Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 191


__ADS_3

Pagi harinya.


Pertengkaran Lucas dan Liam mewarnai pagi di kediaman Shane. Apalagi kalau bukan Lucas yang kesal karena Liam tidur di kamar sang ibu tanpa mengajak dirinya.


Itu artinya curang. Lucas tidak bisa menerimanya. Apalagi kekesalan Lucas bertambah dengan tanggapan Liam. "Itu dadakan. Lagipula, siapa suruh kau tidur duluan?"


Pada akhirnya Camelia menengahi dan mengingatkan agenda mereka hari ini. Seperti halnya pertengkaran anak kecil, keduanya kembali seperti biasa tanpa disadari.


Sekitar pukul 09.00, Camelia bersama dengan Lucas dan Liam meninggalkan kediaman Shane. Camelia mengemudi sendiri. Dan agar tidak ada keributan lagi, Camelia menyuruh Lucas dan Liam untuk duduk di belakang.


Di belakang mobilnya adalah mobil pengawal.


Satu jam kemudian, mereka tiba di villa. Lucas dan Liam turun duluan. Mereka berlari di halaman, mengedarkan pandang di halaman rumah pertama mereka ini.


Tidak ada yang berubah. "Kalian mau masuk?"tanya Camelia.


"Mau, Mom!"jawab Lucas. Camelia membuka pintu villa.


"Mom sudah masuk kemarin. Kalian berdua saja yang masuk. Mom tunggu di halaman," ujar Camelia.


Lucas dan Liam mengangguk. Keduanya segera masuk. Camelia melangkah ke halaman setelah menghidupkan lampu ruangan.

__ADS_1


Camelia menuju ayunan di halaman. Menepuk ayunan itu agar daun dan debu di ayunan itu hilang.


Halaman villa ini sangatlah teduh. Camelia duduk sembari menikmati angin. Karena itu, Camelia mulai memejamkan matanya.


Entah berapa lama Camelia memejamkan matanya. Yang pasti, ia dibangunkan oleh Lucas dan Liam.


"Mom, Mom mudah sekali tertidur jika di villa," ucap Lucas.


Camelia tidak membantahnya. Ucapan Lucas tidak salah. Mungkin karena rumah ini penuh dengan kenangan manis.


"Sebentar lagi natal dan tahun baru. Mom dengar kalian ada proyek teater untuk itu," ucap Camelia.


"Iya, Mom."


"Ini pengalaman pertama kami bermain teater, Mom! Kami sangat menantikannya. Untuk itu, kami akan berlatih dengan giat!"ucap Lucas. Berapi-api. Bermain teater, ini pengalaman baru bagi Lucas dan Liam. Juga merupakan tantangan tersendiri. Jika berakting, hanya perlu berakting di depan kamera dan kru. Lain dengan teater, harus berakting di panggung dan di depan penonton langsung.


"Mom iri pada kalian," ucap Camelia. "Sayang sekali Mom tidak pernah mendapat tawaran bermain teater. Jika ada, Mom pasti mengambilnya."


"Jika Mom sudah berharap demikian, pasti akan ada masanya, Mom," ucap Liam.


Camelia tersenyum, mengusap rambut kedua anaknya.

__ADS_1


"Mom kami ada latihan siang ini," ujar Lucas. Camelia melihat jam tangannya.


"Kita pulang sekarang?"tanya Camelia.


"Sebentar lagi, Mom." Agaknya Liam belum selesai bernostalgia.


"Mengingat semua kenangan ini, aku jadi merindukan Daddy dan Ayah bersamaan," ujar Liam.


"Jika kau mengatakannya di depan Ayah, pasti Ayah yang protes. Mengapa menyebut Daddy dulu baru Ayah," cetus Lucas.


Dengan watak Andrean, hal itu bukan tidak mungkin. Camelia tersenyum geli saat membayangkan wajah protes Andrean.


"Kira-kira Ayah sudah tidur belum, ya?"tanya Lucas. Melihat waktu yang sudah menunjukkan tengah hari. Artinya di Beijing tengah malam.


"Ayah kalian sudah tidur," jawab Camelia. Lucas ber-oh-ria. Tidak heran jika Camelia tahu. Andrean itu selalu mengabari Camelia. Sudah bangun, mau tidur, makan siang, dan aktivitas lainnya.


"Sudah, Mom. Ayo kita pulang," ajak Liam. Ia berdiri.


"Ambil foto dulu," usul Lucas. Camelia setuju. Ia segera mengambil beberapa foto dengan kamera ponselnya lalu mengirimkan pada Lucas dan Liam.


Camelia memposting story Instagram. Lalu mengtag Lucas dan Liam.

__ADS_1


Setelah itu, barulah mereka meninggalkan villa.


__ADS_2