
Tahun Baru telah tiba. Keluarga kecil Camelia merayakan Tahun Baru di Jepang, bersama dengan Tuan dan Nyonya Shane dan juga Dion yang sudah menyusul ke Jepang. Rencananya akan tinggal selama 2 hari setelahnya kembali ke Kanada. Tuan dan Nyonya Liang tidak menyusul, malam Tahun Baru adalah salah satu hari restoran sangat ramai.
Tidak merayakan di luar, mengingat kondisi Liam, udara dingin, dan juga ramainya orang yang keluar untuk menyaksikan dan merayakan Tahun Baru.
Mereka merayakannya di rumah sakit. Sorenya Camelia sudah membuat beberapa macam hidangan dan Dion membeli beberapa botol anggur. Rasanya tak lengkap Tahun Baru tanpa bersulang.
3
2
1
Happy New Year!
Mereka, para orang dewasa bersulang, termasuk Camelia. Sementara anak-anak menikmati makanan ringan yang disajikan karena sebelumnya sudah makan malam lebih awal. Raut wajah penuh harapan terpancar, mengepalkan tangan berdoa sebelum makan. Ah, kecuali Andrean yang gelisah, sejak peringat Camelia untuk tidak mendekat padanya dalam jarak 2 langkah. Pria itu uring-uringan. Pernah ia mencoba mendekat. Namun, Camelia kembali muntah. Mungkin ini karma untuknya. Dokter mengatakan itu adalah bawaan dari bayi yang dikandung Camelia.
Tatapan Andrean fokus pada Camelia yang sedang menikmati makanannya, sembari bercengkrama dengan anak-anak. Sesekali menyuapi mereka.
Tuan dan Nyonya Shane tersenyum, ada kepuasan di dalamnya.
Sampai kapan hal tersebut terus berlanjut, kami tidak bisa menjawabnya, Tuan. Karena masing-masing ibu hamil punya waktu berbeda. Namun, yang terpenting Anda harus tetap berada di dekatnya, ibu hamil itu sangat sensitif.
Andrean mengesah mengingat ucapan dokter. “Sudah-sudah, anak-anak ayo tidur,” ucap Camelia, setelah selesai makan dan berberes dibantu Dion.
“Yes, Mom!”
“Kami juga kembali ke apartemen ya, Kak,” ucap Dion. Camelia mengangguk. Tuan dan Nyonya Shane pulang ke apartemen bersama dengan Dion. Anak-anak sudah beranjak tidur. Liam di ranjangnya. Lucas dan Crystal di ranjang satu lagi. Tinggal Andrean dan Camelia yang tampak canggung, duduk di sofa yang sama dengan jarak yang lebar.
“Lia, apa belum bisa?”tanya Andrean dengan wajah menyedihkannya. Sudah berapa lama ia tidak memeluk dan mencium sang istri.
“Entahlah. Kau coba saja,” jawab Camelia, terkesan tak acuh namun perasaannya sama dengan Andrean. Ini juga menyiksa dirinya. Tapi, mau bagaimana lagi?
Andrean mendekat sedikit demi sedikit dengan ragu. Satu jengkal-satu jengkal. Hatinya berdebar, berharap sudah selesai, Namun, itu pupus saat baru saja menyentuh tangan Camelia, sang istri langsung lari ke kamar mandi.
“Sampai kapan?”erang Andrean frustasi.
“Maaf, Sayang,” ucap sesal Camelia setelah keluar dari kamar mandi.
“Ya … aku harus bersabar lebih lama lagi.”
“Selamat tidur, aku mencintaimu.” Setelahnya Camelia masuk ke ruangan yang berisi ranjang di mana Lucas dan Crystal tidur. Sementara Andrean kembali tidur di sofa. Menghela nafas kasar.
Sementara Camelia sudah berbaring, mengusap lembut perutnya yang sudah mulai menonjol. “Nak, sampai seperti ini pada Ayah? Apa kau tidak ingin disentuh ayahmu?”
“Hm … tidak apa, Mom tahu kau pasti marah karena hari itu. Tapi, marahnya jangan kelamaan yaa … kasihan ayahmu, little baby.”
Dion sudah kembali ke Kanada, begitu juga dengan Andrean dan Crystal yang sudah kembali ke China. Hari ini, Camelia kembali mendengarkan hasil pemeriksaan rutin dokter atas penyakit Liam. “Meskipun tidak begitu signifikan, ada peningkatan, Nyonya. Selamat,” ucap Dokter Adam.
“Kalian tidak salah lagi, kan?”selidik Camelia. Dokter Adam dan Dokter Leo menggeleng.
“Dokter ahli yang lain bisa menjadi saksi,” ucap Dokter Adam meyakinkan.
Sontak, air mata Camelia langsung jatuh. Ia sangat bahagia. Akhirnya ada kemajuan.
“Kami akan memberikan antibiotik terbaru setelah antibiotik yang digunakan habis. Kami berharap yang terbaru akan lebih efektif,” ungkap Dokter Leo memberitahu. Camelia mengangguk.
“Kalau begitu saya permisi,” ucap Camelia, keluar dari ruangan dokter.
“Seharusnya keputusan ini aku ambil sejak dulu,” sesal Camelia. Karena mempertimbangkan keamanan atau apalah itu, Liam malah bertambah parah dengan rawat jalan.
“Sial!”
Dan sialnya, ia hanya bisa menyesali keputusan itu.
“Tidak! Aku harus memberi kabar baik ini. Ayo little baby, kita sampaikan kabar baik ini pada Kak Liam,” ucap Camelia menghapus air matanya, menuju kamar rawat Liam.
“Bagaimana, Mom? Apa kata Paman Dokter?” Bukan yang sakit yang bertanya lebih dahulu melainkan sang kakak, Lucas.
Camelia mengusap lembut rambut Lucas, “kabar baik. Besok antibiotiknya akan diganti dengan versi terbaru. Liam … kau harus tetap semangat, Mom dan Lucas akan selalu menemanimu, Okay?”
Liam mengangguk kemudian berpelukan dengan Camelia.
“Jika begitu, kapan kita kira-kira akan pulang, Mom?”tanya Liam penasaran.
__ADS_1
Camelia segera memperhitungkannya. Jika benar tali pusat Little Baby adalah obatnya maka, “sepertinya akhir musim panas,” jawab Camelia.
“Sekitar 6 bulan lagi?”
“Yaa.”
“Itu waktu yang cukup untuk membuat sebuah film,” celetuk Liam.
“Aku penasaran apakah popularitas kita meredup atau tidak,” ucap Lucas menerka-nerka.
“Entahlah, aku tidak ingin memusingkannya,” sahut Liam acuh. Ia menikmati buah semangka yang sebelumnya telah dipotong kecil oleh Camelia.
Camelia tertawa renyah. “Karya yang berkualitas akan membawa popularitas tinggi. Jadi, cukup dengan come back dan karya yang berkualitas maka popularitas akan bersama dengan kita. Hm … lagipula dengan latar belakang kalian, apa perlu mengkhawatirkan hal itu?”tanya balik Camelia.
“Ku rasa itu benar.” Lucas mengangguk setuju.
“Lalu Mom, apa Mom rencana Mom selanjutnya? Setelah pulang dari sini?”tanya Liam penasaran. Sejujurnya ia merasa sangat bersalah pada Camelia dan juga Lucas. Sejak ia sakit, keduanya benar-benar vakum dari industri industri hiburan.
“Hm … yang pasti merawat Little Baby lalu Mom ada rencana mau ambil naskah kolosal,” ucap Camelia. Ya, rencana pertamanya untuk kembali debut di China adalah drama kolosal. But, dengan naskah yang sangat seleksi. Jadi, pastinya akan membutuhkan waktu yang sangat lama.
“Dan kalian, tentunya akan sekolah.”
“Sekolah? Bukannya akselerasi?” Lucas protes.
“Ya? Akselerasi lebih awal bukannya lebih bagus, hm?”
“Ah … aku paham!”
“Good!”
Andrean segera mengeceknya. Ia tersenyum puas dengan hal itu. Dan segera menandatanginya. “Hans, kau harus lebih menghormati istriku. Dia bisa memecatmu tanpa persetujuanku, okay?”ucap Andrean dengan kekehannya. Hans menunjukkan wajah datar.
“Artinya saya bisa semena-mena pada Anda, bukan?”
Andrean melotot kesal. “Enak saja! Aku ini tetap bosmu!”sentak Andrean kesal.
“Ya kan pemilik saham utama adalah Nyonya,” jawab Hans santai.
“Kau ini!”kesal Andrean.
Hans memasang senyum tipis.
“Jika orang-orang tahu, Anda akan dicap sebagai suami takut istri,” ledek Hans kemudian.
Andrean mendengus sebal. “Lantas kau sendiri? Bukankah kau tidak boleh masuk ke rumah oleh istrimu?”sindir balik Andrean. Hans langsung terdiam.
Ya, istrinya, Silvia kini sedang mengandung. Awal minggu yang bahagia namun berubah saat Silvia malah jengkel melihat dirinya. Asal melihat Hans, bawaan Silvia selalu marah dan kesal, tidak tahu alasannya. Dan ya, pada akhirnya belakangan ini Hans tinggal bersama dengan Andrean.
“Bukankah Anda juga sama, Tuan?” Dan tiba-tiba Hans membalas lagi.
“Kau?! Tidak bisakah kau diam saja jangan membantah?”kesal Andrean.
“Lupakan saja, kita tidak sedang adu nasib. Ayo makan siang,” putus Andrean pada akhirnya.
Usia kandungan Camelia memasuki umur 5 bulan. Dan ini sudah berada di akhir musim dingin dan adalah awal musim semi. Jarak 2 langkah antara Andrean dan Camelia masih berlaku. Alhasil mereka hanya bisa berbincang tanpa kontak fisik. Rasanya sesak, rindu sudah membuncah. Namun, bukan berarti hubungan mereka berjarak.
Ini sudah ke sekian kalinya Andrean bolak balik Beijing-Tokyo.
__ADS_1
Pohon Sakura berbunga dengan indahnya. Bunga yang gugur, membuat lautan bunga di tanah. Sungguh indah.
Musim semi yang dinantikan telah tiba. Di Jepang, musim semi dianggap merupakan sebuah awal yang baru. Karena pada masa musim semi ini, upacara kelulusan dilakukan disusul dengan awal masuk sekolah dan awal yang baru yang sudah lulus dan siap memasuki dunia kerja.
Camelia mengajak anak-anak untuk berjalan-jalan di halaman rumah sakit, menyaksikan Sakura bermekaran. Tak lupa membawa buah persik. “Mochi sepertinya enak. Besok Mom akan membuatnya,” ucap Camelia.
“Isi persik, Mom?”usul Lucas.
“Hm, sepertinya enak,” jawab Camelia.
“Yeah!’
Mereka tak terlalu lama di luar, segera masuk setelah menghabiskan buah persik yang dibawa.
Kandungan Camelia semakin terlihat jelas. Dan kabar baiknya, kondisi Liam terus mengalami peningkatan. Ia sudah tidak lagi merasa sesak nafas namun tetap beberapa kali mimisan.
Empat bulan lagi. Camelia berharap semuanya lancar. Kandungannya juga sehat dan jenis kelamin Little Baby sudah diketahui, boy again.
Keesokan paginya, Camelia sudah berjibaku di dapur untuk membuat mochi dengan beberapa isian. Dan hasil akhir yang telah jadi ditambahkan tepung yang sudah lebih dulu disangrai. Tuan dan Nyonya Liang lebih dulu mencobanya. Seperti biasa, buatan Camelia tidak pernah mengecewakan.
“Mengapa Hello Kitty?”
Camelia menoleh saat mendengar keluhan Tuan Shane.
“Itu lucu. Satu saja, yaya…,” rayu Nyonya Shane.
“Tapi, itu tidak cocok dengan usiamu, Sweetheart.”
“Yayaya … apa karena aku sudah tua, tidak boleh suka yang feminim, hm?”rayu Nyonya Shane lagi, menunjukkan wajah memelasnya pada sang suami.
“Warnanya jangan merah muda.”
“Hello Kitty itu merah muda, tidak bisa diubah, yayaya….” Tuan Shane tampak frustasi dengan keinginan sang istri.
“Apa kata teman-temanmu nanti? Mereka akan menganggapnya kekanakan,” ucap Tuan Shane.
Nyonya Shane langsung menajamkan matanya. “Jadi, kau anggap aku kekanakan? Begitu, hm?”
“Bukankah kau yang berkata, tidak peduli apapun keinginanku kau akan mengabulkannya. Apa mobil dengan motif Hello Kitty begitu sulit dan kekanakan? Apa kau akan menganggap hal itu memalukan?”
“Sweetheart, bukan begitu maksudku.” Tuan Shane panik saat Nyonya Shane membelakangi dirinya karena kesal.
“Sweetheart, aku bisa mengabulkannya, tapi-”
“Iya atau tidur sendiri?”sela Nyonya Shane memberikan ultimatum.
Tuan Shane menghela nafasnya. Itu pilihan yang berat. Akan tetapi …,
“Baiklah. Aku akan segera memesannya, okay?” Tuan Shane segera menghubungi sebuah perusahaan mobil untuk memesan mobil dengan motif Hello Kitty, spesial untuk sang istri tercinta.
“Dengar? Aku sudah memesannya. Ku mohon jangan marah lagi. Look me, please,” bujuk Tuan Shane, menyentuh pundak Nyonya Shane. Dan dengan cepat, Nyonya Shane membalasnya dengan pelukan.
“I love you,” bisik Nyonya Shane.
“I love you too, Sweetheart.”
Camelia menyaksikan pertengkaran kecil itu dari awal hingga akhir. Wanita itu termenung kemudian mengusap perutnya. “Hello Kitty, ya?”
*
Pagi yang sibuk di Starlight Entertainment. Staff sibuk kesana kemari. Para manager juga begitu. Dan hari ini akan dilaksanakan bulanan untuk para trainee. Juga ada para anggota grub yang berlatih di ruang latihan. Masing-masing dengan kesibukannya.
Namun, tiba-tiba kesibukan itu tiba-tiba berhenti dan suasana hening dengan. Mata mereka terbelalak tidak percaya dengan mulut yang melongo. “Itu Presdir?”
“Apa itu Presdir?”
Itu penuh dengan ketidakpercayaan dan juga kebingungan. Berulang kali mengedipkan mata pun tidak mengubah apa yang sedang mereka lihat.
“PRESDIR KE KANTOR PAKAI DASTER HELLO KITTY?!”
__ADS_1