
Camelia terbangun saat mendengar suara berisik dering telepon.
Deg!
Wajahnya langsung memerah mengetahui ia dalam pelukan Andrean. Wajahnya pas di depan dada Andrean.
Camelia ingat. Mereka memutuskan untuk tidur. Benar-benar tidur dengan berpelukan.
"Siapa yang menelpon, Lia?"tanya Andrean serak. Sedikit menggeliat. Tak lama, matanya terbuka.
"Ah?" Camelia tersadar. Bergegas mencari ponselnya.
"Kak Abi," jawab Camelia. Mengangkat panggilan tersebut.
"Astaga, aku ketiduran sampai lupa waktu. Aku akan segera bersiap, Kak."
Panggilan berakhir. Andrean duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Sudah gelap rupanya," ucap Andrean, melempar pandang ke arah jendela. Lampu keemasan yang menyelimuti menara Eiffel telah menyala dengan sempurna.
"Aku pergi dulu. Masih ada acara peragaan," ujar Camelia.
"Kembalilah ke kamar ini," sahut Andrean. Camelia tidak menjawabnya, karena sudah buru-buru pergi.
"Rasanya berbeda. Aku ingin seperti ini setiap hari," gumam Andrean, menatap bagian ranjang tempat tidur Camelia tadi.
"Ayah, kami lapar!" Terdengar teriakan dari luar. Itu suara Lucas.
"Tunggu sebentar," sahut Andrean. Ia bergegas bangkit dan bersiap untuk makan malam di luar bersama dengan ketiga anaknya.
*
*
*
"Kau dari atas?"tanya Kak Abi. Rupanya manager Camelia itu menunggu di depan pintu kamar hotel Camelia.
"Iya, Kak," jawab Camelia. Wanita itu tersenyum.
Kak Abi menghela nafasnya. "Ayo, segeralah bersiap. Satu jam lagi acara dimulai," ujar Kak Abi.
"Iya, Kak."
Setelah itu, Kak Abi mendatangi pintu kamar Ascania dan Moana.
Camelia segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap.
Malam ini, fashion yang akan dibawakan oleh Camelia, Ascania, dan Moana adalah bertema musim dingin. Memang diperuntukkan untuk musim dingin. Yang mana kebanyakan adalah jaket tebal, syal, jaket jas, dan mantel bulu.
Kesan yang dibawakan oleh ketiganya tetap sama seperti yang pertama. Hanya warnanya saja yang berbeda. Serta ada tambahan aksesoris.
Hari pertama acara digelar berlangsung dengan lancar dan sukses. Antusias undangan juga tinggi. Setelah fashion show di malam harinya, pesanan untuk masing-masing brand meningkat.
*
*
*
"Sangat rugi jika tidur cepat. Bagaimana jika kita main permainan?"
Lucas meminta pendapat dan persetujuan dari Liam dan Andrean.
Ketiganya berada di ruang tengah. Baru saja kembali dari malam malam. Crystal langsung tidur setelah pulang. Menyisakan ayah dan kedua anak laki-laki itu. Tidak terlihat kantuk pada ketiganya.
"Kalian harus tidur!"tegas Andrean.
"Bagaimana jika bermain kartu?"sahut Liam.
"Hei?! Kalian tidak mendengar Ayah?"
"Kami dengar. But, ini bukan jam tidur kami. Lihat, masih jam 22.00. Biasanya kami tidur tengah malam," jelas Lucas.
"Matahari tenggelam di sini tidak jauh beda dengan di Ottawa. Jadi, Ayah, ayo bermain kartu," timpal Liam.
Kedua anak itu memang kompak. "Atau jangan-jangan Ayah tidak bisa bermain kartu?" Lucas memprovokasi sang ayah. Karakter Andrean pantang diremehkan apalagi jika sudah ditantang.
"Jika tidak bisa, Ayah bisa tidur duluan. Kami akan bermain dulu," imbuh Liam. Matanya berkilat. Tampaknya Liam menikmati suasana ini. Menggoda dan memprovokasi Andrean adalah suatu hal yang menarik.
"Siapa bilang aku tidak bisa bermain kartu?"
Dapat!
Lucas dan Liam saling lirik. Bibir keduanya melengkung smirk.
"Ayo, keluarkan kartunya. Lihat bagaimana kehebatan ayah kalian ini!"tandas Andrean. Sorot matanya berapi-api.
Kekanakan, cetus Lucas dalam hati.
Lo beranjak ke kamar. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa kotak berisi kartu Uno. Liam mengeluarkan kartu-kartu tersebut di atas meja.
__ADS_1
"Tidak seru jika hanya bermain. Bagaimana jika lakukan permainan truth or dare?"usul Lucas.
Apa lagi ini? Andrean membatin.
"Maksudnya?"tanya Andrean.
"Kau tidak tahu permainan truth or dare, Ayah?"
Andrean mengernyit. Dari ekspresinya terlihat jelas. Andrean adalah orang yang sibuk. Rekannya yang paling dekat adalah Hans. Dan mereka hanya fokus pada pekerjaan. Permainan seperti ini, tidak pernah dilakukan.
Truth or dare? Sepertinya mudah dan kekanakan, pikir Andrean. Tapi, tidak masalah.
"Ayo mulai!" Andrean yang mengocok kartu. Dibagi secara rata, sisanya di letakkan di pinggir.
"Aku duluan." Lucas mengeluarkan kartunya.
"Kuning," ucap Liam, saat mendapat kartu yang bisa mengubah kartu yang harus dikeluarkan.
"CK!" Andrean berdecak. Ia tidak punya kartu kuning dan saat mengambil satu kartu, juga tidak mendapat kuning.
"Wah, kartunmu masih banyak sekali, Yah!"seru Lucas. Matanya begitu berbinar melihat jumlah kartu Andrean.
"Menyebalkan!"gerutu Andrean. Ia salah mengeluarkan kartu tadi. Yang mengakibatkan ia mendapatkan banyak kartu lagi.
Liam tersenyum smirk. "Uno!" Kartunya sudah habis dan ia sudah selesai. Tinggal Lucas dan Andrean.
"Ayah, kau kalah!"tukas Lucas.
Andrean berdecak. Ia kalah dari dua anak kecil itu?!
Lucas dan Liam bertos ria. "Now, truth or dare? Jika truth, Ayah harus menjawab jujur pertanyaan apapun dari kami. Jika dare, Ayah harus melakukan tantangan yang kami berikan. Sejujurnya kami lebih suka dare," jelas Lucas. Menanti pilihan Andrean.
"Truth," jawab Andrean.
Jika aku memilih dare, anak-anak ini pasti akan melakukan hal aneh, batin Andrean.
"Tidak seru!"ucap Lucas. "But, tidak masalah."
Lucas dan Liam berunding. Pertanyaan apa yang akan mereka berikan untuk Andrean.
"Ayah, apa kau rasakan saat pertama kali melihat kami?"tanya Lucas.
Andrean tertegun sesaat. "Kalian menanyakan hal ini?"
"Tenang saja, kami masih banyak pertanyaan untuk ayah," sahut Liam. Senyum itu, seakan mendeklarasikan bahwa Andrean tidak akan pernah menang.
"Aku masih mengingatnya dengan jelas. Tentu saja aku terkejut melihat kalian berdua. Jantungku ini berdebar kencang. Secara alamiah, aku merasakan ikatan dengan kalian. Dan aku penasaran, siapa sebenarnya kalian. Saat tahu tentang kalian, aku merasa kecewa. Aku pikir kalian adalah keturunanku. Wajah Daddy kalian itu mirip denganku. Namun, darah tidak bisa berbohong. Kalian benar-benar anakku!"
"Begitu ya. Baiklah. Ayo kita main lagi!"tukas Lucas kemudian.
"Ayah, kau kalah lagi! Truth or dare?"
Selama lima kali permainan, lima kali pula Andrean kalah. Ia selalu memilih truth. Keluhan pun tidak terelakkan dari Lucas dan Liam.
"Akhirnya!" Andrean tersenyum smirk. Gilirannya tiba. Kali ini Liam yang kalah.
Uhh!
"Ayah, kami kembar. Jadi, anggap saja kami kalah." Andrean menganggukinya. Akan ada kesempatan personal.
Liam memilih truth. "Aku malas bergerak."
"Baiklah. Pertanyaan adalah bagaimana bisa kalian tahu bermain kartu? Siapa yang mengajari kalian? Apa Mom kalian? Atau Daddy kalian? Sebenarnya … bagaimana cara mereka mendidik kalian?"
"Wow. Itu pertanyaan beranak," decak Lucas. Seharusnya hanya satu pertanyaan. Tapi, tidak masalah.
"Sekarang sudah zaman digital yang menyediakan banyak kemudian. Permainan kartu ini ada dalam bentuk aplikasi. Dan bagaimana cara kami bisa bermain, tinggal dipelajari saja. Dulu, kami sering melihat Daddy bermain kartu dengan sahabatnya. Kami melihat dan mempelajarinya. Simple, bukan?"papar Lucas.
Dengan kecerdasan Lucas dan Liam, Andrean tidak membantahnya. Liam bahkan sudah bisa menghack komputer. Mengingat cara permainan tentu bukan hal yang sulit.
"Mengenai cara kami dididik, Mom ataupun Daddy memberi kami kebebasan untuk memilih apa yang ingin kami pelajari atau lakukan. Daddy sangat cerdas, dia mengajari kami banyak hal. Begitu juga dengan Mom. Lalu ada Grandpa, Grandma, dan Uncle Dion. Ayah, tubuh kami memang kecil. Tapi, kami adalah orang dewasa yang terperangkap dalam tubuh kecil ini," tutur Liam, panjang lebar.
"Hah?!"
"Maksudnya tubuh kami memang kecil. Tapi, kami bukan anak kecil biasa. Kami genius!"jelas Lucas, supaya Andrean tidak salah tafsir.
Liam mengangguki apa yang dijelaskan oleh Lucas.
"Lalu …."
"Jika pertanyaan berbeda. Ayah harus bertanya lagi nanti!"tukas Lucas.
"Baiklah!"
Sepertinya keberuntungan memihak Andrean. Ia kemudian menang.
"Truth!"
"Sekarang, siapa yang paling kalian sayangi? Ayah atau Daddy kalian?"
Pertanyaan tidak terduga. Siapa yang paling disayangi? Daddy atau Ayah?
__ADS_1
"Daddy." Lagi, kedua anak itu menjawab kompak.
"Mengapa?" Gurat kecewa hadir di wajah Andrean. Padahal ini sudah cukup lama. Dan ia adalah ayah kandung Lucas dan Liam. Tapi, mengapa masih Daddy mereka yang lebih disayangi?
"Why? Karena Daddy yang pertama. Daddy adalah orang yang hangat. Kami sangat menyayanginya. Dia adalah sosok ayah yang sempurna."
"Meskipun Daddy sudah pergi. Rasa sayang kami masih sayang besar padanya. Kami sangat kehilangan karena kepergiannya. Meskipun sudah ada Ayah, tidak serta merta menggantikan sosoknya. Ayah dan Daddy adalah dua sosok yang berbeda. Daddy adalah sosok yang tidak terganti. Jadi, Ayah. Kau jangan cemburu ya."
"Kasih sayang kami akan seimbang pada waktunya. Mungkin, karena kita kurang menghabiskan waktu secara langsung. Ayah, maaf."
Mata Andrean berkaca-kaca. Ternyata, tidak hilang. Rasanya sedih dan kecewa. Tapi, biarpun ia adalah ayah kandung Lucas dan Liam, waktu yang mereka habiskan lebih pada dengan Chris. Rasanya wajar. Tidak semudah itu. Beruntung ia tidak mengalami proses penolakan yang menyakitkan.
Tidak! Apa ini?
Benar!
Kau harus berusaha lebih keras lagi, Andrean!
Jangan menangis karena ini! Kesempatan milikmu!
"Okay! Meskipun itu terdengar menyakitkan, Ayah akan segera menyeimbangkannya. Atau membuatnya lebih berat pada ayah!"tegas Andrean. Matanya berkilat. Ia bertekad.
"Fufu ini sangat menyenangkan! Kami akan menunggunya, Ayah!"
Ketiganya kembali bermain. Dan mereka memiliki kesempatan. Tidak ada lagi pilihan truth. Hanya ada dare.
"Ayah harus menggunakan make up!"seru Lucas. Andrean kalah pada permainan ini.
"Apa?!"
"Ayo, Ayah. Silakan."
"Kalian?" Andrean terbelalak. Di atas meja sudah ada seperangkat alat make up.
"Ayo, Ayah! Jika ayah tidak bisa make up, kami yang akan melakukannya!"desak Lucas.
Liam tersenyum tipis. Wajah Andrean terlihat menggemaskan. Panik dan bingung bercampur menjadi satu.
"Akan aku lakukan sendiri!"
"Eits! Tidak boleh lihat ponsel! Masa' Presdir entertainment tidak tahu urutan make up?"ledek Lucas.
Astaga! Sepertinya ini sudah direncanakan. Lucas dan Liam tersenyum smirk.
Kapan lagi bisa mengerjai ayah mereka sampai seperti ini?
Ini kesempatan emas!
Andrean mulai mengambil alat make up. Tangannya gemetar dan menelan ludah. Ia tidak tahu mana yang harus diaplikasikan lebih dahulu. Satu tangannya memegang kaca dan satu tangan lagi memoles wajahnya.
Lucas tak hentinya tersenyum. Sementara Liam melihatnya dengan mata tertarik.
"Sudah!"
"Huwah! Huwahahahhaah! Hahahaha!"
Tawa Lucas pecah seketika. Ia bahkan sampai memegangi perutnya. Air matanya juga sampai keluar.
Bahkan Liam juga tidak bisa mempertahankan ekspresinya. Ia turut tertawa terbahak dengan saudaranya.
"Huwahahahhaah! Itu … itu sangat tebal!!"
"Bibir ayah sangat merah!"
"Blush on nya berlebihan!"
"Apa seburuk itu?" Andrean kembali berkaca.
Bibir merah merona, sangat merona. Pipi kelebihan blush on. Bulu mata cetar membahana.
"Haha … hahahahaha … aku tidak bisa berhenti tertawa!"
"Ada apa ini? Tawa kalian sampai pintu."
"Lia?"
"Kyhaiiii! Hantu!!"
Camelia terlonjak kaget. Matanya melotot ke arah Andrean.
"Hah? Hahahahah…."
Tawa Lucas dan Liam kembali pecah. Mereka terpingkal.
"Lia, ini aku. Apa begitu mengerikan?"tanya Andrean. Menurunnya make up sangat sempurna. Bibir harus merah. Pipi harus merah semerah persik dan bulu mata harus lentik.
"Rean?" Camelia menyipitkan matanya.
"OMG!"
Sementara Lucas dan Liam masih tertawa.
__ADS_1