Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 197


__ADS_3

Pembacaan nominasi dan penampilan dari penyanyi maupun artis silih berganti dalam acara itu. 


Giliran Camelia belum tiba. Selain akan tampil, Camelia juga akan membawakan nominasi untuk kategori aktor pendatang baru terbaik. 


"Nona, mari ke belakang panggung untuk bersiap." Salah seorang kru menghampiri Camelia dan membisikkan kata-kata itu. Camelia mengangguk. 


"Jangan nakal!"peringat Camelia pada Lucas dan Liam. 


Kedua anak itu mengangguk. Camelia segera menuju ke belakang panggung dengan dipandu oleh kru tadi. 


Kak Abi dan Evelin sudah menunggu di sana. Menemani Camelia yang tengah di make up setelah berganti pakaian. Gaun yang Camelia gunakan berganti menjadi long dress berwarna hitam. Dengan bandana senada. 


Lagu yang akan ia bawakan memang romantis, namun dengan akhir bulan happy ending. 


"Dancer ready?" Penanggung jawab kegiatan sibuk memeriksa kesediaan. 


Para dancer yang akan tampil bersama dengan Camelia mengangguk. 


"Camelia? Sudah ready?"


Camelia mengangguk. 


Kak Abi melihat penampilan Camelia dari bagstage. Ia yakin Camelia akan tampil dengan sempurna. Latihan kemarin sudah sangat bagus. 


Evelin begitu tak sabar menantikan penampilan Camelia. Saat latihan saja sudah keren.


Bagaimana pada saat penampilannya?!


Bagi Camelia, jika hal seperti ini, lebih baik gagal saat latihan daripada saat di medan perang. Persiapan sudah maksimal. Penampilan akan maksimal pula!


Lucas dan Liam menanti penampilan Camelia. Mata keduanya berbinar saat Camelia sudah tampil. 


Penataan panggung yang sangat cocok dengan lagu yang dibawakan. Begitu juga dengan sorot lampu. Kesan pertemuan dan perpisahan karena status yang tidak menghendaki begitu terasa. Apalagi pas di nada tinggi. 


Semua terkagum. Terpaku dengan penampilan Camelia. Ini memang live pertama di atas panggung besar seperti ini. Namun, penampilan itu sangat spektakuler!!


Dengan begitu, Camelia semakin memantapkan dirinya memang berhak menerima penghargaan, bukan karena latar belakangnya namun memang karena kemampuan dan bakatnya. 


Lucas dan Liam sama-sama mengabadikan penampilan Camelia. Keduanya juga mendengar ucapan takjub atas penampilan Mom mereka. 


Sebagai anak, keduanya sangat bangga. 


"Amazing."


Lucas menoleh pada Nicholas. Sama seperti yang lain, sosok yang akan menjadi lawan main Camelia itu juga tertegun dengan penampilan Camelia. 


Tepuk tangan meriah langsung pecah begitu Camelia selesai. 


Camelia bersama dengan para dancer membungkuk sebelum kembali ke bagstage. 


"Great! Amazing! Kau melakukannya dengan sangat baik!!"ucap Kak Abi, ia memeluk Camelia. 


Camelia mengangguk. Ia sudah lega dengan penampilannya. 


"Nona, mari." Kru yang memanggil Camelia tadi kembali menghampiri Camelia untuk berganti pakaian. Camelia mengangguk. Ia berganti dengan cepat. 


"Nona, silakan," ucap kru, mempersilakan Camelia kembali naik ke atas panggung, untuk membacakan nominasi. 


Camelia melangkah dengan langkah pasti. Hanya memasang senyum kecil. 


Sebelum membacakan nominasi, ia memberikan beberapa patah kata. 


Setelah itu, nominasi ditayangkan di layar panggung. 


"Penghargaan aktor pendatang baru terbaik tahun ini jatuh kepada …." Camelia sengaja menjeda ucapannya untuk menciptakan efek tegang. 


"Selamat kepada Nicholas!"ucap Camelia. Tepuk tangan kembali menggema. 


"Kepada Nicholas, silakan naik ke atas panggung," ucap Camelia lagi. 


"Selamat, Uncle," ucap Lucas pada Nicholas. Dan pria yang menang itu, tertegun. Seakan tidak percaya dirinya menang. 


Saat Lucas memberikan selamat, barulah Nicholas sadar. Pria itu berdiri dan berjabat tangan dengan beberapa orang sebelum naik ke atas panggung. 


Camelia menyerahkan piala kepada pemenang sekaligus kembali mengucapkan selamat. 


Nicholas kemudian bersiap untuk memberikan sambutan.


Camelia mengeryitkan dahinya melihat Nicholas yang tampak gemetar. 


"Hanya ucapan terima kasih. Tidak perlu terlalu gugup," ucap Camelia. 

__ADS_1


Nicholas melirik Camelia sekilas. 


"Selamat malam semuanya." Nicholas kemudian mulai menyapa. 


Camelia masih melihat rasa tegang Nicholas. Mungkin baru pertama kali. 


"Terima kasih atas semua dukungannya. Saya akan berusaha maksimal untuk menghasilkan karya terbaik lagi, terima kasih."


Ya itu sangatlah singkat. Setelah itu Nicholas kembali ke tempat duduknya. Begitu juga dengan Camelia. 


Tidak ada pembicaraan antara Camelia dan Nicholas selain ucapan selamat. 


Acara itu berakhir sekitar pukul 22.00. Camelia menambah 3 piala di lemarinya. Sementara Lucas dan Liam yang belum memainkan peran terpisah membawa pulang 2 piala. Sementara Nicholas hanya membawa satu piala. 


"Nona Camelia," panggil Nicholas. Acara itu sudah selesai. Ia mereka bersiap untuk pulang. 


"Ya?"sahut Camelia. 


"Saya tahu saya masih memiliki banyak kekurangan. Tapi, saya akan berusaha semaksimal mungkin dalam kerja sama mendatang. Mohon bimbingannya, Nona!"ucap Nicholas. Pria itu membungkuk di depan Camelia. 


"Ah? Saya juga," jawab Camelia. 


Nicholas menegakkan tubuhnya. Ia mengangguk. "Sudah hampir larut, saya dan anak-anak undur diri lebih dulu," ujar Camelia. 


"Hati-hati di jalan, Nona!"


*


*


*


Setibanya di kediaman Shane, Camelia, Lucas, dan Lia langsung menuju kamar masing-masing. 


Hal pertama yang Camelia lakukan adalah meletakkan piala yang ia menangkan hari ini dalam lemari. Camelia menatap lemari yang khusus berisi piala miliknya. Di sampingnya adalah lemari berisi piala Chris. 


Senyumnya melengkung lebar. Namun, bukan berarti ia puas. Camelia bertekad untuk semakin lebih baik lagi. Mempertahankan apa yang telah ia capai. 


"Sudah berapa hari aku tidak berbicara dengan Andrean?"gumam Camelia, ia langsung teringat pada Andrean. 


Hatinya sangat rindu. Akhirnya waktu senggang setelah kesibukan latihan dan menghadiri acara penghargaan itu tiba. Ya meskipun hanya beberapa hari saja karena setelah itu Camelia akan kembali sibuk untuk pemotretan, kemudian menghadiri undangan pergelaran teater, lalu menjadi bintang tamu, dan juga latihan persiapan untuk shooting film selanjutnya


Tak perlu waktu lama panggilan itu dijawab. Seperti biasa nada yang lembut menyapa pendengaran. 


"Tahukah kau dua hari tanpa kehadiranmu, berikut terasa sangat berat, Lia," ucap Andrean, mengisyaratkan bahwa rindunya sudah teramat berat. 


"Hm … I know," jawab Camelia. Ia berbicara dengan Andrean sembari menghapus make up-nya. 


"Dua hari belakangan aku sibuk mempersiapkan penampilanku untuk acara penghargaan. Dan itu sudah selesai. Bagaimana denganmu, Rean? Ku dengar dari Lucas kau juga sangat sibuk?"balas Camelia. 


"Ya begitulah. Kau tahu bukan, aku memimpin dua perusahaan," jawab Andrean. 


"Apakah kau tidak menjadikan satu kantor dua perusahaan itu?"tanya Camelia. Bukankah satu pimpinan? 


"Apa maksudmu mempersatukan dua perusahaan itu?"tanya Andrean memperjelas maksud Camelia.


"Ya kurang lebih seperti itu. Kupikir itu akan efisien," jawab Camelia, membenarkan pertanyaan Andrean. 


Hening. 


Andrean tidak langsung menyahuti jawaban Camelia. 


Camelia merasa aneh. "Apa aku mengatakan hal yang salah?"tanya Camelia. Biasanya jika Andrean diam, artinya ada seseorang yang membuatnya kesal. 


"Lia," panggil Andrean. Camelia terkesiap. Nadanya datar. Fix, Camelia yakin ia telah mengatakan hal yang tidak seharusnya. Camelia memejamkan matanya, dalam hati meruntuki dirinya sendiri. 


"Starlight Entertainment adalah perusahaan yang aku bangun sendiri. Sementara Gong Group adalah perusahaan keluarga. Memang aku pemimpinnya. Namun, kedua perusahaan itu memiliki makna yang berbeda. Aku tidak bisa mencampurkan keduanya," jelas Andrean tegas. Kata-katanya sangat jelas.


Andrean membangun Starlight Entertainment karena tidak ingin mencampuri bisnis keluarganya yang bergerak di bidang real estate, properti, dan perhotelan. Sementara Starlight Entertainment bergerak di dunia entertainment. 


Namun, karena keserakahan Allen, membuat Andrean memutuskan untuk mengambil alih perusahaan. 


Perusahaan yang dibangun sendiri serta perusahaan yang diwariskan turun-temurun, tentu esensinya tidak akan samar. Oleh karenanya, Andrean tidak menggabungkan dua perusahaan besar itu dalam satu nama. 


Karena kedua perusahaan itu memegang posisi yang seimbang. Andrean tidak ingin kerja kerasnya menjadi bagian dari Gong Group. Di satu lain, merubah nama perusahaan keluarga tentu akan ditentang. Lagipula, Andrean sudah mulai terbiasa. 


"Maafkan aku. Aku kurang memahaminya, Rean," sesal Camelia. 


"Tidak apa. Mungkin idemu ini bisa jadi referensi ke depannya," sahut Andrean. 


"Ah … hehe." Camelia terkekeh pelan. Terkadang ia tidak paham jalan pikiran Andrean. 

__ADS_1


"Kau ada rencana untuk akhir pekan besok, Lia?"tanya Andrean. 


"Hm, aku belum memikirkannya. Mungkin aku akan seharian di rumah," jawab Camelia. Besok ia tidak punya janji ataupun agenda keluar. Kecuali Lucas dan Liam yang akan ditraktir oleh Dion. 


"Kau sendiri, Rean? Bukankah di sana ini sudah akhir pekan? Sedang apa kau saat ini?"tanya Camelia. 


"Gym," jawab Andrean. 


"Gym?"beo Camelia. Pikirannya traveling seketika. 


"Mau aku kirim foto?"tanya Andrean di ujung sana. 


"Hah?"


"Sepertinya iya," sahut Andrean, menyimpulkan sendiri. 


"Eh, iya. Tidak, maksudku…." 


Terlambat menjelaskan. Andrean sudah mengirimkan foto sedang gym pada Camelia. 


"Bagaimana, Lia?"tanya Andrean dengan nada menggoda. 


Camelia menghembuskan nafasnya kasar. Apa yang ia pikirkan ada di dalam foto itu. Kaos tanpa lengan dengan keringat yang membasahi wajah, leher, dan juga tubuh yang terlihat dari koas yang basah. 


Ditambah lagi rambut yang berantakan. "Sial!"umpat Camelia pelan. 


"Aku mengantuk, Rean. Sambung besok lagi, okay?"ucap Camelia kemudian. 


"Kau tidak memikirkan hal aneh, kan?"selidik Andrean. 


"Tidak ada, bye-bye," jawab Camelia, langsung mengakhiri panggilan sepihak. 


Camelia kembali menghembuskan nafas kasar. Wajahnya kembali memanas. 


"Aku harus mandi!"gumam Camelia, bergegas masuk ke kamar mandi. 


"Pria itu! Aku yakin dia tertawa puas!"gerutu Camelia. 


*


*


*


Andrean tertawa renyah. Memang sangat menyenangkan menggoda Camelia. 


Andrean melepas earphonenya. Tawanya sudah terhenti. Namun, kesenangan tetap tinggal. 


Andrean menyudahi kegiatan gym nya. Mengambil handuk dan mengelap keringatnya. 


"Lia-Lia, wajah merahmu pasti sangat menggemaskan," gumam Andrean. Ia bersenandung meninggalkan ruang gym, kembali ke kamarnya.


Selesai membersihkan tubuhnya dan sudah memasuki jam makan siang, Andrean menuju meja makan. 


"Tuan." Dalam perjalanan, Andrean berpapasan dengan Lie. 


Andrean mengangguk singkat, melanjutkan langkahnya diikuti oleh Lie. "Mana Hans?"tanya Andrean, saat tidak mendapati Hans di meja makan atau bersama dengan Lie tadi. 


"Bukannya sekretaris Hans pergi keluar? Kalau tidak salah mau kencan buta," jawab Lie.


Andrean terhenyak sesaat. Sekretarisnya itu benar-benar menjalankan percakapannya dengan Camelia beberapa hari yang lalu? 


Andrean melengos kesal. "Dia benar-benar senggang!"


Lie menelan ludah kasar. Ada apa lagi dengan Tuannya ini? 


"Ayah!" Crystal menyapa dengan riangnya. Raut wajah Andrean langsung berubah. 


"Hari ini kita jadi jalan-jalan, kan?"tanya Crystal. Kemarin Andrean menjanjikan hal itu padanya. 


"Tentu saja," jawab Andrean. 


"Yeah!" Anak perempuan itu melonjak girang. 


"Ayo, lekas makan, setelah ini kita pergi," ujar Andrean. Crystal mengangguk. Ia makan dengan lahap. 


"Apa yang kau lihat?"sentak Andrean pada Lie yang menatap intens interaksi itu. 


"Tidak ada, Tuan!"


Lie segera membalikkan piring dan mengambil makan siangnya. 

__ADS_1


__ADS_2