Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 210


__ADS_3

Camelia menghela nafasnya. Ia tengah break dan baru saja selesai berbalas pesan dengan Andrean. Helaan nafasnya terdengar berat.


Evelin menatap bingung Camelia. Penasaran dengan apa yang tengah dipikirkan Nonanya itu. Padahal pemotretan berlangsung dengan lancar. Kali ini adalah pemotretan untuk majalah musim dingin. Dilakukan indoor dan outdoor.


Majalah ini adalah majalah jempolan Kanada. Hanya artis yang sangat berpengaruh yang bisa masuk ke dalamnya.


Evelin yang biasanya berani bertanya, kali ini tidak bertanya. Ia diam memperhatikan Camelia yang masih berkelut dengan pemikirannya. Bertopang dagu dengan sorot mata rumit.


Aneh, padahal tengah murung. Mengapa Nona tetap terlihat mempesona?gumam Evelin. Iri dengan pesona Camelia. Diam dan murungnya saja tetap mempesona. Apalagi jika tersenyum?


Drtt …


Ponsel Camelia bergetar. Membaca pesan itu dengan malas. Dari kak Abi, yang menanyakan apakah pemotretan telah usai atau belum.


Camelia membalasnya singkat. Kemudian kembali tenggelam dalam pemikiran. Hingga disadarkan kembali oleh Evelin. Karena waktu break telah berakhir. Pemotretan akan kembali dilanjut.


Sekitar dua jam berkelut di depan kamera, akhirnya pemotretan itu selesai. Camelia segera berganti pakaian dan menghapus make up-nya, berganti dengan riasan yang natural saja. Bekas operasi wajahnya kemarin sudah tidak berbekas. Sudah sembuh seratus persen.


Sekitar pukul 16.00, Camelia dan Evelin meninggalkan lokasi pemotretan. "Hati-hati di jalan, Nona."


Camelia mengangguk. Sopir melajukan mobil, menuju ke kediaman Shane.


"Mom!"


Lucas dan Liam menyambut Camelia.


"Lucas, Liam."


"Bagaimana pemotretannya, Mom? Lancar?"tanya Lucas. Camelia menghempaskan tubuhnya di sofa. Lucas dan Liam duduk di samping kanan dan kirinya. Camelia memejamkan matanya. Tidak langsung menjawab. Ia bertambah lelah karena ada beban pikiran.


"Mom?"tanya Lucas, menatap lekat Camelia.


"Mom sangat lelah, Lucas," ujar Liam. Raut wajah Camelia menjawab semuanya.


"Kau buat minuman sana," ujar Liam pada kembarannya.


"Hah?" Lucas terkesiap.


"Aku?"


"Aku akan memijat Mom," jawab Liam.


"Cepatlah! Jangan banyak berpikir! Kau kan pandai di dapur!"ucap Liam, dengan berkacak pinggang. Kesal dengan Lucas yang menunjukkan wajah protes.


"Hm." Lucas bergegas ke dapur.


Liam kemudian mulai memijat tangan Camelia. Bergantian kanan dan kiri.


Camelia menyunggingkan senyum. Pijatan itu terasa sangat pas dan dapat membuatnya rileks. Apalagi Liam turut berceloteh ria. Camelia seakan tidur dengan ditemani alunan musik yang menenangkan.


"Mom tidur?"tanya Lucas. Ia kembali dengan diikuti oleh pelayan yang membawa teko dan gelas teh.


"Maybe," jawab Liam. Ia masih terus memijat Camelia. Lucas juga turut memijat kaki Camelia.


"Lebih relaks?"tanya Lucas. Liam mengangguk.


"Terima kasih, anak-anak." Camelia membuka matanya. Duduk dengan tegak.


"Ayo diminum, Mom," ujar Lucas, menuangkan teh ke gelas.


"Bagaimana, Mom? Merasa lebih baik?"tanya Lucas setelah Camelia minum.


"Berkat perhatian kalian, Mom menjadi sangat lebih baik," jawab Camelia, mengecup pipi kedua anaknya bergantian.


Lucas dan Liam tersenyum senang. "Grandpa dan Grandma mana?"tanya Camelia.


"Ada acara katanya, sepertinya pertemuan gitu," jawab Lucas.


Tuan dan Nyonya Shane memang masih aktif dalam pergaulan kelas atas. Namun, tidak semua pertemuan mereka hadiri. Hanya tertentu saja.


"Besok jadwal wawancara kalian, bukan?"tanya Camelia. Lucas dan Liam mengangguk.


Camelia mengangguk paham. Besok ia akan menemani Lucas dan Liam ke acara wawancara itu.


"Eh, iya, Mom. Susu Alel dan Archie sudah habis," aduh Lucas.

__ADS_1


Camelia mendengus senyum. Ia bangkit dan menuju dapur. "Aku masih penasaran, apa yang dipikirkan Mom tadi," bisik Lucas.


"Hush! Mom juga punya privasi!"jawab Liam. Lucas mendengus. Mengulang kata-kata Liam dengan nada menyindir.


Liam hanya melirik sekilas. Ia ambil pusing dengan tingkah kembarannya itu.


Tak lama kemudian Camelia kembali. Mengatakan pada Lucas dan Liam bahwa susunya sudah ia buat. Kemudian naik menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap untuk memasak.


*


*


*


Sekitar pukul 20.00, Dion baru tiba di kediaman Shane. Ia lumayan lembur hari ini. Rasa lelah begitu mendera.


Dan ia pulang bertepatan dengan jam makan malam. Alhasil, Dion langsung menuju meja makan. Bergabung dengan yang lain. Tuan dan Nyonya Shane sudah kembali.


Mereka makan dengan lahap. "Dion, Kakak tunggu di rooftop," ujar Camelia, setelah selesai makan malam.


"Kalian mau membicarakan apa?"tanya Nyonya Shane penasaran. Hanya bicara empat mata? Pasti hal yang penting kan?


"Kau membuat masalah, Dion?"terka Tuan Shane.


"Tidak, Daddy. Ada sesuatu saja yang harus kami bicarakan berdua," jawab Camelia.


"Baiklah." Nyonya Shane mengangguk setelah Camelia memperjelasnya. Camelia kemudian segera menuju rooftop. Sementara Dion menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


"Mungkin itu yang menjadi pikiran Mom tadi," bisik Lucas pada Liam.


"Ayo kita mencuri dengar," ajak Lucas kemudian.


"Kau lupa apa yang aku katakan tadi?"balas Liam, berbisik pula. Lucas mengerucut bibirnya.


*


*


*


Camelia duduk di sana, menggunakan jaket untuk mengurangi hawa musim dingin.


Camelia menghela nafasnya pelan. Ia bertopang dagu.


Sekitar 5 menit kemudian, Dion tiba di rooftop.


"Kak," panggil Dion, menyadarkan Camelia yang melamun.


"Hm." Camelia tersentak pelan. Dion tertawa.


"Ada apa, Kak?"tanya Dion. Duduk di depan Camelia.


Camelia tidak langsung menjawab. Seakan mencari saat yang tepat untuk mengatakannya. Atau bingung mau dimulai dari mana.


"Tidak biasanya kakak mengajakku bicara empat mata seperti ini. Pasti ada hal penting. Apa berkaitan dengan Ayah dan Ibu?"tanya Dion.


Camelia menggeleng. "Bukan itu."


"Lantas?"tanya Dion lagi.


"Ini … mengenai hubunganku dengan Andrean," jawab Camelia.


"Ada apa dengan hubungan kakak dengannya? Kalian ada masalah?"tanya Dion lagi. Dion menuntut kejelasan.


"Dia … mengajakku menikah." Dion mengeryitkan dahinya. Bingung dengan jawaban Camelia. Bukankah mereka memang akan menikah? Lantas apa masalahnya?


"Jadi, apa yang membuat Kakak kepikiran?"tanya Dion, tidak paham kegusaran hati kakaknya itu.


"Secepatnya. Pernikahan tersembunyi."


Dion mencerna jawaban Camelia. Pernikahan tersembunyi?


"Maksudnya?"tanya Dion, memiringkan kepalanya.


Pernikahan tersembunyi bagaimana?

__ADS_1


"Dia mengajakku menikah secepatnya, pernikahan tersembunyi. Rahasia, hanya diketahui oleh pihak terdekat. Jika saatnya tiba baru diumumkan ke publik. Selama itu, kami akan tetap long distance relationship. Cuma kami sudah diikat tali pernikahan. Itu membuatku sangat pusing!!"jelas Camelia. Antara kesal, gemas, dan juga tegang.


"What?!" Dion berseru kaget. Ia ajakan yang luar biasa dan berani! Dion berpikir, darimana Andrean mendapatkan ide itu.


"Dia serius, Kak?"tanya Dion.


"Dia selalu serius. Kuncinya ada di aku. Dan itu membuatku tertekan," papar Camelia.


"Ini sangat serius, Kak!"ucap Dion.


Keduanya bertatapan serius. "Aku tidak bisa memutuskannya." Camelia menghela nafas lesu.


"Sebenarnya aku ada niat. Namun, belum aku sampaikan pada Kak Abi atau Kak David," ujar Camelia.


"Apa itu?"tanya Dion. Jika disampaikan pada agensi, pasti hal yang penting.


"Setelah pemotretan hari ini dan juga syuting film nanti berakhir, aku akan lebih selektif pada tawaran. Mungkin aku akan lama tidak akan comeback," papar Camelia.


Dion terhenyak dengan pemaparan Camelia. Artinya, kakaknya akan lebih sering hiatus. Ya, selama berada di sini, Camelia memang begitu gencar mengambil tawaran dengan berbagai macam karakter. Hingga mengantarkannya pada puncak popularitas dan penghargaan.


"Alasannya?"tanya Dion.


"Ya, aku ingin fokus pada hal lain. Mungkin belajar management denganmu, atau hanya fokus pada modeling dulu. Dan menghabiskan waktu bersama dengan Lucas dan Liam. Kau tahu kan? Jika pernikahanku dengan Andrean kelak dipublikasikan, maka aku akan ikut Andrean tanpa Lucas dan Liam. Mungkin sudah saatnya aku mengurangi aktivitasku di entertainment," jelas Camelia panjang lebar. Alasan yang masuk akal.


Dion manggut-manggut mengerti.


"Kakak mengatakan ini semua, untuk meminta saranku, bukan?"


Camelia mengangguk membenarkan. "Kalau menurutku, apapun pilihan kakak, aku mendukungmu. Hanya saja, aku lebih kepada kakak menerima ajakan Tuan Gong. Karena cepat atau lambat kalian akan menikah juga. Aku rasa tidak masalah pernikahan dimajukan tanpa dipublikasikan. Itu juga sebagai pengikat dan penambah erat hubungan dan kepercayaan di antara kalian. Jika di China, pembuatan surat nikah saja di pencatatan sipil sudah sah. Nanti acara pemberkatannya baru pas hendak dipublikasikan," saran Dion.


"Menurutmu begitu?" Camelia mencerna saran Dion.


"Dan biar kalian dapat bermesraan tanpa halangan belum menikah," imbuh Dion, mengendikkan matanya pada Camelia.


Camelia terkesiap. Wajahnya langsung memerah. "Jangan beromong kosong!"gerutu Camelia. Dion tertawa lepas.


"Haha, bukankah itu benar? Dan masalah izin, aku rasa Daddy dan Mommy tidak akan masalah. Dan pada agensi, aku rasa tidak terlalu berpengaruh. Lagipula tidak langsung mempublikasikannya," jelas Dion lagi.


"Apapun keputusannya ada di tangan Kakak. Dan aku akui, calon kakak iparmu memang pemberani," ujar Dion. Tatapannya penuh makna pada Camelia.


"Akan akan kembali memikirkannya," jawab Camelia. Saat ini ia hanya bisa menampung saran Dion. Namun, untuk keputusannya Camelia harus memikirkannya lagi. Karena keputusan itu akan mengubah hidupnya melalui pernikahan. Itu adalah keputusan serius yang harus diputuskan dengan pertimbangan yang matang.


"Tapi, Dion. Kakak heran denganmu. Kau bisa mengatakan hal seperti ini. Namun, sampai saat ini kau belum memiliki pacar. Apakah sebenarnya kau sudah punya pacar namun tidak kau kenalkan padaku?"selidik Camelia.


"Kakak bicara apa?"tanya Dion. Ia tertegun dengan perkataan Camelia.


"Coba pikirkan kembali. Kau bisa memberikan aku saran seperti itu. Padahal kau belum pernah berpacaran. Apakah salah jika aku merasa aneh?"tanya Camelia.


"Kakak!"rengek Dion. Raut wajahnya memelas. "Tidak pernah berpacaran belum tentu tidak bisa memberikan saran soal hubungan? Apakah Kakak kira aku ini batu?"keluh Dion.


"Dan apa Kakak pikir, semua penulis novel romantis di luar sana, terutama yang novel remaja, pernah berpacaran semua?"


"Mengapa melantur ke sana?"protes Camelia.


"Hehe." Dion tertawa. "Dan satu lagi, seperti yang kakak tahu, aku ini sangat super sibuk. Setiap hari hampir selalu lembur. Mana ada waktu untuk pacaran," tegas Dion kemudian.


"Jika berkaca pada novel, maka kebanyakan pacar Presdir itu adalah sekretaris," sahut Camelia, menaikkan satu alisnya.


Dion mengerjapkan matanya. Menatap horror Camelia.


"Kak … sekretarisku itu laki-laki!!" Dion berkata dengan bangkit dari duduknya. Dan sepertinya ia sudah cukup sering mendengar dugaan ini dari Camelia.


"Hmm, ya … aku lupa," sahut Camelia, terkikik geli dengan reaksi Dion.


Dion menggeleng heran. Sebegitu inginnya Camelia melihatnya berpacaran.


"Hahaha, aku tahu. Aku tahu. Masih panjang waktunya bukan?"


"Namun, Dion. Meskipun kau sangat super sibuk, jangan pernah lupa untuk bersenang-senang. Hidup ini, masa muda ini tidak baik jika terlalu dipaksakan. Okay?"


"Kak, aku tahu. Lagipula, ini hanya tantangan tersendiri. Karena saat pulang, energiku yang terkuras langsung terisi. Ada kalian, dan setiap hari aku bersenang-senang," jawab Dion, tersenyum meyakinkan Camelia.


Camelia mendengus senyum.


Dion bersyukur. Tumbuh di keluarga yang penuh dengan support. Bukan keluarga yang toxic. Jadi, energinya hanya habis untuk pekerjaan. Bukan tertekan batin.

__ADS_1


"Baiklah. Kakak akan selalu menunggu kabar baik darimu," ujar Camelia.


__ADS_2