
Sedangkan di dalam rumah Danish.
Elina dan Danish masih saja menangis, menangisi sang Mama yang sudah tidak bernyawa lagi, karena baru saja di bunuh oleh Pietro.
Dan untuk Luke sendiri yang bingung di situasi seperti itu, terlebih lagi hidungnya juga terluka cukup parah, karena baru saja di berikan hadiah oleh Pietro, dia pun tadi memutuskan untuk pergi dari dalam rumah itu untuk mengobati lukanya, setelah kepergian dari Gilbert dan juga Pietro.
" Mama ........ Mama bangun Ma ",, kata Elina kepada sang Mama sambil menangis.
" Kita harus segera membawa Mama ke rumah sakit Elina, ayo bantu Kakak ",, kata Danish kepada Elina.
" Untuk apa kalian menangisi Mama kalian hah!! ",, kata Ayah Eric kepada Elina dan juga Danish.
" Percuma saja kalian membawa Mama kalian ke rumah sakit, karena Mama kalian ini sudah meninggal di bunuh sama laki-laki itu!! ",, kata Ayah Eric lagi kepada Elina dan juga Danish.
" Ini semua gara-gara kamu Elina!! ",, kata Ayah Eric kepada Elina sambil menunjuk Elina.
" Kenapa bisa gara-gara Elina Ayah!! ",, bantah dari Elina kepada Ayah Eric.
" Jika kamu menuruti perkataan dari Ayah, semua ini pasti tidak akan terjadi, dan Mama kalian pasti masih hidup!! '',, kata dari Ayah Eric kepada Elina sambil membentak.
Tentu saja Elina tidak terima jika di salahkan seperti itu oleh sang Ayah.
" Apa Ayah bilang, menuruti perkataan dari Ayah, apa telinga Elina tidak salah mendengar?? ",, kata Elina kepada Ayah Eric.
" Ayah tidak ada kabar, tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada Elina, tidak mau mencoba berbicara dulu kepada Elina, tahu-tahu datang ke sini sambil membawa laki-laki yang akan di jodohkan kepada Elina, apa itu yang namanya orang tua, Ayah?? ",, kata Elina lagi kepada sang Ayah.
" Siapa di sini yang patut di salahkan,?? Elina atau Ayah?? ",, kata Elina kepada Ayah Eric.
" Jika tadi Ayah tidak langsung memukuli Gilbert, semua ini juga tidak akan terjadi,!! dan terus jika sudah seperti ini, siapa yang patut kita salahkan,?? Ayah, Elina, Mama, Gilbert, Tuan Pietro, atau Luke,?? jawab Elina Ayah!! ",, kata Elina lagi kepada Ayah Eric.
" Ayah di sini itu sebagai kepala keluarga, Ayah adalah pemimpinnya, jika seorang pemimpin sudah salah memimpin rakyatnya, jangan salahkan rakyatnya jika sang rakyat berbuat salah, contohnya sekarang ",, kata Elina lagi dan lagi kepada Ayah Eric dan masih di dengar oleh Danish.
__ADS_1
" Semua sudah terlanjur, rasa sakit di dalam hati Elina kepada Ayah semakin besar, Ayah tidak pantas di panggil Ayah, sebab Ayah tidak becus mengurus rumah tangga Ayah sendiri, Ayah EGOIS!! ",, kata Elina lagi kepada sang Ayah, sambil berteriak ketika menyebut kata EGOIS.
Dan setelah itu Elina langsung saja pergi berlalu masuk ke dalam kamarnya sambil meneteskan air matanya dengan cukup deras sekali.
Tinggallah Danish, Ayah Eric dan jasad dari sang Mama yaitu Mama Juni.
" Apa Ayah bahagia?? ",, tanya Danish kepada Ayah Eric setelah kepergian dari Elina.
" Apa maksud dari perkataan kamu Danish?? ",, tanya balik dari Ayah Eric kepada Danish.
" Apa Ayah suka, senang melihat kita semua berantakan seperti ini?? ",, tanya dari Danish lagi kepada Ayah Eric.
" Apa Ayah juga akan mempolisikan tindakan dari Tuan Roderick terhadap keluarga kita,?? sedangkan kita sudah sangat tahu sekali siapa itu Tuan Roderick?? ",, tanya dari Danish lagi dan lagi kepada sang Ayah.
" Jika Ayah kemarin sekali saja mendengarkan saran dari Danish untuk jangan menjodohkan Elina dengan laki-laki pilihan Ayah itu, pasti semua ini tidak bakal terjadi ",, kata Danish kepada Ayah Eric yang hanya bisa diam saja daritadi.
" Tuan Roderick, Psikopat yang sangat di takuti oleh semua orang, bahkan para kalangan mafia kelas kakap pun pada takut semua sama dia, apa lagi kita yang cuma golongan dari kelas teri, coba Ayah pikir, apakah kita bisa melawan Tuan Roderick?? ",, kata Danish kepada Ayah Eric.
" Dalam hal ini Mama tidak bersalah, menurut Danish Tuan Roderick juga tidak bersalah walau hati Danish merasa sangat marah sekali kepadanya, sebab dia sudah membunuh Mama, tapi .......... ",, kata Danish lagi sambil menjeda perkataannya.
" Tapi semua itu kembali lagi kepada Ayah, sebab Ayahlah yang bersalah dalam hal ini, karena Ayah sudah berambisi ingin menjodohkan Luke dengan Elina, yang jelas-jelas Luke adalah laki-laki 6471n94n, pandai bersilat lidah dan juga pemain wanita, apakah itu menantu idaman menurut Ayah hmm?? ",, lanjut lagi perkataan dari Danish kepada Ayah Eric sambil menggelengkan kepalanya.
" Entahlah Ayah, sekarang terserah Ayah saja, terserah Ayah mau bagaimana, masih mau menjodohkan Elina dengan Luke atau tidak, terserah Ayah, Danish sudah tidak mau lagi ikut campur dengan urusan Ayah, karena bagi Danish Ayah tidak patut untuk di banggakan ",, kata Danish kepada Ayah Eric.
Dan setelahnya Danish langsung saja berlalu pergi dari hadapan sang Ayah, untuk menelpon semua keluarganya dan para petugas pemakaman untuk mengurus jenazah dari sang Mama.
Sesal tiada guna, mereka juga tidak bisa menghidupkan Mama Juni lagi seperti sedia kala.
Keluarga Ayah Eric sudah berantakan karena keegoisannya sendiri demi untuk kemajuan bisnisnya.
Apapun itu jika di paksakan, pasti akan menimbulkan hal-hal yang tidak di inginkan pada saat itu juga maupun untuk ke depannya.
__ADS_1
Hanya menangis, terdiam dan juga meratapi nasib, mungkin itulah gambaran yang tepat untuk keadaan dari Ayah Eric.
Dan sepertinya juga Ayah Eric sudah tidak bisa sedekat lagi seperti sebelumnya dengan ke dua anaknya yang sangat di cintainya itu, karena sifat egois yang di milikinya.
Semua para pelayat sudah pada berdatangan, para keluarga juga turut serta hadir untuk mengiringi kepergian dari Mama Juni ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Tidak ada air mata yang terlihat di wajah Danish maupun Elina, namun wajah mereka berdua terlihat benar-benar sangat bersedih sekali.
Rasanya mereka sudah tidak bisa lagi mengeluarkan air matanya, padahal sebenarnya hati mereka merasa sangat kehilangan sekali sang Mama.
Tentu saja para keluarga pada bertanya-tanya apa yang membuat Mama Juni meninggal dengan tiba-tiba, karena setahu mereka semua, Mama Juni tidak sedang sakit.
Dengan santainya Danish mengarang cerita jika sang Ayah baru saja kecelakaan, dan Mama Juni yang mendengar kabar tersebut, karena saking terkejutnya membuat Mama Juni terkena serangan jantung mendadak.
Untung saja mereka semua langsung pada percaya, jadi baik Danish maupun Elina, mereka tidak perlu untuk mengarang cerita lagi.
Sedang Ayah Eric yang masih terluka cukup parah di tubuhnya, ketika dia di kasihani oleh para Keluarganya, dia hanya bisa diam saja sambil mengangguk sebagai ucapan terimakasih.
Karena mulut Ayah Eric rasanya sangat kelu sekali untuk berbicara, dan dia juga menurut saja dengan karangan cerita dari ke dua anaknya.
Ketika di tempat pemakaman, Elina tidak sengaja melihat Gilbert sedang berdiri di samping pohon rindang yang tidak terlalu jauh dari mereka semua yang sedang menguburkan jasad dari Mama Juni.
Dengan mengenakan pakaian serba hitam serta kaca mata hitam sambil terus melihat ke arah Elina, Gilbert pun terlihat diam saja seperti patung .
Cukup lama Gilbert berdiri di samping pohon itu, sampai upacara pemakamannya pun selesai di laksanakan.
Dan ketika acara pemakamannya sudah selesai, Gilbert langsung saja berlalu pergi tanpa mau mendekat ke arah Elina.
Elina yang melihat Gilbert pergi begitu saja tanpa menyapanya terlebih dahulu, dia hanya bisa diam terpaku di tempatnya berdiri sambil terus menatap kepergian Gilbert yang sedang berjalan ke arah mobilnya.
...๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ...
__ADS_1
...***TBC***...