnya kembali suram. "Tapi, itu tidak akan berjalan lancar jika wanita itu tetap disini. Aku sangat yakin dia pasti mengincarku. Namun, darimana semua keberaniannya itu? Dia bahkan berani muncul dan menginjak kaki di rumah ini. Dan itu tidak hanya sekali!!"
Tidak dapat dipungkiri takut pada Camelia. Camelia, dia bertindak secara halus namun dampaknya begitu besar. "Aku harus membuatnya angkat kaki! Ah tidak!!"
Membuat Camelia angkat kaki? Sekalipun ia memanggil pihak berwenang untuk mendeportasi Camelia, itu tidak akan berguna. Setidaknya ia tahu akan hal ini. Kecuali ia membuat Camelia pergi dengan sendirinya. Tapi, bagaimana caranya?
Rose menggigit jarinya. Ia berpikir keras untuk menemukan cara. "Jika aku mengatakan pada keluarga Shane bahwa kedua anak itu bukan keturunan mereka, wanita akan hancur bukan?" Ah … ingin menghancurkan Camelia dengan membuat keluarga Shane membenci Camelia. Sayang, itu hanya khayalan dan akan menjadi usaha yang percuma.
"Ah tidak!" Rose menggeleng keras.
"Sialan!" Ia mengumpat. Wajahnya kini memerah.
"Mengapa ia beruntung sekali hah? Padahal dia merampas semuanya dariku?! Tidak bisakah dia mati saja hah?!"teriak Rose geram.
Andai kata Keluarga Shane membencinya, masih ada Andrean yang tertarik pada Camelia. Dan bisa saja Camelia membongkar keburukannya. Ketakutan kembali menghantui Rose. Dan sebentar lagi ketakutan itu akan terjadi.
"Ah! Benar! Masalah akan selesai kalau dia …." Seulas senyum licik Rose sunggingkan.
"Kali ini, kau tidak akan bisa lepas!" Rose kemudian membuka laptopnya. Matanya begitu bersemangat.
__ADS_1
Hal apa yang ia rencanakan?