
Aula kediaman Gong sudah dihias sedemikian rupa. Makanan dan minuman tertata rapi. Pelayan hilir mudik, mengecek persiapan.
Dekorasi aula begitu ceria. Artinya perayaan ini adalah untuk hal yang baik.
Sekitar pukul 10.00, tamu undangan sudah berdatangan. Kakek Gong menyambut undangan yang kebanyakan adalah keluarga Gong.
"Di mana Tuan Muda?"tanya Kakek Gong, berbisik pada salah seorang pelayan.
"Tuan Muda masih di kediamannya, Tuan," jawab pelayan tersebut.
"Cepat panggil. Tamu sudah berdatangan."
"Baik, Tuan." Pelayan itu segera meninggalkan aula untuk menjalankan perintah.
"Kepala keluarga, di mana Tuan Muda? Mengapa bintangnya belum hadir?"tanya salah seorang tamu undangan pada Kakek Gong.
"Rean dalam perjalanan ke aula. Tunggu saja," jawab Kakek Gong.
"Benarkah? Tidak seperti tahun sebelumnya, bukan?"
Raut wajah Kakek Gong berubah kesal. Tamu itu sedang menyindirnya. "Tentu saja tidak. Duduk dan tunggulah saja!"tegas Kakek Gong, meninggalkan tempat, beralih ke tempat lainnya.
"Ayah," panggil seorang wanita.
"Apa Tuan Muda benar-benar datang? Kediamannya tampak begitu lenggang," ujarnya dengan cemberut.
"Kepala keluarga mengatakan dia akan datang. Jika tidak datang, kelapa keluarga akan sangat malu," sahut ayah wanita itu, tersenyum smirk.
"Tapi, tujuan kita tidak akan tercapai," ucap wanita itu dengan kembali mencebikkan bibirnya.
"Tunggu saja!"
Sementara pelayan yang diperintahkan oleh Kakek Gong memanggil Andrean tadi baru saja tiba di kediaman Andrean.
"Tuan Muda," sapanya pada Andrean yang telah turun ke lantai 1.
Andrean mengenakan jas berwarna biru, dan dasi kupu-kupu. Menggandeng Crystal yang menggunakan dress berwarna biru.
Raut wajahnya datar. Terlihat tidak senang. "Kepala keluarga menunggu Anda di aula," ucap pelayan itu dengan menunduk, bergidik.
"Hm."
Disahut datar oleh Andrean. Segera melangkahkan kakinya meninggalkan kediaman. Pelayan itu segera mengikut.
Crystal mendongak menatap Andrean. "Ayah, apa Ayah tidak senang? Ini kan hari ulang tahun Ayah," ujar Crystal, bingung dengan ekspresi sang Ayah.
"Apakah seperti itu?"balas Andrean, tetap dengan nada datarnya.
"Ya … Paman pelayan itu sampai takut."
"Oh." Lagi, tetap menanggapi dengan datar.
Crystal tidak lagi bertanya.
"Tuan Muda Gong, Nona Kecil Gong tiba!"
Seluruh perhatian langsung tertuju ke arah pintu masuk. Andrean dengan ekspresi datarnya memasuki ruangan, bersama dengan Crystal yang memasang ekspresi sama.
"Rean, akhirnya kau datang juga," ucap Kakek Gong, segera menyongsong cucunya itu.
Andrean mengangguk singkat.
Hari ini, tanggal 31 Desember adalah hari kelahiran Andrean. Hari ulang tahunnya di penghujung tahun.
Pesta ulang tahun Andrean ini setiap tahun memang diadakan. Namun, lebih sering Andrean tidak ada di dalamnya. Seperti tahun kemarin, Andrean hanya hadir lewat video call singkat, sama sekali tidak pulang ke kediaman lama.
Setelah Andrean hadir, para tamu undangan langsung datang, menyapa Andrean selaku bintang pada hari ini. Tidak, ia akan selalu menjadi bintangnya. Posisinya sangat tinggi dan kuat di keluarga ini.
"Tuan Muda, senang bisa bertemu dengan Anda. Saya dari keluarga Gong di Xian, mengucapkan selamat ulang tahun untuk Anda. Semoga Anda diberkati dan sehat selalu. Mohon terimalah hadiah ulang tahun dari kami."
"Tuan Muda, saya, Gong Yuan, mengucapkan selamat ulang tahun kepada Anda. Semoga Anda diberikan umur yang panjang dan pencapaian yang semakin luar biasa lagi. Saya membawakan Anda ginseng, semoga Anda menyukainya."
"Tuan Muda, saya adalah kepala keluarga dari keluarga cabang Zhejiang, saya mengucapkan selamat ulang tahun untuk Anda. Semoga Anda menjadi kepala keluarga yang hebat. Saya yakin itu. Zhejiang terkenal dengan keramiknya, saya menghadiahkan Anda Longquan celadon."
__ADS_1
Dan ada banyak lagi. Yang mengucapkan selamat sekali memberikan hadiah. Mereka berlomba untuk meninggalkan kesan baik di mata Andrean. Dengan harapan dapat berhubungan baik dengan Andrean.
"Tuan Muda Gong, saya Chen Xu, kepala keluarga Chen mengucapkan selamat ulang tahun untuk Anda. Silakan diterima, hadiah kecil dari keluarga saya."
"Itu kecil sekali, kepala keluarga Chen. Anda terlalu tidak mampu atau meremehkan Tuan Muda Gong?"ucap pedas seorang pria paruh bayah. Menghampiri Andrean, itu adalah orang yang bicara dengan Kakek Gong tadi. Diikuti oleh putrinya yang tersenyum lebar.
"Saya tidak ada niat untuk meremehkan keluarga Gong. Saya memberikan hadiah kecil tersebut karena karena merasa, Tuan Muda Gong mampu mendapatkan apa saja yang diinginkan. Saya berharap, tujuan Anda dapat tercapai, Tuan Muda Gong," jelas kepala keluarga Chen. Ia menjelaskan dengan tenang.
"Meskipun demikian, tidak seharusnya Anda memberikan hadiah kecil itu. Tidak tahu malu sekali!"
"Tuan Wei, harap jaga kata-kata Anda. Apakah di sini adalah ajang untuk memamerkan hadiah satu sama lain?!"tegas kepala keluarga Chen. Ia kesal namun tidak kehilangan kendalinya. "Saya mohon maaf karena telah menciptakan keributan. Selagi kali, saya ucapkan selamat ulang tahun untuk Anda," ujar kepala keluarga Chen pada Andrean.
Andrean tidak menjawab. Ia membuka kotak hadiah dari keluarga Chen. "Astaga! Itu kan jam tangan berlapis berlian. Hadiah itu tidak kecil!'
"Ah?" Kepala keluarga Chen terkesiap. Andrean menatapnya datar. "Untuk ukuran Anda, hadiah ini sangat besar, Tuan Chen. Saya tidak bisa menerimanya," ujar Andrean.
Tuan Wei merasa malu. Ia sudah congkak namun tertampar tanpa dilawan. Tindakan Andrean tadi sangatlah berefek.
"Itu hanya hadiah kecil, Tuan Muda. Tidak sebanding dengan bantuan ayah Anda dulu," jawab Tuan Chen.
"Kami menerima hadiah ini, Tuan Chen. Keluarga Gong tidak pernah mempermasalahkan besar kecilnya hadiah," ujar Kakek Gong.
Tuan Wei kembali merasa tertampar.
"Anda bijak sekali, Tuan Besar Gong."
Dulu, keluarga Chen memang pernah menerima bantuan dari keluarga Gong. Bantuan itu merupakan bantuan dana dan dianggap sebagai hutang budi oleh keluarga Gong. Seperti pepatah, hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati.
"Kalau begitu saya permisi," ujar Tuan Chen.
"Terima kasih karena sudah hadir." Tuan Chen mengangguk.
"Bisnis keluarga Chen berkembang pesat. Anda tidak bisa menilai seseorang dari apa yang diberikannya!!"tegas Andrean pada Tuan Wei.
Wajah Tuan Wei memerah. Ia mengepalkan tangannya.
"Ah, salam kenal, Tuan Muda Gong. Saya Wei Yan Li, mengucapkan selamat ulang tahun pada Anda. Semoga Anda diberkati," ucap putri Tuan Wei, yakni Wei Yan Li.
Usianya masih sekitar 25 tahunan. Menatap Andrean dengan penuh arti. Jelas sekali, itu adalah tatapan yang penuh dengan ketertarikan.
"Ini adalah putri sulung saya. Baru kembali dari luar negeri, kebetulan Yan Li adalah seorang desainer. Berharap bisa berhubungan baik dengan Tuan Muda Gong," ujar Tuan Wei.
"Beberapa waktu lalu saya mengajukan proposal ke Starlight Entertainment. Saya berharap Anda dapat menerimanya," imbuh Wei Yan Li.
"Starlight Entertainment melarang keras nepotisme. Harap mengikuti prosedur yang berlaku!"jawab Andrean tegas. Tahu maksud terselubung dari anak dan ayah itu.
"Tuan Wei, harap segera bergantian!"ucap Kakek Gong. Masih ada banyak tamu lagi.
"Ah, maaf-maaf. Ini adalah hadiah dari keluarga Wei. Berharap Tuan Muda menerimanya dengan senang hati." Wei Yan Li menyerahkan kotak hadiah pada Andrean.
Andrean mengangguk. Menerima hadiah tersebut. Andrean mengernyit saat merasakan tangannya bersentuhan dengan Wei Yan Li. Memang hal biasa, namun itu hal yang disengaja. Andrean lekas menarik tangannya.
Tuan Wei dan putrinya berlalu. Namun, tidak meninggalkan aula. Mereka mengamati Andrean dan Kakek Gong.
"Ayah, apakah anak perempuan itu anak Tuan Muda?"tanya Wei Yan Li, sedikit berbisik, baru menyadari Crystal yang duduk di kursi, tepat di belakang Andrean.
"Benar. Jika kau ingin masuk ke keluarga Gong, kau harus bisa mendapatkan hati anak itu. Dia adalah salah satu kunci pentingnya!"sahut Tuan Wei.
Wei Yan Li mengangguk.
Setelah selesai acara mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan hadiah, Kakek Gong mengumumkan sesuatu.
"Di hari yang baik ini, hari di mana cucuku genap berusia 37 tahun, aku sebagai kepala keluarga Gong, resmi mengum bahwa cucuku, Andrean Gong, mulai detik ini adalah kepala keluarga Gong!"ucap Kakek Gong lantang.
Andrean membulatkan matanya.
Apa ini?
Ini tidak ada dalam rencana!
"Kakek?"
Kakek Gong tersenyum lebar.
__ADS_1
"Selamat! Selamat!"
Kakek Gong tahu, di saat seperti ini mana mungkin menolak apa yang ia katakan. Di sini adalah acara besar.
Andrean mencoba untuk tersenyum. Itu sangat sulit. Ia belum siap menjadi kepala keluarga yang akan dipusingkan dengan urusan internal dan eksternal keluarga. Belum lagi harus duduk bersama dengan tetua, rasanya sangat menyebalkan!
"Saya permisi dulu." Semakin lama, Andrean semakin merasa sesak. Andrean memutuskan untuk keluar. Ia berada di beranda aula, menatap kolam ikan yang sangat jernih. Ikan mas koki berenang dengan bebasnya.
Apakah benar-benar lupa?
Andrean menbatin. Sorot matanya sedih dan kecewa. Suasana hati Andrean sangat terpengaruh karena Camelia ataupun Lucas dan Liam tidak kunjung memberinya ucapan selamat ulang tahun.
*
*
*
Hari ini adalah hari terakhir sebelum tahun yang baru datang di Kanada. Panggung konser sudah berdiri di alun-alun kota. Begitu juga dengan banyaknya tenda jualan, acara konser sekaligus bazar.
Acara tahunan itu akan dimulai sebentar lagi. Dan sebelum acara dimulai, alun-alun sudah dipadati masyarakat. Mereka datang untuk melihat konser pergantian tahun dan juga berwisata kuliner. Juga melihat acara bazar.
Sekitar 4 jam sebelum tahun berganti, konser dimulai. Berbagai pertunjukan ditampilkan.
Camelia mengisi acara di pertengahan. Sekitar dua jam sebelum tahun baru. Setelah menyelesaikan jadwalnya itu, Camelia bergegas bergabung dengan keluarganya.
Mereka tidak terjun ke alun-alun, melainkan melihat acara pergantian tahun dari hotel yang merupakan bagian dari Shane Group. Mereka melihatnya dari rooftop hotel. Itu adalah tempat yang sangat strategis.
Dan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Menara di alun-alun mulai menghitung mundur. Dari detik ke sepuluh sampai satu.
3
2
1
HAPPY NEW YEAR
Disusul dengan kembang api yang ditembakkan ke langit. Langit di atas alun-alun begitu terang dan indah. Aneka warna memenuhinya.
Dan konser semakin meriah.
Tahun baru telah tiba. Awal tahun telah datang.
"Cantik sekali." Keluarga Shane mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel mereka.
Harapan demi harapan diucapkan dalam hati.
"Ayo. Kita tidur. Besok kalian akan tampil," ujar Camelia. Besok adalah hari H pertunjukan teater Lucas dan Liam.
"Iya, Mom," jawab Lucas.
*
*
*
Mereka menginap di hotel. Lucas dan Liam telah tidur.
Sementara Camelia masih terjaga. Ia melihat langit tahun baru dari balkon kamar. Menikmati udara yang semakin dingin.
"Dia benar-benar merajuk?"gumam Camelia.
"Atau masih menunggu?"gumam Camelia lagi.
"Aku tidak tahu harus memberikan apa. Rean sudah punya segalanya."
"Tapi, mana mungkin aku tidak memberikan apapun? Dan sial! Harinya sudah tiba. Apa yang harus aku berikan? Bagaimana cara mengawalinya?" Camelia masih bergumam. Sorot matanya rumit.
Camelia ingat. Tanggal 31 adalah hari kelahiran Andrean. Namun, Camelia bingung sekaligus lupa.
"Huft. Ayo hubungi Rean," putus Camelia pada akhirnya. Ia tidak tenang juga. Apalagi hari ini Andrean tidak ada mengirimnya pesan sama sekali.
__ADS_1
*
*