
Setelah Pietro cukup lama berkendara, akhirnya dia sampai juga di markas besarnya.
Markas yang biasanya tempat dia untuk mengeksekusi semua target mangsanya.
Dan kali ini yang menjadi mangsanya adalah Tuan Brush, orang yang sudah berani berbuat salah kepada Tuan Abraham.
Sesampainya Pietro di markasnya, dia langsung saja disambut ramah oleh semua anak buahnya yang ada di situ, dan selanjutnya Pietro langsung berlalu masuk ke dalam markasnya.
Pietro tidak mau langsung masuk ke ruang penyekapan Tuan Brush, tapi dia memastikan dulu semua alat-alat yang akan dia gunakan apakah sudah lengkap semua apa belum.
Sedang bergeser sejenak ke rumah Kak Ivar.
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dan itu artinya sudah waktunya untuk makan malam.
Kak Ivar yang di rumah sendirian bersama Molly, dia pun langsung saja memanggil Molly untuk makan malam bersamanya.
Sedangkan Gilbert, dia entah pergi kemana dan belum pulang sampai sekarang.
Kak Ivar yang sudah sampai di depan kamar Pietro, dia langsung saja mencoba mengetuk pintu kamar itu.
" Molly......... ini Kakak ",, kata Kak Ivar kepada Molly sambil mengetuk pintunya.
Panggilan pertama tidak ada sahutan, lalu Kak Ivar mencoba memanggil untuk ke dua kalinya.
Dan lagi-lagi tidak ada sahutan, terakhir Kak Ivar mencoba memanggil Molly lagi, masih sama tidak ada sahutan sama sekali dari dalam.
Akhirnya Kak Ivar yang penasaran dan merasa khawatir dengan Molly, dia mencoba memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Pietro untuk melihat Molly sedang apa.
Ketika Kak Ivar sudah membuka pintu kamar Pietro, dia langsung saja disambut dengan suhu udara di kamar Pietro yang begitu sangat dingin sekali karena suhu ACnya yang terlalu kecil sekali derajatnya.
" Astaga ini kamar apa kulkas, dingin sekali ",, kata Kak Ivar sambil mengusap-usap ke dua lengannya.
Kak Ivar lalu mengalihkan pandangannya ke arah Molly yang sedang tidur meringkuk kedinginan di atas ranjang sambil menggigil kedinginan.
" Molly kamu baik-baik saja?? ",, kata Kak Ivar sambil berjalan mendekati Molly.
" Molly, hei Molly bangun ",, kata Kak Ivar lagi sambil menggoyangkan kaki Molly yang tertutup selimut.
Kak Ivar yang tidak tahan dengan rasa dingin ditubuhnya dia lalu mencoba mencari remot ACnya untuk mengatur suhunya biar tidak terlalu dingin.
" Ini remotnya dimana sih?? ",, kata Kak Ivar sambil berusaha mencari remot AC.
Tapi selama Kak Ivar mencari dia tidak menemukannya sama sekali.
Dan akhirnya Kak Ivar menyerah juga untuk mencari remot AC tersebut.
__ADS_1
Lalu Kak Ivar mencoba untuk membangunkan Molly lagi.
" Nanti aku cari lagi, sekarang aku mau membangunkan Molly dulu ",, kata Kak Ivar sambil berbicara sendiri.
Setelahnya Kak Ivar mencoba duduk lagi di pinggir ranjang sambil terus menggoyangkan kakinya Molly.
" Molly bangun, ayo kita makan malam dulu, baru setelah itu kamu boleh tidur lagi ",, kata Kak Ivar kepada Molly.
Molly hanya diam saja tidak menanggapi perkataan dari Kak Ivar, walau kakinya juga sudah digoyangkan seperti itu.
" Molly.......... ",, panggil dari Kak Ivar lagi kepada Molly.
Sekali lagi Molly juga tidak menyahuti panggilan dari Kak Ivar.
Molly yang daritadi tidak menyahuti perkataan dari Kak Ivar, hal tersebut membuat Kak Ivar menjadi penasaran sekali dengan keadaan dari Molly.
Kak Ivar perlahan membuka selimut tebal yang di pakai oleh Molly untuk melihat wajahnya Molly.
Ketika selimut sudah dibuka oleh Kak Ivar, Kak Ivar langsung melihat wajah Molly sudah sangat pucat sekali dengan bibir yang membiru sambil menggigil kedinginan.
" Astaga Molly ",, kata Kak Ivar kepada Molly dengan wajah yang cukup terkejut
Kak Iva lalu mencoba menyentuh dahinya Molly, yang ternyata sangat dingin sekali.
Kak Ivar lalu kebingungan sendiri dengan tidak jelas sambil berjalan ke kanan dan ke kiri.
" Jika Pietro tahu sekarang Molly tiba-tiba sakit, dia bisa tidak konsen bekerja, dan bisa-bisa juga dia langsung mengirimkan buldoser ke rumah ini ",, kata Kak Ivar sambil kebingungan sendiri.
" Sebentar-sebentar jangan panik, aku mau mencari remot ACnya dulu, ini pasti Molly kedinginan karena suhu ACnya ",, kata Kak Ivar masih berbicara sendiri.
Wajar saja jika Molly bisa sampai kedinginan seperti itu, karena dia yang tidak pernah menyalakan AC sama sekali tidak tahunya ketika menyalakan AC malah tidak sengaja memencet mengecilkan suhunya.
Selama Molly tinggal di rumah Pietro, Pietrolah yang akan selalu menyalakan ACnya, jadi Molly tinggal memakainya saja.
Tadi ketika Molly sudah masuk ke dalam kamar, dan ACnya belum dinyalakan, membuat Molly berusaha sendiri untuk menyalakan AC tersebut, dan fikir Molly menyalakan AC itu mudah seperti dia memencet remot televisi saja, tapi tidak tahunya berbeda.
Alhasil sekarang Molly sangat kedinginan sekali karena ulahnya sendiri.
Dan tadi ketika Molly ingin membenarkan suhu ACnya dia yang tidak tahu malah kebingunan sendiri, mau bertanya kepada Kak Ivar pun Molly sangat takut sekali.
Akhirnya Molly membiarkan saja suhu ACnya seperti itu, dan sekarang membuatnya menggigil kedinginan.
" Ini dimana sih remot ACnya ",, gerutu dari Kak Ivar lagi sambil terus mencari remot ACnya.
Kali ini Molly mendengar gerutuan dari Kak Ivar dan dia langsung saja menyahutinya.
__ADS_1
" Remot ACnya ada di atas ACnya Kak ",, jawab Molly kepada Kak Ivar sambil menunjuk AC yang menempel di dinding.
" Hah...........!! ",, sahut Kak Ivar sambil membuka mulutnya.
" Tadi Molly mau membenarkan suhu ACnya biar tidak terlalu dingin tapi tidak bisa Kak, akhirnya Molly tadi naik ke atas meja dan kursi untuk menaruh remotnya di atasnya, siapa tahu ACnya tidak bisa dibenarkan karena dia sedang berjauhan dengan remotnya ",, kata Molly menjelaskan kepada Kak Ivar sambil terus menggigil.
" Tapi setelah remotnya sudah Molly dekatkan, ternyata sama saja, dan semakin dingin saja menurut Molly, boleh dibuang saja tidak itu ACnya Kak biar Molly tidak kedinginan lagi seperti ini ",, lanjut lagi perkataan dari Molly kepada Kak Ivar.
" Astaga Molly........... , dia bahkan lebih parah dari Agnes ",, kata Kak Ivar sambil menutupi mukanya karena merasa gemas dengan tingkahnya Molly
Kak Ivar lalu mencoba mengambil remot itu menggunakan meja dan kursi yang ditumpuk seperti Molly tadi.
Dan ternyata memang benar, remot ACnya Molly taruh di atas ACnya, mau sampai Kak Ivar punya cucu pun tidak bakal ketemu itu remot jika tidak dikasih tahu oleh Molly.
Setelah mendapatkan remot ACnya Kak Ivar langsung saja mematikan AC tersebut, biar suhu ruangannya bisa kembali normal seperti semula.
" Apakah kamu kuat untuk bangun Molly untuk makan malam sekarang?? ",, tanya Kak Ivar kepada Molly.
" Tidak Kak, badan Molly rasanya dingin sekali ",, jawab Molly kepada Kak Ivar dengan suara lirih.
" Baiklah tunggu di sini dulu dan pakailah lagi selimutnya, biar kamu tidak kedinginan ",, kata Kak Ivar kepada Molly.
Molly hanya diam saja sambil mengangguk dengan mata yang terpejam.
Setelahnya Kak Ivar langsung berlalu keluar untuk mengambilkan makan malam beserta minuman hangat untuk Molly.
Di saat Kak Ivar baru saja turun dari atas tangga, dia tidak sengaja berpas-pasan dengan Gilbert yang baru saja pulang.
" Kebetulan kamu sudah pulang Gilbert, tolong tungguin Molly dulu di dalam kamarnya, dia sedang sakit sekarang, dan jika Kakak kamu Pietro tahu Molly sedang sakit, bisa habis kita ",, kata Kak Ivar kepada Gilbert.
" Molly sakit??, memangnya dimana Kak Pietro sekarang Kak??, dan kenapa dia ada di sini?? ",, tanya Gilbert kepada Kak Ivar.
" Sudah jangan banyak bertanya, Kakak mau ke dapur dulu untuk menyuruh bibi membuatkan minuman hangat untuk Molly ",, jawab Kak Ivar kepada Gilbert.
" Sudah sana temani Molly dulu, siapa tahu Molly membutuhkan bantuan nanti ",, kata Kak Ivar lagi kepada Gilbert.
" Iya baiklah Kak ",, jawab Gilbert kepada Kak Ivar.
Baik Kak Ivar dan Gilbert mereka berdua lalu berpisah haluan untuk menuju ketujuan mereka masing-masing.
Dan Gilbert yang sudah sampai di dalam kamar Pietro, dia langsung merasakan suhu ruangan yang sangat dingin sekali padahal ACnya sudah di matikan oleh Kak Ivar tadi.
...๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ...
...***TBC***...
__ADS_1