
" Astaga ini kamar atau freezer?? ",, begitulah yang dikatakan oleh Gilbert hampir sama seperti Kak Ivar tadi.
" Telapak kakiku tidak tahan menginjak lantainya ",, kata Gilbert lagi sambil merinding sendiri.
Setelahnya Gilbert mencoba berjalan ke arah ranjang, dimana sudah ada Molly yang sedang memejamkan matanya dengan keadaan yang masih menggigil kedinginan.
" Kak Molly, are you ok?? ",, kata Gilbert sambil duduk di pinggir ranjang.
" Kak Molly.... hei Molly?? ",, panggil Gilbert sambil mencoba menggoyangkan kakinya Molly.
Molly yang merasa ada yang menyentuh kakinya, dia lalu berusaha membuka matanya walau berat sekali.
" Gilbert ",, kata Molly ketika sudah melihat Gilbert dengan suara yang sangat lirih sekali.
" Astaga wajah Kak Molly terlihat pucat sekali ",, kata Gilbert kepada Molly.
Molly hanya menatap Gilbert dengan matanya yang sayu dan dengan bibir yang terus menggigil kedinginan.
" Maafkan aku Kakak Ipar ",, kata Gilbert kepada Molly.
Setelahnya Gilbert mencoba mendekat ke arah Molly untuk menyentuh dahinya Molly
Dan ketika sudah menyentuh dahinya Molly, Gilbert dibuat sedikit terkejut karena badan Molly terasa sangat dingin, namun juga ada rasa panasnya.
Entahlah Gilbert tidak bisa menjabarkannya dengan kata-kata, namun satu hal yang pasti, Molly saat ini memang benar-benar sedang sakit.
Gilbert yang tidak tahu jika Pietro sedang ada panggilan kerja lagi untuk mengeksesuki orang, dengan percaya dirinya dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Pietro.
Padahal sebelumnya Kak Ivar sudah mengatakan kepadanya, jika Pietro tahu Molly sedang sakit, pasti Pietro akan membawakan buldoser untuk merubuhkan rumah mereka.
Sepertinya perkataan itu dilupakan oleh Gilbert, dan sekarang dia malah sudah memanggil nomor teleponnya si Pietro.
Dan untuk Pietronya sendiri, dia yang sudah puas melihat alat-alat kebanggaannya, Pietro pun mencoba masuk ke dalam ruang penyekapannya Tuan Brush.
Senyum Psikopatnya pun terlihat jelas di wajah tampannya Pietro.
" Jadi anda yang bernama Tuan Brush?? ",, kata Pietro kepada Tuan Brush.
Tuan Brush saat ini ke dua tangannya dan ke dua kakinya sedang di ikat di sebuah tiang yang ada di di tengah-tengah ruangan.
" Anda siapa hah??!!. Kenapa saya ditangkap dan dipenjarakan di sini seperti ini?? ",, kata Tuan Brush kepada Pietro.
__ADS_1
Pietro tidak langsung menjawab perkataan dari Tuan Brush, tapi dia memilih untuk duduk terlebih dahulu di kursi kayu yang ada di situ sambil menampilkan senyum Psikopatnya.
" Apa anda budeg hah!!. Saya itu bertanya kepada anda ",, kata Tuan Brush lagi kepada Pietro dengan sangat berani sekali.
" Tuan Abraham ",, kata Pietro kepada Tuan Brush.
" Tuan Abraham?? ",, ulang nama dari Tuan Brush dengan tanpa suara.
" Bagaimana,?? apakah anda sudah ingat siapa itu Tuan Abraham Tuan?? ",, kata Pietro kepada Tuan Brush.
" Lepaskan saya, saya tidak mau mati sekarang!! ",, kata Tuan Brush lagi kepada Pietro.
" Ho-ho-ho, tenang saja Tuan Brush, anda tidak akan mati ko ",, jawab Pietro dengan tenang kepada Tuan Brush.
" Tuan Abraham hanya menyuruh saya untuk memotong ke dua tangan dan ke dua kaki anda saja ",, lanjut lagi perkataan dari Pietro kepada Tuan Brush.
" Bagaimana,?? murah hati sekali kan Tuan Abraham itu kepada anda Tuan ",, sambung lagi perkataan dari Pietro kepada Tuan Abraham.
Tuan Brush yang mendengar perkataan dari Pietro, keringat dingin langsung saja keluar dari dalam tubuhnya.
Sungguh tidak bisa di pungkiri jika saat ini Tuan Brush sangat ketakutan sekali.
Walau wajah Pietro terlihat lebih tampan darinya, tapi tetap saja kekejaman yang ada di dalam diri Pietro, Tuan Brush bisa melihatnya dengan jelas.
Pietro langsung saja tersenyum seperti iblis dengan sambil menyilangkan salah satu kakinya ke kaki yang satunya.
" Saya sangat senang sekali melihat pemandangan mangsa saya yang sangat ketakutan seperti ini ",, kata Pietro dengan nada santai sekali kepada Tuan Brush.
Setelahnya Pietro tiba-tiba saja memanggil anak buahnya yang ada di situ untuk melepaskan semua ikatan di kedua tangan dan kakinya Tuan Brush.
Ketika sudah terlepas semua ikatan itu, Pietro masih terlihat santai saja tanpa ada rasa takut sama sekali jika sewaktu-waktu Tuan Brush akan menyerangnya.
" Anda sudah bebas sekarang dan supaya lebih menantang lagi ayo lawan saya, jika anda menang anda saya bebaskan, dan semua hutang anda kepada Tuan Brush akan saya bayarkan ",, kata Pietro kepada Tuan Brush sambil berdiri dari duduknya.
" Tapi ...... jika anda kalah, anda harus mau menerima hadiah dari saya, bagaimana apakah anda setuju Tuan Brush?? ",, kata Pietro lagi kepada Tuan Brush.
Tuan Brush masih menatap Pietro dengan tatapan yang terlihat sangat marah sekali.
Sebelum Tuan Brush menjawab, Pietro langsung mengkode semua anak buahnya yang berada di dalam ruang penyekapan itu untuk keluar semua untuk meninggalkan dirinya bersama Tuan Brush saja.
" Semua anak buah saya sudah saya suruh keluar semua, ayo sekarang kita mulai saja permainan ini Tuan ",, kata Pietro kepada Tuan Brush.
__ADS_1
" Ciaaaaaaaaaaaaa ............ ", teriak dari Tuan Brush sambil berlari ingin menerjang Pietro.
Ssseeett, sssseeett ........
Pietro berhasil menghindari pukulan demi pukulan yang dilayangkan oleh Tuan Brush ke arahnya tanpa berpindah dari tempatnya berdiri.
Memutar, meliuk, menunduk, kayang, miring kanan dan miring ke kiri, semua Pietro lakukan untuk menghindari serangan demi serangan dari Tuan Brush dengan kaki masih tegap berdiri tanpa berpindah tempat sama sekali.
" Huh .... huh .... huh .... ",, deru nafas berantakan dari Tuan Brush ketika dia tidak bisa memukul Pietro sama sekali.
Ketika Tuan Brush lengah Pietro memberikan sebuah hadiah dengan sekali tonjokan saja, hingga membuat Tuan Brush langsung terpental tembok di belakangnya.
" Uhuuukk ... uhuukkk ... ",,
Bahkan Tuan Brush sampai di buat terbatuk-batuk seperti itu, hingga mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.
Pietro yang melihatnya seperti biasa, dia tersenyum mengejek kepada Tuan Brush.
" Segitu sajakah kemampuan anda Tuan Brush?? ",, tanya Pietro sambil berjalan mendekati Tuan Brush.
Ketika Pietro ingin berjalan semakin mendekat ke arah Tuan Brush, tiba-tiba saja ponsel yang ada di dalam saku celananya berdering dengan cukup kencang.
Melihat nama Gilbert di dalam panggilan masuk di ponselnya, Pietro membiarkannya saja.
Dan Gilbert yang ada di seberang sana, dia tidak mau pantang menyerah hingga panggilan ke duanya akhirnya di angkat juga oleh Pietro.
" Halo ada apa kamu menggangguku Gilbert?? ",, tanya Pietro kepada Gilbert sambil berjalan menjauh dari Tuan Brush.
" Jika kamu ingin mengatakan yang tidak penting, pulang nanti akan Kakak bunuh kamu!! ",, lanjut lagi perkataan dari Pietro kepada Gilbert dengan nada yang sangat super tegas sekali.
" Terserah Kakak jika mau membunuh Gilbert, karena Gilbert cuma ingin mengatakan jika Molly saat ini tiba-tiba sakit, badan dia menggigil kedingian, wajah dia pun sangat pucat pasi seperti mayat, bye!! ",, jawab Gilbert kepada Pietro.
Gilbert tanpa menunggu jawaban dari Pietro, dia langsung saja mematikan sepihak teleponnya itu.
Setelahnya tiba-tiba Pietro mendapatkan sebuah foto dari Gilbert yang memperlihatkan Molly sedang tidur dengan selimut yang menutupi hingga kelehernya, dan wajah Molly pun benar-benar terlihat sangat pucat sekali.
Dan Pietro yang mendapatkan kabar itu dari Gilbert, sontak saja fikiran dia menjadi buyar seketika, karena dia sedang merasa sangat khawatir sekali dengan keadaannya Molly.
Hingga tanpa Pietro ketahui, ternyata Tuan Brush sudah mengambil pisau lipat yang tergeletak di samping kursi dan dia langsung menusukkannya kepunggung belakangnya Pietro.
...๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ...
__ADS_1
...***TBC***...