Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 130


__ADS_3

Camelia menghadiri acara penayangan perdana film Starlight. Acara itu dilaksanakan pada siang hari.


Seperti acara selebriti pada umumnya, pasti ada acara karpet merah, wawancara, foto bersama, dan tegur sapa sebelum memasuki ruangan acara.


Camelia telah tiba beberapa saat lalu. Kedatangannya salah satu yang paling ditunggu. Wawancara telah Camelia selesaikan. Selanjutnya adalah berbaur dengan para undangan lainnya.


"Hai, Camelia."


"Oh … hai, Joseph," balas Camelia dengan tersenyum. Lagi, dan lagi, mereka kembali berjumpa di acara. Dulu, sebelum berjumpa lagi dalam drama Split Love, keduanya juga sering menghadiri acara seperti ini. Namun, karena dulu Camelia hadir bersama dengan Chris, jadi hanya sekadar tegur sapa saja, tidak dengan obrolan. Dan lagi, dulu tak semudah saat ini, setiap menyapa, harus menambah embel Nyonya di belakangnya.


"Anda datang sendiri?"tanya Joseph.


"Iya. Anda sendiri?"


"Sama seperti Anda. Tadinya, saya kira datang bersama putra kembar Anda, siapa nama mereka? Lu … Lucas dan Liam, right?"


"Benar," jawab Camelia.


"Apakah Anda ada imajinasi atau bayangan tentang film ini? Dari trailer nya?"tanya Joseph, keduanya berbincang di tengah keramaian itu. Yang pastinya, diawasi dari setiap sudut.


Camelia tak ragu atau was-was berbincang santai dengan Joseph, mengingat mereka terlibat sebagai peran utama drama. Tentu, berbincang seperti ini dianggap wajar dan biasa saja.


"Bayanganku film ini pasti bagus," jawab Camelia.


"Saya juga demikian. Saya dengar, film ini tidak banyak menggunakan green screen. Jika benar, maka kesan actionnya akan benar-benar terasa," ujar Joseph, tampak begitu excited dengan film ini, yang mana dibintangi oleh artis senior dan sejumlah artis baru.


"Selain itu, biaya pembuatannya juga sangat besar," imbuh Joseph lagi.


Camelia mengangguk pelan. "Kalau begitu, saya jadi sangat menantikannya," sahutnya kemudian.


"Eh!" Joseph berkata dengan sedikit melebarkan matanya saat melihat ada seseorang yang menyenggol Camelia namun tak meminta maaf, malah melangkah menjauh seolah tidak ada masalah.


Joseph melihat Camelia. Wanita itu hanya sekilas melihat bahunya kemudian tersenyum manis. Melihat punggung orang yang menabraknya.


"Anda tidak apa-apa?"


"Hanya senggolan ringan."


"Tidak sopan sekali! Siapa dia?!"kesal Joseph, harusnya berbalik dan minta maaf.


"Tidak perlu diperpanjang, Joseph. Mari masuk, acara akan segera dimulai," ajak Camelia, tak ingin mempermasalahkan hal ini. Meskipun ia kesal. Namun, ia harus menjaga image. Lagi pula, bukan levelnya mempermasalahkan hal itu.


"Kamera ada di setiap sudut, Anda tinggal menunggu permintaan maafnya," bisik Joseph kemudian. Camelia tersenyum tipis.


Memasuki ruangan yang tak lain adalah bioskop itu, bangku sudah diisi dengan penonton di barisan belakang, dengan bangku depan yang masih banyak kosong. Menunggu diisi oleh undangan eksklusif seperti selebritis, kritikus film, dan sebagainya.


Ruangan remang begitu film dimulai sesaat setelah serangkaian sambutan. Hampir tiga jam kemudian, film berakhir. Tepuk tangan meriah langsung memenuhi bioskop. Termasuk dari Camelia dan Joseph.


Film yang barusan mereka tonton, tak berbanding terbalik dengan ekspektasi mereka. Sesuai dengan trailer.


"Saya yakin film ini akan sukses besar!"ucap Joseph, wajahnya sungguh sumringah.


Camelia mengangguk membenarkan. Tujuan produksi film dan jajaran mengundang selebritis ternama dan lainnya, tentu saja sebagai ajang promosi, karena setiap selebritis memiliki penggemar.

__ADS_1


Begitu keluar dari bioskop, hari sudah gelap. Ternyata acara itu memakan banyak waktu. Dari acara karpet merah, pembukaan, isi, hingga penutupan. Rasanya melebihi jam acara award.


"Saya duluan, Joseph," pamit Camelia.


"Hati-hati di jalan," balas Joseph.


Camelia meninggalkan tempat setelah acara selesai. Di dalam mobil, ia menghela nafas, rasanya sangat lelah meskipun hanya duduk.


Baru sebentar saja ia memejamkan mata, ponselnya berdering. Camelia melihat siapa yang menelponnya di malam hari begini.


"Dion?"


Segera ia jawab. "Ya, Dion."


"Hai, Kak," sapa Dion di sana.


"Hm … kau tidak bekerja?"tanya Camelia, mengingat di Shanghai ini adalah jam kerja.


"Ada jeda sedikit."


"Ada apa? Hm?"


"Suaramu terdengar lelah, Kak. Apa kau baru pulang dari acara tayang perdana itu?"terka Dion.


"Begitulah." Camelia meraih botol minum, menenggak isinya hingga tandas.


"Sebenarnya aku ingin menyampaikan sesuatu. Aku tak ingin, ini kabar baik atau tidak," ujar Dion, dengan nada tak yakin.


"Katakan saja jika penting," sahut Camelia, melempar pandang keluar jendela. Entah mengapa ia sedikit berdebar.


"Ada apa dengannya?"tanya Camelia, semakin berdebar.


"Dia …." Camelia mengeryit. Mengapa lama dan ragu sekali?


"Meninggal."


Camelia membelalakkan matanya. "Apa katamu?!"


"Dia meninggal karena kanker serviks, kemarin malam," jelas Dion.


Camelia diam. Debaran jantungnya belum mereda. Matanya bergerak rumit.


Bagaimana tidak?


"K-Kau serius, Dion?"tanya Camelia, memastikan sekali lagi.


"Untuk apa membohongimu, Kak? Beritanya sudah keluar."


"Mengapa baru sekarang kau memberitahuku?" Memijat pelipisnya. Jelas ini berita penting. Mereka memang tidak sedarah, namun sepersusuan.


"Lantas apa kau datang ke pemakamannya?"tanya Camelia lagi.


"Tidak."

__ADS_1


"Aku pernah mengatakan pada Kakak, aku tidak mengakuinya sebagai kakakku, dan dia tidak ada urusannya denganku. Mau hidup dan mati, aku tak urus!"lanjut Dion, nadanya datar. Sama sekali tidak merasa bersalah ataupun takut andai kata Camelia akan memarahinya.


Camelia memejamkan matanya.


Rose meninggal karena kanker serviks? Harusnya ia senang atau biasa saja? Atau malah bersedih?


Apa itu karma untuknya? Kanker serviks? Camelia bertanya-tanya.


"Ayah dan ibu pasti sangat sedih," ucap Camelia.


"Aku tidak bisa menyangkalnya," jawab Dion.


"Ya sudah, nanti aku akan hubungi ayah dan ibu. Kau kembalilah bekerja," ujar Camelia.


"Kakak juga, jangan lupa istirahat!"


Panggilan itu berakhir. Camelia beberapa kali menghela nafas. Kabar meninggalnya Rose ini, membuat dirinya terkejut.


Padahal … baru sebulan dia merasakan mendekam di dalam sana. Tapi, Tuhan berkehendak lain, batin Camelia, sebenarnya tidak terlalu suka dengan kabar itu. Namun, kehendak Yang Esa, siapa yang dapat menolak ataupun menahannya?


Ah, "sudahlah."


Camelia kemudian menghubungi Nyonya Liang. Beberapa deringan, langsung dijawab. "Hallo, Lia."


"Hallo, Ibu. Ibu apa kabar? Ayah juga? Aku baru tahu dari Dion kalau dia meninggal," ucap Camelia, langsung pada intinya.


"Kami baik-baik saja, Lia. Tak perlu khawatir. Karena … rasanya beban di hati sudah tidak begitu berat lagi," ujar Nyonya Liang, nadanya lirih.


"Benarkah?"


"Ibu baik-baik saja, Lia."


"Lega mendengarnya," balas Camelia.


"Lia …." Nyonya Liang memanggil pelan.


"Sebelum pergi, dia ingin kau memaafkannya, Lia. Benar-benar memaafkannya," ujar Nyonya Liang. Meminta dengan ragu. Karena Nyonya Liang sadar, Camelia tidak semudah yang dulu.


Camelia tersenyum tipis. "Maaf, Ibu. Butuh waktu yang lama untuk hal itu."


"Baiklah kalau begitu. Ibu tidak akan memaksanya." Nyonya Liang menjawab cepat dan tidak keberatan.


"Hanya saja … Lia, tidak ada balas dendam yang selengkap pengampunan."


Camelia terhenyak, terdiam mendengarnya.


"Kau pasti telah, di sana sudah malam. Istirahatlah," ujar Nyonya Liang.


"Iya, Ibu."


Panggilan berakhir.


Tidak ada balas dendam yang selengkap pengampunan?

__ADS_1


Haruskah aku memaafkannya? Sepenuhnya?


__ADS_2